
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Dua hari sudah berlalu.
Hari ini adalah pernikahan Ria dan Farhan. Laki-laki yang telah merenggut keperawanannya dalam keadaan mereka berdua mabuk alkohol.
Setengah jam lalu. Gadis yang merupakan mantan kekasih Bara dan calon Dokter spesialis itu sudah sah menjadi seorang istri. Tidak ada orang lain yang tahu pernikahan keduanya. Kecuali orang tua mereka masing-masing.
Mau tidak terima tapi semuanya sudah terjadi. Apalagi ada wartawan yang menangkap basah mereka berdua keluar dari satu kamar. Tuan Rendra ayahnya Ria adalah seorang pengusaha yang diambang kebangkrutan. Jadi tentu takut bila perbuatan putrinya menjadi landasan kehancuran mereka.
"Ria, mama pulang dulu. Kau hati-hati y, Nak." ucap mamanya Ria memeluk putrinya sebentar.
"Iya, Ma. Sekali lagi tolong---" ucapan Ria terpotong karena suara bariton papanya.
"Ma, ayo pulang!" ajak Tuan Rendra sedikit membentak. Sebetulnya dia marah pada Ria. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa. Semua menjadi kacau karena ulah dia dan Nyonya Marry.
"Iya, Pa..." dengan berat hati wanita setengah baya itupun meninggalkan putrinya di depan gedung Departemen agama.
"Huh! Ini kan bukan sepenuhnya salahku."
Ria membuang nafas kasar. Lalu dia menoleh kearah suara yang ada dibelakangnya. Di situ ada Farhan dan ibu mertuanya yang sangat terlihat tidak menyukai Ria. Sebab tahu jika gadis itu perusahaan ayahnya lagi dalam masalah. Takutnya akan berdampak buruk pada perusahaan mereka. padahal sudah jelas tidak ada orang luar yang tahu tentang pernikahan tersebut.
Mungkinkah hanya alasan wanita itu karena sebetulnya tidak menyukai Ria? Entahlah! Namun, yang jelas disini semuanya terpaksa menerima pernikahan tersebut.
"Ri, ayo kita pulang!" ajak Farhan karena tidak ingin Ria mendengar kata-kata pedas dari mamanya.
"Pu--pulang kemana?" cicit Ria.
"Pulang ke Apartemen Farhan, memangnya mau kemana lagi. Jangan pernah bermimpi untuk tinggal dikediaman kami yang nantinya membuat orang lain tahu pernikahan kalian." cetus wanita tersebut yang bernama Lia.
"Ma..." seru Farhan karena mereka menjadi pusat perhatian petugas di departemen.
"Ayo! Kenapa kau malah diam saja." pemuda itu menarik tangan Ria yang menjadi seperti orang bodoh. Gadis itu belum pernah mendengar kata-kata kasar yang ditujukan padanya. Jadi sudah pasti merasa syok bukan main.
"Pasang sabuk pengaman mu!" kata Farhan yang hanya memasang sabuk pengaman pada tubuhnya sendiri dan mulai menjalankan kendaraannya.
"Far, mama mu tidak suka padaku ya?" tanya Ria setelah terdiam beberapa saat.
"Iya, karena dia sangat marah padaku. Mama maunya aku menikah bersama anak sahabatnya. Tapi selama ini aku sudah punya kekasih dan begitu aku ditinggal menikah oleh Alexa, malah harus menikahimu." jawab jujur Farhan.
"Jika memang begitu kenapa kita harus menikah? Kau kan bisa menikahi anak sahabat mamamu."
"Ya, aku bisa menikahi putri sahabat mamaku. Tapi bagaimana bila kau hamil?" mendengar kata hamil. Ria langsung terdiam dan menyentuh perutnya yang masih datar dan belum tahu akan hamil atau tidak.
"Aku tidak ingin anakku merasakan apa yang aku rasakan, RI." suara Farhan terdengar sendu.
"Maksudmu?"
"Aku dibesarkan tanpa seorang ayah. Mama adalah singel mom yang berjuang untuk membiayai aku dan kakak. Dia merintis usaha kecil-kecilan sampai bisa menjadi perusahaan besar seperti saat ini." ungkap pemuda itu.
"Jadi kau punya kakak? Laki-laki atau perempuan? Dan ada dimana dia saat ini?" Ria bertanya beruntun.
"Kakak ku laki-laki yang sekarang tinggal di luar negeri. Dia masih mengambil jurusan S dua di sana."
"Tidak apa-apa. Jadi kau sudah tahu kan kenapa aku mau bertanggung jawab padamu. Jika bukan karena takut kau hamil, maka untuk apa aku menikah pada saat patah hati. Lagian awal melakukannya kau juga mau, bukan aku yang memperkosa duluan."
