I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Tidak Ada Ikatan. ( Ayara )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Ayo masuk," Alvian membukakan pintu mobil buat istrinya. Setelah tadi sarapan dengan roti. Pasangan suami istri itu pun meninggalkan Apartemen untuk kembali ke rumah kediaman keluarga Rafael.


"Terima kasih," ucap Ayar tersenyum setelah Alvian menyusul masuk dan duduk di bangku kemudi.


"Kenapa harus berterima kasih, bukankah sudah sepatutnya aku memanjakan istriku." Bukan Alvian namanya, apabila tidak berhasil membuat Ayara tersenyum, karena sejak dulu dia memang orangnya sangat romantis.


"Huem, terserah padamu," Aya yang di goda akan memilih bicara seperti itu dan mengalah. Kalau tidak maka Alvian akan terus menggodanya.


"Aya," panggil pemuda itu yang sudah mulai menjalankan kendaraan mewahnya meninggalkan gedung Apartemen tersebut.


"Huem! Apa?"


"Jika kita diberi anak lagi bagaimana?"


"Bagaimana apanya? Vania masih kecil dan aku ta---"


"Hei, tenanglah! Aku hanya bertanya." sela Alvian tau kemana arah pemikiran istrinya.


"I--iya, maaf, aku hanya..." Aya tidak melanjutkan lagi ucapannya.


"Tidak apa-apa, aku tadi hanya bertanya saja. Apakah kau tidak apa-apa bila hamil lagi. Eum... maksudku kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku---"


"Aku sih tidak apa-apa, hanya saja untuk sekarang. Jika bisa memilih, maka aku ingin membahagiakan Vania lebih dulu. Selama ini dia sudah menderita karena aku tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuknya." sekarang bergantian Aya yang menyela perkataan Alvian.


"Aya, maafkan aku. Sebetulnya aku tidak berniat apa-apa. Hanya penasaran saja bagaimana jika tahu-tahunya kau hamil lagi dalam waktu dekat ini. Soalnya aku tidak memakai pengaman."


"Tidak perlu minta maaf, aku juga tahu apa maksudmu bertanya. Tapi jika memang kita sama-sama belum siap, aku bisa memakai alat kontrasepsi. Nanti---"


"Eh, Tidak-tidak! Kau tidak boleh memakai alat seperti itu. Aku tidak setuju! Aya aku bertanya karena takut nanti kau marah padaku, yang tahu-tahunya sudah hamil lagi. Aku rasa dulu setelah kita melakukannya kau langsung hamil" ungkap Alvian karena dia juga ikut menghitung umur putri mereka.


"Memang iya, ternyata saat aku suka makan-makan aneh. Saat menemanimu latihan. Itu sudah mengandung Vania." jawab Aya membeberkan. Lalu dia bicara lagi karena suaminya diam saja.


"Iya, aku tidak akan memakainya bila kau tidak boleh. Jika memang aku hamil, kenapa harus marah. Asalkan kau tidak akan me---"


"Jangan katakan hal itu lagi. Baiklah! Apabila kau hamil, jadi kita terima saja. Soalnya aku bertanya karena takutnya kau marah padaku."


"Alvin, jangankan sekarang. Aku jelas-jelas memiliki suami. Dulu saat aku mengetahui hamil Vania. Aku sangat bahagia, makanya saat Tuan Edward menyuruh aku memilih pergi, atau mengugurkan kandungan ku. Maka aku lebih baik meninggalkan keluarga Wilson. Yaitu orang-orang yang tidak pernah menghargai aku."


"Tidak apa-apa mereka tidak menyukaimu, karena sekarang sudah ada aku dan keluarga Rafael yang akan melindungimu dari orang-orang seperti itu." ucap Alvian langsung menggenggam tangan istrinya.


"Huem, terima kasih," Aya hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata suaminya. Setelah itu tidak ada pembicaraan masalah anak lagi.


Mereka malah membicarakan masalah liburan yang akan dilakukan sebelum Alvian kembali pada pekerjaannya sebagai penyanyi. Sampai lima belas menit kemudian. Mobil mewah merk Lamborghini Aventador tersebut sudah memasuki kediaman orang tua Alvian.


