
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Malam harinya.
Mereka semua lagi berkumpul di Taman yang ada di Villa tersebut. Mereka belum makan malam dan sekarang lagi membakar daging pada tempat yang sudah disediakan oleh para pelayan sebelum mereka kembali ke rumah kecil khusus untuk para pekerja yang menjaga Villa mewah itu.
Tadi siang setelah makan siang mereka juga pergi jalan-jalan di sekitar Villa yang memiliki tempat sangat indah dan juga sejuk meskipun saat siang hari.
"Bara, kau selesaikan memotong buahan ini, ya, aku mau mengambil jus untuk kita semua."
Ucap Sandy sambil berlalu masuk kedalam Villa. Sedangkan teman-temannya yang lain juga lagi sibuk menyiapkan yang lainya. Termasuk membakar jagung bakar pun juga ada.
Benar-benar liburan ala member ALV. Mungkin karena terlalu bosan hidup serba kemewahan setiap kemana kaki melangkah. Jadinya sekali liburan mereka akan memasak sendiri dan membuat makanan seadanya.
"Papa, Via mau itu," tunjuk Vania pada jagung yang sedang dibakar oleh Naufal. Sedangkan Alvian sendiri lagi menata masakan yang sudah siap diatas meja makan. Taman yang indah itu sudah terhidang berbagai masakan di atas meja makannya.
"Via mau jagung?" tanya Alvian memastikan. Soalnya bukan hanya jagung saja yang dibakar, tapi juga ada daging domba, sosis bakso. Makanya ayah muda itu memastikan terlebih dahulu.
"Al, Via mau apa?" tanya Hanan dengan membawa sendok dari dalam Villa.
"Entahlah! Aku juga belum tahu," jawab Alvian langsung meninggalkan pekerjaannya karena dia berjalan mendekati sang putri dan mengendong princess kesayangan mendekati Naufal.
"Via mau apa? Ayo pilih biar Om dinginkan dulu," ucap Naufal pada Vania yang mereka anggap sebagaimana keponakan sendiri. Ketahuilah, ke-lima member ALV tidak ada yang memiliki saudara perempuan. Mereka terlahir dari anak laki-laki semua dan ada pula anak tunggal.
Jadinya adanya Ayara dan sekarang sudah digantikan oleh Vania. Tentu sangat dimanja oleh mereka semua. Maka dari itu saat melakukan penandatanganan kontrak empat tahun lalu. Semuanya sangat berat untuk mengambil keputusan tersebut.
Soalnya Ayara seperti adik perempuan mereka. Jadi sudah pasti keempat pemuda tampan itu merasa bersalah. Jika Alvian jangan ditanyakan lagi betapa terpuruknya dia.
"Mau apa, sayang? Biar papa yang ambil jika tidak mau sama Om Naufal." tanya Alvian sambil satu tangganya menyelipkan anak rambut sang putri.
"Via butan mau dagung, butan mau yang lainna," si cantik mengelengkan kepalanya pelan karena dia memang bukan mau apa yang sedang dimasak oleh Naufal.
Cup!
Sebelum kembali bertanya, Alvian mengecup pipi putrinya lebih dulu.
"Sekarang ayo duduk sini dan katakan pada Papa, kalau Via mau makanan yang mana?" Alvian malah tersenyum mendengar anaknya tidak mau jagung bakar ataupun masakan lainya.
"Untung saja Kau mengerti ucapannya, Al. Kalau tidak bisa-bisa princess menangis karena menginginkan sesuatu." imbuh Hanan ikut berdiri di dekat Alvian karena dia mendadak menjadi penasaran apa yang diminta oleh sang princess.
"Haaa... tentu saja aku mengerti, dia anakku," tawa Alvian.
"Om anan, Via mau depit lambut na," ucap Via langsung pada Hanan.
"Princess nya Om Hanan mau jepit rambut ini?" tanya Hanan seraya melepaskan jepit rambut kecil dari rambutnya.
"Iya, Via mau depit lambut puna Om Opal duga," jawab Via yang membuat kedua member ALV itu melepaskan secara paksa jepit rambut yang mereka pakai.
