
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Alvin, Bara... kalian bicara saja. Papa mau mengangkat panggilan telepon." pamit Tuan Abidzar karena tahu bahwa putranya bisa menasehati Bara.
"Iya, Pa." jawab Alvian.
"Iya, Om. Sekali lagi tolong maafkan Saya." ucap Bara yang masih mengulangi kata maaf.
"Alvin, aku mohon tolong tunjukkan dimana Lula saat ini. Aku mau bertemu dengannya." mohon Bara berharap sang sahabat mau membantunya.
"Bara, maaf aku tidak bisa. Andaikan bukan masalah seperti ini, maka aku akan membantumu. Namun, kau sudah menyakiti tubuh dan hati wanita yang ku anggap saudariku sendiri." jawab Alvian tegas. Bukannya dia lupa akan bantuan Bara yang menemaninya melakukan tes DNA saat menyelidik tentang Vania.
"Aku tahu, tapi... aku tidak tahu lagi harus mencarinya kemana, Alvin. Aku mau meminta maaf dan membawanya kembali."
"Untuk apa? Lula mandul dan surat dari hasil pemeriksaan rumah sakit pasti sudah dia kirim ke rumah mu. Kau cari saja gadis lain atau kembali saja bersama Ria. Wanita itu masih mencintaimu dan kau pun mungkin masih sama mencintainya kan?"
"Tidak! Aku tidak mencintai Ria. Aku hanya menganggap dia sahabat, tidak lebih." jawab Bara cepat.
"Entahlah! Aku saja hampir empat tahun putus bersama Aya. Namun, bukannya bisa melupakan Aya, justru rasa cintaku semakin besar." ungkap Alvian yang tidak tahu jika saat ini Ayara berdiri dibalik tembok bersama putranya yang bisa diajak kompromi supaya diam tidak berisik
"Apalagi kau dan Ria putus karena dia yang saat itu menolak untuk menikah denganmu. Jadi mungkin saja cinta lama bersemi kembali." lanjut Alvian karena saat Bara mengatakan mau menikahi Lula mereka semua kaget. Sebab setahu semua orang, hanya Lula yang mencintai Bara lebih dari idol.
"Tidak, Vin! Aku tidak mencintai Ria dan hanya mencintai Lula. Namun, hari itu aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku karena benar-benar percaya jika dia meminum obat pencegah kehamilan."
"Aku juga pernah menyakiti Ayara bahkan menelantarkan dia dan putriku, Bar. Namun, kau tahu sendiri itu semua karena aku tidak tahu dia lagi mengandung Via." Alvian berhenti sejenak. "Jika kau memang mencintainya maka berjuanglah untuk membawanya kembali. Namun, sebelum itu kau pikirkanlah baik-baik jangan ada penyesalan setelahnya. Apakah kau sanggup hidup tanpa memiliki keturunan. Lula positif mandul karena papaku sudah mendatangkan sahabatnya yang merupakan Dokter spesialis kandungan." kata Alvian menakut-nakuti Bara.
Agar pemuda itu tidak akan menyakiti Lula lagi. Mereka mau menguji Bara yang mementingkan anak atau cintanya pada sang istri.
"Tapi selama kami melakukan promil, tidak ada dokter yang menyatakan dia mandul." sangkal Bara.
"Ya itu mungkin karena dokter tidak mau membuat kalian berdua kecewa. Jadi merahasiakan hal sebesar itu." kali ini Ayara yang bersembunyi dibalik tembok berjalan mendekati keduanya.
"Sayang, kau menyusul ku?" seru Alvian langsung merentangkan kedua tangannya untuk mengendong Baby Arka.
"Aku tidak mau menyusul mu, tapi Alvin junior yang mengajakku mencari mu." jawab Ayara tersenyum.
"Wah benarkah? Jadi kau tidak menyusul ku. Eum... tapi tidak apa-apa karena berkat putraku, kita bisa selalu bersama." Alvian yang sudah sering mendengar candaan Aya hanya mengikuti sandiwara keluarga kecil mereka.
