I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Via Mau Naik Pesawat.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Vin, maaf aku tidak bisa menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan, karena---"


Cup!


"Aku tidak menyuruhmu melakukannya, karena kau bukanlah pelayan, tapi istriku. Hanya terkadang kau saja yang tidak mau aku larang dan masih mengerjakan sesuatu." sela Alvian yang memberikan kecupan pada bibir ranum istrinya.


"Sudah, capat ganti baju sana," titah Ayara karena bila sudah mulai mengecup. Maka takutnya nanti sang suami tidak akan berangkat. Padahal Aya tahu bahwa pekerjaan suaminya sangatlah penting dan menuntut untuk para member ALV konsisten pada waktu.


"Huem," Alvian berdehem kecil dan sebelum masuk ke ruang ganti. Pemuda itu mengacak rambut panjang Ayara yang terurai.


Namun, tidak lama setelah suami masuk ke dalam ruang ganti. Ayara juga menyusul karena akan menanyakan pakaian apa yang mau dibawa oleh suaminya.


"Vin, ayo tunjukan kamu mau membawa pakaian yang mana? Biar aku yang siapkan, setelahnya baru kita sarapan." tanya wanita itu mendekati suaminya yang sudah selesai menganti dengan baju kaos panjang biasa yang berwarna putih.


Sama seperti baju Aya saat ini. Sama-sama berwarna putih. Akan tetapi pakaian tersebut sangatlah mahal.


"Baju mana saja, hanya untuk saat aku di hotel. Atau saat pergi saja, karena kalau buat manggung, itu tugas Kak Mauza, bukan kami." jawab Alvian duduk di dalam ruangan tersebut untuk menunggu istrinya yang sudah mengeluarkan koper kecil.


Di dalam ruangan ganti, memang sudah lengkap oleh segala barang pribadi milik mereka berdua. Dari berbagai merk sepatu, sandal, pakaian-pakaian yang tentunya limited edition. Dari jam, maupun tas-tas mahal lainya.


Alvian dan Nyonya Lili, ibu pemuda itulah yang menyiapkan semuanya. Mereka membeli berbagai macam barang buat Ayara. Makanya wanita itu memiliki begitu banyak barang mahal.


"Baiklah! Aku belum tahu kau mau membawa barang apa saja. Makanya sejak tadi belum aku siapkan." sahut Aya tersenyum dan mulai menyusun beberapa lembar baju untuk sang suami dengan seleranya sendiri, karena Alvian sudah mengatakan terserah.


"Tidak apa-apa, nanti juga akan tahu sendiri dengan seiring berjalannya waktu. Selama aku pergi, jangan pernah keluar rumah sendirian. Para fans ku memang tidak ada yang mengenal kau dan anak kita. Tapi aku takut kau bertemu keluarga Wilson."


"Huem, kau tidak perlu khawatir, aku akan menuruti perkataan mu. Tapi kau sendiri baik-baik di sana. Jangan pernah melupakan aku dan Via." saat berkata seperti itu terdengar suara Ayara seperti menahan sesuatu.


Sehingga membuat Alvian langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sang istri. Lalu Ayara yang baru berdiri pun langsung ia peluk dengan sangat erat.


"Hei... aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua. Jangankan untuk melakukannya, untuk membayangkannya saja aku tidak sanggup," seru Alvian mengelus rambut panjang istrinya.


"Percayalah! Kau tidak akan pernah lagi merasakan hal menyakitkan seperti dulu. Namun, aku butuh kepercayaan darimu, bahwa aku tidak akan menoleh kearah wanita manapun, karena untuk mendapatkan kembali kau dan Via sangat sulit. Apabila bukan karena bantuan papa." ucap Alvian menebak sendiri Aya berat melepas kepergiannya karena member ALV akan berangkat bersama Alice dan teman-teman gadis itu.


Selama ini Alvian selalu digosipkan dengan para artis terkenal yang sangat cantik-cantik. Namun, yang paling dihebohkan adalah bersama Alice, karena mereka berdua sering tertangkap kamera lagi pergi berduaan.


Sehingga rumor mereka pacaran, tunangan dan mau menikah pun sudah tersebar. Apalagi begitu banyak dari fans keduanya yang mendukung hubungan Alvian dan Alice.


