
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Tidak apa-apa, kami berdua tidak ada pekerjaan juga," jawab Lula menatap pada Renata. "Benarkan, Kak?" lanjutnya meminta persetujuan wanita hamil itu.
"Iya, benar sekali. Kami tidak ada pekerjaan lagi, Nona. Lagian Saya mau meriksa kandungan juga," jawab Renata karena wanita itu sudah diberikan uang untuk periksa kehamilan dan membeli pakaian oleh Denis tentu atas perintah Alvian.
"Aya, ayo kita pulang dan biarkan mereka berdua disini karena ada pengawal Papa yang akan menemani mereka disini," sambung Tuan Abidzar.
Soalnya entah apa yang mereka bicarakan diluar, karena tiba-tiba saja suasananya bisa berubah seperti saat ini.
"Kita pulang ya, kau tidak boleh kelelahan dan Vania sudah menelepon menanyakan kapan kita pulang," ajak Alvian yang dianguki oleh Ayara.
"Lula, Kak Renata... kami pulang dulu, ya. Terima kasih karena kalian sudah mau menjaganya," ucap Lula pada kedua wanita yang mau menjaga Tuan Edward.
Apabila tidak ada Lula dan Renata tentu Ayara sangat berat meninggalkan Tuan Edward dalam keadaan selesai operasi seperti hari ini.
"Iya, sudah kau jangan sungkan. Kami hanya lagi suntuk saja di Apartemen," dusta Lula mendorong pelan tubuh Ayara agar tidak banyak protes dan segera pulang.
Setelah itu Ayara pun pulang bersama suami dan Ayah mertuanya. Mereka pulang mengunakan satu mobil. Mobil mewah Alvian dibawa oleh Denis. Para bodyguard yang tinggal di rumah sakit hanya tiga orang. Sedangkan yang lain ikut pulang bersama rombongan mengawal keamanan Alvian.
"Berita Aya yang menampar Arianti tadi malam sudah selesai dibereskan oleh rekan kerja Papa," ucap Tuan Abidzar memecah keheningan di dalam mobil.
"Syukurlah, Pa. Alvin juga akan membuat siaran langsung agar fans ALV tahu sendiri bukan dari mulut ke mulut yang kebenarannya pasti sudah diubah," jawab Alvian tersenyum kearah istrinya yang dia peluk dari samping.
"Iya, lakukanlah. Tentang Rose kalian tidak perlu khawatir. Saat ini polisi sudah dalam perjalanan menuju rumah utama keluarga Wilson untuk menangkap Marlin, beserta adik laki-lakinya,"
"Maksud Papa Marlin mau dimintai sebagai saksi?" tanya Aya memperbaiki duduknya dan sedikit memajukan kepalanya kearah depan karena Tuan Abidzar duduk di bangku samping kemudi.
"Bukan sebagai saksi, tapi sebagai tersangka. Mereka bukan hanya terlibat atas kematian mamamu saja. Tapi juga terlibat atas kematian Nyonya Arumi, istri pertama Tuan Wilson Alexa, yaitu ayah dan ibu kandung Edward," jawab Tuan Abidzar tersenyum seraya tangannya mengelus kepala Ayara yang maju kearahnya.
"Tenanglah, Papa akan menyelesaikan semuanya tanpa ada yang bisa lepas dari hukum. Mereka yang terlibat akan membusuk dipenjara," lanjut Tuan Abidzar tidak menyangka bahwa masalah keluarga Wilson seperti mana drama.
"Ibu Edward? Bukannya Rose adalah ibunya dan setahuku kakek Wilson hanya memiliki satu istri," seru Ayara kaget.
"Haa... ha... semua orang juga beranggapan begitu, Nak. Namun, ternyata iblis itu lebih pintar untuk melakukan kejahatannya," tawa Tuan Abidzar yang sama saja baru mengetahui hal tersebut setelah Rose di tanya oleh penyidik.
