
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
.
.
"Ara, aku pulang duluan, ya? Nanti malam aku akan datang ke rumah mu," ucap Lula setelah mereka membereskan Toko tempat mereka bekerja.
"Iya, aku mau membeli martabak dulu. Nanti aku sisakan untukmu juga," Aya melambaikan tangannya karena letak rumah mereka berbeda arah.
Lalu dengan langkah pelan ciri khas ibu hamil. Ayara pergi ke pinggir jalan raya untuk ikut membeli martabak yang dia inginkan. Di daerah mereka memang begitu banyak para pedagang kaki lima. Mulai dari jam tiga sore sampai jam sembilan malam.
Soalnya tempat tersebut sangatlah ramai. Pengunjung datang untuk menikmati Taman yang ada di pusat ibukota B.
"Tumben bagitu banyak yang beli?" gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Namun, tidak lama setelah dia ikut antrian. Mobil iring-iringan para Group boyband ALV melintas di kawasan tersebut. Sebab konser mereka adalah besok malam.
Ayara yang tidak tahu bahwa di dalam salah satu mobil tersebut ada Alvian. Gadis itu hanya diam menunduk sambil satu tangan memegang perutnya yang besar.
"Kenapa berhenti?" tanya Naufal pada Staf Muzaki. Kebetulan dia, Aldebaran dan Alvian satu mobil. Sedangkan dua member yang lainya ada di mobil didepan mereka.
"Daerah sini memang sering terjadi macet, soalnya ini adalah pusat ibukotanya." jelas Staf Muzaki yang duduk di kursi bagian depan.
Sedangkan mobil yang lainya adalah kru, para staf dan bodyguard ke lima member ALV. Mereka selalu di ikuti hampir dua puluh empat jam kemanapun mereka pergi, bila itu berada diluar rumah.
"Oh, pantas saja," Naufal mengangguk mengerti.
Hampir sepuluh menit mobil mereka terkena macet. Padahal jalan tersebut sudah dilakukan gladi resik agar tidak mempersulit Alvian dan teman-temannya. Namun, namanya juga orang banyak selalu saja ada yang membuat terjadinya kemacetan.
Untungnya selain pemerintah setempat tidak ada yang tahu bahwa di dalam mobil iring-iringan tersebut ada group boyband ALV. Jika masyarakat tahu mungkin mereka tidak akan bisa pergi dari tengah kemacetan.
Begitu mobil tersebut mulai jalan meskipun pelan. Alvian yang sibuk berbalas pesan bersama salah satu artis perempuan yang merupakan penyanyi juga, sama seperti dirinya. Melihat keluar jendela mobil yang tembus pandang.
Akan tetapi jika dari luar tidak akan terlihat siapa saja yang ada didalamnya.
"Aya! Itu Ayara, kan? Tapi... Aya tidak hamil. Kenapa ini sedang hamil? Jika orang lain kenapa sangat mirip?"
Mata Alvian seakan mau loncat keluar karena tanpa disengaja matanya melihat Ayara yang ikut antri membeli martabak. Semenjak hari itu inilah dia baru melihat mantan kekasihnya. Akan tetapi saat ini dalam keadaan yang berbeda.
Pada saat mobil mereka mulai jalan perlahan, kebetulan pada saat itu Ayara ikut melihat kearah dirinya. Namun, gadis itu tidak tahu bahwa di dalam mobil tersebut ada pemuda yang telah membuang Aya, karena sebuah karier yang dianggap masa depannya.
Meskipun pandangannya terhalang oleh kaca mobil. Tapi Alvian dapat melihat jika gadis itu sangat kurus dengan tatapan mata yang berbeda. Tidak sama seperti Ayara nya, yang selalu ceria meskipun menyimpan banyak kesedihan, karena tidak pernah diperlakukan dengan adil oleh ayah dan kelurga besar Wilson.
"Ayara, iya itu Ayara! Tidak, tidak! Mana mungkin Aya, dia mana mungkin hamil dan memakai pakaian seperti itu,"
Gumam Alvian mengelengkan kepalanya berulang kali. Untuk membuang pikirannya tentang mantan kekasih yang masih bersemayam dihatinya. Padahal begitu banyak artis terkenal yang terang-terangan menyatakan perasaan padanya.
Namun, tidak ada satupun yang diterima oleh pemuda tampan itu. Dia seakan enggan untuk melihat kearah gadis yang kecantikannya mungkin jauh dari Ayara.
Tiiiin!
Tiiiin!