Lalu mereka berdua turun dan masuk kedalam rumah bersama. Namun, baru saja sampai di ruang tamu. Si cantik Vania sudah berlari ke arah pintu utama untuk menyambut kedua orang tuanya.


"Mama, papa," seru si cantik yang diikuti oleh Nyonya Lili dari belakang. Soalnya mana mungkin beliau membiarkan sang cucu main sendiri tanpa ada pengawasan.


Cup!


"Apakah tadi malam mencari mama?" Alvian langsung menggendong putrinya dan memberikan ciuman pada Vania yang tertawa karena merasa geli.


"Haa... ha.. Papa Via mau tama mama," ucapnya masih dengan tertawa.


"Ayo sini sama Mama, ugh! rindunya," seru Ayara karena Alvian tahu jika Vania pasti merindukan istrinya. Jadi dia langsung menyerahkan sang putri pada Aya.


Cup, cup, Muaach!


"Cantik sekali, siapa yang memandikan, Via? Oma atau mandi sendiri," goda Aya karena putrinya sudah sering minta mandi sendiri.


"Dia tadi berenang sama Om Deri nya. Ini saja baru Mama mandikan di kamar mandi. Apakah kalian berdua sudah sarapan? Jika belum, tadi Bibi Maria sudah Mama suruh menyimpan makanan untuk kalian berdua." Nyonya Lili yang menjawab karena Vania malah memeluk leher mamanya karena lagi bersembunyi dari sang Ayah yang menggoda nya.


"Sudah, Ma. Tadi Aya membuat Roti bakar." sambil berjalan masuk mereka kembali berbicara.


"Papa dan nenek kemana, Ma?" tanya Alvian melihat tidak ada siapa-siapa di ruang keluarga.


"Nenek lagi di ajak Tante Anis pergi jalan-jalan. Sedangkan papamu pergi bermain golf." jawab wanita setengah baya itu sudah duduk di ruang keluarga bersama anak dan cucunya.


"Oh, pantas saja sepi. Oya Ma, selagi masih pagi. Kami mau pergi kemakam Mama Jasmeen dan setelah pulangnya melihat rumah hadiah dari papa." kata Alvian yang saat ini sudah kembali lagi mengendong Vania.


"Iya, pergilah! Kalian berdua memang harus kemakam Mama Jasmeen. Kata papa mu, kami juga akan ke sana. Tapi belum tahu kapan. Bisa jadi nanti sore." ucap Nyonya Lili yang langsung membuat Ayara menatap pada suaminya. Seakan bertanya lewat sorot matanya.


"Sayang, apa kau tahu, ternyata papa dan Mama Jasmeen bersahabat baik dan papa baru mengetahui setelah membaca data pernikahan kita kemarin malam." Alvian yang mengetahui jika istrinya pasti kebingungan karena orang tuanya juga akan mendatangi makam ibu mertuanya. Langsung saja bercerita.


"A--apa! Benarkah?"


"Iya benar sekali. Nanti apabila ada waktu senggang kita bisa bersama-sama mendengar papa bercerita, karena dia belum selesai menceritakan pada kami." ujar Nyonya Lili tersenyum.


Sungguh tidak disangka, jika ternyata di masa muda dulu. Suaminya juga pernah menaruh hati pada Jasmeen yang anaknya sekarang dicintai oleh putra mereka.


"Sudah, ayo kita berangkat sekarang." Alvian yang tidak ingin melewatkan waktu bersama istri dan anaknya pergi kemakam ibu mertuanya pun berdiri lebih dulu. Sehingga Aya pun ikut berdiri juga.


"Ma, kami pergi dulu, nanti setelah melihat rumahnya. Kami akan kembali ke sini lagi." ucap Alvian berpamitan dan diiyakan oleh Nyonya Lili. Soalnya beliau juga mau pergi bertemu dengan sahabatnya.


"Sayang, tadi malam Via tidak menangis kan?" pemuda itu kembali lagi bertanya karena si cantik belum menjawab pertanyaannya.


"Tidak tangis, sudah becal," jawab Vania dalam gendongan papanya.


"Wah, benarkah! Siapa yang bilang Via sudah besar?" sahut Aya yang digandeng oleh Alvian. Mereka benar-benar sudah menjadi keluarga kecil yang bahagia.


