
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
... HAPPY READING... ...
.
.
Setelah menunggu kurang lebih empat puluh menit. Akhirnya Alvian dan rombongan dari Agenci berangkat semuanya. Seharusnya bila Staf Muzaki tidak berhalangan ada kerabat istrinya yang meningal dunia. Maka saat ini mereka mungkin sudah sampai ke tempat tujuan.
Namun, karena beliau datang terlambat. Jadilah saat ini mereka baru saja masuk kedalam pesawat. Alvian duduk bersebelahan dengan Ayara yang tangannya tidak pernah dia lepas. Aya sudah diperlakukan seperti mana anak kecil yang sedang aktif.
Padahal Ayara sudah minta dilepaskan. Soalnya mereka berdua selalu digoda oleh para artis lainya. Satu-satunya orang yang tidak suka dan selalu bermuka masam melihat kemesraan mereka adalah Alice dan Rima.
"Sayang, diamlah!" ucap Ayara karena Alvian malah menarik pipinya seperti pada balita saja.
Ayara memang ingin membuat Alice cemburu padanya. Namun, bukan berarti harus terus-menerus berada dalam pelukan Alvian juga kan.
"Aku ingin tetap seperti ini," jawab Alvian semakin senang menggoda istrinya.
"Agh! Terserah padamu, aku tiba-tiba mengantuk ingin tidur," Ayara yang kesal akhirnya balas memeluk tubuh suaminya dan tertidur di pelukan Alvian hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit.
Cup!
"Sudah tidur saja," Alvian mengecup kening Ayara yang seperti mana anak kecil lagi tidur dalam pelukan ayahnya.
"Ya Tuhan! Terima kasih karena akhirnya cita-citaku ingin berangkat konser bersama nya bisa tercapai. Sudah lama sekali aku ingin seperti ini. Kemanapun aku pergi selalu bersama Ayara ku." gumam Alvian sambil menutup paha Ayara mengunakan jaketnya yang sudah dilepas sejak tadi.
"Tapi ada bagusnya dia tidur, agar tidak mengalami mabuk pesawat seperti yang dia takutkan." Alvian kembali bergumam melihat wajah damai istrinya yang tertidur tidak ada bidangnya.
"Lagi tidur seperti ini saja, dia sangat cantik. Pantas saja saat bangun selalu membuatku tergila-gila padanya." pemuda tampan itu menunjukkan senyum tampannya.
"Aya tidur, Al?" tanya Hanan yang duduk di kursi sebelah kiri Alvian dan Ayara.
"Iya, dia kalau mengantuk memang seperti ini. Asal tidur saja," jawab Alvian tersenyum seraya masih mengelus pelan pipi mulus istrinya.
"Aku rasa dia kelelahan karena ulah mu," cibir Bara yang sambil berbalas pesan dengan Lula. Gadis yang telah membuat hari-hari Bara lebih berwarna lagi, setelah putus bersama Ria kekasihnya.
"Haa... ha... apa maksudmu, aku memang melakukannya. Tapi bukan berarti aku tidak memikirkan kesehatan istriku," Alvian tertawa mendengar ucapan sahabatnya.
Soalnya tadi malam mereka memang melakukan pergumulan panas lagi. Namun, tidak lama. Hanya dalam satu jam Alvian sudah mendapatkan pelepasan. Begitu pula dengan Ayara.
"Ck, bangga sekali," decak Naufal yang membuat mereka tertawa. Sepertinya yang selalu berisik itu adalah para member ALV. Mereka berlima tidak tahu tempat selalu bersikap seperti mana para anak-anak ABG.
"Nanti setelah kalian menemukan gadis yang sangat dicintai. Maka akan sama seperti diriku," jawab Alvian masih terus tersenyum bahagia.
"Ya, aku lagi berusaha untuk menemukan gadis yang bisa membuat hatiku bergetar," sahut Sandy yang sama seperti Naufal dan Hanan. Mereka bertiga adalah jomblo abadi yang belum juga memiliki kekasih. Padahal bila mereka mau, wanita mana saja bisa didapatkan.
"Semoga saja kau dan Aya bisa segera memiliki anak lagi. Agar Via bisa memiliki adik," do'a Hanan yang disetujui oleh teman-temannya.
"Itu sudah biasa, Al. Orang tua mu sangat mendambakan anak perempuan. Sekarang kau memiliki putri yang wajahnya sama persis. Jadi pasti Tante Lili sangat bahagia," imbuh Naufal ikut mengobrol.
