I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Ibu Mertua Idaman.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Agh!


Desah Ayara ketika Alvian kembali melakukan penyatuan tubuh mereka. Setelah kurang lebih empat tahun mereka berpisah dan sama-sama tidak pernah merasakan lagi kenikmatan tersebut.


Baik Ayara ataupun Alvian hanya pernah melakukan hubungan intim saat masih bersama saja. Tidak pernah melakukannya bersama orang lain.


Padahal selama ini jika Alvian mau, sudah begitu banyak rekan sesama musisi sepertinya yang mengajak dia melakukan hubungan satu malam. Akan tetapi rasa cintanya terhadap Ayara yang dia sendiri saja tidak tahu keberadaannya. Membuat pemuda itu engan untuk bersentuhan dengan gadis lain.


"Aya, aku mencintaimu," ucap Alvian si member ALV yang ketampanannya diatas rata-rata. Memiliki suara emas dan skill saat melakukan ngedance di atas panggung.


Setelah mendiamkan senjata pamungkasnya beberapa saat. Pemuda itu pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan. Yaitu gerakan maju-mundur cantik.


Sehingga Ayara yang bukan memiliki profesi sebagai penyanyi pun mulai mengeluarkan suara emasnya. Wanita itu sudah hilang akal sehatnya begitu Alvian memberikan cumbuan yang selalu berhasil membuat dia terbang melayang.


Aaah!


Aaah!


Entah apa yang terjadi sehingga suara-suara melenguh nikmat mulai penuhi kamar mewah tersebut. Kedua pasangan suami-istri itu melakukan seperti biasa. Yaitu sama-sama memberikan kepuasan satu sama lain.


Hampir dua puluh menit kemudian. Ayara yang sudah mendapatkan pelepasan pertamanya langsung mencengkram kuat punggung Alvian yang masih mengukung tubuhnya dari atas.


"Aaaghh! Alvin, aku..." erang Ayara ketika lahar panasnya sudah meluap keluar dari kawah berapi miliknya.


Tubuhnya seakan bergetar dan lemas seketika setelah mengerang panjang.


Sehingga membuat Alvian tersenyum puas karena dia sudah berhasil membuat Ayara kembali merasakan nikmatnya senjata rudal jenis dua, satu yang dia miliki.


"Apakah rasanya nikmat?" tanya Alvian setelah membuka matanya yang tadinya ikut terpejam. Begitu merasakan sensasi dari milik Ayara yang seakan berubah menjadi meriam penyedot dan melahap habis rudal yang dia miliki.


"Huem," jawab Ayara berdehem karena sangat malu bila harus mengakui kenikmatan yang ia rasakan.


"Kenapa harus malu, kita sudah biasa melakukan. Dan meskipun ini bukan yang pertama bagi kita berdua. Namun, rasanya tetap sama." pemuda tampan itu sengaja berbicara seperti itu agar Ayara tahu bahwa malam pertama atau bukan. Alvian tetap menyukai hal tersebut.


Cup!


"Permainan kita baru saja di mulai Ayara ku," bisiknya. Sebelum kembali melanjutkan berpetualang di gunung kembar milik Ayara dan juga memberi hantaman melalui si rudal tunggalnya.


Anggap saja jika sekarang Alvian lagi melakukan penyerangan balik terhadap musuhnya. Ayara yang tadinya sudah merasa mau menyerah. Sekarang kembali lagi membalas apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Sayang... aah.. aku mencintaimu, Aya," racau pemuda itu setelah dia merasakan bahwa Ayara sudah mau mendapatkan pelepasan lagi.


Aagh!


"Baby i enjoyed yours! I really enjoy our union dear," seiring pinggulnya yang bergerak maju mundur cantik. Alvian terus meracau dengan mata terpejam meresapi apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Alvin, aku mau... Aaaggkh!" Ayara kembali mengerang nikmat. Sementara Alvian belum juga mendapatkan pelepasan karena ternyata dia sangatlah tangguh bertarung di atas ranjang bukan hanya di atas panggung konser saja.


Cup!


