I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Agenci AX Si.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Pukul setengah empat sore. Acara pernikahan Renata dan Ericson sudah selesai. Para tamu yang ikut meramaikan sudah pulang. Begitu pula dengan Tuan Abidzar bersama anak bungsu dan istrinya juga sudah pulang.


Namun, tidak degan Alvian, Vania dan Ayara. keluarga kecil itu masih berada di rumah Tuan Edward dan saat ini baru saja masuk ke kamar Ayara yang telah direnovasi ulang.


"Wah, ternyata papa betul-betul sudah merenovasi semuanya," seru ibu hamil itu tersenyum bahagia.


"Bagaimana, apakah kau menyukainya?" tanya Alvian sudah memeluk tubuh Aya dari belakang. Setelah menidurkan sang Putri di atas ranjang king size yang juga baru diganti.


"Tentu saja aku sangat menyukainya, Al. karena suasananya menjadi seperti baru. Aku merasa sudah melupakan semua kenangan masa lalu ya begitu tidak adil padaku," jawab Aya kembalikan tubuhnya agar bisa saling berhadapan dengan sang suami.


"Ayo kemari lah!" ajaknya lagi menarik tangan Alvian untuk jalan mendekati balkon kamarnya. Lalu Ayara membuka pintu tersebut.


"Dulu, saat kita masih berpacaran aku sering berdiri di sini menunggu kedatanganmu,"


"Wah, benarkah? Apakah kau serius?"


"Iya, tentu saja aku sangat serius karena bagiku saat itu dirimu adalah seorang pangeran penyelamat, yang akan membawaku keluar dari rumah ini," Ayara menjawab cepat.


"Apakah sekarang aku juga masih menjadi pangeran di hatimu?" tanya Alvian yang mulai ke mode romantisnya.


"Eum... sepertinya tidak mungkin tidak," Ayara tergelak dan mingalkan Alvian menuju kearah balkon.


"Mobil itu... sepertinya mobil yang berada di jalan arah ke rumah kami? Aku tidak mungkin salah lihat, kan?"


Ayara bergumam setelah matanya tidak sengaja melihat satu mobil Mercedes GP yang terparkir diseberang jalan rumah tetangganya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Alvian yang sejak tadi memangil Aya. Namun, gadis itu tidak ada menghiraukan sama sekali.


"Aku... baik-baik saja. Tapi Al, coba kau lihat mobil yang berwarna hitam itu. Tadi mobilnya berada tidak jauh dari rumah kita. Tolong kau katakan pada papa Abi. Aku sangat yakin bahwa ada yang sedang mengikuti kita," jawab Ayara menunjuk mobil tersebut.


Akan tetapi, bukan mengunakan tangannya. Melainkan mengunakan lirikan mata. Memang sangat jauh dari rumah mewah Tuan Edward ke jalan. Soalnya halaman rumah tersebut sangatlah luas.


Namun, apabila ditunjukkan mengunakan tangan. Pasti orang yang berada di dalam mobilnya akan melihat juga.


"Baiklah-baiklah! Tunggu aku ambil ponsel ku, ya," Alvian kembali masuk kedalam kamar dan Ayara hanya mengangguk saja.


"Aku sangat yakin, bahwa ada seseorang yang sejak tadi mengikuti kami. Namun, entah apa tujuannya." gumam Ayara mulai merasa gelisah dibuatnya.


"Sayang, ayo duduklah! Aku---"


Baru saja Alvian mau mencoba menghubungi papanya. Akan tetapi Tuan Abidzar sudah menelepon duluan.


"Siapa, Al?" tanya Ayara sudah duduk di samping suaminya.


"Papa, kebetulan sekali dia menelepon duluan," jawab pemuda itu langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


📱 Alvian : "Iya, Pa?" tanyanya karena sang ayah baru saja pulang beberapa waktu lalu. sangat amat sudah menelpon dirinya apabila tidak ada hal yang penting.


📱 Tuan Abidzar : "Kalian tidak usah pulang. Diam saja di sana sampai keadaanya aman. Papa sudah mengirim para pengawal untuk menambah penjagaan," jawab Tuan Abidzar yang baru saja tiba di rumah utama.


