I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Tanpa Bisa Dicegah.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit. Mobil mewah Alvian sudah memasuki kawasan kompleks perumahan Gardenia. Alvian mulai memelankan laju kendaraannya.


Begitu pula mobil para bodyguard yang mengawal di depan dan belakang. Semua itu karena mereka melihat laju kendaraan sang bos menjadi lambat.


Pengawal yang ada di depan adalah bodyguard Denis. Ada dua mobil yang terdapat delapan orang penumpangnya. Sedangkan di belakang ada tiga mobil yang berjumlah lima belas orang. Tadinya yang akan ikut bersama Alvian hanya dua mobil saja.


Namun, begitu tahu Tuan Abidzar. Beliau langsung menelpon Alvian karena yang mau membawa dua mobil pengawal adalah Alvian sendiri.


Alhasil karena sudah dimarah oleh papanya Alvian menambah pengawal. Karena benar kata Tuan Abidzar, keluarga Wilson pasti tidak akan mau kalah begitu saja.


"Sayang..." si member ALV menyentuh tangan Ayara yang menundukkan kepalanya.


"Huem!" jawab Aya hanya berdehem dan balik menatap pada suaminya. "Apa, sayang?" tanya Ayara tidak sadar bahwa mereka sudah tiba di area kompleks perumahan Gardenia. Tempat yang dulu dia tinggalkan sambil menagis.


"Apakah kau baik-baik saja? Jika belum siap, maka kita bisa---"


"Aku siap, kita lanjutkan saja. Aku baik-baik saja karena ada suamiku yang akan melindungi ku dari siapapun yang akan menyakitiku," sela ibu muda itu cepat.


"Oke, kita lanjutkan sekarang. Kau adalah segalanya bagiku. Jadi aku akan melakukan apapun untuk melindungimu," Alvian kembali menambah laju kendaraannya.


Soalnya kompleks Gardenia memang perumahan elit. Dari jalan raya pun sangat jauh masuk kedalamnya dan dulu Ayara sering pulang sekolah berjalan kaki.


Akan tetapi setelah berpacaran dengan Alvian. Pemuda itu yang selalu mengantar jemput nya. Namun, tidak pernah sampai depan pagar. Hanya sekitar dua puluh meter dari arah rumah Tuan Edward.


Dari sanalah awal mula Alvian ingin melindungi Ayara. Karena tahu gadis itu diperlakukan tidak baik oleh keluarganya sendiri. Arianti jika berangkat sekolah selalu diantara atau membawa mobilnya sendiri. Sedangkan Ayara harus menaiki bus yang tidak pernah lewat di sana.


Soalnya mobil tersebut hanya ada di jalan raya saja. Palingan bila Ayara memiliki uang lebih. Dia akan menaiki ojek yang mengantar para pekerja di kawasan itu.


Cup!


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku tahu kau lagi bingung kan karena hatimu yang sebenarnya menyakiti binatang saja tidak tega. Akan tetapi apa yang kau lakukan hari ini adalah untuk membalas perbuatan keluarga Wilson pada Mama Jasmeen," Alvian yang sudah mematikan mesin mobilnya langsung menarik Ayara untuk dia peluk.


Sekarang mereka sudah tiba di depan rumah mewah Tuan Edward yang telah dibeli Alvian untuk istrinya. Aneh tapi nyata, bagaimana mungkin seorang menantu membeli rumah mertuanya?


Tentu saja bisa terjadi, karena Tuan Edward sendiri yang membuat jarak pada putrinya sendiri. Sehingga Ayara pun menganggap mereka bukanlah kelurganya lagi.


"Alvin, terima kasih. Kau sudah meyakinkan aku," ucap Ayara mendorong pelan tubuh suaminya.


"Tidak perlu berterima kasih karena aku tahu sakit yang kau rasakan. Ingatlah satu hal, seperti apa mereka menyakiti Mama Jasmeen. Sampai saat dirumah sakit pun tidak ada yang mau menolongnya karena bukan berasal dari keluarga Wilson," jawab Alvian menyakinkan istrinya.


"Iya, kau benar. Ayo kita turun. Kau lihat saja apa yang aku lakukan pada mereka semua," Aya degan semagat empat lima mengajak suaminya turun. Di luar para pengawal sudah menjaga degan sangat ketat.