"Haa... ha... jadi Putri Papa bukan mau makanan, ataupun yang mau yang lain. Melainkan jepit rambut Om Hanan dan Naufal," tawa Alvian yang tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Iya, Via mau depit lambut, butan dagung," Via tersenyum bahagia setelah dua jepit rambut yang sangat lucu menurutnya diberikan oleh kedua om tampannya.
"Kalau Via masih mau, nanti Om akan membeli lebih banyak lagi atau kalau tidak papamu bisa menerimanya dari fans ALV." Hanan dan Naufal tergelak karena mereka memiliki jepit rambut itu dari pemberian Fans ALV juga.
Entah mengapa mereka selalu diberikan jepit rambut, pita dan juga bando yang langsung dipasangkan oleh gadis-gadis cantik sebagai hadiah setelah bersalaman.
"Aku terkadang tidak mengerti dengan fans ALV, kenapa mereka selalu memberikan barang-barang milik perempuan pada kita. Apakah wajah kita terlalu cantik, bukan tampan." ujar Naufal sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Jika itu tanyakan pada Lula, dia pasti tahu jawabannya," sahut Alvian melihat kearah istrinya berjalan keluar bersama Lula.
"Itu dia," tunjuk Hanan yang juga kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Lula, kau membawa apa?" tanya Bara mendekati gadis itu.
"Aku membawa nasi dan Ayara membawa sayur buat Via." jawab Lula jadi ikut-ikutan menyebut Vania sebagai Via. Soalnya seluruh keluarga Rafael juga memangil Via, bukan Vania.
"Alvin, kalian kenapa?" sekarang Aya yang bertanya pada anak dan suaminya. Soalnya Alvian duduk bersama putri mereka.
"Benarkah! Kenapa bisa begitu," Aya pun juga ikut tersenyum.
Cup!
"Tentu saja, karena dia sama sepertimu yang sering merebut makanan ku," Alvian langsung mengecup pipi Aya dihadapan Lula dan para sahabatnya.
"Kau menodai mata jomblo ku, Al," ucap Naufal yang membuat mereka tertawa.
"Aaaaa Ayara yang dicium kenapa aku yang mau pingsan." gumam Lula melihat hal romantis tersebut.
"Alvin, kau---"
"Sudahlah, ayo temani aku menata semuanya. Agar kita cepat makan malamnya." sela Alvian yang menarik lembut tangan istrinya. Akan tetapi baru tiga langkah kakinya berjalan. Suara cadel Via langsung membuatnya kembali memutar kebelakang.
"Papa, Via itut. Via mau gendong duga," ucap si cantik merentangkan kedua tangannya.
"Papa lupa sayang, tadinya Papa kira benar-benar lagi berbulan madu sama mamamu." jawab Alvian tersenyum karena dia ingin menggoda sahabatnya.
"Iya-iya! Dunia ini sudah kalian kontrak berdua. Jadi anggap saja kami tidak ada di sini," cibir Sandy berjalan dari dalam membawa jus untuk menemani mereka makan malam.
Mendengar ucapan pemuda itu tentu membuat mereka kembali tertawa bahagia. Begitulah seterusnya karena memang seperti itulah cara mereka menjalin persahabatan.
"Mereka semua ternyata memang sudah dekat seperti ini saat dibelakang panggung. Jadi semua kekompakan dan kelucuan ALV adalah murni. Bukannya dibuat-buat agar fans mereka selalu tersenyum dibuatnya." gumam Lula memperhatikan ke randoman Alvian dan ke-empat sahabatanya.
Tidak sampai setengah jam setelahnya. Mereka yang berjumlah delapan orang termasuk Vania. Sudah berkumpul dimeja makan.
Ayara duduk bersebelahan dengan suaminya dan Vania. Sedangkan Lula duduk disamping kirinya Sandy dan sebelah kanannya ada Bara.
Didalam dunia halu nya saja tidak pernah berani memimpikan bisa makan malam bersama para member ALV. Apalagi duduk diapit oleh kedua pemuda yang sama-sama tampannya.
"Sayang, sudah!" ucap Alvian melihat pada piringnya yang diisi oleh Ayara dengan berbagai macam makanan walaupun hanya sedikit-sedikit.
