
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Aku mencintaimu, terima kasih karena sudah mau berjuang bersamaku," Alvian kembali mengulangi pernyataan cinta dan maafnya karena jujur dia sangat tidak nyaman mendengar dan melihat status sang istri dipertanyakan dan disiarkan secara live streaming.
Sehingga seluruh penjuru dunia sudah mengetahui siapa Ayara sebenarnya. Bukan karena Alvian malu bila dipertanyakan kenapa memilih gadis miskin.
Namun, dia tidak ingin sang istri merasakan sakit hati. Coba saja pikirkan, apabila kita berada di posisi Ayara. Apakah akan sekuat dan tegar seperti itu. Memiliki ayah kandung, yang kaya raya. Akan tetapi harus mengakui bahwa dirinya hanya putri dari seorang pembantu.
Sejak kecil ibunya sudah meninggal dunia. Lalu setelahnya si kecil Ayara hanya diurus oleh pembantu sang ayah. Memiliki nenek, tapi belum pernah disebut sebagai cucu seumur hidupnya.
Tidak pernah dianggap sebagai bagian keluarga Wilson. Gara-gara sang ibu hanya dibesarkan di panti asuhan.
Selalu di sisihkan dari segi apapun. Namun, Ayara tidak pernah menuntut pada Tuan Edward. Padahal dia sudah mengetahui bahwa ibunya memiliki harta yang ditanamkan di perusahaan Wilson. Sebagai saham sebesar empat puluh persen.
Jadi sebagai seorang suami. Sudah pasti Alvian merasa sakit sendiri mengenang nasib Ayara. Sedangkan pemuda itu dibesarkan berlimpah kasih sayang dari keluarganya. Dibesarkan dengan harta berlimpah.
Sungguh Alvian tidak pernah menyangka. Bahwa Aya akan menjawab semua pertanyaan reporter dengan tenang dan tidak ada merasa malu mengakui dirinya sebagai putri dari pembantu di kediaman Wilson.
"Apa yang kau katakan. Kenapa harus meminta maaf. Kita lagi sama-sama berjuang untuk rumah tangga kita. Jadi sudah pasti aku akan ikut bersamamu." jawab Ayara tersenyum sembari tangannya dia balas untuk menyentuh pipi Alvian.
"Huem!" Hanan berdehem dan berkata. "Nanti lagi jika kalian mau bermesraan. Sekarang ayo kita keruang diskusi. Tidak kah kalian merasa kasihan pada para jomblo ini."
"Haa... haa... Kak Hanan terima kasih atas semua dukungannya." tawa Aya menyelipkan kata kak. dalam perkataannya yang langsung membuat Hanan tersenyum lebar.
"Aya, coba kau katakan lagi. Apakah aku tidak salah dengar?" seru Hanan sudah mendorong kursinya menjauh dan berjalan mendekati Aya. Tidak perduli jika para media menyaksikan tingkah nya.
"Kak Hanan, terima kasih karena Kakak sudah memberiku dukungan sejak dulu sampai saat ini." ulang Aya yang langsung ditarik oleh Hanan supaya gadis itu masuk kedalam pelukannya.
"Aya, akhirnya aku memiliki adik perempuan," seru Hanan yang sama tidak memiliki adik. Baik itu laki-laki maupun perempuan.
"Hei... Aya bukan hanya adik mu. Tapi juga adikku." seru Bara karena mereka semua sama tidak memiliki saudari perempuan. Jadinya sudah biasa sejak dulu memperebutkan gadis malang itu sebagai adik. "Lepas-lepas! Aku juga ingin memeluk adikku." Bara memaksakan agar Hanan melepas pelukannya pada Ayara.
"Bara," ucap Aya tersenyum mendengar perkataan Bara. "Kau sama seperti saudara bagiku. Kak Naufal, Sandy. Terima kasih karena kalian berempat sudah memberiku dukungan. Aku benar-benar sangat bahagia karena tidak hidup sendiri setelah kematian mamaku. Karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian." lanjut gadis itu lagi.
"Aya, apakah kau masih ingat, jika sejak dulu aku mengatakan jangan pernah menganggap ku orang lain, karena aku sudah menganggap mu adikku sendiri." ucap Naufal bergantian memeluk Ayara.
"Aya, kenapa kau memangil Naufal dan Hanan kakak? Sedangkan aku dan Bara, kau panggil nama?" protes Sandy dan dibenarkan oleh Bara.
