
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Dirumah yang Ayara sewa, gadis itu sedang tertidur karena lelah menahan kontraksi sejak pagi. Namun, belum full, terkadang dari jarak tiga puluh menit. Rasa mules yang Aya rasakan masih hilang dengan sendirinya.
Bukan Ayara tidak mau langsung datang ke rumah sakit. Akan tetapi bila berlama-lama di sana Aya tidak memiliki uang untuk membayar biaya persalinan dan sewa kamarnya.
Gadis itu hanya memiliki sedikit uang tabungan. Itupun dari sisa biaya hidupnya sehari-hari dan juga uang tabungan yang dia bawa dari saat pergi meninggalkan kediaman Wilson. Nama besar keluarganya yang sudah meninggalkan begitu banyak luka. Sampai-sampai Ayara tidak mau lagi mengakui Tuan Edward sebagai ayah kandungnya.
Alhasil kuat tidak kuat, mau tidak mau. Ayara menahan sakit hendak melahirkan seorang diri di dalam rumah sewanya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, tapi Aya masih terlelap dalam tidurnya di atas ranjang yang hanya berperan satu setengah meter.
"Aya, Ayara... bangunlah, Nak!" panggil seorang wanita mengelus sayang kepala Ayara.
"Ayara, ayo bagunlah! Kita harus ke rumah sakit. Kau sudah mau melahirkan," wanita cantik itu kembali membangunkan Ayara. "Ayara, Aya, Ayara sayang, ayo bagunlah!" kembali membangunkan gadis itu yang mulai terbangun dari tidurnya. Sebab merasa terusik dari elusan lembut di kepalanya dan juga suara wanita itu.
"Eum, ada apa?" gumam Ayara mengerjapkan matanya dengan pelan. Namun, begitu melihat siapa sosok yang sudah membangun tidurnya, gadis itu langsung duduk dan berkata.
Ma--mama, mama! Aya merindukan, Mama," tangis Ayara langsung pecah ketika sang ibu merentangkan kedua tangannya, agar dia masuk ke dalam pelukan wanita yang sudah mengandung dan mengurusnya kurang lebih sampai umur dua tahun.
"Mama, jangan tinggalkan Ayara lagi, Aya tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Selain Lula dan Bibi Atika," ucap Ayara terus menangis.
Andai saja ada jalan untuk bisa bertemu dengan ibunya selain kematian. Maka Ayara akan berjalan kaki agar bisa bertemu dengan wanita yang menyayanginya dengan tulus.
"Mama tidak pernah meninggalkanmu, Nak. Mama selalu ada untukmu," jawab wanita itu dengan suara lembut. Sedangkan tangannya terus mengelus rambut panjang Ayara.
"Jika Mama ada, kenapa kita tidak pernah bertemu? Padahal Aya setiap minggu selalu mendatangi makam Mama?" Ayara merenggangkan pelukan mereka agar bisa menatap wajah cantik alami sang ibu.
"Itu karena kau sudah ada yang menjaga, Nak. Ada papa yang menjagamu," tersenyum sambil menyelipkan rambut Aya pada telinga gadis itu.
"Tapi Papa tidak pernah menyayangi Aya, Ma. Dia sudah mengusir Aya dari rumah, kerena sangat membenci Ayara. Dan sekarang Aya hanya hidup seorang diri. Jadi Mama tolong bawa Aya pergi dari sini," pinta gadis itu kembali berbaring. Namun, dia menjadikan paha ibunya sebagai bantal.
"Tidak putriku, kau tidak boleh ikut bersama Mama. Kau harus mengurus dan membesarkan cucu Mama," jawab wanita itu yang bernama Jasmeen. Dia adalah ibu kandung Ayara. Selama ini, setiap mau tidur gadis itu selalu menatap foto sang ibu. Hal itu dia lakukan sejak dia kecil sampai terusir dari rumah ayahnya. makanya Aya bisa hafal dengan wajah ibunya.
"Cucu," seru Ayara menyentuh perut buncitnya. "Ma, dari tadi perut Aya sakit. Sepertinya cucu Mama akan segera lahir," tutur Aya baru ingat bahwa dia mau melahirkan.