Mungkin karena Tim penyidik adalah orang-orang Tuan Abidzar dan Rose. Tidak diancam jika Arianti anak gadisnya akan dijual ke geng mafia. Maka sudah pasti tidak akan membongkar semuanya.
Mereka mempunyai kesepakatan bersama. Jadi sudah pasti begitu banyak rahasia yang disembunyikan.
"Marlin adalah pembantu Tuan Wilson dan Arumi. Saat Tuan Edward masih bayi ternyata dia meracuni Arumi agar bisa menjadi Nyonya, bukan pembantu lagi. Semua rencananya berjalan dengan sangat lancar. Kakek mu menikahinya dan dia yang menjadi ibu sambung Edward tanpa ada yang mengetahuinya," jelas Tuan Abidzar sesuai rekaman pengakuan Rose pada penyidik.
"A--apa? Jadi Tuan Edward bukan anak kandung Marlin. Tapi ini tidak mungkin, Pa. Marlin sangat menyanyangi putra pertamanya itu," Ayara mengelengkan kepalanya tidak percaya.
"Jika dia tidak baik, maka sudah pasti tidak akan bisa menikmati harta Wilson. Walaupun dia memiliki anak dengan Tuan Wilson, hartanya tetap tidak bisa dia miliki karena sebelum mati Tuan Wilson hanya mewariskan hartanya untuk Edward," jelas Tuan Abidzar sesuai yang diakui oleh Rose.
"Apakah Tuan Edward tahu hal ini?" tanya Ayara ragu-ragu.
"Tidak! Jika Edward tahu, tentu dia tidak mau dicuci otaknya agar membenci darah keturunan Wilson. Bahkan saat menikahi Jasmeen, Rose adalah orang yang paling menantang karena takut anak-anaknya tidak mendapatkan apa-apa bila Edward memiliki istri dan anak kandung," Tuan Abidzar berhenti sejenak sebelum kembali menjelaskan.
"Karena itulah dia mencari sekutu untuk melenyapkan mamamu. Yaitu rekannya adalah Rose. Wanita yang sama saja sepertinya. Bahkan lebih licik sampai-sampai perusahaan Wilson habis oleh anak Rose sendirian,"
"Berarti mereka menuai hasil dari kelicikannya sendiri. Karena Marlin pun tertipu oleh Rose. Begitu kan, Pa?" tebak Ayara mulai paham.
"Huem... iya, seperti itulah yang sudah terjadi. Mereka saling tipu dan akhirnya saling hancur," tidak terasa sepanjang perjalanan mengobrol. Akhirnya mereka sudah sampai di rumah mewah kediaman keluarga Rafael.
"Sudah, ayo turun. Nanti kita bahas lagi karena kau butuh istirahat yang lebih," ajak Tuan Abidzar yang keluar dari mobil lebih dulu karena pintunya sudah dibuka oleh pengawal beliau. Sehingga tinggallah Alvian dan Ayara yang masih duduk didalam mobil.
Cup!
Alvian mengecup bibir ranum istrinya sembari menyelipkan anak rambut Ayara.
"Jangan jadikan beban pikiran. Satu hal yang sangat bagus dalam hal ini. Yaitu kau bukanlah keturunan Marlin. Karena siluman itu bukan ibu kandung Tuan Edward," ucap Alvian yang juga merasakan bahagia karena istrinya tidak ada ikatan bersama Marlin.
"Iya, kau benar. Ayo kita turun, aku mau mandi dan tidur siang," kali ini Aya yang mengajak turun dari mobil.
Percayalah, apabila tidak malu maka gadis itu sudah berteriak untuk mengungkapkan rasa bahagianya karena Marlin bukanlah nenek kandungnya.
"Iya, ayo kita turun," si tampan Alvian turun lebih dulu untuk membantu istrinya. Setelah itu mereka berdua berjalan masuk degan saling bergandengan tangan.
"Sayang..." seru Nyonya Lili yang sudah menunggu sejak tadi karena sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya.