Saat Ayara masih berusaha mengumpulkan tenaganya dengan mulut terbuka dan terengah-engah. Suaminya sudah kembali lagi melahap bibir Ayara yang membengkak akibat terlalu lama melakukan silaturahmi yang tidak ada habisnya.


Sehingga dia kembali lagi merasakan bahwa Bira hi nya mulai naik lagi. Begitulah seterusnya Aya mendapatkan pelepasan sampai beberapa kali.


Barulah setelah itu Alvian sampai pelepasan pertamanya. Akan tetapi permainan mereka belum juga berakhir. Pemuda tampan itu terus menggempur Ayara. Sampai Alvian merasa benar-benar kelelahan dan mendapatkan pelepasan lagi. Barulah terdengar erangan panjang dari keduanya.


Aaaggkh!


Dengan nafas sama-sama tengah-tengah seperti mana ikan yang kehabisan air tubuh Alvian pun ambruk tidak memiliki tenaga di atas tubuh kecil Ayara.


"Aya, aku mencintaimu," bisiknya memberikan kecupan pada bibir istrinya sekilas. Lalu setelah itu barulah Alvian menarik si rudalnya yang telah berhasil menembakkan beberapa kali serangan. Agar keluar dari kawah milik Ayara yang telah membanjir.


Si ibu muda itu tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil dan langsung tertidur dengan pulas.


"Kau ini kebiasaan sekali, setelah selesai pasti akan langsung tertidur." Alvian tersenyum seraya mengangkat pelan kepala sang istri agar berbantal pada lengan kokohnya yang sangat rajin berolahraga.


Lalu tangan satunya dia gunakan buat menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, karena di luar masih hujan lebat seakan mengiringi malam pertama pasangan suami-istri itu.


"Aku bahagia sekali, akhirnya kita kembali disatukan dalam ikatan pernikahan. Aku kira akan kehilanganmu untuk selama-lamanya, Aya." mungkin karena lelah seharian tidak bisa istirahat dan juga lelah setelah pertempuran panas bersama sang istri, pemuda tampan itu pun ikut tertidur.


Ayara yang biasa selalu terbagun saat tengah malam. Tidak bisa tidur nyenyak karena begitu banyak beban kehidupan yang dia tanggung sendiri.


Malam ini tertidur dengan sangat pulas berada di dalam pelukan suami yang sangat dia cintai sejak dulu. walaupun orang-orang akan mengira dia bodoh karena sudah memaafkan Alvian begitu saja.


Akan tetapi Aya tetaplah pada pendiriannya sendiri, karena orang lain hanya bisa menilai. Tanpa merasakan beban hidup yang dia tanggung sebagai orang tua tunggal bagi Vania.


Jadi intinya, apa yang dilihat mudah bagi orang lain. Belum tentu bisa kita lewati begitu saja. Jangan pernah menilai jelek seseorang karena kesalahannya. Begitulah yang Ayara rasakan.


*


*


Pagi harinya.


"Eum... tubuhku lelah sekali," Aya bergumam kecil. sambil mengerjabkan matanya pelan, karena terkena sinar matahari melalui celah-celah jendela kamar mereka.


Sebab jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Jadi Ayara yang sudah biasa bangun di pagi hari. Tentu akan terbangun karena harus membuat sarapan untuk anaknya.


"Astaga! Aku lupa jika sekarang aku sudah menikah dan... Alvin kenapa terlihat semakin tampan dari yang dulu." gumam wanita itu memandangi wajah suaminya.


"Aku merasa seperti bermimpi saja. Bisa kembali bersamanya dan berada didalam pelukan seorang member ALV yang terkenal." Ayara tersenyum kecil sebelum memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Dengan pergerakan pelan Aya pun turun dari ranjang tempat tidur, karena takut membangunkan suaminya yang masih tertidur nyenyak.


Kelopak bunga mawar yang sengaja ditabur di atas tempat tidur pun sudah bertaburan ke atas lantai kamar, dalam bentuk tidak beraturan. Pertanda bahwa dahsyatnya gempa lokal yang terjadi tadi malam.


