
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Tiga tahun kemudian.
"Vania duduk sini ya, Mama mau bekerja lagi," ucap Ayara mengelus sayang kepala putrinya yang baru diberikan susu botol. Ya, meskipun Ayara hidup pas-pasan buat makan dan biaya sehari-hari termasuk membayar sewa rumah. Vania putrinya masih diberi minum susu formula sampai saat ini.
Gadis kecil itu baru saja bangun tidur dan menangis, karena merasa kehilangan ibunya. Padahal Ayara lagi bekerja merangkai bunga seperti biasanya.
"Mama mau telja lagi," jawab Vania yang sudah biasa sejak masih bayi dibawa ibunya bekerja. Namun, tetap saja namanya anak kecil yang masih ingin dimanja oleh sang ibu. Akan tetapi karena keadaan lah yang membuat Ayara membagi waktu antara pekerjaan dan anaknya.
"Huem, tapi tidak akan lama, karena sebentar lagi kita akan pulang," dengan tutur lembut dan penuh kesabaran Ayara menjelaskan pada putrinya.
"Hei cantiknya Tante, biarkan mama mu bekerja, ya. Nanti setelah gajian Vania akan dibawa menaiki kereta yang ada di Mall waktu itu," Lula selalu saja mengiming-imingi Vania dengan janji pergi jalan-jalan atau membeli es krim.
"Tante Lula, apa yang kau katakan, jangan asal berjanji. Bagaimana bila aku tidak memiliki uang untuk menepati janji padanya. Kau kan tahu sendiri jika hampir setiap bulan aku kekurangan uang buat membayar sewa rumah kami," tegur Ayara karena semakin hari, maka biaya kebutuhannya bersama sang putri semakin meningkat.
Apalagi semua kebutuhan pokok menaik pesat. Sementara penghasilan tetap segitu-gitu saja. sudah bertahun-tahun bekerja gaji ayara sekarang hanya naik beberapa dolar saja.
Namun, apabila ada pesanan dari tempat pengantin atau peresmian hotel dan sebagainya. Maka dia dan Lula akan mendapatkan bonus dari kerja lembur yang mereka lakukan.
"Ha... haa... aku kan tidak serius hanya bercanda. Agar Vania cantik tidak menangis lagi. Lagian kapan juga putrimu menagih setiap janji yang kita katakan padanya," jawab Lula tertawa. Sambil menarik gemas hidung mancung Vania yang masih memerah karena habis menangis.
"Tetap saja kau tidak boleh berbicara seperti itu. Nanti anakku tidak akan percaya dengan ucapan yang serius," Ayara menatap Lula dengan mendelik.
"Iya, Iya! Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Lula yang tahu jika Ayara benar-benar marah, langsung buru-buru meminta maaf.
"Sudahlah tidak apa-apa, yang penting lain kali kau jangan membohongi putriku lagi,"
"Iya, aku berjanji," kata Lula menaikan jari tangannya sebatas dengan telinga sebagai janji yang tidak boleh dilanggar.
"Ada apa? Apakah Vania menangis lagi?" tanya wanita bernama Regina. Wanita yang berumur kurang lebih tiga puluh tujuh tahun itu. Adalah putri dari Almarhum Bibi Atika, yang sudah meninggal dunia sejak satu tahun lalu. Begitupun dengan suami beliau yang juga sudah meninggal dunia.
"Tidak ada apa-apa Kak, Vania tidak menangis. Hanya saja tadi aku mengatakan padanya jika dia tidak menangis lagi, maka nanti akan diajak jalan-jalan. Namun, mamanya malah marah kepadaku," adu Lula yang akhirnya juga dimarah oleh Kak Regina bos baru mereka.
"Baguslah kau dimarahi oleh mamanya," kata wanita itu tersenyum. Sebab dia orangnya memang baik. Sama seperti Almarhumah Bibi Atika. "Apa yang dikatakan oleh mamanya sudah benar. Kau tidak boleh membohongi anak kecil, karena walaupun mereka tidak menagih janjinya. Namun, di hati kecilnya pasti sangat ingin pergi jalan-jalan." tutur wanita itu yang sudah paham seperti apa perasaan seorang ibu. Apabila tidak bisa memenuhi janji pada anak-anak mereka.
"Iya Kak, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Jawab Lula mengakui kesalahannya. Sebab gadis itu sampai saat ini belum juga menikah. Jadi mana dia tahu bila janjinya itu berpengaruh buruk untuk anak kecil yang dijanjikan.
"Iya, sekarang bekerjalah dengan baik. Kakak memiliki berita bagus untuk kalian berdua," ucapnya. Sebab untuk itulah dia menemui Ayara dan Lula.