"Ayo, kita turun. Saatnya kau tunjukkan seperti apa Ayara Febriani Jasmeen Rafael yang mereka buang. Agar mereka menyesal seumur hidupnya," Alvian yang sudah lama menahan rasa kesal karena Ayara diperlakukan tidak adil, akhirnya semakin memberikan dukungannya.


"Rose... kau pernah menyuruh seseorang untuk memperkosa kekasihku, kan. Hari ini kalian akan membayar semuanya. Ayara adalah putri Rafael. Kalian tidak tahu seperti apa cara kami membalas perbuatan orang-orang licik seperti kalian semua."


Gumam Alvian berjalan keluar dari mobil untuk membuka pintu mobil buat istrinya. Pemuda itu memang sangat membenci Nyonya Rose karena wanita itu pernah membayar orang untuk memperkosa Ayara.


Namun, untung nya Alvian mengetahui hal tersebut karena pada hari itu dia berniat mau memberi kejutan pada Ayara. Setelah hampir satu Minggu pergi liburan bersama keluarga besar Rafael.


Akan tetapi dia dibuat terkejut karena ada dua orang yang mau menculik Ayara. Sehingga Alvian yang pandai karate berhasil mengalahkan mereka dan pada saat ditanya. Kedua preman itu mengaku disuruh Nyonya Rose untuk menculik Ayara dan memperkosa gadis itu.


Setelah Alvian ancam para preman tersebut tidak ada yang berani berniat jahat pada Ayara. Akan tetapi hanya Alvian yang mengetahui hal tersebut. Dia sengaja menyembunyikan dari Aya, karena takut kekasihnya semakin bersedih.


Seperti itulah cara Alvian Fatir Rafael mencintai kekasihnya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam sudah berjanji akan membalas semuanya.


"Selamat datang Nona Muda," ucap Alvian mengulurkan tangannya untuk membantu Ayara turun dari mobil.


"Terima kasih, Tuan Muda Alvin," bukan hanya Alvian saja yang menggoda istrinya, tapi juga Ayara.


"Ayo kita masuk," ajak pemuda itu karena Denis dan beberapa orang lainnya sudah masuk duluan. Untuk menemui Tuan Edward dan mengatakan bahwa pemilik rumah tersebut sudah datang.


"Sudah lama sekali aku meninggalkan tempat ini. Tapi ternyata semua bangunannya pun tidak ada yang berubah," ucap Ayara saat mereka melewati teras rumah tersebut.


"Iya, tapi jika kau ingin rumahnya kita renovasi saja maka tidak masalah,"


"Benarkah boleh seperti itu?"


"Wah-wah! Apakah kami kedatangan tamu penting? Untuk apa kau datang ke sini? Apakah ingin meminta sumbangan karena menganggap dirimu---"


Plaaak!


"Siapa Anda? Berani sekali menghina Nona muda kami," hardik Denis sudah menampar keras pipi Rose sehingga langsung menimbulkan memar di wajah wanita itu.


"Aakh! Hei apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah memukulku?" seru Rose menahan rasa sakit pada pipinya.


"Anda yang siapa? Sehingga menghina Nona Ayara. Apakah kalian semua sudah bosan hidup. Sehingga berani menuduh noda muda kami datang ke sini untuk meminta sumbang?" jawab Denis membela Ayara.


Padahal mereka belum mendapatkan perintah apapun, karena Ayara masih diam di tempatnya berdiri.


"Denis, tenanglah," Alvian menjadi penengah.


"Baik Tuan Muda, tapi mereka sudah berani menghina Nona Ayara," jawab Denis langsung diam.


"Tidak apa-apa, biarkan mereka bicara sepuasnya. Sebelum meninggalkan rumah ini, karena dalam waktu satu jam rumah ini harus dikosongkan," jawab Ayara tersenyum menyeringai pada Rose.


Sayangnya saat wanita jahat itu ditampar oleh Dennis. Aryanti putrinya tidak melihat hal tersebut karena gadis itu masih berada di dalam kamarnya.


"Ayara, Nak akhirnya kau pulang? Maafkan Papa, sayang. Papa sangat---"


"Tentu saja Saya akan pulang, karena rumah ini adalah milik Saya," jawab Ayara degan bahasa formal.


"Nak, apakah kau yang membeli rumah ini? Syukurlah karena sebetulnya di sini ada sebagian uang ibumu juga. Kami membeli rumah ini saat baru menikah satu bulan. Jadi uangnya milikku dan---"


"Jika Anda tahu di rumah ini ada harta mendiang mama Saya, juga, kenapa kalian memperlakukan Saya seperti mana anak pungut?" mendengar pertanyaan Ayara. Tuan Edward langsung terdiam karena tidak tahu jawaban apa yang harus dia katakan.


