
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Lula khawatir.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah khawatir padaku," jawab Aya keluar dari kamar mandi dan mengikuti Lula kembali ke kamar untuk menganti pakaiannya yang sudah disiapkan.
"Kalau bisa jagan banyak pikiran, ya. Ini semuanya demi si kecil," kata gadis tersebut menasehati. Mereka sudah sama-sama dewasa setidaknya sedikit banyak tahu mana yang baik ataupun tidak.
"Iya, terima kasih," saat ini hanya kata terima kasih lah yang bisa Ayara ucapkan. Meskipun sudah dilarang mengucapkan kata tersebut. Soalnya Aya benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Lula dan Bibi Atika.
"Ini pakaian mu, tapi maaf aku hanya memiliki baju seperti ini," Lula menunjuk pada tumpukan baju untuk Ayara.
"Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup," dengan senang hati gadis itu mengambil baju kaos milik Lula. Tadi pagi bukan Ayara tidak mau membawa pakaian dari rumah. Namun, Aya tidak ingin memiliki kenangan yang akan membuat dia terluka. Sebab pakaian tersebut dibeli oleh ayahnya.
"Kalau begitu aku mandi dulu, ya. Kau tunggu saja di sini. Sambil beristirahat, nanti setelah aku mandi barulah kita mandi," Lula yang belum mandi akhirnya meninggalkan Aya di dalam kamar yang hanya berukuran tiga kali tiga meter.
"Setelah aku bisa bekerja dan memiliki uang, aku harus menyewa tempat sendiri. Aku tidak boleh terlalu banyak merepotkan Lula. Dia sudah terlalu banyak membantu diriku," ucap Ayara yang berbicara pada dirinya sendiri. Saat ini dia berdiri dipinggir jendela kecil.
Sungguh semua ini bagaikan mimpi. Biasanya Aya akan berdiri di hadapan jendela kaca besar dan bisa menikmati pemandangan Taman dan kolam renang dari lantai dua. Namun, sore ini dia hanya berdiri sambil melihat air hujan yang kembali turun.
"Anakku, bantu ibu, agar bisa melewati semua ini," tangan Ayara terangkat untuk mengelus perutnya yang masih datar.
Untuk saat ini tujuan hidupnya hanya buah hatinya saja. Tidak perduli seisi Dunia membenci dirinya. Namun, Aya bertekad akan melahirkan sang buah hati dan membesarkannya walaupun tanpa Alvian.
*
*
Berbeda dengan tujuan hidup Ayara.
Mulai hari ini Alvian sudah tinggal satu tempat bersama keempat sahabatnya. Mereka sudah seperti saudara dan saling menyanyangi satu sama lain. Jadi bila ada yang lagi memiliki masalah, maka mereka akan tahu.
"Al, sudahlah! Semua ini keputusan besar yang kau pilih. Mulai saat ini fokuslah pada karier kita," ucap Aldebaran yang sejak tadi memperhatikan Alvian hanya termenung sambil menatap kalung kecil berliontin huruf A Doble. Yaitu singkat namanya dan Ayara.
Akan tetapi kemarin siang Ayara mengembalikan benda tersebut karena tidak Ingin akan menyakiti hatinya karena hadiah terakhir dari sang kekasih. Anggap saja Alvian memberikan hadiah sebagai perpisahan hubungan yang sudah terjalin sejak dua tahun terakhir.
"Bara," seru Alvian menyimpan kembali kalung kecil itu kedalam kotaknya. "Sejak kapan kau ada di kamarku?" tanyanya untuk menutupi masalah pribadinya.
"Iya, aku tahu," Alvian menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan. Benar kata Bara, dia harus bisa melupakan Ayara. Semua ini pilihannya sendiri. "Maaf," lirihnya lagi.
"Kau tidak bersalah, buat apa minta maaf. Aku hanya tidak ingin kau menyakiti Aya dan dirimu sendiri," Bara tersenyum kecil agar Alvian bisa kembali bersemangat. Sebab tadi siang saat mereka latihan koreo. Alvian sampai dimarah oke Staf beberapa kali, karena tidak bisa latihan dengan benar.