"Nani, tama Om Deli. Jadi Via halus tinggal tama Oma." jawabnya jujur.


"Kalau Via sama Oma, lalu Mama sama siapa?" Aya berpura-pura menunjukkan wajah sedihnya.


"Mama tama papa," tunjuk jari kecilnya pada hidung mancung sang ayah.


"Agh, ini tangannya boleh Papa gigit." seru Alvian menahan gemas.


"Tidak boleh, nanti tangis cepelti mama," jawab si kecil cepat. Vania adalah anak yang sangat cerdas. Jadi tahu saja apa yang harus dia jawab.


"Mama cantik tidak akan menangis lagi, sekarang ada Papa yang akan menjaga agar mama tidak menangis." sambil berbicara, Alvian membukakan pintu mobil buat istrinya lagi.


Padahal Aya sudah mengatakan bahwa tidak perlu melakukan hal tersebut. Namun, Alvian tetap melarang istrinya membuka pintu mobil sendiri.


"Papa tidak telja dauh lagi?" tanya Vania yang tetap memeluk leher papanya dan menatap Alvian karena menunggu jawaban pada saat itu juga.


Cup!


Meskipun Vania tidak mengatakan maksudnya. Yaitu sebagai mana seperti pertanyaan orang dewasa. Akan tetapi Alvian mengerti maksud saya putri.


"Duduk sama mama, ya. Papa tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian ataupun bekerja seperti dulu lagi. Jadi Via jangan khawatir bila Papa pergi," bujuknya tersenyum melihat duplikat wajah yang sama. Yaitu versi Alvian wanita.


"Iya, duduk tama mama," Vania merentangkan kedua tangannya ke arah sang ibu dan disambut Ayara degan tersenyum bahagia.


"Sayang, kita kemakam dulu, ya." sebelum menjalankan kendaraannya. Alvian mengelus kepala Ayara.


"Apakah rumahnya jauh dari sini?" tanya ibu satu anak itu. Saat mobil mereka sudah keluar dari pagar besi yang menjulang tinggi.


"Tidak! Hanya sepuluh menit dari rumah utama. Tapi jika kita mau ke Apartemen, berbeda arah. Rumah dari papa lewat jalan ini. Tapi ada tembusan juga dari hotel Araki. Kita bisa masuk lewat jalan sana." tunjuk Alvian pada jalan jalur dua yang mengarah berlawanan dengan mereka saat ini.


"Ada apa? Apakah kau tidak mau tinggal di sana? Jika iya, katakan saja mau tinggal di mana. Aku tidak mau kau merasa tak nyaman, aku ingin kau bahagia, bukanya tersiksa hidup bersamaku."


"Alvin, aku hanya bertanya! Soalnya jika dekat, nanti bila aku tidak ada teman setelah kau pergi. Kami bisa ke rumah mama." seru Aya yang tidak pilih-pilih mau tinggal dimana pun.


Waktu di ibukota B saja. Tiga tahun lebih dia tinggal di rumah kecil dan hidup seadanya. Lalu mana mungkin sekarang dia bersikap tidak bersyukur dengan apa yang sudah ada.


"Ide bagus! Lagian walaupun tempatnya jauh dari rumah mama. Ada mobil dan sopir yang akan mengantar kemanapun kalian pergi. Asalkan jangan kabur meninggalkan aku." seloroh Alvian yang langsung mendapatkan cubitan pada perutnya.


"Aaaakh! Kau berani mencubit ku, ya." Alvian mengaduh. Lalu setelahnya tertawa bersama si buah hati.


Tidak terasa saja karena di dalam mobil mereka selingi dengan obrolan ringan dan bercanda antara Alvian dan Vania. Keluarga kecil itu sudah tiba di pemakaman umum Grammar.


Alvian langsung saja memarkirkan mobilnya pada tempat yang sudah tersedia. Lalu setelah itu dia turun sambil mengendong Vania, diikuti oleh Ayara.


Kali ini Aya memilih turun dan membuka pintu mobil sendiri, karena sudah tidak sabar untuk bertemu gundukan batu tempat peristirahatan terakhir ibunya.


