
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Sore harinya.
Tepatnya jam setengah lima sore. Lula tengah bersiap-siap didepan meja rias. Sedangkan Aldebaran atau yang kerap disapa Bara oleh Fans ALV lagi membersihkan tubuhnya didalam kamar mandi.
Sebetulnya mereka sudah bangun dari jam tiga. Namun, pasangan suami-istri tersebut kembali melakukan percintaan untuk kedua kalinya. Hari ini benar-benar sangat membahagiakan bagi Bara dan Lula. Mereka sudah saling memiliki satu sama lain.
Walaupun tadinya Lula merasa malu dan sempat menutup tubuh polosnya mengunakan selimut. Akan tetapi setelah Bara memberikan kecupan dan berlanjut pemanasan pada bagian tubuh yang lainnya. Membuat wanita itu mend3sah nikmat.
Sehingga pertempuran pun kembali terjadi. Setelah sama-sama merasakan kepuasan dan lelah. Barulah mereka memutuskan untuk mandi secara bergiliran.
Kleeek!
Suara pintu kamar mandi yang dibuka oleh Bara. Sehingga membuat Lula berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Aldebaran.
"Ini pakainya sudah aku siapkan. Tapi... jika kau tidak cocok ganti saja sendiri dengan yang lainya." ucap wanita tersebut karena ini barulah kali pertama dia menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
"Tidak! Aku akan menyukai apapun yang disiapkan oleh istriku." jawab Bara tersenyum sambil menatap lekat istrinya. "Kau sangat cantik, Lula."
"Tentu saja karena aku seorang perempuan. Kau saja yang baru tahu bahwa aku sebetulnya lumayan cantik."
Cup!
"Ya, sepertinya setelah apa yang kita lakukan membuat aku sadar bahwa tidak salah sudah memilihmu sebagai istriku." Bara mengecup bibir Lula sekilas.
"Bara... cepatlah pakai bajumu. Aku malu bila datang terlambat." wajah Lula tersipu malu mendengar ucapan sang suami yang membahas tentang percintaan mereka.
"Kau tidak perlu malu, Sayang. Setelah hari ini kita akan lebih sering lagi melakukannya. Agar kau segera hamil dan kita bisa memiliki anak seperti Alvin dan Aya." Bara bukannya memakai pakaian tapi malah mengelus pipi Lula yang bersemu merah.
"Iya, semoga saja. Bara, ayo cepatlah pakai baju mu!" Lula mencoba menjauhkan tubuh mereka dan berjalan mendekati tempat tidur. Kebetulan sekali memang belum dibereskan.
"Baiklah-baiklah! Aku berganti pakaian dulu." pria tersebut pun langsung menuruti perkataan istrinya. "Lula, seprainya biar dicuci di laundry saja. Nanti sekalian kerumah orang tuaku kita titipkan dulu."
"Iya, tidak masalah. Aku akan mengganti dengan seprai yang baru." jawab wanita itu setuju. Sebab dia tahu jika harga seprainya sangat mahal. Bila dicuci sendiri Lula takut tidak bisa bersih.
"Terima kasih ya sudah menjaganya untukku. Aku sangat bahagia sekali saat melihat dar4h perawan mu. Walaupun sebetulnya aku tidak tega juga karena aku, kau menjadi kesakitan." ucap Bara langsung membantu istrinya membereskan tempat tidur.
"Bar, biar aku saja yang bereskan. Kau bersiap-siap saja."
"Lula, aku sangat bahagia melihat kau terus tersipu seperti sekarang. Seharusnya kau menjawab perkataan ku, bukannya mengalihkan pembicaraan." Bara tergelak yang tidak dihiraukan oleh Lula. Wanita itu benar-benar merasa malu sekali.
Bagaimana dia akan baik-baik saja. Bara adalah idola yang dia cintai lebih dari sebagai Fans. Lalu bagaimana mungkin bisa bersikap cuek dan biasa-biasa saja. Sungguh, itu tidak mungkin. Jarak diantara mereka bagaikan planet mars dan bumi.