"Iya, ini juga sudah selesai. Kau makan saja, Via bisa makan sendiri." jawab ibu muda itu karena bila ada Alvian, apabila Vania makan selalu disuapi.
"Baiklah!" Alvian kali ini mengangguk setuju.
"Lula ayo makanlah," titah Aya pada sahabtanya yang diam sambil memperhatikan dia dan Alvian.
"Bara, kau kenapa belum mengambil makanan untukmu juga? Jangan bilang bahwa kau ingin Lula yang mengambilkan makanan untukmu. Seperti yang dilakukan oleh Aya pada suaminya." seloroh Sandy karena menurutnya Bara juga ikut memperhatikan Aya dan Alvian.
Sehingga refleks Lula menoleh kearah samping untuk melihat Bara. Dalam hitungan detik mereka berdua saling tatap sampai terdengar suara Hanan.
"Huem! Mari kita makan malam, setelah ini kita bisa bersantai." ucap pemuda itu yang segaja untuk mencairkan suasana.
"Lula, ini untukmu," Ayara yang takut Lula masih merasa canggung pada member ALV. Langsung saja mengisi piring buat Lula sahabatnya.
Bara pun akhirnya juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Akan tetapi kecanggungan itu tidak lama karena mereka sudah saling bercanda lagi. Apalagi setelah mendengar suara cadel Vania.
Makam malam tersebut hampir menghabiskan waktu satu jam lamanya karena mereka saling bersanda gurau. Setelah selesai mereka sama-sama membereskan bekasnya. Hanya Aya dan Vania saja yang tidak ikut membereskan karena Alvian yang melarang istrinya.
Lula sebetulnya sudah mereka larang juga. Namun, gadis itu tetap memaksakan dirinya untuk ikut membantu. Dia seorang gadis jadi bagaimana mungkin membiarkan para artis terkenal itu mencuci piring. Meskipun para member ALV itu bisa melakukannya karena mereka bukanlah pemuda yang malas.
"Agh! Akhirnya kita bisa bersantai juga," ucap Hanan langsung mengambil alih mengedong Vania agar ikut duduk bersamanya.
"Om Anan tapek?" tanya Vania menatap pada Hanan.
"Iya, Om capek sekali karena hari ini sudah bekerja keras untuk membakar jagung," jawab pemuda itu yang kebetulan mengerti pertanyaan Vania.
"Via sudah sekolah, kan?" sekarang bergantian Hanan yang bertanya dan hanya dianguki oleh gadis kecil itu.
"Wah bagus sekali. Nanti setelah kita kembali ke kota. Om akan membelikan sepatu yang cantik untuk, Via." ucapnya karena sudah mendengar cerita dari Alvian jika selama mereka berada di Amerika. Ayara sudah mendaftarkan Vania sekolah yang bertaraf internasional.
"Aya, kau mendaftar Via dengan identitas siapa?" tanya Bara karena setahunya saat menemani Alvian melakukan tes DNA. Vania tidak bisa mendaftar sekolah apabila tidak memiliki surat lengkap tentang keluarganya.
"Masih memakai namaku. Namun, aku tidak tahu kenapa kepala sekolahnya menerima begitu saja dan tidak ada berkata apa-apa." jawab Ayara jujur karena dia memang tidak tahu saat melakukan pendaftaran pada putrinya tidak dipersulit.
"Ternyata tidak sesulit yang dibicarakan orang-orang. Oh iya Al, mau kapan kau melakukan pertemuan pers untuk mengumumkan keluarga kecilmu?" sambung Naufal.
"Tunggu surat dari kota B selesai. Entahlah papaku yang mengurus semuanya. Aku tidak mengerti juga kenapa bisa selama ini. Namun, aku sangat yakin papa pasti melakukan ini dengan teliti karena tidak mau publik mengetahui status anakku yang lahir diluar pernikahan kami," jawab Alvian sambil mengenggam tangan istrinya.
Saat ini mereka lagi bersantai di Taman tempat mereka tadi melakukan makan malam.
...BERSAMBUNG......