"Seharusnya, bila kau memangil mereka berdua kakak. Maka kami juga kau panggil kakak. Sungguh tidak adil," timpal Bara yang membuat Alvian menjawab.
"Hei... aku saja suaminya tidak pernah dipanggil kakak." sungut Alvian karena teman-temannya menganggu dia yang ingin bermesraan bersama Aya dan sekarang malah memperebutkan Aya sebagai adik mereka.
Agh! Dasar para member ALV. Dimanapun mereka berada selalu meresahkan. Tidak tahu tempat malah mau bermesraan dengan Ayara. Tidak tahukah jika para ibu-ibu kaum rebahan yang menyaksikan ikut mengigit ujung baju dasternya.
Jangankan sekarang ada Ayara yang telah dinobatkan oleh seluruh dunia halu. Sebagai gadis paling beruntung bisa merasakan pelukan penuh kasih sayang dari ke lima member ALV yang ketampanannya jangan pernah diragukan lagi.
Bahkan Ayara telah berhasil menaklukkan hati Alvian. Sang vokalis inti dari group boyband tersebut dan sekarang mereka telah memiliki seorang putri yang cantik seperti duplikat ayahnya versi wanita.
"Al, kau marah?" ucap Hanan sambil tersenyum lebar.
"Ck, sudah menganggu. Lalu memperebutkan istriku dan sekarang berani-beraninya bertanya seperti itu." decak si tampan Alvian menunjukkan muka muka dinginnya.
Namun, bukan membuat keempat sahabatnya takut. Justru mereka semakin tertawa. Sebab mereka tahu jika Alvian hanya bercanda. Bukan benar-benar cemburu karena Alvian percaya bahwa Aya dan teman-temannya tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Inilah yang aku senangi dari mereka berlima. Selalu saling memberikan dukungan. Padahal bila masalah Alvian tidak bisa selesai degan baik. Maka ALV akan ikut hancur. Akan tetapi mereka malah ikut membantu dan memberikan dukungan pada Ayara." gumam Staf Muzaki di dalam hatinya.
"Haa... ha... bila kau berani cemburu padaku, maka Aya akan aku bawa pulang kerumah. Karena dia sekarang benar-benar menjadi adikku." tawa Naufal sambil menghadap pada para wartawan dan melambaikan tangannya sebelum meninggalkan ruangan tersebut dan diikuti oleh teman-temannya.
"Malah mengancam. Awas kau," ancam Alvian juga, yang membuat member lainya terus tersenyum sambil mengikuti Staf Muzaki dari belakang menuju ke ruang diskusi.
"Sayang," panggil Alvian sudah menarik lembut tangan Ayara degan lembut. Saat mereka keluar dari lift karena saat ini mereka sudah tiba dilantai atas gedung tersebut.
"Huem?" Aya hanya berdehem sambil memperhatikan langkah kakinya.
"Jika semuanya sudah baik-baik saja dan aku mulai konser lagi. Kau harus ikut denganku."
"Kenapa? Lalu bagaimana dengan sekolah Via?" tanya Ayara binggung pada permintaan suaminya.
"Via akan bersama mama. Aku ingin pergi bersamamu dan kita bisa jalan-jalan saat aku ada waktu luang." jawab Alvian yang begitu banyak memiliki impian untuk membahagiakan istrinya.
"Kalau aku ikut kan tidak enak menyusahkan mama. Via anak kita, kenapa malah merepotkan Mama."
"Siapa bilang merepotkan. Nanti setelah kita dirumah aku akan menceritakan sesuatu padamu." Alvian tidak melanjutkan lagi obrolan mereka, karena sudah sampai didepan pintu ruangan berdiskusi.
"Oke, baiklah! Hubby," ucap Aya berbisik di telinga suaminya yang membuat Alvian tersenyum seraya merangkul pinggang Aya masuk kedalam menyusul teman-temannya.
Sedangkan para Staf yang lain, Manejer dan para bodyguard hanya sampai ke depan pintu ruangan diskusi saja.
"Kalian istirahat dan makan siang saja dulu. Nanti jam satu kita bahas lagi masalah untuk kedepannya." ucap Smith Muzaki yang langsung pergi keruang kerjanya.