"Sudah selesai, ayo kita berangkat sekarang. Tapi jika kau mau bersiap-siap aku akan menunggumu dibawah." perkataan Lula kembali membuat pria itu mengembangkan senyumnya.
"Kenapa Lula sangat mengemaskan. Jika tidak mau kerumah mama, maka aku akan memakannya lagi."
Gumam Bara seraya mengelengkan kepalanya pelan. "Iya, istriku. Ayo kita berangkat sekarang." ucapnya yang tidak ingin membuat Lula semakin merasa malu.
Setelahnya pasangan suami-istri tersebut pergi mengunakan mobil tanpa adanya bodyguard yang mengawal. Semua itu Bara lakukan agar tidak ada penggemar yang mengetahui jika dia pergi bersama seorang wanita.
"Kau tunggu disini, aku akan masuk sendirian." kata wanita itu sudah memegang handel pintu mobil.
"Tapi itu lumayan berat, aku saja yang turun mengunakan masker penutup wajah." cegah Bara mencekal pergelangan tangan istrinya.
"Apakah kau lupa siapa istrimu sebenarnya? Aku sudah biasa membawa pot bunga dari mobil untuk masuk ke toko dan itu aku lakukan selama bertahun-tahun."
"Huh!" Bara menghembuskan nafas panjang. "Baiklah! Tapi mulai saat ini tidak akan aku biarkan lagi kau melakukan pekerjaan seperti itu."
"Huem, baiklah! Kau adalah suamiku jadi semuanya kau yang tentukan." Lula tersenyum dan tidak menghiraukan Bara lagi.
Tidak lama hanya sekitar sepuluh menit wanita itu sudah kembali dengan tangan kosong.
"Ya, sudah selesai dan nanti bila sudah siap mereka akan menelpon ku, karena aku bilang mau mengambilnya sendiri."
"Tidak apa-apa, nanti kita akan mengambilnya bersama-sama." kata pria tersebut dan mereka kembali melanjutkan perjalanan sampai kurang lebih lima belas menit. Mobil mewah tersebut telah sampai kesebuah rumah mewah.
Membuat Lula semakin merasa gugup. Apabila ibu mertuanya seperti Nyonya Risa, maka Lula bisa bersikap tenang. Namun, ibu dari suaminya itu tidak menyukai Lula. Jadi rasa gugup karena takut pun tidak bisa ditepis begitu saja.
"Lula, ayo turun!" ajak pria tersebut sudah membuka pintu mobilnya.
"I--i--iya!" jawab Lula tergagap. "Bar, aku gugup takut orang tuamu tidak bisa menerima kehadiran ku."
"Itu tidak mungkin karena mamaku bukan orang jahat. Kau lihatlah perlakukan nya pada Ayara seperti apa. Mama menganggap nya seperti putrinya sendiri. Jadi sudah pasti dia akan menyukaimu lebih dari menantu."
Tidak mau berdebat hal yang belum pasti. Lula pun ikut masuk dengan posisi tangan digandeng mesra oleh Bara dan begitu tiba di ruang keluarga, kedua orang tua Bara menyambut hangat anak dan menantunya.
"Sayang, kalian sudah datang. Mama menunggu sejak tadi dan takutnya tidak jadi datang." sambut Nyonya Marry memberikan pelukan pada Bara dan Lula.
"Mana mungkin kami tidak jadi datang karena tahu Mama pasti akan memasakkan makanan kesukaanku." Bara yang menjawab karena Lula masih merasa binggung dengan sikap ibu mertuanya yang berubah menjadi hangat.
"Bukan hanya kesukaan mu, tapi juga makanan yang disukai oleh istrimu. Pagi-pagi sekali Mama sudah menelpon Risa untuk menanyakan makanan kesukaan Lula." jawab Nyonya Marry tersenyum kearah menantunya.
