I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Pengantin Baru, Stok Lama.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Ja--jadi Papa dan Tante Jasmeen berteman?" seru Alvian benar-benar tidak menyangka jika dunia sangat sempit. Setelah mendengar cerita sang ayah, Alvian semakin bertekad akan menjadikan Ayara ratu dalam hidupnya.


"Huem.. dulu Jasmeen berteman dengan Papa dari semenjak sama-sama baru masuk sekolah menengah atas. Dia gadis yang baik, mungkin sama seperti Aya." jawab Beliau membenarkan.


"Dulu sangat banyak pemuda yang mau menjadikan dia kekasih mereka. Namun, Jasmeen selalu menolaknya, karena dia hanya ingin fokus pada pelajaran saja." jawab Tuan Abidzar berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi ceritanya.


Saat ini satu keluarga itu malah duduk di sofa dalam kamar Alvian. Mereka semua penasaran dengan cerita Jasmeen, ibu kandung Ayara.


"Alhasil untuk mengelabui para siswa dari kelas sepuluh, sampai kelas dua belas. Bahkan dari para guru yang juga menyukainya. Kami akhirnya berpura-pura pacaran. Agar tidak ada yang mengaggu dia lagi. Dan rencana kami berhasil." Tuan Abidzar tersenyum mengingat seperti apa baiknya hubungan beliau dengan ibu dari menantunya.


"Lalu semenjak itu, Jasmeen baru bisa belajar dengan tenang. Papa dulunya orang yang sangat tertutup pada siapapun dan di sekolahan itu. Hanya Jasmeen teman Papa satu-satunya." suara beliau mulai terdengar berat.


"Apakah Papa tidak tertarik padanya? Kenapa hanya membuat pacaran setingan seperti itu? Jika mamanya kakak ipar banyak yang mau. Berarti dia orangnya cantik." sekarang Deri yang bertanya karena tahu ibu mereka tidak akan cemburu pada orang yang sudah meninggal dunia.


"Bohong jika Papa bilang tidak tertarik padanya. Papa justru menyukainya sejak awal kami bertemu. Semua itu karena sikap cuek dan acuhnya. Padahal Papa adalah Incaran para wanita, termasuk mama kalian." goda lelaki setengah baya itu merangkul bahu istrinya.


Agar tidak marah mendengar pengakuannya. Soalnya selama mereka menikah, Tuan Abidzar tidak pernah menyakiti hati wanita yang dia cintai itu.


"Lalu bagaimana Papa dan Tante Jasmeen bisa berteman?" Alvian kembali bertanya.


"Gara-gara dia menolak Papa mentah-mentah. Jadi Papa mengajaknya untuk berteman saja. Dan ternyata dia mau, karena kami sama-sama tidak memiliki teman seperti anak lain yang pindahan dari sekolahan yang sama." jawab Tuan Abidzar yang tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.


"Dan akhirnya Papa berteman baik dengannya?" imbuh Nyonya Lili sama seperti kedua putranya. Sama-sama ingin tahu tentang persahabatan Tuan Abidzar dan besannya yang sudah meninggal dunia.


"Huem benar! Rasa suka itu akhirnya berubah menjadi rasa sayang seperti Papa menyayangi Anis. Soalnya dia sering Papa bawa kerumah lama kakek, untuk belajar bersama."


"Berarti Tante dan nenek mengenal Tante Jasmeen?" baik itu mama dan adik nya, Alvian terus saja bertanya.


"Iya, mereka menganal baik. Bahkan Tante Anis sangat akrab dengannya. Terkadang Tante kalian yang meminta dia datang ke rumah. Jasmeen orang yang ceria tidak seperti Aya, yang kelihatan agak pendiam." ujar ayah dua anak itu menebak saja.


Soalnya dia dan Ayara baru kenal beberapa hari ini. Jadi baru kira-kira saja seperti apa karakter sang menantu.


"Aya juga orang yang ceria, Pa. Hanya saja dia menjadi seperti itu sudah biasa saat berada di kediaman Wilson, tidak memiliki teman. Kecuali para asisten rumah tangganya." jelas pemuda yang baru menjadi seorang suami tadi malam.