Sehingga membuat Ayara tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Aagh! Segar sekali," seru Aya setelah menyalakan air shower dan berdiri di bawahnya.


Lewat pantulan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Aya melihat bagian tubuh atasnya telah dipenuhi oleh tanda kepemilikan yang diukir oleh suaminya.


"Alvin tidak pernah berubah, dia selalu membuatku terkena, karena sentuhannya." gumam Ayara tersenyum-senyum sendiri.


Sekarang Aya benar-benar sudah merasakan bahagia yang tiada tara. Vania sekarang telah memiliki ayah biologisnya. Dia pun tidak sendiri lagi, karena ada Alvian dan keluarga Rafael yang menerimanya sebagai keluarga.


Kurang lebih lima belas menit. Wanita itu sudah selesai membersihkan tubuhnya. Dia meraih Bathrobe milik Alvian yang sudah tersedia di dalam kamar mandi tersebut.


Tidak lupa Ayara juga memberikan membungkus rambutnya yang basah mengunakan handuk kecil yang ada di samping Bathrobe.


Kleek!


Ayara menutup kembali pintu kamar mandi. Lalu dia berjalan kearah lemari baju suaminya karena dia membutuhkan pakaian bersih. Soalnya drees Aya tadi malam sudah acak-acakan dan dilempar oleh Alvian ke sembarang arah.


"Aku lupa jika di sini tidak memiliki baju, kenapa tadi malam aku tidak membawa pakaian dari dirumah mama, sih." gumam wanita itu karena jika di rumah ibu mertuanya. Berbagai jenis dress terbaru sudah disediakan oleh Nyonya Lili.


"Agh, sebaiknya aku meminjam baju Alvin saja." putusnya karena tidak ada pilihan. Lagian ini juga bukan kali pertama Ayara memakai baju Alvian.


Empat tahun lalu, bila Ayara malas pulang ke rumah dan menginap di Apartemen kekasihnya. Maka dia juga selalu memakai baju kaos, atau kameja pemuda itu.


Namun, begitu lemari tersebut dibuka. Mata Ayara terperangah karena begitu banyak dress miliknya yang sudah disediakan dan bersebelahan dengan baju Alvian.


"Ini pasti mama lagi yang menyiapkannya. Atau... Alvin, sejak dulu dia kan sangat perhatian padaku." Aya tersenyum sambil mengambil satu drees yang panjangnya selutut nya dan juga bra beserta CD yang baru.


Setelah mengenakan dress tersebut. Ayara mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil yang ia bungkus pada kepalanya.


Tidak membutuhkan waktu lama, karena Aya ingin cepat-cepat membuat sarapan untuk mereka berdua. Wanita itu pun menyimpan kembali Bathrobe dan handuk kecil yang dia gunakan pada tempatnya lagi.


Sesudah itu dia berdandan dan mengenakan bando kecil yang sudah bisa di tebak adalah milik suaminya, karena sedari dulu Alvian suka memakai benda tersebut.


Ternyata Nyonya Lili juga menyiapkan peralatan kosmetik yang harganya sangat mahal untuk sang menantu. Benar-benar beliau adalah ibu mertua idaman.


Begitu tampilannya terlihat cantik barulah Aya pergi meninggalkan kamar tersebut dan berjalan menuju dapur.


Sekarang Ayara sudah menikah dengan seorang member ALV yang sangat terkenal. Jadi tentu dia akan menjaga penampilannya agar Alvian tidak berpaling ke wanita lain. Meskipun hal tersebut sangat tidak mungkin.


Setelah tiba di dalam dapur.


"Eum... aku akan memasak apa, ya?" tanya Aya pada dirinya sendiri. Sambil melihat-lihat isi lemari pendingin yang ternyata sudah penuh dengan berbagai jenis bahan makanan.


"Mama orang yang sangat baik, dia sampai menyiapkan juga bahan makanan sebanyak ini." Aya tersenyum sambil mengeluarkan roti tawar beserta selai nya, karena Aya tidak akan memasak makanan berat.


