I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menemukan Kalian.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah menunggu di Restoran selama kurang lebih tiga jam. Sesuai yang dikatakan oleh Dokter Erina tadi. Sekarang Alvian dan Bara sudah kembali lagi ke rumah sakit tersebut, dan di sinilah mereka sekarang. Di dalam ruangan Dokter Erina lagi.


"Apakah Anda ingin Saya yang membacakan hasilnya, atau Anda akan membacanya sendiri Tuan Alvin?" tanya Dokter Erina yang sudah memanggil Alvian sebutan Alvin.


Nama panggilan yang disematkan oleh Ayara, karena gadis itu tidak mau menyamai panggilannya dengan orang lain. Aya selalu berkata bahwa jika dia memanggil Alvin, maka pemuda itu hanya miliknya.


"Anda saja, Dok," jawab Alvian mempersilahkan, karena dia tidak gugup. Soalnya sudah jelas Vania memanglah putri kandungnya.


"Baiklah! Saya yakin akan membacakannya, karena sepertinya Anda sudah yakin bahwa Vania adalah putri Anda," dokter muda itu tersenyum simpul sambil membuka amplop putih di tangannya.


"Dari hasil yang dilakukan oleh dokter terbaik dan ini pengecekan pun bukan hanya dilakukan satu kali. Menyatakan bahwa hasilnya sembilan puluh sembilan persen sama. Itu berarti Anda memang Ayah biologis Vania." ucapnya dengan sangat lantang.


Sehingga langsung membuat Alvian bersorak kencang dan berpelukan dengan Aldebaran. Mereka berdua sudah seperti dua orang wanita yang lagi mendapatkan berita bahagia.


"Bara... kau dengar kan, Vania memang putriku," serunya sampai-sampai meneteskan air mata di sudut matanya.


Meskipun dia sudah tahu hasilnya sejak awal. Tetap saja Alvian merasa sangat bahagia. Sekarang dia memiliki bukti yang sangat akurat dan sudah bisa mencari Ayara bersama si buah hati.


"Iya, aku juga mendengarnya kawan. Selamat aku ikut bahagia. Ini adalah berita besar bagi member kita yang sudah memiliki keponakan sangat cantik." jawab Bara tak kalah bahagianya.


"Tentu saja cantik. Dia adalah putriku, dan kau lihat saja aku ini sangat tampan." puji Alvian bangga dengan ketampanan yang ia miliki. Sambil melepaskan pelukan mereka berdua.


"Dokter Erina, Jessie... terima kasih! Sudah mau menolong Saya sampai sejauh ini. Tapi sebelum Saya memberikan hadiah yang Saya katakan tadi. Tolong kalian berdua jawab dengan jujur. Pertanyaan yang akan Saya tanyakan," ucap Alvian yang diiyakan oleh kedua wanita yang umurnya hanya berbeda tipis dengan mereka.


"Silahkan! Jika kami bisa, mungkin kami akan menjawab dengan jujur," imbuh Dokter Erina yang pikirannya masih ingat dengan perkataan Bara yang mengatakan. Member kita.


"Eum... jika yang berada di posisi Saya saat ini adalah salah satu dari member ALV. Bagaimana menurut tanggapan kalian. Apakah akan membenci mereka atau bagaimana?" tanya Alvian yang tidak mungkin asal mengungkapkan identitas dia dan Bara.


"Setiap manusia memiliki kehidupan dan masa lalu mereka sendiri. Namun, kita tidak boleh menghakimi mereka tanpa mengetahui alasan yang jelas. Contohnya seperti Anda, yang meninggalkan Nona Ayara karena alasan pekerjaan dan tidak mengetahui bahwa dia lagi mengandung Vania," dokter tersebut berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya.


"Nah seperti itu juga para member ALV. Mereka juga manusia biasa, yang tak luput dari salah dan dosa." jawab bijak Dokter Erina dalam keadaan sangat tenang.


"Jessie, bagaimana menurutmu?" tanya Bara menatap pada Jessie.


Tadi saat di Restoran Alvian dan Bara sudah merundingkan hal tersebut. Sebelum mengungkapkan identitas asli mereka.


Anggap saja sebagai rasa terima kasih karena sudah menolong Ayara saat melahirkan Vania. Sampai-sampai dokter muda itu tidak bisa menonton konser mereka.


