I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Wanita Berhargaku.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Aya!" lirih Alvian begitu jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi.


"Alvin," Ayara juga menyebut nama pemuda itu yang terasa tercekat dalam tenggorokannya.


"Aya... Maafkan aku," tanpa aba-aba. Alvian langsung menjatuhkan tubuhnya dibawah kaki gadis yang dia cintai dan dia sakiti.


Dia bersimpuh seperti mana seseorang yang meminta pengampunan atas kesalahan yang telah dia lakukan.


"Alvin, apa yang kau lakukan? Ayo cepat berdiri. Bagaimana jika ada yang melihatmu seperti ini," seru Ayara berubah menjadi kaget atas tindakan mantan kekasihnya.


"Tidak! Aku tidak mau berdiri sebelum kau mau memaafkan aku." tolak pemuda itu karena diibaratkan kewarasannya belum pulih sepenuhnya.


"Aya, sayang maafkan aku!" ucapnya meminta maaf sambil menggenggam tangan Ayara yang mau membantunya berdiri.


"Maaf buat apa! Ayo cepat berdiri, coba lihat Vania melihatmu seperti ini, dan aku sudah memaafkan mu, ayo berdirilah!" jawab si ibu muda karena Ayar tidak suka Alvian harus bersujud padanya seperti saat ini.


Dia memang kecewa atas perbuat Alvian dulu yang meninggalkan dirinya. Akan tetapi Alvian melakukan semua itu juga karena terpaksa dan tidak tahu bahwa Ayara tengah berbadan dua.


"Tapi kau tidak akan membawa Via pergi dariku kan? Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku bersedia meninggalkan semuanya. Asalkan bisa hidup bersama kalian." kembali memohon seperti anak kecil ingin sesuatu dari ibunya.


Padahal coba pikirannya lebih baik. Seharusnya Alvian menanyakan kenapa Aya dan putrinya bisa berada di Apartemennya.


"Kau ini bodoh atau memang otakmu tidak digunakan lagi karena minuman memabukkan itu?" seru Ayara menghela nafasnya.


Alvian bila lagi pusing memiliki banyak masalah. Memang suka mabuk-mabukan di Apartemennya. Dan kebiasaan itu sudah sejak dia sekolah menegah atas dan awal


berpacaran dengan Ayara


Namun, semenjak dua bulan mengenal Ayara, semua kebiasaan itu hilang dengan sendirinya, karena setiap ada masalah. Alvian akan bercerita pada kekasihnya.


Bukannya bercerita seorang diri, dalam keadaan mabuk. Masalah yang dia punya tentunya karena bertengkar dengan sang ayah yang menantang keras cita-cita Alvian menjadi penyanyi.


Akan tetapi semenjak hubungannya dan Ayara berakhir. Setiap kali dia merindukan mantan kekasihnya, maka Alvian akan mabuk-mabukan di dalam Apartemennya.


"Jadi aku memang tidak bermimpi? Ini nyata!" Alvian tersenyum seraya berdiri. Lalu dia langsung menarik Ayara masuk kedalam pelukannya.


"Alvin, apakah kau masih mabuk? Lepaskan aku, kau membuatku susah bernafas." keluh wanita itu berusaha mendorong dada Alvian mengunakan tangannya.


Tapi karena tenaga Alvian jauh lebih besar daripada tenaganya yang memang memiliki tubuh kurus tinggi. Tidak bisa mendorong agar pelukan mereka terlepas.


Sebelum menjawab perkataan Ayara dan melonggarkan pelukannya. Pemuda itu menyugikkan senyumannya. "Iya, aku mabuk karena dirimu. Kata-kata mu sejak dulu tidak pernah berubah. Bila mengetahui aku mabuk, maka kau selalu bilang jika otakku tidak digunakan lagi karena minuman memabukkan itu," ungkapnya menarik Ayara kedalam pelukannya lagi.


"Aya, tadi aku mengira ini hanya mimpi. Tapi ini nyata, kau datang untuk menyusul ku 'kan?" Alvian melonggarkan pelukan nya untuk menatap muka Ayara.


"Tidak! Kata siapa aku datang menyusul mu. Aku datang ke sini karena ingin menyaksikan sendiri pernikahan mu. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan dariku." jawab Ayara degan wajah juteknya.