"Alvin, diam sebentar, topimu diluruskan. Aku takut nanti ada yang mengenalimu." Aya memperbaiki topi suaminya, karena tadi Vania yang memasangnya.


"Terima kasih," ucap Alvian tersenyum di balik masker yang ia pakai. Baru setelahnya mereka berjalan masuk ke pemakaman. Tidak lupa Aya membelikan bunga Lili kesukaan sang ibu. Pada bapak penjaga makam yang ternyata sudah diganti dengan orang baru lagi.


"Vin, dulu terakhir kali aku ke sini, saat putri kita berumur dua bulan. Aku sangat merindukan mama," lirih Aya berjalan dengan tangan digenggam oleh Alvian.


Cup!


"Aku tahu itu, sayang. Maafkan aku." pemuda itu mencium tangan Ayara agar istrinya tidak bersedih. Bahwa saat ini Aya tidak sendirian lagi.


"Mulai sekarang, kapanpun kau ingin mengunjungi makam mama. Maka kau tinggal pergi saja." lanjutnya melepaskan genggaman tangan mereka karena sudah tiba di makam Almarhum Jasmeen.


Belum lagi berbicara sepatah kata pun. Ayara langsung duduk bersimpuh dan menangis di depan gundukan batu nisan ibunya.


"Mama... ini Aya datang lagi, Aya, kembali bersama cucu dan menantu Mama." lirih Aya menahan sesak karena hanya bisa menanggung rindu kepada orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


"Papa, mama tangis lagi," ucap Vania yang sudah diturunkan oleh Alvian. Agar mereka bisa bersama-sama mendoakan Almarhum.


"Shuuit! Tidak apa-apa sayang. Mama menangis karena sangat merindukan Oma Jasmeen." Alvian menaruh jari telunjuknya pada bibir sang putri.


Supaya Vania tidak bicara keras yang akan membuat Aya terganggu. Pemuda tersebut ingin membiarkan aya meluapkan segala rasa rindunya selama ini.


"Mama pasti tahu kan kenapa Aya tidak pernah datang menemui Mama lagi. Seperti yang Aya katakan waktu itu, Jika Aya tidak punya uang untuk datang kemari." ibu muda itu kembali menangis sambil berbicara bersama nisan mamanya.


Meskipun tidak mendapatkan jawaban dari sang ibu. Setidaknya Aya sudah meluapkan segala rasa rindu dan bersalahnya selama ini.


Cukup lama Alvian dan sang putri mendengarkan istrinya menangis. Namun, dia dan Vania cuma diam saja.


Setelah Aya selesai dan puas meluapkan apa yang dia rasa. Barulah ayah satu anak itu menyerahkan putri mereka pada Ayara, karena Alvian juga ingin memberikan do'anya.


"Ma, Alvin datang lagi. Tapi kali ini datang sebagai menantu, Mama. Alvin berjanji akan membahagiakan Ayara dan Vania. Tidak akan Alvin biarkan siapapun menyakiti mereka. Termasuk Alvin sendiri. Mohon restunya agar kami selalu bersama dan menjadi keluarga yang bahagia."


Ucap Alvian didalam hatinya. Dia tidak mungkin berbicara seperti mana istrinya tadi. Bisa-bisa Aya dan buah hatinya akan tertawa mendengarnya.


"Sayang, ayo sapa Oma Jasmeen lagi. Waktu itu Via masih bayi, jadi belum bisa bicara. Pasti Oma mau mendengarkan suara si cantik cucunya." Alvian menuntun tangan kecil sang putri untuk mendekati batu nisan bagian kepala ibu mertuanya.


"Ayo katakan sesuatu pada Oma Jasmeen," lanjutnya lagi, karena Aya hanya menatap sedih pada makam mamanya.


"Oma, ini Via Amala Dasmeen duga." sapa Vania yang membuat Alvian teringat bahwa nama putrinya belum ia rubah dengan nama besar keluarga Rafael.


"Astaga! Aku lupa bahwa nama Aya dan putriku belum ditambahkan nama keluarga Rafael. Nanti aku harus bilang pada papa." gumam Alvian di dalam hatinya.


Akan tetapi disaat mereka bertiga lagi duduk di hadapan makam tersebut. Tiba-tiba terdengar suara bariton dari arah belakang.