"Agh, ini kenapa macetnya lama sekali," seru Staf Muzaki menyuruh sopir yang merangkap jadi bodyguard khusus membunyikan klakson mobil tersebut.
"Untung tidak banyak yang tahu kedatangan kita hari ini," kata Naufal ikut kesal karena harus menunggu sampai kurang lebih sepuluh menit.
Disaat temannya dan Staf Muzaki berbicara. Alvian justru termenung memikirkan wanita hamil yang ia lihat beberapa menit lalu. Meskipun tampilannya sangat berbeda dari sang mantan kekasih. Namun, Alvian tahu ukuran tingginya sama seperti Ayara.
"Aya... itu tidak mungkin dirimu, kan? Jika itu benar kamu kenapa sedang hamil?"
Tanya Pemuda itu didalam hatinya. Dia terus membayangkan wajah yang barusan dia lihat. Sebab bila itu benar Ayara, maka gadis itu sedang menderita. Itulah yang Alvian pikiran.
"Tidak, Aya mana mungkin lagi hamil. Ini pasti karena aku sangat merindukan dirinya. Lagian untuk apa juga dia jauh-jauh sampai ke kota ini. Aya pasti berada di kota S dan sedang melanjutkan kuliahnya,"
Gumam Alvian terus mempertanyakan apa yang ia lihat. Namun, dia tidak berkata apa-apa.
"Al, kau kenapa?" tanya Bara karena melihat sahabatnya seperti lagi banyak pikiran.
"Agh! Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan tentang konser kita besok malam," dustanya sudah kembali seperti semula.
"Tenang saja, semuanya pasti lancar," Naufal menepuk pelan pundaknya.
"Huem, iya," memaksakan tersenyum meskipun hatinya dipenuhi puluhan pertanyaan tentang Ayara.
Setelah sekian lama putus. Hari ini dia baru terpikirkan kira-kira Ayara kuliah dimana? Dan hal apa yang ingin Aya sampaikan saat dimana Alvian mengakhiri hubungan mereka.
"Ya Tuhan! Kenapa aku sampai tidak menanyakan hal yang ingin Aya katakan hari itu,"
Alvian kembali bergumam dan mengigit bibirnya. Guna menahan kekesalan pada dirinya sendiri yang tidak pernah berniat untuk menemui Aya dan menanyakan keadaan mantannya itu. Padahal Alvian masih memiliki waktu dan kesempatan untuk bertemu Aya secara diam-diam.
Sebetulnya Alvian sudah sering nekat menghubungi Aya melalui sambungan telepon. Namun, nomor gadis itu tidak pernah aktif begitu pula semua akun sosial medianya.
Jadi pemuda itu berpikir bahwa Aya sengaja menganti kartu baru dan memblokir semua akun sosial media karena marah padanya.
Padahal ketika berakhirnya hubungan mereka. Hari itu ponsel Aya kehujanan dan tidak bisa dihidupkan lagi. Disaat dia pergi Aya juga tidak membawanya.
*
*
Sementara itu di tempat jualan martabak. Aya sampai mencari tempat duduk karena bayinya tiba-tiba terus menendang tidak mau diam. Selama Aya dapat merasakan pergerakan bayinya. Si calon buah hati tidak pernah seaktif sore ini. Sehingga dia merasakan ngilu karena hal tersebut.
"Kau mau apa, Nak? Apakah sudah tidak sabar ingin makan martabak nya?" tanya Aya sambil mengelus perutnya yang besar.
"Tunggu ya, kita harus ikut antrian, tidak boleh main serobot saja. Nanti orang-orang yang lebih dulu dari kita akan marah," lanjutnya lagi seakan si bayi mengerti ucapannya.
Aya duduk tidak jauh dari penjual martabak tersebut. Sambil memperhatikan ada dua orang wanita hamil yang berdiri bersama pasangan mereka. Melihat hal tersebut Aya hanya bisa tersenyum getir dan membatin di dalam hatinya.
"Andai saja aku juga memiliki pasangan seperti mereka, mungkin aku tidak perlu repot-repot memikirkan biaya untuk melahirkan. Ini sudah bulannya, tapi uang tabungan ku hanya sedikit. Apakah cukup untuk aku makan selama belum bisa bekerja dan buat biaya rumah sakit?"
Di umurnya yang baru sembilan belas mau jalan dua puluh tahun. Ayara sudah memikul beban berat itu sendirian. Tanpa ada seorangpun yang dapat ia andalkan.
...BERSAMBUNG......