Ya, di gedung tersebut. Tepatnya di ruang berdiskusi. Sudah tersedia tempat istirahat dan juga makanan untuk mereka. Apalagi hari ini. Para staf yang bersangkutan sudah memperhitungkan waktu Alvian dan sahabatnya beres dari jumpa pers.
Jadi untuk makan siang sudah disiapkan. Namun, jika tempat istirahat tidak ada ranjang tempat tidur. Hanya ada sofa mahal yang empuk dan tak kalah dari tempat tidur biasa.
"Ian," ucap Alice berjalan kearah Alvian dan Ayara yang baru saja masuk. Setelah dia menyapa member ALV yang lainya.
"Ais, kau juga ada disini?" jawab Alvian karena dia dan Alice bukanlah musuh. Jadi sudah pasti saling menyapa degan baik.
"Iya, aku kan kesini disuruh Smith. Kita akan ada satu panggung setelah masalahmu selesai." Alice memang sengaja hanya menyapa Alvian karena menurutnya Aya bukanlah kelasnya untuk disapa.
Mereka berbeda status sosial maupun popularitas dari segi apapun. Meskipun hatinya tidak bisa memungkiri bahwa Ayara memang gadis yang sangat cantik.
"Benarkah? Aku belum tahu. Tapi semua itu tergantung nanti, Ais. Bila hasil semuanya baik. Maka aku akan tetap bergabung dengan member ALV." Alvian menjawab sambil merangkul Aya untuk dibawa duduk pada sofa yang ada disamping mereka.
"Namun, bila akan berdampak buruk pada keempat sahabatku. Maka aku tidak akan satu panggung denganmu lagi. Aku hanya akan menjadi Alvin untuk istriku, bukan Ian ALV lagi." lanjutnya sambil tersenyum kecil kearah istrinya yang juga hanya tersenyum simpul.
Dari cara Alice menyambut Alvian dan mengabaikan dirinya. Aya semakin tahu bahwa wanita itu menyukai suaminya dan tidak menyukai dirinya.
"Ian, apakah dirimu yakin akan memilih jalan keluar sebagai member ALV hanya karena hal tidak penting seperti ini," seru Alice tidak percaya jika Alvian rela meninggalkan ketenaran sebagai artis papan atas yang paling populer.
Hanya karena seorang wanita yang menurut Alice tidak penting sama sekali. Wanita yang merupakan anak pembantu dan telah yatim semenjak umur dua tahun. Lalu dari sisi mana yang harus diperjuangkan. Begitulah menurut dirinya yang tidak menyukai Ayara.
Tanpa Alice dan member ALV sadari. Jika nama Ayara Febriani Jasmeen Rafael. Telah menjadi topik utama di banner populer sebagai bidadari tak bersayap.
Setelah mendengar kisah Ayara secara live streaming. Puluhan juta pengemar ALV menangis karena tidak menyangka jika dibalik keberuntungannya bisa menjadi gadis kesayangan member ALV. Ayara memiliki kisah sangat menyedihkan.
Namun, poin pentingnya adalah kejujuran Ayara dan cara dia menjawab dengan penuh kelembutan. Padahal jika mau, Ayara tidak perlu mengakui bahwa dia hanya anak seorang pembantu.
Tidak perlu mengakui bahwa dibesarkan oleh majikan ibunya. Alvian artis paling kaya bila dibandingkan dengan member ALV yang lainya. Tidak akan susah menyewa seseorang untuk mengaku sebagai orang tua Ayara.
Akan tetapi Ayara dengan bangganya menceritakan bahwa sangat menyayangi orang tuanya yang telah meninggal dunia. Ayara dengan penuh keberanian mengakui jika dia hanya lulus sekolah menengah atas.
"Apa maksudmu tidak penting? Ayara dan putriku tidak bisa dibandingkan dengan nyawaku sekalipun. Mereka berdua sangat berharga yang tidak ternilai harganya." sergah Alvian langsung menatap Alice tajam.
Mungkin bila Ayara tidak memeluk lengannya. Alvian sudah berdiri untuk melempar Alice keluar dari gedung tersebut. Apalagi sekarang mereka berada di lantai dua puluh lima. Sudah pasti wanita tersebut akan hancur bila terjatuh dari ketinggian seperti itu.
"Alvian, aku tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan. Namun, maksudku hanya menghadapi masalah wartawan dan para heater yang tidak suka pada ALV. Kau harus mundur." kilah Alice cepat-cepat mencari jawaban lain.