"Ayara!" ucap laki-laki yang dulunya sudah mengusir putrinya sendiri karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga besar Wilson.


Ya, suara bariton itu adalah suara Tuan Edward yang datang mengunjungi makam Almarhumah istri pertamanya. Soalnya setelah Ayara pergi, dan karena merasa bersalah sudah mengusir darah dagingnya sendiri.


Setiap hari Minggu, Tuan Edward datang ke makam. Mana tahu dengan begitu bisa bertemu dengan putrinya dan keinginan tersebut dikabulkan. Beliau bertemu dengan Ayara setelah hampir empat tahun tidak pernah melihat gadis itu lagi.


Deg!


"Suara ini...! Edward? Ya, ini adalah suara Tuan Edward yang kaya raya dan terhormat." gumam Ayara langsung mengepalkan tangannya erat. Agar dirinya bisa kuat, tidak menagis karena harus mengigat perlakuan kejam laki-laki yang sudah membuat dia lahir ke dunia ini.


Alvian yang mendengar ada suara seseorang yang menyebutkan nama istrinya. Langsung berdiri untuk melihat siapa kah pemilik suara tersebut.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Ayara. Meskipun dia sudah tahu siapa orang yang memanggil namanya. Namun, sekarang dia tidak ada pilihan, selain menghadapi apapun yang akan terjadi selanjutnya.


Adanya Alvian, membuat Aya tidak takut bila Tuan Edward memukulnya lagi. Akan tetapi semua diluar dugaan. Lelaki yang masih terlihat tampan meskipun sudah hampir berumur empat puluh lima tahu.


"Aya, jadi ini benar dirimu, Nak. Papa sudah mencari mu keseluruh kota ini. Kau kemana saja. Papa minta ma---"


"Saya bukan putri Anda, Tuan Edward yang terhormat. Saya adalah anak dari wanita yang ada di makam ini." sela Ayara yang sebelah tangannya langsung di genggaman oleh Alvian.


Sedangkan Vania berada didalam pelukannya. Begitu tahu bahwa yang datang adalah Tuan Edward. Pemuda itu langsung bersiap-siap untuk melindungi keluarga kecilnya.


"Aya, Papa tahu kau kecewa pada Papa. Tapi Papa benar-benar menyesal, Nak. Papa menyesal telah mengusir kalian... "A--apakah! Apakah dia c---"


"Antara kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Anda sendiri yang mengatakan, bahwa bersumpah tidak mau menganggap Saya sebaik anak. Maka dari hari itu, antara kita telah putus tali ikatan, karena pada dasarnya. Saya memang hanya anak dari Jasmeen." seru Ayara kembali menyela perkataan Tuan Edward.


"Sebagai ganti Anda membesarkan Saya. Bukannya mendiang mama Saya meninggalkan saham dua puluh lima persen. Sebelum dia meninggal dunia? Jadi Saya rasa semuanya sudah impas. Jadi dimanapun kita bertemu, anggap kita tidak saling kenal." lanjut Ayara yang langsung berjongkok di hadapan makam ibunya dan berkata.


"Mama... Aya pergi dulu. Setelah ini Aya mungkin akan sering-sering datang menjenguk Mama lagi. Mau sampai kapanpun, Ayara tetaplah sebagai Ayara Febriani Jasmeen. Itulah nama keluarga kita." ibu muda itu sebagai berkata demikian agar Tuan Edward sadar. Bahwa Ayara dan Almarhumah Jasmeen, tidak pernah diakui oleh beliau. Yaitu sebagai keluarga Wilson.


Setelah itu Ayara berdiri lagi. Dia tatap Tuan Edward dengan tatapan kecewanya karena bukan disaat Aya ketahuan hamil diluar nikah saja. Namun, sedari kecil wanita itu selalu diasingkan dari segi apapun.


Bahkan jika dia tidak hamil Vania. Bila mau kuliah, Ayara harus bekerja dan sisa biayanya barulah Tuan Edward mau mengeluarkan uangnya. Padahal Marvin anak dari Rose istrinya. Kuliah sampai ke luar negeri dan semua biaya itu Tuan Edward yang membiayai.


...BERSAMBUNG......