"Coba lihatlah muka Om Albal sudah memar karena papa mu, Arka." ucap Ayara yang sebetulnya juga merasa kasihan pada Bara. Akan tetapi karena rasa kecewanya lebih besar jadinya membiarkan pemuda itu dipukul oleh suaminya.
"Ini memang salahku. Bila dibandingkan dengan Lula, dia pasti jauh merasakan sakitnya." Bara menunduk sedih bercampur penyesalan.
"Tentu saja dia merasakan sakit yang tidak ada bandingannya. Namun, semuanya sudah terjadi dan selamat menikmati saja." sambil bermain dengan anaknya, si member ALV paling tampan itu masih terus memberikan tekanan pada Bara.
"Aya, apakah kau tahu dimana tempat Lula saat ini? Atau jangan-jangan dia ada di rumah ini dan sengaja dirahasiakan?" tebak Bara yang menatap Ayara memohon.
"Silahkan di periksa setiap ruang rumah ini bila kau tidak percaya. Aku tidak bisa memberitahu mu, Kak. Karena Papa Abi ingin kau berjuang sendiri. Itupun jika benar kau mau menerima Lula yang mandul tidak bisa memiliki anak." jawab Ayara yang sama saja merahasiakan keberadaan Lula.
"Tapi kemana aku harus mencarinya? Aku akan menerimanya biar mandul sekalipun. Atau kami masih bisa mengadopsi anak dari panti asuhan bila dia mau. Namun, aku mau bertemunya dan meminta maaf secara langsung." Bara menjawab yakin atas perkataannya.
"Ya, usaha sendiri saja. Suruh siapa ketika dia meminta mu pulang, tapi kau tidak mau. Ingatlah Bar, sesuatu itu akan terasa berarti bila sudah tiada dalam genggaman. Aku juga jika tahu akan menyiksa perasaan sendiri, maka lebih memilih hubunganku dan Aya. Aku akan menjadi suami daripada seorang musisi terkenal di seluruh dunia." kata Alvian santai.
Pemuda itu jika lagi bersama istri dan anaknya maka bagaikan memiliki dunianya sendiri
"Dan bisa jadi sekarang kami bukan memiliki anak dua, tapi sudah ada enam." Alvian tergelak karena mendapatkan tatapan tajam dari istrinya dan hal itu disaksikan oleh Bara yang hanya bisa diam dan bergumam di dalam hatinya.
"Alvian begitu hangat dan romantis pada istrinya. Sedangkan aku selama ini sering bertingkah seperlunya. Aku seakan-akan tidak mencintai Lula. Padahal itu tidak mungkin karena setiap kali bersamanya jantungku berdetak kencang. Namun, aku akui yang terlalu egois mau dimengerti tanpa mengerti apa yang istriku rasakan."
"Namun, jika keputusan mu sudah bulat untuk bersama Lula, maka selesaikanlah hubunganmu dan Ria. Cukup kau jadikan istrimu satu-satunya wanita di dalam hidupmu. Karena perasaan kita pada ibu maupun anak perempuan itu ada perbedaannya." Alvian yang sangat menurun sifat Tuan Abidzar kembali memberikan nasehat terbaik.
"Iya, aku akan memikirkan semua.. Agar tidak pernah melakukan hal yang sama." jawab Bara mengagguk mengiyakan. "Aku pulang dulu, ya. Jika Kalian sudah berubah pikiran maka tolong beritahu aku tempat keberadaan Lula saat ini, karena aku bertanya sendiri dia tidak mau menjawabnya." pamit Bara pada pasangan suami-istri tersebut.
"Huem, hati-hati." Ayara yang menjawab karena Alvian hanya menatap punggung sahabatnya.
"Sayang, aku benar kan sejak awal pernikahan mereka. Aku merasa Tante Marry tidak menyukai Lula." ucap Ayara setelah hanya tinggal mereka bertiga.
Cup!
"Ya, istriku pasti akan selalu benar." Alvian mengecup bibir ranum Ayara disertai senyuman tampan.