"Wah benarkah? Mama terima kasih!" seru Bara semakin mengeratkan genggaman tangannya dan Lula.
"Sayang, kau dengar sendiri kan jika Mama sampai menelepon Tante Risa hanya untuk menanyakan makanan kesukaanmu. Jadi kau tidak perlu takut lagi jika mamaku tidak menyukai hubungan kita." kata Bara meluruskan kesalahpahaman sang istri.
"Iya," hanya kata itulah yang bisa Lula ucapkan.
"Aku tidak tahu isi hati mama, tapi yang jelas filing ku mengatakan bahwa dia tidak menyukaiku. Namun, demi pernikahan ku, aku harus bisa mengambil hatinya supaya bisa menerima diriku."
Gumam Lula memaksakan untuk tersenyum dan percaya bahwa ibu mertuanya menyukainya.
"Lula, selamat datang ya, Nak. Kau jangan sungkan kami juga orang tuamu. Jadi anggap rumah ini rumahmu juga," Tuan Anderson Gretchen ikut menyambut kedatangan menantunya.
"Iya... Pa, terima kasih karena kalian sudah mau menerimaku." jawab Lula pada ayah mertuanya yang tulus menerimanya sebagai menantu.
Sangat terlihat sejak awal bahwa Tuan Anderson Gretchen bersikap hangat pada Lula. Berbeda dengan istrinya yang cuek acuh tak acuh.
"Pa, biarkanlah mereka istirahat atau mungkin Bara mau membawa istrinya melihat semua ruangan yang ada dirumah ini. Lula kan belum pernah tinggal dirumah seperti ini." perkataan Nyonya Marry membuat Lula menatap kearah beliau.
"Ma, maksud mama apa berkata seperti itu?" Bara yang tidak nyaman pada pertanyaan tersebut langsung protes.
"Mama... tidak bermaksud apa-apa. Mama hanya ingin istrimu mengaggap rumah ini sebagai rumahnya, bukan rumah orang lain." jawab Nyonya Marry.
"Memangnya kau mau Lula tidak nyaman tinggal di rumah mu?"
"Tentu saja tidak! Aku ingin Lula merasa nyaman dimanapun tempatnya."
"Nah jika begitu cepat bawa dia berkeliling di rumah ini. Mama mau melihat persiapan untuk makan malam kita." titah beliau sudah pergi begitu saja.
"Kenapa dari perkataannya, mama seperti lagi menghinaku yang tidak memiliki apa-apa? Ya Tuhan... aku mohon semoga semua prasangka buruk ini diajukan dariku."
Do'a Lula didalam hatinya. Namun, apapun yang wanita muda itu rasakan tidak diketahui oleh Bara. Pria tersebut malah meminta izin pada papanya untuk membawa Lula berkeliling di rumah mewah mereka.
Mau menolak, tapi Lula takut Bara salah paham. Jadilah hanya mengikuti dari arah belakang.
"Lula, ayo kita kearah kolam renang dulu. Setelah ini kita akan kelantai atas," ajak Bara dan lagi-lagi Lula hanya mengiyakan.
Setelah puas berkeliling di kolam renang dan beberapa ruang lainnya. Bara pun membawa Lula menuju kamarnya yang terletak dilantai atas. Akan tetapi baru saja masuk Lula termangu di tempatnya berdiri.
"Lula, ayo!" Ajak Bara sudah menutup kembali pintu kamar tersebut. "Inilah kamarku dan sebetulnya aku sangat jarang kembali ke sini karena lebih sering dirumah pribadiku." lanjutnya yang tidak sadar kemana arah pandangan mata istrinya.
"Foto Bara bersama kekasihnya dulu? Kenapa masih disimpan dan tidak dilepas dari dinding? Apakah dia masih mencintai Ria?"
Gumam Lula menahan rasa sesak di dadanya. Walaupun hanya sebuah foto tetap saja dia merasa cemburu.
...BERSAMBUNG ......