"Aya, aku tidak akan menikah dengan siapapun. Aku hanya akan menikahimu." seru Alvian memegang kedua pundak ibu dari putrinya.


"Bukannya kau harus memilih antara aku atau wanita lain? Sama seperti dulu kau tidak bisa memilih aku atau kariermu! Dan ternyata sampai kapanpun, aku tetaplah kalah, tidak pernah ka---"


"Aya, aku sangat terpaksa melakukannya, karena papa mengancam akan menyakiti kalian berdua. Apa kau pikir aku akan diam saja dan mementingkan keegoisanku sendiri. Sementara nasip kau dan anak kita dalam bahaya?" jelas Alvian yang tidak membenarkan jika dia akan membuang wanita itu lagi.


"Tapi bukannya kau sudah berjanji pada papamu dan akan menikahi gadis itu besok pagi?"


"Tidak! Aku tidak akan mengikuti perkataan papaku. Sekarang kalian sudah ada bersamaku. Tidak akan aku biarkan papa menyakiti kalian." jawab pemuda itu berjongkok untuk mengedong Vania yang berjalan mendekati kedua orang tuanya.


Soalnya sejak tadi gadis kecil itu hanya diam didekat kursi sambil bermain boneka Barbie yang dibelikan oleh papanya sebelum pulang Minggu lalu.


"Tapi, bagai---"


"Shuuit, semuanya akan baik-baik saja. Aya, aku sangat mencintaimu dan putri kita. Maka biarkan aku berjuang untuk melindungi kalian." sela Alvian menaruh jari tangannya pada bibir yang dulu selalu dia nikmati.


Sekarang dia sudah kembali berdiri seperti semula. Namun, kali ini ada Vania dalam gendongannya.


"Percayalah! Aku setuju pada perjodohan papa karena dia mengancam ku. Tapi tidak untuk sekarang. Kita akan terus seperti ini, aku akan menelepon Denis untuk menghubungi bodyguard ku. Agar anak buah papa tidak bisa mendekati kalian berdua." papar Alvian yang sekarang memeluk Ayara dan anaknya sekaligus.


"Tuhan! Maafkan aku yang akan menantang papa. Aku melakukannya karena tidak ingin berpisah lagi dengan kedua wanita berhargaku." gumam Alvian di dalam hatinya sambil merasakan kebahagiaan yang akhirnya bisa bersama Ayara dan putrinya.


"Sayang! Maafkan Papa,"


"Alvin, pergilah mandi! Biarkan Vania bersamaku," ucap Ayara yang tidak mungkin membiarkan Alvian ikut makan dalam keadaan seperti sekarang.


Tubuh pemuda itu semuanya menyegat bau minuman yang entah berapa banyak masuk kedalam perutnya.


"Kau memasak?" bertanya sambil menatap meja makan ada beberapa makan untuk sarapan.


"Huem!" Ayara hanya mengangguk kecil.


"Tapi... kau tahu sandi Apartemen ini dari siapa? Dan Kalian kembali ke kota ini kapan?" baru sadar setelah dari tadi terus bicara kesana-kemari.


"Aku mencoba keberuntungan saja. Jika kau benar mencintaiku, pasti sandinya tanggal lahirku. Kami ke kota ini mengunakan mobil bus. Kami berangkat dari kota B, tadi malam. Jadi pas sekali, pagi baru sampai ke sini." jawab Ayara yang sudah mengambil alih mengendong putri mereka.


"Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu? Kan aku bisa menyuruh orang untuk menjemput kalian,"


"Karena aku takut mengaggu waktu mu yang sibuk. Lagian jika sandi Apartemen mu bukan tanggal lahirku lagi. Kami tidak akan menemuimu untuk selama-lamanya dan mungkin setelah mengunjungi makam mamaku, kami akan pergi ke kota lain." Ayara memang benar-benar tidak menyangka, jika sandi Apartemen Alvian masih juga mengunakan tanggal lahirnya.


Sama seperti Apartemen lama Alvian, yang juga mengunakan tanggal lahir Ayara sebagai sandi untuk membuka pintu Apartemen.


"Kata siapa mengaggu, aku---"


"Sudah, cepat mandi sana! Putriku sudah lapar," sela Ayara karena dia dan putrinya memang belum mandi.