Sedangkan Alice dan orang dibelakang maupun depan mereka. Hanya diam mendengarkan. Semuanya seakan tidak percaya bahwa Alvian sudah memiliki istri dan anak. Apalagi melihat pemuda yang terkenal dingin itu sudah menjadi bucin akut.
"Iya, mamaku memang sangat mendambakan anak perempuan. Aya saja kadang mereka tahan juga dan tidak boleh pulang ke rumah," Alvian membenarkan perkataan sahabatnya.
"Oya, Al. Bukannya Via mau berulang tahun bulan depan. Jadi kau mau mengadakan acarnya secara meriah. Atau akan dibuat ulang tahun seperti biasa?" tanya Bara sudah selesai membalas chat dengan Lula. Soalnya pesawat mereka sudah mau berangkat.
"Sepertinya akan aku buat acaranya di rumah baru kami. Namun, yang hadir paling teman-teman ku saja,"
"Oke, baiklah! Kalau begitu aku mau memikirkan dari sekarang hadiah apa yang harus aku berikan pada princess," Hanan langsung memutuskan bahwa dia mau memikirkan hadiah apa yang akan diberikan untuk Vania.
"Alvian, apakah Ayara tidak memiliki saudari atau kerabat lainya?" tanya Kak Mauza yang selalu kebagian tempat duduk di belakang Alvian dan Bara. Namun, karena Alvian berangkat bersama Ayara. Jadinya Bara duduk berdampingan dengan Sandy.
"Tidak! Dia hanya sendiri tidak memiliki keluarga lain," saat menjawab pertanyaan Kak Mauza. Alvian menatap kasihan pada istrinya.
"Istriku yang malang. Kenapa mereka tega menyakitimu, sayang. Aku selalu kesal bila mengingat mereka yang tidak mengusirmu karena hamil Putri kita. Untungnya papa telah membuat mereka tidak bisa berkutik untuk mengusik hidupmu lagi."
Gumam Alvian tetap saja merasa sakit bila harus mengigat nasib Ayara setelah ia tinggalkan.
"Jika begitu kau memang harus mencintainya dengan tulus, Al. Kasihan sekali," timpal Kak Mauza yang diiyakan oleh rekannya.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi karena pesawat pun mulai berjalan. Dari kota S ke ibu kota XX bila menaiki pesawat mereka harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit.
Apabila menaiki perjalanan darat, maka mereka harus menempuh selama kurang lebih empat jam perjalanan.
"Brengsek! Awas kau Ayara. Aku akan merebut Alvian darimu. Kau benar-benar sudah menjadi penghalang terbesarku untuk menjadi istri dari seorang Ian ALV."
Gumam Alice kembali menahan kesal bila melihat kearah Ayara dan Alvian.
Wanita itu sudah mempersiapkan cara untuk menjebak Alvian. Agar bisa menjadi suaminya. Akan tetapi siapa sangka jika Ayara juga ikut.
Tidak tahu saja dia, jika bukan Tuan Abidzar namanya. Apabila tidak menyiapkan keamanan untuk menantu kesayangannya. Maupun keselamatan putranya sendiri.
Melihat kemesraan yang Alvian berikan untuk istrinya. Benar-benar membuat Alice semakin terbakar api cemburu. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa karena nyatanya pemuda itu memang lah milik Ayara.
"Ais, jangan terlalu nampak bahwa dirimu tidak suka melihat mereka bersama," ucap Rima dengan cara bicara seperti mana orang bergumam.
"Rima, kau tidak tahu apa yang aku rasakan. Sudah bertahun-tahun aku mengharapkan agar bisa menjadi kekasih Ian. Akan tapi semuanya telah pupus karena wanita miskin itu," seru Alice yang selalu menyebutkan bahwa Ayara adalah wanita miskin.
Berbeda terbalik saat berbicara di hadapan Ayara maupun Alvian. Wanita itu selalu memuji Ayara. Padahal di dalam hatinya sedang menyumpahi. Seperti itulah yang Alice lakukan.
"Iya, aku tahu. Tapi kau tidak boleh bertindak ke gabah, yang akan merugikan dirimu sendiri. Jadi berusahalah agar tetap tenang dan pikirkan cara lain lagi,"
"Huh!" Alice menghembuskan nafas dengan kasar pertanda bahwa wanita itu sedang meredam emosinya sendiri. "Baiklah! akan aku usahakan. Meskipun tidak bisa menjebak Alvian. Maka akan aku buat wanita miskin itu malu di hadapan orang banyak. Agar dia tahu di mana posisi dirinya," jawab Alice yang tidak akan kehilangan akal untuk membuat Ayara malu.
... BERSAMBUNG... ...