I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Menyentuh Istriku.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Ayo makan lagi," Alvin kembali menyuapi Aya. Namun, gadis itu sudah menutup mulutnya.


"Tidak mau, aku sudah kenyang. Sekarang waktunya makan eskrim," tolak Ayara yang membuat Alvian hanya mengangguk setuju.


"Tidak boleh banyak-banyak makan eskrim, apalagi malam hari," ucap pemuda itu terus menatap Ayara dengan perasaan tidak menentu.


"Ya Tuhan... entah seperti apa sengsaranya Aya saat hamil anak pertama ku. Sedangkan saat itu aku sedang sibuk-sibuknya kesana kemari karena member ALV baru naik daun." Alvian kembali bergumam di dalam hatinya.


Sekuat apapun Alvin mau melupakan kenangan tersebut. Tetap tidak bisa karena dia tahu jika Aya begitu bergantung padanya. Akan tetapi pada saat Ayara hamil malah harus berjuang seorang diri.


"Al, jangan bilang kau lagi memikirkan ma---"


Cup!


Sebelum Ayara menyelesaikan ucapannya. Alvian sudah mengecup bibir ranum istrinya yang sedang memakan eskrim.


"Ternyata rasanya sangat manis bila dari bibir mu," pemuda itu tersenyum sambil menyapu sisa es yang masih menempel di bibir Aya.


Semua itu disaksikan milyaran penduduk dunia halu. Soalnya para pengunjung Restoran tersebut sudah menatap kearah Alvian dan Ayara degan kamera ponsel menyala.


Memang tidak ada larangan bagi mereka mau mengabadikan momen romantis sang member ALV. Soalnya Alvian memang sangat jarang makan di tempat umum degan ruang terbuka seperti malam ini.


Biasanya Alvian maupun para member ALV selalu memesan ruang VIP. Jadi tidak sembarang orang bisa melihat mereka makan.


"Alvin, kenapa kau---"


"Kenapa? Kau adalah istriku dan aku sangat menikmatinya," sela Alvian tersenyum menatap Ayara dengan rasa cinta membuncah.


Rasa cintanya semakin besar saja, karena sekarang di dalam kandungan Ayara sudah ada lagi calon anak keduanya.


"Ayo habiskan es nya, setelah itu pakai lagi jaket ini. Kita pulang dulu karena sudah malam. Jika mau jalan-jalan lagi, kita harus merencanakannya sejak sore. Jangan mendadak seperti ini," ucapannya seraya melihat jam pada pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh.


"Iya, tunggu sebentar lagi. Sebetulnya saat kita di kota XX. Aku sudah mau makan di sini. Hanya saja karena jauh aku tidak bilang padamu dan tadi baru ingat lagi," ungkap Ayara jika bukan karena muntah-muntah. Maka dia sudah lupa keinginannya untuk makan di Restoran mewah tersebut.


"Wah, Benarkah? Kalau begitu ini adalah keinginan anak Papa," Alvian mengelus perut datar Aya dengan wajah bahagianya.


"Sepertinya iya, soalnya aku begitu menginginkan makanan di sini,"


"Tidak apa-apa. Kau tidak boleh menahannya lagi. Apapun yang ingin kau makan, maka sebutkan saja. Aku akan pergi mencarinya walau ke ujung dunia sekalipun," kata Alvian sudah kembali duduk dengan benar pada tempatnya.


"Oke, baiklah. apabila aku ingin sesuatu maka akan bilang padamu," jawab Ayara sambil memakai jaketnya yang dibawakan oleh Alvian. Karena takut istrinya masuk angin jadi pemuda itu sempatkan untuk mengambil jaket di kamar mereka.


"Sayang,sudah! Ayo kita pulang," Aya degan manja mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh si tampan Alvian. Dengan lembut dia membantu istrinya berdiri.


Lalu karena sudah ada Bodyguard Denis yang akan membayar pesanan mereka. Alvian pun langsung saja membawa Ayara berjalanan ke arah pintu Restoran tersebut. Akan tetapi saat mereka baru melangkah keluar. Datang seseorang menatap sinis pada Aya. Dari sorot mata wanita itu terlihat sedang marah.


"Ayara Febriani Jasmeen. Haa... ha..." tawa jahat wanita itu yang berdandan begitu modis. "Enak sekali hidupmu berlindung di keluarga Rafael. Anak pembantu, kau tidak pantas bersanding dengan Ian. Dia hanya pantas menjadi suamiku," ucapnya lagi. Sehingga membuat para Bodyguard Alvian dan orang-orang Tuan Abidzar mulai mendekat.


"Biarkan, aku ingin tahu apalagi yang hendak dia katakan," Aya tersenyum sinis pada wanita itu. "Arianti Wilson.... Agh! Maaf, aku lupa jika kau bukanlah putri dari Edward kan? Haa... menggelikan sekali. Kalian hidup bertahun-tahun menipu kelurga Wilson. Mengaku sebagai putri beliau, padahal dirimu hanyalah anak dari mantan suami Rose ibumu," sekarang bergantian Ayara lah yang tertawa.