Soalnya Lula memang sudah memiliki hutang sejak beberapa bulan yang lalu, karena ayahnya mengalami kecelakaan dan tidak bisa bekerja untuk sementara waktu. Jadi yang menjadi tulang punggung saat ini adalah Lula sendiri.
"Kabar baik apa Kak? Apakah kabar baiknya ada pesanan bunga lagi?" tebak Ayara.
"Betul sekali sayang, barusan Kakak mendapat telepon dari perusahaan agensi yang dinaungi oleh ALV." jawab wanita itu yang sudah menganggap Lula dan Ayara seperti adiknya sendiri.
Deg!
"Sudah hampir empat tahun, tapi kenapa sakitnya masih sama. Padahal putriku sudah sebesar ini," gumam Ayara yang masih merasakan terluka setiap mendengar nama Group boyband ALV. Bukan Group boyband nya yang bersalah. Namun, rasa sakitnya pada Alvian yang membuat Ayara selalu merasa tersakiti.
Bagaimana dia bisa melupakan semuanya begitu saja. Di luar sana Alvian bagaikan seekor burung yang bebas terbang ke sana kemari sesuka hatinya. Sedangkan Ayara memikul kesalahan yang mereka perbuat, seorang diri. Di usianya yang masih muda harus menjadi ayah dan ibu tunggal untuk putrinya.
Sialnya setelah begitu banyak perjuangan Aya membesarkan Vania seorang diri. Wajah gadis kecil itu malah sangat mirip dengan Alvian.
"Wah, apakah itu artinya jika Albar kekasihku akan konser di sini lagi, Kak?" seru Lula yang masih saja mengidolakan member ALV sebagai kekasih halu nya.
"Iya, ini adalah konser kedua setelah beberapa tahun yang lalu," jawab Kak Regina dengan mata ikut berbinar-binar seperti Lula.
Jangankan Lula, para ibu-ibu yang salah satunya adalah Kak Regina. juga begitu mengidolakan para member ALV. Sebab Alvian dan keempat sahabatnya. Bukan hanya terkenal dengan ketampanan dan suara emas mereka saja. Namun, keramahan yang mereka miliki adalah nilai nomor satu yang disukai oleh para fans mereka.
"Konser pertama mereka aku bisa menonton. Meskipun menghabiskan gaji ku selama kerja tiga bulan. Dan itu berarti sudah seumuran dengan peri cantikku ini," Lula langsung mengangkat tubuh kecil Vania. Lalu ia putar-putar seperti burung lagi terbang. Sehingga membuat gadis kecil itu terus tertawa terbahak-bahak.
"Mama," seru Vania yang mulai merasakan pusing akibat tubuhnya di putar oleh sang Tante.
Sehingga dia langsung mengulurkan kedua tangannya agar sang ibu beralih menggendong dirinya.
"Tante Lula sudah, Vania nanti bisa muntah bila terus kau putar-putar begitu," cegah Ayara mengambil alih sang putri.
Cup, Cup Muaach!
"Maafkan Tante, Nak, habisnya tante begitu gemas melihatmu," meskipun Vania sudah berada dalam gendongan mamanya. Lula masih saja menciumi pipi gadis kecil itu berulang kali.
"Iya, kau benar sekali," sahut Kak Regina membenarkan. Soalnya dia juga masih mengingat ketika ALV debut di kota mereka, Ayara tengah hamil tua.
"Tunggu, tunggu! sekarang aku tahu apa penyebab wajah Vania begitu mirip dengan Ian ALV. Ara, ayo mengaku lah! Aku sudah tahu apa penyebab keponakanku begitu mirip dengan Alvian," perkataan Lula tentu saja membuat jantung Ayara berdegup cukup kencang.
Sudah bertahun-tahun dia menyembunyikan siapa sebenarnya ayah kandung Vania. Adapun dia bercerita hanyalah pada makam ibunya yang sudah dua tahun ini tidak pernah dia datangi lagi, karena ongkos untuk menuju ke sana sudah lumayan mahal.
Hitung-hitung daripada uangnya untuk ongkos mengunjungi makam sang Ibu. Lebih baik digunakan buat membeli susu putrinya.
Lalu bagaimana mungkin hanya gara-gara wajah putrinya yang begitu mirip dengan Alvian. Rahasia yang ia simpan harus terbongkar.
Ya, bukan hanya beberapa orang saja yang mengatakan bahwa wajah Vania begitu mirip dengan salah satu member dari Group boyband ALV. Namun, sudah puluhan orang yang berkata demikian. Terutama para Fansnya mereka. Jika tidak, tentu saja tak akan tahu.
...BERSAMBUNG......