Akan tetapi tidak perjaka nya sudah dari empat tahun lalu, kurang lebih. Bersamaan dengan hilangnya kesucian Ayara, karena mereka sama-sama baru melakukannya bersama.


"Huem, mungkin saja dia bisa bersikap pendiam karena lingkungannya. Tapi dia tidak mirip seperti mamanya. Hanya besar badannya yang sama persis. Sama-sama bertubuh kecil dan tinggi. Saat baru melihatnya di Toko bunga, Papa juga teringat pada Almarhum Jasmeen. Namun, Papa kira itu hanya karena Papa belum juga mendapatkan kabar tentangnya."


"Sejak kapan Papa dan Almarhum Jasmeen tidak berteman lagi? Kenapa Papa sampai tidak tahu jika dia sudah meninggal dunia?" tanya Nyonya Lili yang bersandar pada tubuh suaminya.


Wanita setengah baya itu tidak merasa cemburu. Justru dia semakin iba mendengar menantunya mendapatkan perlakuan buruk dari keluarnya sendiri.


"Sejak Papa lulus sekolah, karena meneruskan kuliah di luar negeri. Sedangkan dia berencana mau kuliah di sini saja. Karena Jasmeen memang bukan dari keluarga kaya." jawab beliau karena dia memang pernah datang ke rumah Jasmeen yang merupakan anak yatim-piatu dari panti asuhan dan di adopsi oleh pasangan suami-istri yang juga bukan orang kaya.


"Itulah yang membuat Papa kagum dan menyukainya sejak pertama bertemu. Jasmeen tidak matre seperti gadis lain. Dia memiliki kepribadian yang sangat baik. Mungkin karena itu Tuhan mengambilnya lebih dulu." helaan nafas berat kembali terdengar karena sebetulnya bila seorang perempuan. Maka Tuan Abidzar sudah menangis karena tidak menyangka jika orang yang dia cari selama ini sudah meninggal dunia.


"Tapi Tante Jasmeen meninggal dunia karena mengalami kecelakaan dari mobil, Pa. Kata Ayara, ibunya lambat tertolong. Makanya Aya bercita-cita menjadi seorang dokter. Agar bisa menolong orang yang tidak memiliki gelar keluarga terpandang pada nama belakangnya. Soalnya keluarga Wilson tidak pernah mengakui mamanya sebagai menantu. Jadinya pihak rumah sakit tidak tahu bahwa Tante Jasmeen adalah istri Tuan Edward." sela Alvian yang sama masih mengigat tentang Ayara istrinya.


"Itulah yang akan Papa balas. Jika keluarga Wilson tidak menerimanya. Kenapa Edward ikut-ikutan berlaku buruk pada istrinya sendiri. Jika Papa tahu Jasmeen mau menikah dengan laki-laki seperti itu. Maka Papa akan mencegahnya."


"Jadi Papa tahu jika dia akan menikah?" sahut Nyonya Lili.


"Iya, Papa tahu jika dia anak menikah, karena dia pernah menghubungi Papa untuk pertama dan terakhir kalinya dan ternyata itu adalah hari terakhirku berbicara dengannya. Yaitu saat kita baru menikah sekitar dua bulan. Sejak itu Papa tidak pernah tahu kabar tentangnya lagi, karena pada saat itu kita juga masih tinggal di luar negeri." Tuan Abidzar kembali mengingat serpihan masa lalu yang sudah puluhan tahun lalu.


"Jika dia meninggal dunia saat menantu kita baru umur dua tahun, berarti bertepatan kita pindah ke sini. Alvin dan Aya seumuran, jadi hal wajar jika Papa tidak bisa menemukannya sampai saat ini." Nyonya Lili membuat kesimpulan sendiri.


"Iya, sepertinya memang seperti itu. Huh!" Tuan Abidzar menghembuskan nafas kasar. "Sudahlah! Kenapa kita malah bernostalgia di saat waktu yang tidak tepat." ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya.


Tidak lupa beliau juga mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri juga.


"Agh... tapi Deri masih ingin mendengar cerita tentang persahabatan Papa dan mamanya kakak ipar." keluh Deri terpaksa harus berdiri dari tempat duduknya juga.


