I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Anak Suamiku.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Aya," panggil Alvian untuk kedua kalinya. Sehingga membuat Ayara terdiam ditempatnya berdiri. Namun, dia belum menoleh kearah belakang.


"Alvin, iya ini suara Alvin. Aku masih kenal suaranya," gumam Ayara sebelum membalikkan tubuhnya pelan untuk menyakinkan bahwa dugaannya memang benar.


Deg!


Begitu dia membalikkan tubuhnya. Pandangan mata mereka saling bertemu. Namun, dengan arti dan rasa berbeda. Jika Alvian mungkin dengan tatapan penuh bersalah dan rindunya. Sedangkan Ayara menatap Alvian dengan perasaan kecewanya, sakit dan benci secara bersamaan.


Dulu, sewaktu mereka lagi berpacaran. Setiap kali bertemu maka mereka berdua akan saling berlari untuk memeluk satu sama lain. Namun, sekarang tidak lagi. Rasa sakitnya begitu menyeruak sampai ke tulang sumsum Ayara.


Sudah hampir kurang lebih empat tahun mereka putus. Hari ini luka yang dibuat oleh pemuda itu, terbuka lagi hanya karena pertemuan yang tidak disengaja mereka.


"Aya, ini aku, Alvin," ucap Alvian karena takut sang mantan tidak mengenal dirinya lagi yang masih memakai masker.


"Pergilah!" usir ibu muda itu seraya menyembunyikan Vania dibelakang tubuhnya. Dia takut bila Alvian sempat melihat wajah si buah hati. Tanpa dia ketahui jika laki-laki tersebut sudah melihatnya sejak tadi.


"Tidak! Kita perlu bicara," bantah Alvian berjalan semakin dekat. Dia terus menatap Aya dan Vania secara bergantian.


"Bicara apa? Diantara kita sudah berakhir sejak tiga tahun lalu, jadi pergilah!" seru Ayara menatap Alvian bengis. Setelah dulu memutuskannya secara sepihak. Lalu hari ini berkata kita perlu bicara. Benar-benar sudah gila rasanya. Andai tidak ada sang putri, mungkin Ayara sudah mencekik leher pemuda itu.


"Aya, aku hanya ingin tahu, anak siapa ini? Kenapa wajahnya begitu mirip denganku?" tanya pemuda itu berjongkok untuk memastikan bahwa penglihatannya memang benar. Bahwa gadis kecil itu mirip dengannya. Kebetulan sekali pada saat itu Vania melihat kearahnya walaupun hanya beberapa menit. Soalnya tahu jika sang ibu lagi melindunginya. Jadi si cantik Vania bersembunyi di belakang tubuh ibunya.


"Ya Tuhan! Ternyata secantik ini versi diriku jika menjadi wanita. Tapi kenapa wajah kami sangat mirip?"


Gumam Alvian yang kembali lagi berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Ayara yang matanya sudah memerah karena menahan tangisnya. Tangannya sampai gemetar, sehingga Vania tahu bahwa sang ibu tidak baik-baik saja.


"Mama, Via tatut," ucap si cantik mendongak melihat sang mama.


"Tidak apa-apa sayang, ada Mama yang akan melindungi Vania," jawab Aya masih memaksakan untuk tersenyum dihadapan sang putri.


"Jadi namanya Vania? Ternyata selain wajah kita yang mirip. Nama mu juga mengunakan huruf V," sambung pemuda itu kembali berjongkok.


Hatinya terasa berdebar-debar begitu melihat Vania. Jika diberi Izin oleh mantan kekasihnya, maka pemuda itu ingin memeluknya. Akan Alvian gendong dan cium si pemilik wajah yang sama.


"Ayo kita kenalan dulu, nama Om, Alvian," ucap pemuda tersebut mengulurkan tangannya mengajak berkenalan. Akan tetapi Vania tidak mau, dia mengelengkan kepalanya dan berkata.


"Via tidak mau," jawabnya seperti orang marah. Namun, terlihat sangat menggemaskan.


Penolakan Vania untuk berkenalan, membuat pemuda itu kembali menarik tangannya.


"Om? Ya, kamu memang orang lain bagi putriku, Alvin," Ayara tersenyum miris mendengar ucapan Alvian.


"Kau tidak perlu tahu, karena ini bukan urusanmu. Pergilah! Sebelum aku berteriak," ancam Ayara yang tidak diharuskan oleh Alvian.