"Nak, Sayang. Papa tahu kau begitu kecewa. Tapi tolong maafkan Papa, Aya. Papa benar-benar menyesal sudah menyakitimu. Papa adalah manusi bodoh yang percaya pada wanita ular ini. Mereka menipuku dan sekarang seluruh harta maupun rumah ini sudah habis karena anaknya," Tuan Edward menatap pada Rose degan tajam.


Semenjak mengetahui bahwa Arianti bukanlah anak kandungnya. Hubungan Tuan Edward dan Rose memang sudah rengang. Mereka tinggal satu rumah karena tidak memiliki pilihan.


Jika Tuan Edward karena dia sangat berat meninggalkan rumah itu, dan ingin bertemu dengan pemiliknya yang sekarang. Namun, jika Rose karena dia tidak punya tempat tinggal lain lagi semua uang tabungan mereka sudah ludes. Gara-gara anak laki-lakinya memiliki hutang di berbagai tempat.


"Saya tidak membutuhkan penyesalan Anda Tuan Edward. kedatangan Saya hanya ingin kalian semua meninggalkan rumah ini," tegas Ayara yang langsung diiyakan oleh Tuan Edward.


"Iya, Sayang. Papa memang akan pergi dari rumah ini. Syukurlah jika yang membeli perusahaan maupun rumah ini adalah dirimu, karena semua ini memang lah hakmu yang sudah kami rampas," jawab pria dewasa itu malah tersenyum kecil.


"Jasmeen... putrimu kembali untuk mengambil haknya. meskipun dengan cara membelinya. Tapi akhirnya semua ini kembali pada anak kita. Aku ikhlas menerima semuanya karena aku memang pantas mendapatkan balasan seperti ini. Seumur hidup Ayara, aku belum pernah membuatnya tersenyum."


Gumam Tuan Edward di dalam hatinya. Beliau terus menatap pada Ayara yang sebetulnya begitu mirip dengannya. Sekarang lelaki itu hanya bisa menyesali semua perbuatannya, yang sudah menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri. Demi anaknya bersama Rose yang ternyata bukanlah anak kandung beliau.


"Edward, apa maksudmu akan pergi dari rumah ini? Bukankah dia adalah anakmu? Itu berarti rumah ini adalah milikmu juga. Maka kita berhak tinggal di sini," seru Rose tanpa rasa malu menyebut akan tinggal di sana hanya karena Ayara, anak dari suaminya.


"Diamlah kau! Aku akan kembali ke kediaman Wilson dan kau bawa anak-anak mu pergi, karena sekarang di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," jawab Tuan Edward semakin kesal mendengar jawaban Rose yang ternyata sudah dia ceraikan.


"Papa, Mama, ada apa..." Arianti tidak melanjutkan ucapannya. Begitu melihat sosok Ayara di hadapannya. "Kau, apa yang kalian lakukan di---"


"Cepat tinggalkan rumah ini. Waktu kalian tinggal empat puluh satu menit lagi," ucap Ayara berjalan maju beberapa langkah.


Namun, tanpa aba-aba Arianti langsung mengangkat tangannya ingin menampar Ayara. Namun, tangganya hanya menggantung di udara. Karena Ayara sudah menangkap tangan wanita itu. Lalu dihempaskan dengan kasar.


Plaaak!


"Ini tamparan karena kau selalu berlaku buruk padaku," Aya menampar pipi Arianti.


Plaaak!


"Ini karena kau dan ibumu sudah merebut ayahku," si ibu hamil kembali memberikan tamparannya.


Plaaak!


"Dan ini karena kau dan ibumu sama-sama menjijikan ingin merebut hak orang lain," tanpa bisa dicegah, Ayara menampar adik tirinya.


"Ayara, apa yang kau lakukan. Biardab! Kau sudah berani menampar putriku," Nyonya Rose mengambil pas bunga yang ada di atas meja. Lalu ia pecahkan dan langsung secepat kilat menusukkan pecahan tersebut pada perut Ayara. Sehingga membuat Alvian menjerit karena jarak Nyonya Rose dan Ayara begitu dekat.


"Aya..."


"Aagkk! Para bodyguard pun terlambat menghalangi pas bunga tersebut.


... BERSAMBUNG.... ...