"Jika menurut Saya juga sama seperti Dokter Erina. Mereka juga manusia biasa yang nasibnya saja berbeda dari kita. Terkadang orang hanya memandang, tanpa tahu dibalik kesuksesan yang mereka miliki. Ada pengorbanan yang sangat besar pula." jawaban dari Jessie membuat Alvian langsung membuka masker penutup wajahnya beserta topi yang ia pakai dan diikuti oleh Bara.


"Terima kasih karena kalian berdua sudah memberikan jawaban yang bisa membuat Saya tenang. Saya adalah Alvian ALV, dan ayah kandung Vania." ucap Alvian tersenyum tampan.


Sampai-sampai Dokter Erina dan Jessie langsung menjerit histeris, karena tidak menyangka dua orang laki-laki yang berbicara dengan mereka sejak tadi ternyata adalah member ALV.


"Aaaaaa... mimpi apa Saya tadi malam? Kenapa ini bisa terjadi," jerit Dokter Erina sampai menangis histeris. Saking merasa bahagianya.


"Anda tidak bermimpi apa-apa, Dokter. Mungkin karena kebaikan yang Anda lakukan pada Aya dan putri Saya lah, yang membuat kita bisa bertemu seperti ini." jawab Alvian merentangkan kedua tangannya, karena bagi mereka berpelukan dengan para fans sudah hal biasa


Dengan senang hati Dokter Erina yang masih menangis pun langsung memeluk sang idola. Begitu pula dengan Jessie dan Bara.


"Terima kasih! Karena Anda sudah menolong Aya dan Vania. Saya berjanji akan membalas kebaikan kalian, tapi tolong beri Saya waktu. Setelah Saya menemukan mereka dan menyelesaikan semuanya." ucap Alvian tersenyum.


"Tidak, tidak! Kami tidak meminta imbalan apapun. Saya sangat senang karena akhirnya Vania memiliki ayah," Dokter Erina yang tadinya sangat kalem. Sekarang menjadi sedikit bar-bar.


"Saya yang berterima kasih pada Anda. Baiklah! Kalau begitu Saya minta nomor ponselnya. Agar bisa menghubungi kalian," ucap Alvian setelah mereka semua kembali duduk seperti semula.


Sebab kan dia tidak ingin berlama-lama berada di sana namun hari semakin petang.


"Te--tentu, tentu!" seru Dokter Erina memberikan nomor ponselnya dan juga Jessie.


"Tapi... kalian bisa merahasiakan masalah ini kan? Soalnya saat ini---"


"Iya, kami akan merahasiakannya dari siapa pun. Tapi bisakah kita foto bersama," sela Jessie yang tak kalah histeris nya.


"Bukan masalah besar," ucap Alvian mengambil ponsel milik Jessi dan Dokter Erina. Lalu mereka berfoto sesuai permintaan kedua fans mereka.


"Berhubung ini sudah sore, kami akan pergi sekarang dan... terima kasih. Tolong rahasiakan masalah ini sampai Saya mengumumkan mereka berdua pada publik." ucap Alvian sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan Dokter Erina.


"Dokter, kita di peluk oleh member ALV," Sekarang bergantian Jessie yang menangis. Merasa terharu dengan keberuntungan mereka hari ini.


"Iya Jes, kita bahkan memiliki nomor ponselnya. Tapi... kita harus merahasiakan hal ini dari siapapun." kata Dokter Erina melihat pintu ruangannya sudah tertutup rapat.


"Benar, kita memang harus merahasiakannya. Apalagi Ian sudah menjelaskan kenapa meninggalkan Nona Ayara. Wah ternyata dia wanita yang sangat beruntung, ya," seru Jessie tersenyum-senyum sendiri.


"Dibalik keberuntungannya, ada penderitaan yang sangat menyakiti Nona Ayara." imbuh Dokter Erina menarik nafas dalam-dalam. Dia benar-benar merasa ikut bahagia setelah mendengar Vania memiliki ayah. Bahkan seorang artis terkenal.


*


*


Sementara itu di dalam mobil Alvian dan Bara sudah dalam perjalanan. Menuju ke daerah tempat Alvian pernah melihat Ayara beberapa tahun lalu.