"Ck!" Ria berdecak kasar. "Tapi setelah tidak dipengaruhi alkohol tetap saja kau yang memperkosa ku." lanjutnya yang membuat Farhan tersenyum tipis.
"Ya, itu aku hanya kesal karena kau malah menamparku." Farhan menjawab sambil memutar stir mobilnya kearah bangunan gedung Apartemen mewah. Namun, masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Apartemen tempat para member ALV. Yaitu Bara salah satunya.
"Ayo turun! Untuk sementara kita akan tinggal disini. Aku akan pulang ke rumah mama sendirian sampai dia bisa menerima dirimu."
"Ya, itu lebih baik." Ria ikut turun dari mobil suaminya.
"Apakah begini rasanya tidak disukai oleh mertua? Pantas saja Lula bisa kurus karena merasa tertekan oleh Tante Marry."
Guman Ria baru menyadari setelah merasakan sendiri apa yang dialami Lula selama ini.
Kleeek!
Suara pintu Apartemen yang dibuka oleh Farhan. "Kamarku ada disebelah sana dan kau tempati kamar yang ini."
"Kita akan pisah kamar?"
"Iya, tapi jika kau tidak keberatan satu kamar juga tidak apa-apa. Aku---"
"Kita pisah kamar saja, karena aku tidak biasa berbagai tempat tidur dengan orang lain." sela Ria cepat.
"Huem, sudah aku duga." Farhan pun menjawab cuek. Dia tidak perduli mau satu kamar atau tidaknya. Namun, yang jelas dia telah bertanggung jawab atas perbuatannya.
Ria yang merasa butuh waktu untuk istirahat dan menerima semua yang terjadi padanya. Memilih masuk kamar lebih dulu.
"Ya Tuhan... apakah ini karma ku yang pernah menyakiti Lula?" ucap Ria bagitu merebahkan tubuhnya diatas ranjang tempat tidur. "Jika bukan mama mertua ingin rasanya aku jambak itu rambutnya yang keriting." tergelak sendiri setelahnya.
"Semoga saja aku tidak hamil, biar kami bisa bercerai dua bulan kedepannya. Bisa-bisa aku mati berdiri bila terus-menerus kena tekanan mental." Ria terus bergumam sampai dia tertidur. Padahal jam baru menjukkan pukul setengah sebelas siang.
Saatnya anak-anak sekolah taman kanak-kanak pulang. Bahkan dari satu jam yang lalu. Namun, ketidak adanya si cantik Vania membuat keluarga Rafael mencarinya ke seluruh tempat dia bersekolah.
Akan tetapi sudah satu jam belum juga bisa menemukan keberadaannya. Entah apa yang terjadi sehingga para guru pun tidak sadar jika Via menghilang.
Semua mobil yang masuk kawasan itu selalu diperiksa ketat oleh penjaga keamanan. Hal yang mencurigakan juga tidak ada.
"Pa, cucu kita kemana?" tanya Nyonya Lili terisak disamping tubuh Ayara yang pingsan begitu mendengar bahwa ada kemungkinan jika putrinya menjadi korban penculikan.
Sedangkan Alvian yang berada di luar ibukota lagi dalam perjalanan pulang. Dia menggagalkan konser karena rasa khawatir pada putri sulungnya.
"Mama jangan khawatir. Via pasti akan baik-baik saja." jawab Tuan Abidzar. "Para anak buah Papa sudah berpencar mencari Via." lanjut beliau memberikan pelukan penuh kasih sayang pada Nyonya Lili dan Ayara.
"Papa mau ikut membantu, jika Alvian sudah datang. Tolong Mama tenangkan dia." pesan Tuan Abidzar yang belum tahu siapa gerangan orang yang telah berani menculik si Princess Rafael dan Wilson.
"Siapa pelakunya? Berani sekali mengusik keluargaku."
Guman Pria setengah baya itu menjalankan kendaraan mewahnya untuk kembali menyelusuri tempat Vania sekolah. Sebab dari hasil CCTV si cantik tidak ada keluar dari pagar.
"Via... Via... kau ada dimana, Nak? Via!" teriak Ayara yang bangun dari pingsannya. "Mama, Via mana, Ma? Via baik-baik saja kan?"Ayara menggoyangkan bahu ibu mertuanya. Sungguh dunianya seakan hancur saat tahu putrinya tidak ada di sekolah.
"Via pasti baik-baik saja, Sayang. Kau harus tenang ya, sekarang Papa Abi, Papa Edward dan yang lainnya sedang mencari keberadaan putri kalian." jawab Nyonya Lili yang harus berpura-pura kuat. Padahal dia sama saja khawatirnya.
... BERSAMBUNG... ...