Bahkan mereka juga mengedit foto-foto mesra antara Alvian dan Alice. Padahal hal tersebut tidak benar sama sekali. Soalnya bila lagi pergi bersama dengan Alice, pemuda tampan itu selalu menjaga jarak.


"Bila aku ingin menghianati cintaku padamu. Maka sudah sejak dulu aku lakukan. Namun, kau tahu sendiri, bahwa hati dan ragaku hanya milik Ayara. Gadis yang sudah melahirkan buah cinta antara kami berdua." lanjut pemuda itu sehingga membuat Ayara membalas pelukan suaminya.



"Alvin, aku..." Aya tidak melanjutkan lagi ucapnya. Hanya saja dia menangis karena tidak menyangka bahwa Alvian mengerti kegundahan hatinya untuk melepaskan kepergian sang suami yang menjadi idola para gadis dari berbagai kalangan.


"Tidak apa-apa, aku tahu kau pasti merasa ragu padaku, karena dulu pun aku berjanji padamu. Namun, setelah pulang, malah mengakhiri hubungan kita." sebelum Ayara berkata. Alvian sudah mengakui sendiri apa yang membuat sang istri tidak percaya akan janji manisnya.


"Jangan berpikiran yang macam-macam, ya. Aku hanya tidak ingin kau menjadi sakit dan aku pun tidak tenang saat meninggalkan mu." Alvian meregangkan pelukan mereka. Lalu ia menyeka air mata istrinya dan Aya pun hanya mengangguk kecil.


"Ayo kita sarapan, aku tidak memiliki banyak waktu. Kata staf Muzaki tadi malam, pesawat kami akan terbang jam sembilan." ajak pemuda itu langsung berjalan kearah lemari untuk mengambil jam tangan mewahnya, lalu langsung ia pakai.


Sambil keluar dari ruangan tersebut. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan. Sedangkan tangan Alvian yang satunya menyeret koper kecil.


"Via anteng sekali bermainnya, sampai-sampai tidak menyusul ke sini." ucap Alvian menatap pada layar CCTV yang terhubung dari kamar sang putri.


"Iya, soalnya ada pengasuh itu, coba saja kalau tidak ada, pasti pagi-pagi sudah sibuk." jawab Ayara tersenyum sambil keluar dari kamar mereka dan masuk lagi ke kamar Vania.


Ceklek!


Baru juga pintunya terbuka, tapi Vania langsung menoleh kearah pintu dan berlari untuk masuk kedalam pelukan ayahnya.


Cup, cup. Muaach!


"Selamat pagi cantiknya Papa," Alvian pun langsung berjongkok untuk menyamai tinggi tubuh mereka. Ia cium gemas pipi sang putri yang akhirnya dia bawa berdiri sambil menggendong Vania.


"Selamat pagi duga," jawab gadis kecil itu tersenyum bahagia yang semakin cantik karena semenjak bersama keluarga Rafael. Hanya ada senyum bahagia di wajahnya. Selalu menjadi rebutan sebagai Princess Rafael yang paling kecil.


Si cantik ini sangat dekat dengan Tuan Abidzar, opanya. Daripada keluarga yang lain. Soalnya bila melihat beliau pergi. Maka Via selalu merengek mau ikut.


Namun, bila keluarga yang lainnya, Vania cukup dijanjikan oleh-oleh. Maka si gadis kecil tidak akan menghalangi mereka pergi.


"Papa mau pergi tekalang?" Via melihat kearah pintu kamar yang terbuka lebar dan di sana ada koper baju kecil.


"Iya, Papa mau berangkat bekerja. Sekarang kita sarapan, ya. Nanti Papa terlambat." jawabnya yang membuat Vania mengangguk kecil.


"Baiklah! Karena princess sudah setuju. Sekarang ayo kita turun." ucap Alvian tersenyum pada putrinya.


"Ayo, sayang," ajaknya lagi pada sang istri yang hanya diam melihat kedekatan antara anak dan suaminya.