"Iya, Mama tahu itu. Makanya ayo bangun, kita harus ke rumah sakit," ajak wanita itu memindahkan kepala Aya pada bantal yang ada disamping mereka.
"Tapi Mama mau kemana?" tanya gadis itu masih ingin bersama sang mama.
"Ma, mama! Tolong jangan tinggalkan Ayara, ma," teriak Ayara terbangun dari mimpi indahnya, karena bisa bertemu sang ibu setelah hampir dua puluh tahun meninggal dunia. Malam ini adalah pertama kalinya Ayara bisa bertemu sosok yang selama ini ia rindukan.
"Auh... perutku sakit sekali," Ayara langsung mengaduh kesakitan. perutnya yang sejak tadi tidak merasakan apa-apa sekarang kembali terasa mules tidak karuan.
"Mama, apakah mama tadi benar-benar datang?" lirih Ayara menangis. Sangat sakit rasanya disaat seperti sekarang tidak ada satu keluarga bersama nya.
Dengan gerakan pelan sambil menahan rasa sakitnya. Ayara pun mengambil persiapan yang akan dia bawa ke rumah sakit. Satu hal membuat nya bisa bertahan adalah, karena di dalam mimpinya tadi sang ibu akan menemani dirinya.
Sakit gara-gara kontraksi akan melahirkan dan sakit karena mengenang kisah hidupnya yang tidak ada sanak saudara. Sekarang semua itu telah menjadi satu.
"Anakku, aku mohon bantu Mama agar bisa tahan sampai kita tiba di rumah sakit," ucapnya pada sang buah hati, yang sudah tidak sabar mau melihat dunia yang bagitu kejam pada ibunya.
Pada saat para masyarakat sedang riuh menonton debut Gruop boyband ALV dari televisi ataupun di tempat acara berlangsung. Ayara malah membawa tas dan perut besarnya menaiki bus yang akan mengantarnya agar sampai ke rumah sakit.
"Nona, apakah Anda akan turun di rumah sakit?" tanya si kernet melihat Aya seperti merintih menahan sakit.
"Iya, paman, tolong turunkan Saya di depan," jawab Aya memegang kembali tas tempat peralatan bayinya.
"Suami Nona kemana? Apakah tidak memiliki keluar yang menemani ke rumah sakit?" si kernet kembali bertanya disaat membantu mengantar tas Ayara turun dari mobil.
"Suami Saya sedang bekerja di luar kota, paman. Jika keluarga, Saya tidak punya. Oya, terima kasih," karena sudah tidak tahan lagi menahan sakit. Ayara langsung berpamitan, agar segera tiba di rumah sakit.
Soalnya dari jalan raya untuk sampai ke rumah sakit Aya harus berjalan kaki lagi sejauh kurang lebih seratus meter.
"Mama, tolong putrimu, Aya benar-benar tidak tahan lagi, ma. Ini sakit sekali," keringat mulai membasahi wajah gadis itu. Bukan karena berjalan jauh saja, tapi rasa sakit yang ia tahan semakin menjadi.
"Paman, tolong Saya," dengan nafas terengah-engah Ayara memanggil penjaga keamanan yang kebetulan lewat di depannya.
"Astaga! Nona mau melahirkan," seru si penjaga keamanan rumah sakit, karena melihat kaki Ayara basah oleh air ketubannya yang baru saja keluar melalui celah kedua gadis itu.
"I--iya, tolong bantu Saya membawakan tas ini. Saya sudah tidak tahan lagi," pinta Ayara dengan peluh semakin mengucur deras, sama seperti air matanya.
"Nona tidak perlu berjalan, tunggu sebentar. Saya akan menghubungi rekan Saya agar dia segera membawa brankar rumah sakit," tidak menunggu jawaban dari Ayara. Penjaga tersebut langsung menghubungi seseorang melalui ponsel yang menempel pada sabuk yang ia pakai.
"Bertahanlah, Nak. Sebentar lagi kita akan segera bertemu," Gumam Ayara memaksakan dirinya agar tidak terjatuh. Dia harus kuat demi si buah hati.
...BERSAMBUNG......