"Baiklah! Tunggu aku mandi sebentar." jawab Alvian tersenyum bahagia. Namun, setelah beberapa langkah berjalan. Dia berbalik arah dan berjalan mendekati Ayara dan anaknya lagi.


"Ada ap---"


Cup!


Alvian mencium kening Ayara, lalu dia sedikit menundukkan kepalanya untuk mencium sang putri.


Cup, cup, Muaach


"Aku mencinta kalian," jawabnya yang langsung berlari kecil masuk kedalam kamar mandi. Tak ubahnya seperti anak kecil saja. Sehingga membuat Ayara dan Vania saling tatap, lalu sama-sama tersenyum.


"Dasar! Dari dulu tidak pernah berubah." gumam Ayara tersenyum kecil. "Sayang, duduk dulu, ya. Kita tunggu papa selesai mandi, setelah itu baru kita sarapan bersama." ucapnya pada sang putri.


"Iya," Vania mengangguk setuju. Lalu sambil menunggu Alvian selesai mandi. Ayara kembali melanjutkan pekerjaannya. Untuk menyiapkan piring dan gelas yang belum dia siapkan.


Namun, tidak lama ibu dan anak itu menunggu. Alvian sudah datang dengan penampilan barunya. Akan tetapi bekas memar di sudut bibirnya tetap saja tidak hilang.


Untungnya yang di bagian pipinya langsung diobati oleh Tante Anis sebelum dia meninggal kediaman Rafael. Jadi tidak nampak lagi bekas memarnya.


"Kau sudah selesai? Kenapa cepat sekali? Apakah kau tidak mandi?" tanya Ayara heran.


Soalnya tidak sampai sepuluh menit. Alvian sudah selesai.


Tentu saja aku mandi, aku takut ini hanya mimpi. Aku takut kau dan putri kita menghilang." jawab jujur Alvian.


Dia seakan tidak yakin bahwa semua ini nyata. Karena tiga malam lalu, gadis itu tidak mau bicara dengannya.


"Ini nyata, bukan mimpi, Alvin. Tadinya kami datang ke sini untuk menghadiri pernikahanmu. Namun, setelah aku pikir-pikir lebih baik datang ke Apartemen mu saja. Sekalian untuk membuktikan kata-kata mu yang kau bilang cinta padaku." jawab Ayara mulai mengisi piring untuk dia dan Alvian, karena jika Vania akan dia suapi.


"Aya, berapa kali aku harus mengatakan, bahwa aku tidak akan menikah dengan siapapun, selain dirimu." seru Alvian langsung menahan tangan Ayara yang meletakan piring dihadapannya.


"Huh! Ayara menghela nafas panjang. "Alvin, kan tadi aku sudah bilang. Aku berubah pikiran setelah kami hampir sampai ke kota ini. Jika aku tidak mengikuti kata hatiku yang ingin membuktikan bahwa kau masih memiliki perasaan padaku atau tidak. Maka saat ini kami tidak akan ada di sini," ungkap Aya karena Alvian belum juga mengerti perkataannya sejak tadi.


"Huem! Oke-oke! Aku mulai paham! Sekarang ayo kita sarapan lebih dulu. Nanti kita bicarakan lagi," pemuda itu melepaskan kembali tangan Ayara dan diangguki oleh wanita tersebut.


"Alvin, bibirmu kenapa bisa terluka?" tanya Ayara baru menyadarinya.


"Ini ditampar papa kemaren, tapi ini tidak sakit," tersenyum kecil untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak percaya padamu," cibir Aya karena dia pernah merasakan sakitnya karena di tampar Tuan Edward. Jadi sudah tahu rasa sakitnya seperti apa.


"Kau tidak percaya padaku? Baiklah, aku akan---"


"Eh! Ka--kau mau a--apa?" seru wanita itu yang kaget melihat Alvian mendekatkan wajah mereka.


"Aku hanya ingin mengambil ini. Memangnya kau berpikiran kemana? Kenapa kau menjadi gugup?" setelah empat tahun hubungan mereka kandas.Hari ini sipat jahil Alvian yang sering mengerjai Ayara sudah kembali lagi.


... BERSAMBUNG... ...