"Agh, iya, ayo!" tapi sebelum pergi Ayara bicara pada pengasuh anaknya dan berkata. "Kak, ayo sarapan dulu, Kakak boleh istirahat bila Via lagi bersama Saya,"


"Terima kasih, Nona. Tapi Saya sudah sarapan sejak tadi. Kalau begitu Saya akan membereskan kamar nona muda saja." jawab wanita yang umurnya sekitar tiga puluh tahunan, makanya Aya memanggil kakak padanya.


"Huem, iya! Terserah Kakak saja, jika lelah jangan dipaksakan, karena jika buat beres-beres sudah ada yang melakukan pekerjaan tersebut." Ayara yang pernah merasakan hidup susah. Tentu tidak mau bersikap semaunya sebagai majikan.


Setelah itu keluarga kecil Alvian pergi turun ke lantai satu rumah tersebut. Namun, sebelum itu Aya menaruh koper baju suaminya di ruang keluarga. Sedangkan Alvian dan putrinya langsung menuju ke meja makan.


"Sayang, apa kau lagi yang memasaknya?" tanya pemuda itu setelah melihat menu masakan kesukaannya semua.


"Tidak semua, tapi ada Bibi Yulia yang membantuku, karena bila sendiri. Aku tidak sehebat itu." jawab Ayara tersenyum karena dia memang hanya bisa memasak ala kadarnya.


"Tidak apa-apa! Padahal sudah banyak pelayanan di rumah ini. Jadi kau tidak perlu melakukan pekerjaan apapun." sambil mengisi piring untuk suaminya. Ayara dan Alvian terus mengobrol sampai mereka selesai makan.


Setelah itu karena jam sudah menunjukkan setengah delapan pagi dan Staf Muzaki beserta yang lainya mengabarkan bahwa sudah dalam perjalanan menuju gedung agenci mereka. Jadi Alvian pun berpamitan pada anak dan istrinya.


"Sayang, Papa berangkat, ya. Nanti pulangnya Papa akan membelikan boneka yang sangat bagus." ucapnya pada Vania lebih dulu.


"Papa tidak lama, tan?" bukannya mengiyakan langsung. Namun si gadis kecil itu bertanya papanya akan lama atau hanya sebentar.


"Belum tahu pasti, kapan Papa akan pulang. Namun, nanti kita bisa melakukan sambungan telepon seperti yang diajarkan Om Deri." jawab Alvian yang sangat berat harus meninggalkan anak maupun istrinya.


Namun, harus bagiamana lagi karena itu semua adalah resiko dari pekerjaannya. Meskipun berat, dia tetap harus berpisah dari kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Ayo sini gendong sama mama," Ayara merentang kedua tangannya untuk mengedong sang putri yang malah memanyunkan bibirnya karena tidak boleh papanya pergi.


Sekarang gadis kecil itu lagi memakan jajanan pada tangan kananya.



"Via mau itut papa, Ma, jawab si cantik tiba-tiba berubah pikiran tidak mau sang ayah pergi. Padahal sejak kemarin Alvian menjelaskan bahwa dia perginya kurang lebih hanya satu Minggu dan sudah disetujui oleh Vania.


Namun, melihat papanya sudah menyiapkan masker penutup wajah. Dan terlihat begitu tampan, Vania tidak mau di tinggal pergi.


"Tunggu Papa pulang dari bekerja, baru kita bertiga pergi jalan-jalan, ya." Alvian pun ikut membujuk si buah hati. Akan tetapi Vania tetap mengelengkan kepalanya.


"Tapi tekalang Via mau itut Papa duga," jawab Vania yang akhirnya mau digendong oleh sang mama karena dia mau menangis dan merajuk pada papanya.


"Papa mau berangkat bekerja, nanti kita akan pergi ke rumah oma saja, bagaimana?" tawar si ibu muda agar Vania berhenti menangis.


"Papa mau pelgi naik petawat, Ma. Via duga mau naik petawat" jawab Via menunjuk keatas.


"Nanti kita ajak opa naik pesawat yang jauh lebih besar lagi. Agar pesawat yang membawa papa berada di bawah pesawat kita." ucap Ayara yang membuat Via melepaskan kepergian sang ayah. Walaupun dia tetap masih menangis.


...BERSAMBUNG......