"Al, ini sudah sangat sore. Apakah tidak ada apa-apa kita pergi mencari sekarang?" tanya Bara melihat Alvian menambah laju kendaraannya.


Sekarang yang membawa mobi adalah Alvian, karena gara-gara pernah melihat Aya waktu itu. Dia menjadi mengigat daerahnya.


"Tidak apa-apa, aku tidak sabar bila menunggu besok pagi." jawab Alvian sudah memelankan laju kendaraan tersebut, karena mereka sudah tiba di tempat yang di tuju.


"Ayo kita turun! dulu Aku melihatnya di sini ajak Alvian setelah memarkirkan mobil mereka di sisi jalan.


Tidak menunggu jawaban dari Bara. Dia pun keluar dari mobil lebih dulu, dan mendekati penjual martabak yang hanya berjarak beberapa meter dari mobil mereka.


"Aku sangat yakin bahwa mereka memang tinggal di sekitar sini. tadi juga Dokter Elina mengatakan seperti itu. Vania... sebentar lagi kita akan bertemu sayang. Ini papa." gumam Alvian mengeluarkan dompetnya. Untuk mengambil foto Ayara agar mempermudah saat bertanya.


"Selamat sore paman, saya ingin bertanya apakah Paman pernah melihat wanita ini?" tanya Alvian pada penjual martabak.


"Iya, selamat sore juga. Mana coba Saya lihat," jawab laki-laki setengah baya itu menerima foto dari tangan Alvian.


"Oh, ini Ara."


"Paman mengenalnya? Dia Ayara bukan Ara," tanya Aldebaran yang sudah menyusul keluar dari mobil.


"Iya jika wanita ini. Tapi dia Ara, bukan Ayara."


"Oke, tidak apa-apa, namanya Ara juga. Apa Paman tahu tempat tinggalnya? Dia memiliki seorang putri kecil bernama Vania," kata Alvian yang sudah yakin bahwa Ara adalah Ayara nya.


"Rumahnya di gang sana. Tapi sekarang dia masih berada di toko bunga itu. Sepertinya Toko mereka baru mau tutup." tunjuk pria tersebut kearah Toko bunga tempat Ayara mengais rezeki, setiap harinya.


"Oh, Oke! Ini untuk Paman membeli minuman. Terima kasih, kami akan ke sana sekarang." seru Alvian memberikan beberapa lembaran uang Dolar. Setelah itu dia langsung menarik tangan Aldebaran. Menuju Toko bunga tempat Aya berada saat ini.


"Aya, akhirnya aku menemukan kalian?" gumam Alvian.


"Al, bagaimana jika di dalam banyak orang?" tanya Bara menahan pergelangan tangan sahabatnya.


"Kita berpura-pura seperti pembeli saja dulu," jawab Alvian degan jantung berdebar-debar.


Semakin dekat langkahnya ke pintu Toko tersebut. Maka jantungnya berdegup lebih kencang pula.


"Selamat Sore, Anda mencari bunga Tuan?" tanya Lula yang baru selesai membereskan Toko. Dia dan Aya memang sudah mau pulang dan tinggal menutup pintu utama saja.


"Eum---" Alvian belum selesai menjawab karena Ayara sudah bertanya lebih dulu pada Lula. Namun, ibu muda itu juga tidak menyelesaikan ucapannya.


"Lula, kau berbica---"



Praaank!


Ayara menjatuhkan pot bunga Lili yang dia pegang. Disertai air matanya menetes degan sendirinya. Walaupun Alvian memakai masker penutup wajah dan topi. Akan tetapi Aya bisa mengenali wajah tersebut.


"Mau apa kau kemari?" seru Ayara degan tatapan tajam yang mengandung begitu banyak luka.



"Toko kami sudah tutup, jadi cepat pergi dari sini," usirnya lagi langsung berjalan mendekati putrinya, karena Aya mengira kedatangan Alvian untuk merebut Vania.


"Aya, aku ingin berbicara dengan mu. Kita perlu berbicara. Ada hal yang---"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hubungan diantara kita sudah berakhir dari empat tahun lalu. Jadi pergilah dari sini, sebelum aku berteriak," ancam gadis itu karena Alvian semakin berjalan mendekati dia dan Vania.


...BERSAMBUNG......