"Aya, tolong katakan, siapa gadis kecil ini. Kenapa wajahnya begitu mirip denganku?" tanya Alvian untuk kesekian kalinya.


"Dia adalah anak dari mantan suamiku yang sudah meninggal dunia," Jadi pergilah! Kau telah mendengarnya, bukan," jawab Ayara dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Tidak,! Tidak mungkin, kau pasti lagi berbohong, kan? Dia pasti bukan anak mantan suamimu. Kenapa wajahnya begitu mirip denganku? Atau jangan-jangan Vania anak---"


"Kenapa tidak mungkin? Segala didunia ini mungkin saja terjadi. Semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu. wajahnya mirip denganmu karena aku sangat membencimu," sela Ayara langsung menunduk untuk mengendong putrinya.


Akan bahaya bila mereka tidak pergi. Aya tidak ingin Alvian beranggapan bahwa Vania adalah putrinya. Meskipun semuanya benar.


"Mama, tita mau pelgi?" tanya si cantik sambil melihat kearah Alvian yang juga menatap padanya.


"Iya, kita pulang sekarang," jawab Aya sambil berjalan pergi. Satu tangannya ia gunakan untuk mengendong sang putri. Sedangkan yang satunya membawa barang belanjaan mereka.


"Aya, Ayara!" panggilan Alvian tentu saja tidak dihiraukan lagi oleh Aya. Dia langsung menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti di halte dekat mereka.


"Ayara, maafkan aku," gumam Alvian menatap kepergian bus tersebut. Namun, tidak lama setelahnya handphone pemuda itu bergetar. Sehingga membuat Alvian mengangkatnya. Soalnya dia tahu bahwa yang menelpon pasti salah satu sahabatanya.


Tttttddd!


Ttttttddd!


πŸ“± Alvian : "Iya, ada apa?" tanyanya begitu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


πŸ“± Hanan : "Al, kau dimana? Kami sudah tiba di hotel. Apakah kau bertemu dengan Aya?" tanya Hanan yang didengar oleh sahabatnya yang lain. Sebetulnya bukan hanya Alvian yang merasa bersalah sudah menyakiti Ayara. Akan tetapi juga keempat member ALV.


Mereka sangat akrab dengan Aya, sebagaimana pada saudari perempuan mereka sendiri. Soalnya diantara mereka memang tidak ada yang memiliki adik ataupun kakak perempuan.


Jadi pada saat itu, Ayara adalah satu-satunya gadis yang beruntung karena kenal dengan mereka berlima. Aya selalu dimanja oleh Alvian maupun keempat sahabatnya.


Sebab mereka semua juga tahu bahwa Ayara selalu diasingkan oleh keluarganya sendiri. Akan tetapi begitu mendapatkan agensi yang mau mengontrak Boyband ALV. Mereka malah tidak mencegah ketika Alvian mau mengakhiri hubungannya dengan Aya. Padahal mereka juga tahu jika Alvian dan Ayara sering tidur bersama.


πŸ“±Alvian : "Aku masih berada di pintu masuk taman sebelah timur. Aku bertemu dengannya... yang kita lihat tadi memang Aya ku. Tapi dia sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan," jawab Alvian menahan rasa sesak karena Aya sangat membencinya.


πŸ“± Hanan : "Apa! Benarkah? Siapa suaminya?" seru Hanan dan para sahabat yang menguping sejak tadi.


πŸ“± Alvian : "Entahlah! Soal itu aku tidak tahu. Dia sangat membenciku, untuk menjawab pertanyaanku saja Aya sudah tidak mau." keluh pemuda itu karena tahu diri atas apa yang ia lakukan.


πŸ“± Hanan : "Itu hal wajar, dia memang harus membenci kita." kata Hanan sambil menghela nafas dalam-dalam.


πŸ“± Hanan : "Yasudah, kau kembali saja. Soalnya kita harus segera bersiap-siap," titah Hanan karena takut bila para staf mengetahui Alvian pergi seorang diri.


πŸ“± Alvian : "Iya, aku akan kembali ke hotel sekarang. Tapi setelah acaranya selesai, kalian duluan pulang ke kota S, karena aku ingin memastikan sesuatu lebih dulu," setelah berkata seperti itu, Alvian langsung memutuskan sambungan telepon mereka.


...BERSAMBUNG......