
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Ayo duduklah! Kau tidak perlu takut, karena Saya datang dengan niat baik dan tidak berniat buruk pada kalian berdua." ucap Tuan Abidzar begitu mereka duduk di bangku Taman.
Ya, disinilah mereka saat ini. Padahal tadi Tuan Abidzar sudah mengatakan jika ada tempat yang paling nyaman sambil menikmati makanan. Namun, Ayara hanya mengajak beliau pergi ke Taman yang ada di tengah-tengah ibu kota. Yaitu tidak terlalu jauh dari Toko bunga tempat Aya bekerja.
"Huh!" terdengar Ayara menghembuskan nafas berat. "Apa yang membuat Anda ingin menemui Saya Tuan?" tanpa berbasa-basi lagi, Aya yang takut kedatangan ayah dari laki-laki yang sudah menghamilinya. Hanya datang buat merebut Vania. Jadi dia langsung saja bertanya lebih dulu. Ayara tidak bisa tenang sebelum mengetahuinya.
Dari semenjak hamil, sampai putrinya sudah hampir berumur tiga tahun. Sekarang ada yang datang mau merebut si buah hati. Jadi mana mungkin Ayara akan tenang dan cuek seakan tidak terjadi apa-apa.
"Sebelum kita bicara, kenalkan nama Saya Abidzar Rafael. Saya adalah Ayah kandung Alvian dan... Opa dari putrimu." jawab beliau memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya dan di sambut baik oleh ibu muda itu karena dari ucapannya. Dapat Aya simpulkan, bahwa Tuan Abidzar tidak berniat jahat padanya. Seperti yang dikatakan oleh laki-laki yang sangat tampan meskipun sudah di telan usia.
"Saya Ayara, terima kasih karena Anda sudah mau mengakui putri Saya sebagai cucu." jawab Ayara tidak bisa memungkiri bahwa dirinya sangat terharu karena Tuan Abidzar yang bukanlah orang biasa. Mau datang jauh-jauh dan menyebut Vania sebagai cucunya.
Padahal Vania lahir dari hasil di luar nikah. Dari hubungan yang terlarang dan hanya anak seorang gadis penjual bunga sepertinya.
"Apa maksudmu, Nak. Tentu Saya akan mengakui Vania sebagai cucu karena dia adalah darah keturunan Rafael." imbuh Tuan Abidzar menatap kearah cucunya yang lagi menikmati es krim yang mereka beli sebelum datang ke Taman.
Deg!
Agar si cantik tidak menganggu saat kakek dan ibunya bicara serius. Padahal hari masih pagi dan baru jam setengah sembilan pagi. Namun, karena si kecil mintanya es krim. Ayara pun degan sangat terpaksa membelinya.
Apalagi kata Tuan Abidzar tidak apa-apa karena Alvian masih kecil juga seperti itu. Asalkan sudah sarapan, maka tidak akan menjadi penyakit.
Mendengar ucapan Tuan Abidzar membuat jantung Ayara berdegup kencang. Apa tadi? Nak! Ya, lelaki tersebut menyebut dia dengan panggilan Nak. Sebuah kata-kata biasa bagi orang lain. Namun, bagaikan kata keramat bagi seorang Ayara.
Soalnya sejak kecil dia tidak pernah mendapatkan perhatian manis. Ayara selalu di sisihkan oleh ibu tiri dan adik tirinya. Bahkan wanita yang seharusnya bisa dia anggap sebagai penganti mendiang ibunya.
Yaitu nenek dari sang ayah. Wanita yang sangat membenci Ayara sejak gadis itu masih dalam kandungan. Hanya karena Ayara cuma anak dari wanita biasa. Wanita yang tidak memiliki nama keturunan yang bisa dibanggakan.
Maka dari itu Ayara pun hanya memakai nama Almarhumah ibunya, karena saat Jasmeen hamil. Ibu dari Tuan Edward sudah mengatakan jangan pernah memberikan nama anaknya dengan nama keluarga Wilson.
Namun, karena sangat menghormati ibu mertuanya dan Tuan Edward. Almarhum Jasmeen merahasiakan hal tersebut dari suaminya. Sampai dia meninggal dunia.
Wanita malang itu berharap, suatu saat keluarga Wilson mau menerima putrinya. Jadi menurut saja saat dipesan seperti itu. Dia menyematkan nama Ayara Febriani Jasmeen. Akan tetapi ternyata setelah dia menutup matanya. Ayara justru semakin dibuang dan berakhir dimana Aya yang malang benar-benar mereka usir.
"Tapi---"
"Ayara, tolong maafkan atas perbuatan anak Saya. Atas perbuatannya yang tidak bertanggung jawab padamu." sela Tuan Abidzar meminta maaf atas kesalahan sang putra.
"Meskipun beribu kata maaf, tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka hatimu selama ini. Tapi tolong beri kami kesempatan untuk menebus semuanya dan biarkanlah Alvin bertanggung jawab pada kalian berdua." lanjut beliau lagi yang langsung membuat Ayara mengangkat kembali kepalanya yang tadi tertunduk sedih. Setelah mendengar kata Nak.
