I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Mengajukan Perceraian.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Bara, ayo silahkan duduk!" ucap Ria dan mamanya secara bersamaan.


"Huem, iya! Terima kasih!" jawab pemuda itu yang masih memiliki memar pada bagian wajah dan bibirnya. Pukulan Alvian tadi malam benar-benar kuat sehingga sampai separah itu. Namun, sampai saat ini sahabatnya itu belum ada mengirim pesan pada Bara.


Membuatnya semakin yakin jika Alvian sebetulnya tahu dimana tempat Lula saat ini. Akan tetapi untuk bertanya Bara belum mau karena sudah pasti akan menimbulkan kericuhan.


"Bar, sebetulnya apa yang terjadi? Bukannya tadi malam wajahmu baik-baik saja?" tanya Ria saat Bara sudah menyuap makanan kedalam mulutnya.


"Ada kesalahpahaman kecil," jawab Bara yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Salah paham? Sama siapa?"


"Ria, ayo habiskan makanan mu!" ucap mamanya Ria karena beliau melihat jika Bara seperti tidak mau menceritakan masalahnya.


"Iya, Ma," setelah itu tidak ada pembicaraan lagi. Bara yang hanya menyendok sedikit nasi selesai lebih dulu. Lalu dia langsung berpamitan mau pulang. Diikuti oleh Ria yang mengantarnya ke depan rumah.


"Aku pulang dulu!" kata pemuda itu terlihat sekali lagi memiliki banyak beban pikiran.


"Bar... tunggu! Kau ada masalah apa? Apakah kau seperti ini karena wanita tidak tahu diri itu?" tanya Ria yang membuat Bara menatapnya tajam.


"Dia bukan wanita asing, Ri. Tapi Lula adalah istriku."


"Istri seperti apa yang berani meminum pil pencegah kehamilan tanpa sepengetahuan suaminya?"


"Lula belum tentu melakukannya. Aku akan menyelidik masalah ini."


"Huem, kau cari tahu saja. Namun, kau jangan pernah kecewa bila sampai tidak menemukan bukti apa-apa." Ria tersenyum kecil.


"Aku pulang!" Pamit pemuda itu tidak mau menghabiskan waktu sia-sia. Akan tetapi saat dia meninggalkan tempat itu. Ria langsung mengirim pesan pada Nyonya Marry. Agar perempuan tua itu menyimpan semua bukti yang menunjukkan jika Lula tidak bersalah.


Berhubung masih jam setengah delapan pagi. Membuat Bara sudah tiba dirumah orang tuanya. Soalnya dijalanan tidak terlalu ramai. Apalagi memang hari ini akhir pekan.


"Pagi, Nak. Kau sudah datang. Tapi---"


"Papa kemana, Ma?" tanya Bara tidak menghiraukan pertanyaan mamanya.


"Papa mu ada di---"


"Ada apa, Al? Apakah kau belum pulang ke rumah mu dan menyelesaikan permasalah rumah tangga kalian?" sela Tuan Anderson yang baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya.


"Lula sudah pergi, Pa. Dan Bara tidak tahu dia kemana karena saat ditanyakan dia tidak mau mengatakan tempatnya saat ini."


"Dia sudah melakukan hal yang benar. Untuk apa bertahan disisi seorang suami yang tidak memberinya kesempatan untuk membela diri."


"Maksudnya apa, Pa? Bara tidak bersalah dan dialah yang telah menipu kita semua. Baguslah jika dia sudah pergi. Untuk---"


"Bara memang tidak bersalah sepenuhnya, tapi kau dan Rendra lah penyebab rumah tangga mereka berantakan." Tuan Anderson membanting ponsel Android istrinya sampai hancur berkeping-keping.


"A--apa maksud Papa? Aku---"


"Kau tidak usah membela dirimu lagi, Marry. Aku benar-benar tidak menyangka jika kau tega memfitnah Lula demi rencana busuk kalian." kata Tuan Anderson yang sudah mengetahui semuanya.


Begitu mengetahui saham perusahaan Rendra mengalami penurunan dan hampir bangkrut membuat beliau curiga karena yang berada di titik paling tinggi adalah perusahaan Tuan Abidzar. Lalu Tuan Anderson mengecek kamera CCTV di rumahnya. Tanpa di duga beliau mendengarkan pembicaraan Nyonya Marry dan laki-laki itu. Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Restoran yang diyakini beliau jika Tuan Abidzar sudah mengetahui hal tersebut.


"Pa, maksudnya fitnah seperti apa? Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Bara benar-benar tidak paham.


"Kau lihatlah rekaman CCTV di rumah ini! Kau akan tahu apa yang mamamu lakukan untuk menghancurkan rumah tangga kalian." jawab Tuan Anderson berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Hari ini juga aku akan mengurus perceraian kita, Marry. Aku sudah pernah memperingati mu agar tidak mengusik rumah tangga Albar dan Lula. Namun, kau tidak mendengar perkataan ku."