Namun, baru saja mereka sampai sudah mendapatkan sebuah berita besar. Yaitu berita bahwa kebenaran tentang siapa Ayara sudah terungkap. Sehingga membuat masyarakat marah karena beranggapan sudah dibohongi oleh Alvian dan Ayara.


📱 Alvian : "Ada apa, Pa? Apakah sudah terjadi sesuatu?" seru si papa muda itu penasaran.


📱 Tuan Abidzar : "Tentu saja, ada masalah besar sedang terjadi. Semua orang tahu bahwa Tuan Edward adalah papa kandungnya istrimu. Sekarang Agenci AX Si lagi diserang oleh orang-orang yang tidak menyukai member ALV,"


📱 Alvian : "Apa! Ba--bagaimana mungkin? Kita memiliki bukti yang kuat?" seru Alvian sudah berdiri dari ayunan yang ada di balkon kamarnya.


"Aya, menunduk lah! Ayo cepat kembali ke kamar," ajak Alvian seraya menarik tangan istrinya. Ayara yang tahu sudah terjadi sesuatu pun langsung berlari masuk kedalam kamar mereka degan cara menunduk seperti suaminya.


📱 Tuan Abidzar : "Halo... halo... Alvin, apa yang terjadi? Halo, Alvin, apa yang terjadi? Jangan membuat Papa khawatir," teriak Tuan Abidzar karena tiba-tiba suara putranya menghilang.


📱 Tuan Abidzar : "Alvin---"


📱 Tuan Abidzar : "Biadab! Mereka bertindak sejauh ini. Jangan keluar lagi. Ini pasti ada hubungannya dengan Noah Norin, atau bisa jadi dari Marlin. Sebentar lagi orang-orang Rafael akan datang untuk melindungi kalian," umpat kasar Tuan Abidzar seraya mengepalkan tangannya erat.


📱 Alvian : "Noah Norin? Bukannya itu Om Noah papinya Alice?"


📱 Tuan Abidzar : Iya, dia adalah Noah Norin. Orang tuanya Alice. Ternyata dia bertindak lebih cepat dari Papa. Alvin, orang yang menyerang mu di apartemen lama mu. Ada hubungan dengannya. Jadi setelah kau memutus pertemanan dengan putrinya. Papa sudah yakin ia kembali akan melakukan sesuatu. Maka dari itu Papa selalu memperketat penjagaan untuk kalian dan terbukti hari ini,"


Jawab Tuan Abidzar menduga bahwa pelakunya berkaitan dengan Noah Norin, orang tua dari Alice.


📱 Alvian : "Apa? Ba--bagaimana mungkin. bukankah Om Noah merupakan teman Papa sendiri. Lalu apa untungnya dia melenyapkanku?"


📱 Tuan Abidzar : "Bodoh! Tentu saja ada untungnya. Apabila Papa lengas sedikit saja, dia bisa menyusup ke perusahaan Evander,"


📱 Alvian : "Tapi, Pa. Apaka---"


📱 Tuan Abidzar : "Kau hubungi staf di agensi dan juga member ALV lainnya. Beritahu bahwa Papa akan membantu sebisanya. Untuk mengklarifikasi masalah ini," sela Tuan Abidzar yang tidak ingin anak dan menantunya hancur begitu saja.


📱 Alvian : "Baiklah! Kalau begitu Alvin juga akan mencari cara untuk menyelesaikan masalahnya," jawab pemuda itu yang sudah menyimpan ponselnya karena Tuan Abidzar memutuskan sambungan telepon dari seberang sana.


"Alvin... ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ayara khawatir.


"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Apa pun yang terjadi. Kau harus bisa tenang dan jangan banyak pikiran, ya. Papa Abi juga sedang mencari cara untuk menyelesaikan semua masalah ini," jawab Alvian memegang kedua pundak istrinya.


"Iya, tapi ada apa? Tolong jelaskan padaku! Jangan membuatku semakin khawatir karenanya,"


"Begini, sekarang orang-orang sudah tahu bahwa sebenarnya kau adalah putri dari Papa Edward dan bukan anak dari seorang pembantu. Dikarenakan hal itu sudah pasti klarifikasi kita beberapa waktu lalu dianggap kebohongan. Jadi Agensi AX Si juga berada dalam masalah besar gara-gara hal ini," jelas Alvian bisa menebak apa yang sudah terjadi.