"Kau ini kebiasaan sekali!" rutuk Ayara karena Alvian asal kecup saja. "Bagaimana bila ada yang melihatnya."
"Tidak apa-apa ada yang melihat juga. Aku tidak mencium gadis lain, tapi istriku sendiri." dengan gerakan pelan pemuda itu menarik agar Ayara bersandar padanya. "Ayara ku... terima kasih untuk semuanya."
"Aku juga berterima kasih karena kau sudah menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk kami bertiga dan satu lagi aku sangat kagum padamu yang sudah membuat kedua orang tuamu bangga. Padahal begitu banyak ujian pada hubungan kita. Namun, kau tetap berjuang menyelesaikan masalah itu." jawab Ayara karena Alvian memang tipe suami idaman di dunia nyata.
"Aku bisa seperti itu karena dirimu dan anak-anak kita. Kau memiliki kesabaran walau begitu banyak kabar tentang aku dan gadis diluar sana." akhirnya untuk menghabiskan waktu luang pasangan suami-istri itu saling mengungkapkan perasaannya.
Sementara itu setelah selesai diceramahi oleh Tuan Abidzar dan Alvian. Bara pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sebab tidak ada yang mau memberitahu keberadaan Lula.
Ralat! Bukannya tidak mau memberitahu Bara. Tapi untuk saat ini Lula juga belum mau untuk bertemu. Jadilah semua dirahasiakan.
"Lula... maafkan aku!" lirih Bara begitu masuk kedalam rumah pribadinya. Lelah! Itulah yang dia rasakan saat ini. Rasa penyesalan membuat pemuda tampan itu terhukum sendiri oleh keadaan.
"Huh!" menghela nafas dalam-dalam. Bara baring di ruang tamu yang mejanya sudah dia tendang. "Mama benar-benar keterlaluan. Tapi... aku lebih tidak menyangka bahwa Om Rendra juga dalang dibalik semua kekacauan ini." rutuk nya merasa menjadi laki-laki yang sangat bodoh.
"Jika sudah seperti ini kemana lagi aku harus mencari Lula?" Bara seperti orang stres berbicara sendiri dan dijawab sendiri pula.
"Hah! Nomornya aktif beberapa menit yang lalu." seru Bara yang kembali lagi duduk. Namun, saat menelepon lagi nomor ponsel Lula sudah tidak aktif.
"Sial! Aku telat untuk melihat ponselku." umpatnya benar-benar merasakan kegalauan. Ketahuilah dibalik kariernya yang menjadi artis papa atas. Kisah percintaan Bara tidak pernah mulus. Hubungannya dan mantan kekasihnya maupun istri bagaikan jalan yang begitu banyak tanjakan dan turunan.
Sangat berbeda dengan Alvian yang sejak pacaran sudah merasakan kebahagiaan surga dunia. Alvian menderita hanya saat putus bersama Ayara. Wanita paling beruntung yang menjadi cinta pertama dan terakhir bagi sang idol.
Ting-Tong!
Suara bel rumah yang dibunyikan. Membuat Bara berdiri lagi untuk membukakan pintu.
"Ada apa?"
"Maaf Tuan, ini ada paket dari Nona Lula." jawab penjaga keamanan di rumahnya.
"Oh! Bawa sini dan... terima kasih!" ucap Bara yang menerima amplop coklat yang dia yakini adalah surat dari rumah sakit. Seperti yang dikatakan oleh Alvian tadi.
"Jadi benar Lula mandul."
Gumam Bara begitu membaca kertas di dalam amplop tersebut. Dia terdiam karena disinilah dia harus mengambil keputusan besar.
"Sayang, aku sudah membaca hasil pemeriksaan mu. Kau ada dimana karena kita perlu berbicara langsung."
Bara langsung mengirim pesan singkat.
"Aku akan mengatakan keputusan ku setelah kita bertemu. Maafkan aku yang sudah menyakiti tubuh maupun hatimu. Aku benar-benar menyesalinya."
Pria itu kembali mengetik pesan. Berharap jika Lula menghidupkan ponsel langsung membalas pesan tersebut.
...BERSAMBUNG......