"A--apa maksudmu? Aku adalah putri Tuan Edward Wilson. Atas dasar apa kau berkata bahwa aku bukanlah putrinya?" seru Arianti yang wajahnya memerah karena orang-orang berbisik kearahnya.



"Kau masih mau berpura-pura? Apakah aku perlu memperlihatkan buktinya pada media. Betapa hina nya kalian semua," Ayara yang sudah diberitahu oleh suaminya jika Arianti bukanlah anak dari Tuan Edward, yang berarti adik tirinya langsung saja mencaci maki wanita itu.


Sebab apa yang Aya lakukan saat ini adalah sebagai bentuk balasan atas perbuatan Arianti bersama ibunya selama dia tinggal di kediaman Wilson.


"Anak seorang pembantu, dengan anak dari wanita yang sudah menipu suaminya selama berpuluh-puluh tahun. Mana menurut kalian yang lebih baik?" sekarang Ayara menatap pada orang-orang yang menonton mereka.


"Tentu saja lebih baik anak dari seorang pembantu. Kita hanya terlahir dari keluarga miskin. Namun, memiliki sifat dan perilaku yang baik. Daripada anak dari selingkuhan mantan suami, itu sungguh menjijikan sekali. Sepertinya tidak ada tempat untuk di lingkungan masyarakat karena akan menyebabkan pengaruh buruk bagi kita yang baru berumah tangga," jawab seorang wanita menatap Arianti meremehkan.


"Iya, kau benar. Kalian dengar sendiri kan tadi, seperti apa dia menghina Nona Ayara dan berkata hanya dia yang pantas bersanding dengan Ian," sahut gadis yang sejak tadi melakukan live streaming dari ponselnya. Yaitu mengabadikan kemesraan Alvian dan Ayara.


"Arianti Wilson, apakah kau sudah mendengarnya?" ucap Ayara tersenyum menyeringai karena sudah berhasil membuat Arianti malu atas perlakuannya sendiri.


"Kurang ajar, aku---"


"Jika kau berani menyentuh sehelai rambut istriku saja. Maka jangan salahkan aku berlaku kasar padamu," hardik Alvian menghempas kasar tangan wanita itu yang sudah mau menampar Ayara.


"Apakah kau tahu siapa yang mau kau sakiti? Dia adalah Nyonya Muda Rafael. Jika kau masih berani menghinanya lagi. Maka kau akan berurusan dengan hukum negara," setelah memberikan ancaman pada Arianti. Alvian menarik lembut tangan istrinya untuk meninggalkan Restoran tersebut.


Braaak!


"Alvin, tolong maafkan aku," ucap Ayara setelah mereka masuk kedalam mobil. Sedangkan Arianti sudah ditahan oleh para pengawal Tuan Abidzar yang beliau tugaskan untuk melindungi Ayara.


"Maaf untuk apa?" Alvian balik bertanya. Dia belum menjalankan kendaraan mewahnya karena baru selesai memakai sabuk pengaman pada tubuhnya dan juga pada Ayara.


"Maaf karena hal ini pasti akan menjadi berita besar tentang dirimu. Aku tidak menyangka bahwa Arianti akan datang ke sini untuk menghina diriku?"


Cup, cup, Muaach!


"Apa yang ditakutkan dengan berita tentang ku. Kau sudah melakukan hal yang benar. Wanita itu memang pantas dilawan Karena dia sudah menghina dirimu lebih dulu," jawab Alvian yang sudah mengecup pipi kiri dan kanan. Lalu yang terakhir adalah bibir istrinya.


"Sudahlah, jangan memikirkan hal apapun, ya. Cukup pikirkan kesehatanmu dan juga calon anak kita. Karena semuanya akan baik-baik saja," sambil berkata Alvian mengelus kepala Ayara yang mengagguk mengiyakan.


"Iya, tadinya aku takut karena melihat pertengkaran aku dan Arianti akan timbul berita buruk tentang mu,"


"Tidak sayang, semuanya pasti tahu bahwa kau lagi membela dirimu. di dalam tadi begitu banyak orang yang sedang melakukan live. Jadi para fans ALV tidak akan menilai buruk tentang dirimu. Justru biasanya mereka akan melindungimu dari orang-orang yang tidak suka," jelas pemuda itu tidak ambil pusing dengan berita tentang istrinya yang bertengkar dengan Arianti.


"Oh, syukurlah. Ayo cepat jalan. Apalagi yang mau ditunggu,"


"Baik sayang ku," jawab Alvian mulai menjalankan kendaraan mewahnya menuju kediaman keluarga Rafael.


"Sayang..." panggil Alvian membuat Ayara menoleh. Tapi tidak berkata apa-apa.


"Bagaimana bila besok setelah melakukan pemeriksaan pada kandunganmu, kita mendatangi rumah Tuan Edward?" usul Alvian memiliki ide untuk membuat Arianti membalas atas perbuatannya malam ini.


"Baiklah, aku setuju," jawab Ayara cepat.


... BERSAMBUNG... ...