"A---apa? Tidak! Aku---"


"Jika kau tidak mau, maka aku akan melaporkan mu ke kantor polisi. Agar semua orang tahu seperti apa kelakuan mu." ancam beliau yang tidak pernah main-main pada perkataannya.


"Ba--bara! Mama hanya m---"


"Jadi semua ini karena Mama? Kenapa Mama tega melakukannya? Kenapa, Ma?" Bara yang biasanya patuh sampai membentak wanita yang sudah melahirkannya.


"Ba---"


"Aku kecewa sama Mama!" seru pemuda itu langsung pergi ke kamarnya. Dia mandi karena mau pergi mencari sang istri.


"Lula... maafkan aku!"


Sesalnya memejamkan mata saat sudah berada dibawa guyuran air shower. Bara tidak kuasa menahan penyesalan karena telah menuduh istrinya. Bahkan sudah berlaku kasar pada wanita itu.


"Seharusnya aku tidak percaya begitu saja. Aku benar-benar bersalah, Lula."


Pemuda tersebut terus bergumam bahkan disertai tangannya memukul dinding kamar mandi.


Takut bila sang istri pulang ke rumah mertuanya di ibukota S. Bara pun cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Pria itu hanya memakai baju kaos biasa dan tidak lupa masker penutup wajah.


"Bar, kau mau kemana? Mama---"


"Aku mau pergi mencari Lula, Pa. Dia pergi dari rumah sejak kemarin pagi." kata Bara berhenti kala berbicara dengan papanya. Pemuda itu tidak menghiraukan Nyonya Marry lagi.


"Bara, biarkan saja di---"


"Diam kau! Jika kau masih ikut campur urusan mereka, maka aku akan menyeret mu ke kantor polisi." bentak Tuan Anderson pada wanita yang sebentar lagi menjadi janda.


Ya, Tuan Anderson sudah menelepon asisten pribadinya untuk mengurus perceraian mereka. Beliau tidak mau karena ulah Nyonya Marry. Perusahaan Anderson Gretchen gulung tikar. Sebab tidak mungkin Tuan Abidzar hanya diam saja tidak bertindak apa-apa.


"Bara, pergilah cari istrimu dan bawa dia pulang. Jangan sampai kau kehilangannya, karena Lula adalah gadis yang baik."


"Huem, iya, Pa. Bara pergi dulu." pamitnya. Tujuan Bara saat ini adalah rumah Tuan Abidzar dan Alvian. Sebab dia sangat yakin jika istrinya belum kembali ke ibukota sebelah.


"Lula, maafkan aku, sayang. Aku tidak menyangka jika mama tega melakukan hal sekeji ini."


Gumam Bara yang seakan-akan Lula ada dihadapannya. Dua puluh menit kurang, pemuda itu telah sampai di kediaman keluarga Rafael. Dia turun dari mobil dan disambut oleh pelayan dengan hormat.


"Om Abi ada dimana?" tanyanya sambil berjalan masuk.


"Tuan Abi ada di taman belakang bersama nona kecil."


"Oh, baiklah! Terima kasih! Aku akan menemuinya sendiri dan kau boleh pergi." dengan penuh keberanian Bara pun berjalan sendiri kearah taman belakang. Dari jauh dia sudah mendengar suara Vania tertawa.


"Om Albal mau tali Papa ya?" tebak si cantik Vania.


"Iya, tapi Om mau bertemu Opa dulu. Apakah Via bisa memanggil Papa Alvin?" jawab Bara tersenyum pada gadis kecil itu. Soalnya begitu melihat kedatangan Bara, putri sulung Alvian itu berlari menyambutnya.


Dia sudah biasa dekat dengan keempat sahabat papanya. Jadi tidak usah heran.


"Opa, Via demput Papa duyu ya?"


"Iya, pergilah! Tapi hati-hati ya," jawab Tuan Abidzar karena dia dan Bara memang perlu berbicara.


"Om, maaf!" ucap Bara yang membuat Tuan Abidzar tersenyum kecil.


"Minta maaf untuk apa? Kau tidak punya salah pada Om, Bar."


"Maaf karena sudah menyakiti Lula. Bara tidak bisa menepati janji." imbuh Bara yang duduk disebelah Tuan Abidzar.


"Kau hanya bersalah pada Lula, bukan kami. Lagian untuk apa kau mencarinya yang sudah menipu mu." kata Tuan Abidzar membuat Bara kesulitan untuk menjawab apa lagi.


... BERSAMBUNG... ...


.


.


...Maaf ya, Kakak semuanya. Untuk sekarang slow update novel yang duanya karena keadaan Mak Author belum pulih total. Terima kasih 🙏🙏...