
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Satu Minggu kemudian.
Tttddd!
Tttddd!
Ponsel Ayara terus berdering. Namun, belum diangkat juga olehnya karena ini masih terlalu pagi. Tepatnya masih jam setengah enam.
Gadis itu tidak bisa tidur hampir semalaman. Namun, Ayara tidak memberitahu siapapun. Takutnya malah ada yang menyampaikan pada suaminya. Aya tidak mau membuat suaminya khawatir.
Tttddd!
Pemuda itu kembali menelepon. Akan tetapi tetap tidak diangkat oleh Ayara. Karena orangnya masih dibawah selimut.
"Al, apakah Aya tidak mengangkat teleponnya juga?" tanya Bara yang baru keluar dari kamar mandi. Saat ini Alvian lagi berada di belahan Dunia. Yaitu di bagian benua Eropa. Tadi malam pemuda tampan itu baru melakukan konser besar-besaran di negara tersebut.
Akan tetapi pagi ini mereka sudah pulang karena sudah tiga hari berada di sana. Maka selama tiga hari pulalah Alvian berpisah dengan istri dan putrinya.
Rasanya dia sudah sangat merindukan Ayara dan Vania. Karena sudah biasa bersama. Gara-gara Ayara hamil anak kedua mereka. Dengan berat hati si member ALV itu terpaksa harus berangkat bersama Agenci AX Si dan keempat sahabatnya.
"Iya, mungkin dia lagi tidur. Padahal tadinya aku hanya mau melihat wajahnya sebentar saja. Aku begitu merindukan istri dan anakku," keluh Alvian sudah menutup kembali ponselnya. Karena dia juga harus bersiap-siap. Sebab jam tujuh pagi adalah waktu penerbangan mereka.
"Ck, bersabarlah hari ini kalian juga sudah bertemu," decak Bara yang sebetulnya juga sudah merindukan Lula. Gadis yang dia jadikan teman tapi mesra. Mereka berdua tidak berpacaran. Namun, memiliki hubungan yang spesial.
Akan tetapi hubungan tersebut belum diketahui oleh sahabatnya. Sebab Bara belum tahu perasaanya pada Lula suka sebagai pasangan kekasih. Atau hanya membutuhkan tempat pelarian saja.
"Iya, sih. Tapi rasanya aku sudah tidak sabar untuk bertemu. Untungnya Aya tidak mengalami morning sickness. Dia hanya akan muntah bila mencium bau makanan yang menyengat saja, selebihnya tidak apa-apa," sambil berganti pakaian Alvian kembali mengobrol bersama Bara.
Dia sudah mandi sejak tadi. Hanya sebelum memakai pakaian Alvian memilih menelepon istrinya lebih dulu.
"Aku jadi ingin merasakan rasanya menjadi sosok seorang ayah. Andai aku sudah menemukan gadis yang cocok, maka akan segera aku nikahi," ungkap Bara dengan serius.
Aneh tapi nyata. Mereka digilai oleh seluruh gadis dari berbagai macam kalangan. Tinggal pilih saja. Namun, selain Alvian para member ALV itu adalah jomblo sejati.
"Hubungan mu dan Lula seperti apa? Menurutku bila kau mau coba dekati dia. Gadis itu sangat baik. Tapi kau jangan pernah mempermainkannya karena kau akan berurusan degan Tuan Abidzar," usul Alvian karena papanya begitu menyanyangi Lula. Seperti mana pada keponakan beliau sendiri.
"Al, apakah kau sudah melakukan sesuatu pada Chabi Ar? Aku dengar agensi mereka sudah tidak bekerja sama dengan staf Muzakki lagi,"
"Tidak! Aku tidak ada melakukan hal apapun. Mungkin memang mereka memutuskan kontrak kerjasama atau Ada hal lainnya," jawab Alvian yang memang tidak tahu apa yang terjadi pada Chabi Ar. Yaitu Alice dan kedua sahabatnya.
"Oh, mungkin iya, mereka yang mengundurkan diri untuk tidak bekerja sama dengan agensi kita," imbuh Bara sudah selesai bersiap-siap. Begitu pula dengan Alvian. Pemuda itu juga sudah bersiap-siap.
Lalu keduanya langsung keluar dari kamar dan akan menunggu di lobby hotel mewah tersebut. Soalnya kebiasaan dia dan Bara yang ditunggu oleh yang lainya.
Setibanya di bawah. Yaitu lantai dasar. Di sana hanya ada beberapa orang staf yang sudah siap dan juga para bodyguard dari Agenci AX Si maupun bodyguard pribadi.
"Mereka belum turun?" tanya Bara pada Kak Mauza yang sudah menunggu sejak tadi.
"Belum, kita masih ada waktu hampir satu jam. Apakah kalian tidak mau sarapan dulu?" tanya wanita itu yang sudah duluan sarapan bersama rekannya.
"Nanti saja, Kak. Kami mau menunggu yang lainya," Alvian yang menjawab seraya duduk dan mengeluarkan ponselnya lagi untuk menghubungi Ayara.
"Kenapa belum diangkat juga? Sayang... kau belum bangun atau lagi sibuk?":
Gumam pemuda itu begitu fokus pada ponselnya.
"Lebih baik aku kirim pesan saja." gumamnya lagi langsung mengetik pesan.
💌 Alvian : "Sayang, aku sudah bersiap-siap mau pulang pagi ini. Mungkin sekitar jam tiga sore sudah sampai ke rumah utama. Jadi kau harus berdandan yang cantik ya, aku mau membawamu kesuatu tempat yang sangat indah. Jangan lupa, Vania juga kita bawa." bunyi pesan dari Alvian
Setelah itu dia langsung menyimpan ponselnya, karena ketiga sahabatnya sudah datang.
"Sudah siap, ayo kita sarapan," ajaknya pada Hanan, Sandy dan Naufal. Jika Bara sudah ada bersamanya sejak tadi.
"Iya, tumben sekali kalian sudah siap sepagi ini?" tanya Bara seraya melirik jam tangannya.
"Ha... haa... ini semua gara-gara si papa muda mau cepat-cepat pulang untuk bertemu istri dan anaknya," tawa Bara yang menjawab pertanyaan tersebut.
"Nanti jika kalian sudah menikah dan memiliki anak. Maka akan sama seperti diriku," imbuh Alvian sambil berjalan menuju restoran yang ada di hotel itu untuk sarapan. Karena bila tidak meminta diantarkan ke kamar. Untuk para member ALV dan Agenci AX Si telah disediakan oleh hotel tersebut.
"Ya-ya! Kami memang tidak tahu rasanya karena kami belum menikah. Hanya kau yang hebat sudah mau punya anak dua," sambung Sandy yang membuat mereka semua tertawa.
Semenjak Ayara hamil anak keduanya. Alvian sudah dijuluki sebagai papa muda. Karena di umurnya yang belum genap dua puluh empat tahun, tapi hampir punya anak dua.
... BERSAMBUNG... ...