"Sebentar lagi waktunya kakakmu bertemu istrinya. Jadi lain kali, kita lanjutkan lagi." jawab Beliau sambil melihat jam mewah pada pergelangan tangannya.


"Alvin, ayo kita keluar! Inilah saatnya kau dan Aya bertemu. Hari ini kalian akan menjadi pengantin baru, tapi stok lama." seloroh Tuan Abidzar tersenyum mengejek sang putra dan Alvian yang mendengarnya hanya tersenyum.


"Mau penganti baru, stok lama. Tetap saja rasa cintaku tidak berkurang sedikitpun. Aku sangat mencintai Aya. Setelah hari ini, aku akan membahagiakan istri dan anakku." gumam Alvian sambil berjalan keluar dari kamarnya yang terletak di lantai atas rumah mewah tersebut.


Begitu tiba di bawah, pemuda tampan itu diberikan bunga oleh perias yang bertugas make up Ayara dan Alvian. Wanita tersebut adalah orang kepercayaan keluarga Rafael juga. Jadi berita pernikahan Alvian, benar-benar tertutup untuk umum.


"Nanti setelah Nona Ayara sampai di sini. Anda berikan bunga ini padanya, karena kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Jadi tidak perlu menunggunya setelah acara janji sakral pernikahan selesai." ucap wanita tersebut memberikan arahan.


Saat ini seluruh keluarga inti Rafael sudah berkumpul di tengah ruang, rumah tersebut, yang telah disulap menjadi altar pernikahan Alvian dan Ayara.


"Baiklah! Saya mengerti." jawab Alvian yang sebetulnya sudah merasa gugup saat menuruni tangga bersama adiknya.


Sedangkan Ayara sendiri, saat ini masih berada di kamarnya yang berada di lantai bawah rumah tersebut. Namun, karena rumahnya sangat besar. Jadi untuk sampai ke tempat Alvian menunggunya. Aya harus berjalan sekitar tujuh menit kurang lebih.


Gumam Alvian menatap kearah istrinya yang lagi berjalan dengan pandangan mata tertunduk tidak berani menatap padanya.


Bukan! Ayara bukan tidak berani. Hanya saja dia sama gugupnya seperti Alvian. Apalagi di dalam rumah sebesar itu, satu saja tidak ada keluarganya.


Miris memang, tapi itulah kenyataan pahit hidup seorang Ayara Febrian Jasmeen.


Dia datang ke rumah tersebut hanya bersama putri kecilnya yang saat ini lagi digendong oleh Deri. Untuk melihat ayah dan ibunya yang lagi berjalan di atas altar pernikahan.


"Huem! Al, apakah jantungmu baik-baik saja?" goda Naufal ketika melihat sahabat mereka termangu ditempatnya berdiri.


"Ck, jangan di tanya lagi! Ini sudah hampir keluar dari tempatnya," jawab Alvian tersenyum kearah Ayara yang semakin dekat dengannya.



"Akhirnya aku dipersatukan lagi dengan Aya ku. Kenapa dia tidak melihat ke sini." pemuda tampan itu kembali bergumam dengan jantung berdebar-debar.


Semakin dekat langkah Ayara ke arahnya. Maka jantung Alvian semakin tidak karuan. Antara gugup dan bahagia karena bisa hidup bersama gadis yang dia cintai dan sudah menjadi ibu dari putri kecilnya juga.



"Kakiku kenapa semakin berat. Aku gugup sekali. Ini adalah kali pertama aku berjalan dengan tatapan orang-orang mengarah kepadaku. Ya Tuhan! Aku mohon, tolong jangan pingsan sekarang."


Ternyata bukan hanya Alvian saja yang gugup. Akan tetapi Aya juga merasakan hal yang sama.


Soalnya Tuan Abidzar Ayah mertuanya. Hanya mengantar sampai karpet merah saja. Setelah itu dia akan berjalan sendiri ke arah suami tampannya yang sudah berdiri dengan gagah. Sambil memegang satu tangkai bunga.


Begitu Ayara tinggal satu meter lagi untuk menerima uluran tangan dari suaminya. Suara riuh tepuk tangan dan sorakan dari sahabat Alvian memenuhi rumah mewah tersebut.


