I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Waktu yang Terbuang.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


... HAPPY READING... ...


.


.


"Baiklah, Om. Jika begitu aku akan menundanya dulu." jawab Bara setelah mendengar nasehat panjang dari Tuan Abidzar.


Tidak lama setelah mereka mengobrol, Aya sudah datang untuk mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Membuat mereka semuanya kebelakang termasuk Baby Arka dan si cantik Vania, kakaknya.


Sarapan di rumah tersebut memang selalu ramai karena mereka adalah keluarga besar. Lagian Alvian dan Ayara hampir setiap hari makan di sana, karena Nyonya Lili sendiri yang memintanya.


"Lula, ayo tambah lagi! Ingatlah kau hamil tiga orang anak, jadi makan mu harus lebih banyak dari biasanya." ucap Nyonya Lili yang sejak tadi selalu menyuguhkan Lula berbagai masakan beliau sendiri. Jika Ayara hanya tersenyum melihatnya karena pada saat dia hamil Baby Arka, sang ibu mertuanya juga melakukan hal yang sama.


"Iya, Tan. Ini Lula sudah nambah lagi." jawab Lula makan dengan lahap. "Eum... sebetulnya selain memberitahu kalian tentang hamil baby triple. Lula memang mau makan masakan Tante Lili." ungkapnya lagi.


"Benarkah? Wah kebetulan sekali Tante ingin memasak makanan kesukaan mu sejak pagi. Ternyata calon cucu kami yang menginginkannya." Nyonya Lili tersenyum bahagia mendengarnya.


"Andaikan mama seperti Tante Lili yang tidak pernah memandang harta. Maka kami sudah hidup bahagia sejak awal menikah. Tapi mama begitu serakah akan harta. Padahal kekayaan yang aku miliki tidak akan habis sampai tujuh turunan sekalipun."


Gumam Bara didalam hatinya. Jauh di lubuk hati pemuda itu merasa iri pada keluarga Rafael yang selalu memberikan dukungan moral pada sesama keluarga.


"Bar, ayo tambah lagi. Bukan hanya Lula yang harus makannya banyak, tapi kau juga. Karena menjadi seorang calon ayah itu berat. Kita harus siaga dua puluh empat jam. Terkadang ibu hamil itu banyak maunya." kata Alvian yang makan sambil menyuapi Baby Arka.


Anak keduanya memang sudah mulai makan nasi dan sayuran. Jika si cantik Vania sudah bisa makan sendiri.


"Saat aku hamil Via untungnya hanya ingin memakan martabak jagung. Aku tidak pernah mengidam yang aneh-aneh. Berbeda saat hamil Arka. Mungkin bayinya tahu jika ada papanya yang harus direpotkan." timpal Ayara tersenyum kecil saat kenangan masa lalu melintas dalam benaknya.


"Sayang, maafkan aku." Alvian mengegam satu tangan istrinya. Mereka berdua saling tersenyum kecil. Seolah-olah lagi berbagi kesedihan.


"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang Via harus hidup bahagia. Begitupun dengan dirimu, Nak. Tidak akan Papa biarkan siapapun menyakiti kalian." ujar Tuan Abidzar.


"Iya, Pa. Maka dari itu rencananya sore ini kami mau pergi honeymoon di suatu tempat yang indah." perkataan Alvian membuat Ayara menatap pada suaminya. Soalnya si member ALV tersebut tidak ada berkata apa-apa.


"Mama... nitip Arka dan Via ya." Alvian tersenyum kearah Nyonya Lili, ibunya.


"Ya, pergilah! Anak-anakmu biar Mama yang mengasuhnya." jawab wanita itu yang membuat Aya mencubit perut suaminya dan berkata.


"Kau ini kebiasaan sekali menyusahkan mama dan papa."


"Tidak apa-apa, sayang. Mama senang bisa mengasuh anak-anak. Kau juga perlu bahagia, bukan menjadi istri dan ibu rumah tangga saja." kata Nyonya Lili karena saat masih muda beliau juga sering menitipkan Alvian dan Dery pada ibu mertuanya.