Soalnya setelah Alvian bangun, mereka akan kembali ke rumah Ibu mertuanya. Apalagi Vania memang sudah ada di sana. Mana mungkin Aya akan tenang bila terlalu lama berjauhan dengan sang putri.


Hampir empat puluh menit kemudian. Ayara sudah selesai membuatkan roti bakar dengan rasa strawbery dan coklat. Kesukaan dia dan Alvian.


Tidak lupa ibu muda itu juga membuatkan dua gelas susu untuk menemani sarapan mereka. Rencananya setelah semuanya siap. Ayara akan kembali ke kamar untuk membangunkan Alvian dan menyuruh suaminya mandi.


Akan tetapi saat dia masih menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Alvian sudah menyusul ke dapur dan ternyata pemuda itu sudah mandi juga.


Cup!


"Kenapa kamu harus repot-repot memasak, dan kenapa tidak pesan saja?" tiba-tiba Alvian memberikan kecupan pada pipi Ayara yang langsung tersenyum melihat kedatangan sang suami.


"Lebih baik memasak sendiri, kan uangnya akan hemat dan bisa buat membeli susu untuk Vania." jawaban Ayara langsung membuat Alvian tertawa mendengarnya.



"Sepertinya aku akan bertambah kaya karena memiliki istri yang super irit sepertimu." ucap Alvian tidak menyangka bahwa jawaban Aya sesimpel itu.


"Aku bukan irit, tapi hanya sedang berhemat dengan uang. Biasanya aku bekerja setiap hari. Tapi sekarang tidak lagi. jadi rasanya seperti ada yang aneh." sangkal Aya yang membuat Alvian merengkuh tubuh wanita itu dan di peluknya Erat.


"Aya, maafkan aku! Maaf, karena diriku, kau sudah bekerja keras. Agar bisa bertahan hidup bersama putri kita. Sungguh aku sangat menyesal atas keputusanku hari itu." ucap Alvian kembali merasa bersalah.


"Hei, kau tidak perlu minta maaf. Aku justru sangat bangga karena aku sudah bisa bekerja dan tidak mengandalkan orang lain lagi." Ayara mendorong tubuh Alvian agar bisa menatap muka suaminya.


"Aku sudah memaafkan mu, kita sudah sepakat tidak akan mengungkit masa lalu kita lagi. Kecuali apabila ingin bertanya seperti yang kau lakukan tadi malam." seru Aya tersenyum karena dia sudah bisa bekerja dan berusaha ikhlas menerima semuanya.


"Aya, kenapa kau sangat---"


"Karena dari rasa sakit itu aku bisa belajar dewasa, Alvin. Aku bisa memasak roti seperti ini juga karena rasa sakit dan penderitaan diriku. Coba saja kalau dulu, mana bisa aku membuatkan susu ataupun roti bakar. Malahan bila kita lagi bersama. Kaulah yang sering membuatkannya untukku." sela Ayara tersenyum.



"Aya, aku semakin mencintaimu." seru Alvian yang benar-benar merasa bahagia, karena sang istri sudah dewasa bisa menyikapi semuanya dengan bijak.


"Coba saja kalau kau berani tidak mencintaiku lagi. Maka aku akan pergi dari sini dan membawa Vania bersamaku." ancam Ayara masih tersenyum.


"Aku tidak mengatakan bahwa tidak mencintaimu lagi. Tapi aku tadi berkata jika semakin mencintaimu. Lalu kesalahannya ada di mana? Huem!" Alvian menarik pinggang ramping Aya dengan satu kali tarikan mengunakan tangan kekarnya.


Sehingga kedua tangan Ayara menempel pada dada bidangnya. Bau harum dari tubuh Alvian yang baru saja selesai mandi. Membuat wanita itu semakin merasakan gugup.


"Alvin, eum... kenapa kamu sudah bangun, bukannya tadi saat aku tinggal kamu masih tidur nyenyak?" Ayara mencoba mengalihkan pandangan.


"Aku tadi kehilangan dirimu, jadi langsung terbangun. Namun, melihat ponsel milik mu ada di kamar, jadi aku sedikit tenang."


... BERSAMBUNG... ...