"Ke--kenapa mereka bisa tahu? Lalu siapa mereka yang tadi mau menyerang kita?" Ayara langsung tergagap mendengar hal tersebut.


Baru juga hidupnya merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang dia cinta dan sayangi. Namun, sekarang harus dihadapkan dengan masalah baru lagi.


"Itu yang papa belum ketahui. Namun, jika menurutku pasti ada hubungannya dengan Marlin, atau Rose dan bisa jadi Arianti juga terlibat di dalamnya,"


"Ya... Tuhan! Alvin, kenapa bisa masalahnya menjadi seperti ini?" keluh Ayara mengusap air matanya.


"Hei tenanglah! Jangan menangis, ingat saat ini kau lagi mengandung anak kita. Jadi kau tidak boleh memiliki banyak pikiran, oke," Alvian menarik Ayara kedalam pelukannya.


"Katamu tadi sekarang Agenci AX Si dalam masalah besar, gara-gara diriku. Bagaimana mungkin aku bisa tenang. Jika sampai terjadi sesuatu maka karir member ALV akan hancur,"


"Tenanglah! Semuanya pasti bisa diselesaikan. Hanya saja pasti butuh proses," ucap pemuda itu lagi untuk menenangkan hati istrinya. Walaupun jauh di lubuk hatinya paling dalam juga ragu pada perkataannya sendiri.


"Tapi---"


"Tidak apa-apa walaupun karir ALV hancur. Karena aku sangat yakin bahwa orang-orang yang tulus mencintai kami akan terus memberikan dukungannya," sela Alvian juga sadar bahwa Tidak semua orang menyukai grup boyband mereka.


"Alvin, aku tidak mau kalian hancur karena masalah pribadi ku. Sebab member ALV sudah susah berjuang untuk sampai posisi di sekarang. Jika gedung Agensi AX Si saja diserang oleh masyarakat. Maka bukan tidak mungkin kan kalian berlima lebih diserang lagi oleh hujatan,"


"Jika hujatan itu sudah pasti. Namun, semua ini pasti masih bisa kami selesaikan karena yang menyukai ALV dan tidak suka. Maka jauh lebih banyak yang suka. Akan tetapi semuanya butuh proses. Sebab heater jauh lebih kejam. mereka yang tidak menyukai kami sudah pasti melakukan berbagai cara Agar member ALV hancur," ungkap pemuda itu terus menenangkan hati Ayara.


"Aku harus menghubungi member lain. karena aku sangat yakin bahwa saat ini mereka sedang sibuk membantu Agenci AX Si keluar dari masalah ini." gumam Alvian memiliki rencana.


Namun, sebelum melakukan sesuatu dia harus menenangkan hati istrinya terlebih dahulu. Sebab saat ini Ayara tengah hamil muda. Jadi tidak boleh apabila memiliki begitu banyak beban pikiran.


"Tenang ya, aku mohon. Apabila melihat keadaanmu seperti ini. Aku bingung harus bertindak seperti apa," ucapannya meregangkan pelukan mereka dan menyapu lembut air mata istrinya.


"Aku hanya khawatir pada kalian, Alvin. Apabila hanya aku yang dihujat, itu tidak masalah,"


"Shuuit! Apa yang kau bicarakan? Tidak akan kubiarkan satu orang pun menghina dirimu," Alvian langsung menaruh telunjuknya di bibir sang istri. Agar tidak bicara yang macam-macam.


"Kau tenang. Sekarang jika mau, mandilah lebih dulu. Agar pikiranmu bisa press dan ikutlah istirahat bersama putri kita bila sudah selesai,"


"Memangnya kamu pergi ke mana?" tanya Ayara yang sudah tidak menangis lagi.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana dan akan terus di sini bersama kalian. Namun, saat kau mandi. Aku mau turun sebentar menemui Papa Edward dan menjelaskan jika sudah terjadi sesuatu di luar sana. Agar tidak ada orang di dalam rumah ini yang keluar dari pagar," jawab nya tidak bisa hanya diam menunggu orang-orang papanya bertindak.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mandi dan kau pergilah temui papa," akhirnya Ayara menyetujui jika harus sendirian.


... BERSAMBUNG... ...