Sedangkan besok pagi mereka akan tampil untuk memeriahkan acara peresmian walikota S yang baru. Anggap saja untuk saat ini mereka memperkenalkan diri di kota sendiri.
Baru setelah itu mengembangkan sayap untuk menjelajahi berbagai ibukota lainnya. Sebab dalam saat ini Grup boyband mereka sedang naik daun dan undangan konser sampai dua Minggu ke depan saja sudah penuh.
"Huem, aku mengerti maksudmu," jawab Alvian ikut tersenyum kecil. "Yang lainya mana? Apakah lagi beristirahat?" bertanya untuk mengalihkan pembicaraan tentang masalahnya.
"Mereka lagi menyiapkan buat makan malam, Hanan sama Sandy sedang memanggang daging. Ayo kita keluar, aku kesini tadi untuk memanggil mu," ajak Bara berdiri sambil menarik tangan Alvian agar berdiri.
"Kau ini pemaksa sekali," tawa Alvian karena Bara memang selalu memperlakukan dia seperti adik, bukan teman. Padahal umur mereka sepantaran.
"Jika memaksa bisa membuatmu tidak bersedih, tidak ada salahnya, 'kan," menjawab santai sambil menuju dapur kediaman mereka yang sama seperti Apartemen mewah.
"Kalian berdua sudah datang? Aku kira lagi berpacaran dulu," ejek Sandy sambil menata daging kedalam piring.
"Kenapa kalian harus repot-repot memasak? Bukannya Staf sudah menyiapkan semuanya?" Alvian tidak menghiraukan perkataan Sandy. Dia malah langsung mengambil satu potong daging yang masih panas dan ditiup. Lalu dimakan sambil menaik turunkan alisnya. Sebab Sandy menatapnya dengan geram ingin memukul tangan Alvian.
"Kau kebiasaan sekali, main makan saja. Coba ambil mengunakan tisu atau garpu. Bagaimana jika masih panas dan akan membuat tanganmu terbakar," tegur Sandy karena dia marah bukan tidak boleh dimakan. Tapi takut tangan Alvian kepanasan.
"Ah, Ayah, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Habisnya bau daging ini langsung membuatku lapar," Alvian tergelak karena merasa geli mendengar ucapannya yang memanggil Sandy ayah.
Hal tersebut juga membuat teman-temannya yang lain ikut tertawa. Mereka berlima sudah biasa saling ejek dan bersandar gurau. Makanya bila ada yang memiliki masalah, mereka akan saling tahu dan menguatkan.
"Aku tidak mau memiliki anak seperti kau dan Naufal. Kalian berdua selalu membuatku kesal," jawab Sandy sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Tapi kami berdua mau menjadi putra Anda, Ayah," timpal Naufal ikut menggoda Sandy. Sehingga ruang meja makan itupun dipenuhi tawa mereka berlima dan tanpa sadar Alvian bisa melupakan masalahnya.
"Sudah, sudah! Jika kalian tertawa kapan kita mau makannya," ucap Hanan yang selalu menjadi panutan bagi sahabatnya. Dia sangat sabar menghadapi keempat sahabatnya yang terkadang ada saatnya salah paham dan berbeda pendapat.
Setelah mendengar Hanan menyuruh mereka diam, tidak ada yang tertawa lagi. Mereka ada yang mencuci tangannya di wastafel dan ada pula sudah duduk di kursi meja makan.
"Tadi kalian tidak ada yang menjawab. Kenapa harus repot-repot memasak sendiri?" Alvian yang sejak sore diam di dalam kamarnya kembali bertanya.
"Hanan ingin menghiburmu yang lagi bersedih. Jadi sengaja memanggang daging. Jika masakan yang lainya ini sudah disiapkan oleh staf Muzaki dan staf yang entah siapa namanya. Aku belum hapal siapa saja nama-nama mereka, karena orangnya sangat banyak," jawab Bara ikut duduk disebelah Sandy.
Akhirnya malam ini mereka makan sambil membahas masalah latihan hari ini. Sehingga Alvian pun mulai mengesampingkan pikirannya tentang mantan kekasihnya.
BERSAMBUNG...