"Iya, Saya sudah tahu itu dari pengawal Saya. Lalu bagaimana denganmu? Apakah tidak bisa memberi Alvin kesempatan untuk bertanggungjawab dan memperbaiki semuanya?"
"Memperbaiki semuanya seperti apa, Tuan? Antara Saya dan Alvin sudah berakhir dari semenjak dia meninggalkan Saya. Jadi cukup kita membahas masalah putri Saya saja. Namun, apapun bentuk tanggung jawab yang ingin kalian berikan. Saya mohon, jangan ambil Vania dari Saya," pinta Ayara dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Hanya Vania satu-satunya keluarga yang Saya miliki di dunia ini. Jika tidak ada dia, mungkin sudah lama Saya meninggalkan dunia ini." lanjutnya lagi yang akhirnya benar-benar menetes air matanya.
"Ayara, mulai sekarang kami, yaitu keluarga besar Rafael adalah keluargamu, Nak. Saya sangat paham ketakutan mu." jawab Tuan Abidzar masih tetap tenang.
"Maksud Saya memperbaiki semuanya tadi adalah. Menikahlah dengan Alvin. Saya sebagai ayahnya, ingin melamar mu untuk menjadi menantu Rafael."
"Tuan, mana mungkin itu bisa---"
"Kenapa tidak bisa? Alvin masih mencintaimu dan Saya rasa kamu pun masih memiliki perasaan padanya. Walaupun hanya serpihan kecil." sela Tuan Abidzar sebelum Ayara melanjutkan ucapannya.
"Dari mana Anda tahu jika dia masih mencintai Saya?" tanya Ayara ingin tahu. Dia takutnya Tuan Abidzar hanya asal tebak.
Mendengar pertanyaan Ayara. Membuat beliau menyugikkan senyumannya. Walaupun nyaris tak terlihat oleh wanita itu.
"Dari sandi Apartemen nya. Saya rasa itu adalah sebagai bukti bahwa dia masih mencintaimu dan sampai saat ini Alvin belum pernah mengenalkan seorang gadis pada keluarganya. Padahal mamanya sudah sering menyuruh dia membawa pacarnya datang ke rumah,"
"A--apa!" lirih Ayara terbata.
"Iya, Alvin masih mengunakan tanggal lahir mu sebagai akses bila mau masuk ke Apartemennya. Padahal dia sudah pindah ke Apartemennya yang baru." jelas beliau tersenyum kecil.
Sudah beberapa tahun Tuan Abidzar mencari tahu kenapa sang putra mengunakan tanggal yang bukan tanggal spesial bagi Alvian untuk masuk ke Apartemennya.
"Jika Saya tidak memeriksa data mu, maka sampai kapanpun tidak akan pernah tahu jika anak nakal itu mengunakan tanggal lahir pacarnya."
"Alvin, apakah benar kau masih mencintaiku? Apakah aku benar-benar harus memberimu kesempatan? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Ayara setelah mendengar jika Alvian masih mengunakan tanggal lahirnya.
"Berpikirlah terlebih dahulu, Saya tidak akan kembali ke kota S. Sebelum mendapatkan jawaban darimu." Tuan Abidzar yang tahu jika Ayara pasti binggung untuk mengambil keputusan. Akhirnya memberikan kesempatan agar wanita itu bisa memikirkan semuanya degan matang.
"Dari caramu menolak untuk bersama anak Saya. Membuat Saya semakin yakin untuk menyatukan kalian. Ternyata selain biadab, Edward juga benar-benar orang tua yang bodoh. Dia membuang berlian seperti ini. Hanya karena putrinya anak dari wanita biasa."
Tuan Abidzar juga bergumam di dalam hatinya. Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam satu hari saja, anak buahnya sudah mendapatkan data lengkap Ayara. Makanya beliau mengetahui bahwa Ayara putri pertama Edward dengan istri pertamanya.
"Huem!" Tuan Abidzar berdehem kecil. "Tapi satu hal yang harus kau ketahui bila menolak untuk bersama dengan Alvin, Nak. Kalian bisa saja menyembunyikan Vania dari publik. Tapi itu semua tidak akan lama. Apabila fansnya ALV sampai mengetahui hal tersebut. Maka tidak hanya Alvin yang akan hancur, tapi juga Vania. Semua orang akan menghujatnya sebagai anak diluar nikah." kata Tuan Abidzar yang berwawasan tinggi.
Dia sudah dari remaja berkecimpung di dunia bisnis. Jadi sudah tahu bagaimana resikonya bila ada yang memiliki skandal masa lalu yang kelam.
Apalagi Alvian merupakan artis papan atas yang sudah diakui sebagai aset negara oleh pemerintah negara halu. Jadi bila skandal dia memiliki anak dengan wanita yang bukan istrinya. Sudah pasti akan menjadi bom atom. Ledakan tersebut akan menghancurkan Alvian sendiri, Ayara dan Vania.
... BERSAMBUNG... ...