Setelah percakapan itu mereka semua kembali meneruskan makan siang dengan canda tawa. Begitu selesai kembali lagi berkumpul diruang keluarga. Seperti itulah sampai Bara dan Lula berpamitan pulang.


Diikuti juga oleh Alvian dan Ayara. Karena mereka berdua juga akan bersiap-siap untuk pergi menikmati waktu luang tanpa kedua anaknya.


"Alvin, memangnya kita mau pergi kemana?"


"Hah? Kau ini! Kita bukanlah pasangan yang lagi berpacaran. Kenapa harus dinner segala."


"Itu karena aku mau menganti waktu empat tahun yang sudah terlewatkan. Aku mau mengisinya dengan membahagiakan mu." Alvian yang selalu bersikap romantis memeluk tubuh Aya dari belakang. Padahal istrinya lagi mempersiapkan pakai untuk mereka selama satu hari.


Cup!


"Aku mencintaimu!" bisik pemuda tampan itu tidak pernah bosan untuk mengucapkan kata-kata cinta.


"Aku juga mencintaimu, Papanya anak-anak." balas Aya membuat mereka tertawa bersama.


"Kau ini!" kata Alvian yang semakin memeluk erat tubuh istrinya.


"Alvin, jika kau terus seperti ini kapan aku selesainya." keluh Aya tidak bisa melepaskan dirinya.


"Nanti biarkan aku menyelesaikan. Kau cukup duduk bersantai." belum menunggu pergi ketempat yang sudah dipersiapkan, keduanya selalu bermesraan. Bercanda dan tertawa bahagia.


Berbeda dengan keadaan Ria. Gadis itu saat ini tengah mabuk-mabukan disebuah Bar yang cukup terkenal di ibukota S.


"Hai... apakah aku boleh duduk untuk menemanimu minum?" ucap seorang anak muda yang sama lagi memiliki masalah. Sehingga siang hari sudah datang ke Bar untuk menikmati minuman memabukkan.


"Ya, duduk saja. Aku juga lagi tidak ada teman." jawab Ria mulai merasakan pusing pada kepalanya. Gadis itu sudah biasa minum anggur dan sebagainya. Jadi tidak heran bila sekarang sampai mabuk berat.


"Apakah kau lagi putus karena cinta?"


"Tidak juga, mungkin tepatnya aku yang mencintainya. Padahal dia tidak mau padaku lagi." Ria masih terus meneguk minuman beralkohol tersebut.


"Berhentilah! Tidak usah menyiksa dirimu sendiri karena minuman ini. Lebih baik kita bersenang-senang untuk membalas perbuatan mereka yang mencampakkan kita." pria tampan itu merebut gelas minuman dari tangan Ria.


"Oh, jadi kau juga lagi ditinggal oleh pacar mu? Haa... ha... ternyata bukan hanya aku yang malang, tapi juga dirimu." tawa gadis itu.


"Iya, aku baru saja ditinggal wanita yang aku cintai menikah. Bagiamana? Apakah kau mau kita bersenang-senang untuk membalaskan perbuatan mereka semua?" tanya laki-laki itu lagi yang sejak tadi memperhatikan Ria.


Melihat tubuh seksi gadis itu membuat jiwa kelelakian nya bangun. maka dari itu dia mencoba keberuntungan untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Ayo! Aku juga mau membalas rasa sakit hatiku yang sudah dicampakkan." seperti gadis bodoh, Ria langsung mau saat ada laki-laki untuk bersenang-senang.


Disinilah mereka saat ini. Yaitu berada didalam kamar yang tersedia di dalam Bar tersebut.


Cup!


Laki-laki itu mengecup bibir ranum Ria yang berwarna ceri. Namun, lama-kelamaan ciuman tersebut turun ke bagian leher. Lula pun membalas setiap sentuhan pria yang tidak dikenalnya. Namun, didalam benaknya, Ria membayangkan bahwa itu adalah Bara.


Padahal Bara lagi bersama istrinya di rumah baru mereka. Gara-gara prustasi tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi untuk mendapatkan Bara kembali, membuat Ria pergi ke Bar untuk menenangkan hatinya.


... BERSAMBUNG... ...