"Maksudku seperti ini. Kau dan member lainnya sudah berjuang dari nol. Jadi jangan pernah menyerah segampang ini. Bukannya perkataan aku benar Nona Ayara?" tidak ada pilihan lain selain meminta persetujuan Ayara.
Meskipun Alice tidak suka menyebut nama wanita yang telah membuatnya tersingkirkan untuk mendapatkan Alvian.
"Iya, kau benar! Tapi sebut namaku saja. Eum... kenalkan Aku Ayara." jawab Ayara mengulurkan tangannya untuk berkenalan terlebih dahulu.
"Hai... aku Alice Norin, pasti kau sudah sering melihatku di televisi atau mungkin mendengar dari Ian." Alice menyambut baik tangan Ayara.
Sedangkan Alvian hanya diam dengan muka dinginnya. Jika tidak degan Ayara atau keluarga Rafael. Alvian sangatlah dingin dan kaku.
"Ian, wah-wah! Ternyata ini bidadari yang telah berhasil membuat es balok mencair." seru seorang pemuda yang seumuran dengan Alvian. Diikuti oleh tiga orang teman satu group nya.
Ya, pemuda tersebut juga merupakan seorang penyanyi. Namun, dia dari member lain yang bernaung di Agensi AX Si. Sebagai anak asuh Staf Muzaki juga.
Akan tetapi mereka baru debut sekitar tiga tahun belakangan. Jadi lebih duluan member ALV daripada group boybandnya. Namun, mereka berteman baik karena sering meminta saran pada Alvian dan member ALV lainnya.
"Richard," ucap Alvian tersenyum mendengar pujian untuk Ayara nya.
"Selamat ya, untuk pernikahan kalian. Walaupun sangat terlambat karena ternyata kau sudah memiliki duplikat Ian ALV versi gadis kecil." ucap pemuda itu yang bernama Richard. Diikuti juga oleh teman-temannya yang lain.
"Terima kasih!" jawab Alvian menerima ucapan dari Richard.
"Hai Nona... Ayara kan?" Richard juga langsung menyapa Ayara, yang membuat ibu muda itu berdiri dari tempat duduknya.
"Hai juga, iya! Saya Ayara," jawab Aya disertai senyuman kecil. Namun, terlihat sangat cantik bagi orang-orang yang menyukainya.
"Richard, aku temannya Alvian. Ternyata kau sangat cantik daripada fotonya." puji pemuda itu karena dia memang langsung terpana pada kecantikan Ayara. Andai saja bukan istri Alvian. Pasti Richard akan mengejar hati gadis itu.
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi semua wanita itu sama-sama cantik." mau seperti apapun orang-orang memuji dia cantik. Ayara pasti akan selalu merendah. Itulah sosok dirinya meskipun dibesarkan oleh pembantu.
Namun, kepribadian Jasmeen benar-benar menurun padanya. Bahkan Tuan Abidzar juga mengakui secara terang-terangan bahwa Aya mengingatkan beliau pada Almarhumah Jasmeen sahabatnya.
Ttttddd!
Ttttddd!
Saat mereka lagi mengobrol bersama Richard dan Alice juga. Ponsel Alvian bergetar. Sehingga membuat pemuda itu merogoh saku jasnya untuk melihat siapa yang menelepon.
"Siapa?" tanya Aya yang bahunya masih Alvian jadikan sandaran. Ya, Alvian si member ALV. Sudah mulai menunjukan pada umum bahwa dia telah menjelma menjadi bucin akut.
"Papa," jawab Alvian langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Namun, begitu diangkat. Wajah cantik sang putri langsung memenuhi layar ponselnya. Disertai suara cadel Vania.
📱 Vania : "Papa," seru Vania sedang duduk di sofa yang ada didalam ruangan kerja opanya.
📱 Alvian : "Huem, iya. Ada apa sayang?" jawab Alvian yang membuat Alice semakin menahan kesal dan kecewanya secara bersamaan.
📱 Vania : "Via mau dadi..." si cantik tidak jadi melanjutkan ucapannya dan malah melihat kearah Tuan Abidzar dan Nyonya Risa yang hanya tersenyum melihat cucu mereka.