"Baik, sekarang Tuan Muda Alvian silahkan bawa Nona muda Ayara berjalan menuju pelaminan." ucap MC ikut bersorak gembira.


Alvian, salah satu member ALV yang mereka kenal. Hari ini sudah menjadi suami dari seorang gadis yang statusnya dirahasiakan oleh keluarga Rafael.


Namun, yang jelas wanitanya sangat cantik dan masih muda. Siapapun bila Vania tidak memanggil Aya dengan sebutan mama. Maka tidak akan tahu bahwa wanita itu sudah memiliki anak yang umurnya hampir tiga tahun.


"Hei, tersenyumlah! Kenapa kau terlihat sangat tegang," bisik Alvian begitu dia mengenggam erat tangan istrinya.


"A--aku gu--gugup sekali," jawab Aya terbatas dan ikut berbisik juga.


Untungnya saat ini dia tidak sendirian lagi, karena sudah ada Alvian bersamanya. Jika tidak, maka Aya sudah pingsan karena tidak mampu menahan rasa gugupnya.


"Aku juga sama sepertimu. Aku sangat gugup!" sesuai arahan dari MC. Pemuda itu menuntun tangan istrinya menuju pelaminan.



"Ada aku, jadi tenanglah!" kata Alvian saat mereka baru saja duduk di kursi pelaminan mereka.


"Huem, iya! Alvin... aku rasanya mau menangis. Aku bahagia sekali." Aya mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Aku---"


"Tidak apa-apa! Kau sudah banyak menderita karena aku. Maka mulai saat ini, kau hanya perlu menangis karena bahagia saja." karena MC dan keluarga yang lainnya lagi sibuk mengurus acara selanjutnya.


Kedua pasangan suami-istri itu ada waktu untuk bicara berdua.


"Alvin, aku---"


"Shuuit! Jangan menangis. Ada Via melihat kita dari sana. Jika dia tahu mamanya menagis. Maka putri kita akan ikut bersedih." sela pemuda tampan itu manaruh jari tangannya pada bibir ranum istrinya.


Sehingga suara godaan dari bawah pelaminan mulai terdengar ramai.


"Alvin, tidak bisakah kalian menuggu malam. Lihatlah, kami semua masih ada di sini." ucap saudara Alvian berteriak.


Akan tetapi apa yang mereka katakan saat ini, hanyalah bentuk godaan saja.


"Al, tunggu acaranya selesai. Nanti Via biar kami yang mengasuhnya," goda keempat sahabat Alvian dan Ayara.


"Alvin, menjauh lah! Sekarang kita menjadi pusat perhatian mereka." bisik Aya mulai merasakan malu. Soalnya dia mengerti ke mana arah pembicaraan sahabat mereka dan juga keluarga yang lainnya.


"Kenapa harus malu, sekarang kita sudah sah menjadi suami istri dan terserah padaku mau melakukan apapun dengan wanita yang aku cintai." jawab Alvian yang dengan sengaja ingin menggoda istrinya.


"Iya, aku memang sudah menjadi istrimu. Tapi bukan berarti kita boleh bermesraan di hadapan orang banyak seperti ini."


"Jika begitu apa kita boleh bermesraan saat sudah tiba di kamar, untuk melakukan malam pertama? Oke baiklah! Jika begitu aku tidak jadi masalah menahan diri sampai acaranya selesai dan kita kembali ke kamar" Alvian tersenyum dan tangannya merangkul pinggang sang istri.


"Astaga! Alvin," seru Ayara dengan penuh rasa malu. Meskipun dulu mereka sudah biasa melakukan hubungan suami istri. Akan tetapi untuk saat ini dia tetap kembali merasakan hal tersebut.


"Aku benarkan?" jawab Alvian tersenyum dan berkata. "Aya, malam ini kita akan kembali Apartemen, karena mama sudah menyiapkan tempat untuk malam pertama kita. Tapi hanya kita berdua, karena Vania akan tinggal di sini bersama yang lainnya."


"A--apa!" Ayara langsung membuang arah pandangan matanya.


...BERSAMBUNG... ...