📱 Alvian : "Mau jadi apa? Apakah Via mau menjadi penyanyi juga?" tanya Alvian tersenyum lebar. Meskipun putrinya belum menyebutkan mau menjadi apa. Namun, dia sudah bisa menebak pasti Vania mau mengatakan ingin menjadi pengusaha.
"Opa, dadi apa? Via lupa?" bukannya menjawab pertanyaan papanya. Akan tetapi Vania malah bertanya pada kakeknya lebih dulu.
"Via mau menjadi pengusaha," jawab Tuan Abidzar yang sedang menghabiskan makan siang bersama istrinya.
📱 Alvian : "Sayang, kenapa diam? Via mau menjadi apa?" orang-orang yang mendengar Alvian berbicara dengan Vania ikut tersenyum karena mendengar ucapan Vania yang cadel.
📱 Vania : "Via mau dadi... pegutaha."
📱 Alvian : "Wah hebat sekali. Kalau begitu nanti Papa harus membelikan hadiah untuk princess papa." puji ayah satu anak itu yang akan mendukung apapun cita-cita sang putri.
"Via, nanti hadiahnya minta adik saja," ucap Bara yang membuat para pemuda-pemuda tampan itu tertawa. Termasuk Alvian sendiri. Hanya Alice dan Ayara yang diam.
Kalau Alice menahan rasa kesal yang teramat dalam. Sedangkan Aya merasa tersipu karena banyak teman-teman Alvian yang mendengarnya. Sebab menurut Aya tentu saja sangat intim.
📱 Vania : "Via mau tama opa, mau tama Oma." ternyata Tuan Abidzar tidak usah repot-repot lagi membujuk Vania agar mau tinggal di rumah utama. Sebab Vania sendiri yang memintanya.
📱 Alvian : "Baiklah! Tapi nanti Via bicara dulu pada mama mu. Papa tidak berani mengambil keputusan. Apakah Via sudah makan siang?"
📱 Vania : "Iya, Via mau matan tiang dulu. Dada Papa, dada mama tantik." jawab Vania yang langsung mematikan ponselnya karena tadi dia menelepon memang hanya ingin menyampaikan bahwa ingin menjadi pengusaha seperti opanya.
"Kenapa dia? Main matikan ponselnya tanpa menyapaku?" ucap Aya karena semakin kesini Vania selalu mengatakan mamanya cantik, dan itu semua karena Vania lagi merayu sang mama. Agar diizinkan untuk menginap di rumah utama.
"Dia lagi makan siang sepertinya." tebak Alvian kembali menyimpan ponselnya.
"Al, lain kali bawa putrimu juga. Aku sangat gemas mendengar suaranya yang cadel." ucap Richard ikut tersenyum saat mendengar suara Vania.
"Mungkin lain kali aku akan membawanya." jawab Alvian degan rasa bahagianya.
"Satu masalah selesai. Sekarang aku hanya harus bersiap-siap menghadapi keluarga Wilson. Aku sangat yakin jika mereka sangat marah mendengar bahwa Aya adalah istriku." tebak Alvian degan bergumam didalam hatinya.
Namun, semua tebakan itu benar. Nyonya Rose dan ibu mertuanya. Yaitu ibu dari Tuan Edward dan nenek kandung Ayara.
Mereka lagi menunggu Tuan Edward pulang dari perusahaan. Soalnya sore ini mereka akan datang ke rumah utama keluarga Rafael. Untuk menjemput Ayara.
"Ibu, apakah ibu yakin jika Ayara bisa kita bawa pulang? Bagaimana bila keluarga Rafael tidak boleh kita membawanya." tanya Rose pada ibu mertuanya.
"Bodoh! Mana mungkin mereka tidak boleh. Kita saja tidak mau menerimanya. Lalu seorang Abidzar Rafael. Apakah akan mau menerima Ayara sebagai menantu." seru wanita tua itu yang tidak pernah berubah.
"Mereka menerimanya karena anak haram itu. Jika mereka merestui Ian ALV menikahi Ayara. Maka sudah sejak dulu hubungan ini di publikasikan." lanjutnya lagi yang menembak bahwa Ayara tetap tidak diperlukan degan baik oleh keluarga besar Rafael.
Tanpa berpikir jika hari ini Ayara telah mengumumkan bahwa tidak memiliki hubungan dengan keluarga Wilson dan itu semua ada bukti lengkap. Meskipun jika darah tidak bisa Aya ubah
...BERSAMBUNG......