"Mama, Aya dan Alvin tidak kenapa-kenapa," jawab Ayara tersenyum bahagia memeluk ibu mertuanya.
"Wajahmu bahagia sekali, ada apa huem?" wanita setengah baya itu ikut tersenyum bahagia melihat wajah Ayara.
"Mama, eum... Aya bukan cucunya Marlin. Kami benar-benar tidak ada hubungan apa-apa," jawab Ayara jujur karena gadis itu tidak sanggup menahan rasa bahagianya.
"Iya, Mama juga sudah diberitahu oleh papa mu. Selamat ya, Mama juga bahagia mendengarnya,"
"Terima kasih, Ma. Karena kalian---"
"Sekarang istirahatlah. Tidak usah berterima kasih karena kau adalah putri kami. ingat kata Dokter tadi, kau tidak boleh kelelahan dan harus banyak istirahat," sela Nyonya Lili cepat karena tidak mau sang menantu selalu mengucapkan kata terima kasih pada mereka.
"Iya, Ma," Ayara akhirnya hanya tersenyum bahagia menatap pada ibu mertuanya.
"Mama, Via mana?" tanya Alvian karena princess mereka tidak ada disana. Padahal tadi sudah dua kali Vania menelepon menanyakan kapan mereka pulang.
"Lagi tidur dikamar Mama, kalian pergilah istirahat," titah beliau karena dia juga mau menemui suaminya yang sudah masuk kedalam kamar lebih dulu.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kami keatas," pamit Alvian membawa istrinya naik kelantai atas karena kamarnya dan Deri adiknya memang berada di lantai dua.
Tttddd!
Ttttddd!
Suara telepon Alvian menghubungi seseorang. Yaitu adalah anak buah papanya.
Tttddd!
📱 : "Iya Tuan Muda?" jawab seseorang dari sebrang sana.
📱 Alvian : "Persiapkan pembangunannya dalam bulan ini. Saya akan datang melihat ke sebelah nanti sore," kata Alvian sambil sesekali melihat kearah pintu kamar mandi.
📱 : "Anda tidak perlu khawatir Tuan Muda. Sepertinya Minggu ini sudah siap, karena sekarang tinggal merenovasi beberapa ruangan saja. Sedangkan yang lain sudah siap," jawab orang kepercayaan Tuan Abidzar yang bertugas mengatur pembangunan rumah Alvian yang baru.
📱 Alvian : "Oh, baguslah. Kalau begitu selesaikan dengan baik," setelahnya Alvian langsung memutuskan sambungan telepon tersebut. Takut bila Ayara mendengarnya karena ini adalah kejutan.
Sebuah rumah impian Ayara yang berada bersebelahan dengan rumah orang tua Alvian.
"Kau harus bahagia, sayang. Karena sudah cukup kau menderita selama ini. Jika terbukti Tuan Edward adalah korban dari keserakahan Marlin. Aku juga akan membuat hubungan kalian berdua bersatu. Karena aku tahu kau sangat menyayangi beliau," ucap Alvian seperti hanya bergumam.
Sehingga Ayara yang sudah keluar dari kamar mandi tidak mendengar perkataannya.
"Alvin, mandilah dulu. Aku mau tidur dalam pelukan mu," titah Ayara yang membuat pemuda tampan itu menoleh kearah belakang tubuhnya.
"Baiklah-baiklah! Tunggu aku mandi dulu dan kita tidur bersama setelahnya. Karena aku memang sangat lelah mau istirahat juga," jawabnya sudah berdiri karena Alvian mana mungkin menolak untuk tidur bersama sang istri.
Ayara yang lagi bahagia karena tahu bukan cucu dari Marlin. Terus mengembangkan senyum sumringah.
"Mama... mama pasti bahagia juga kan karena Aya bukan cucu Marlin. Pantas saja dia begitu jahat dan membenciku. Ternyata dia memang bukanlah nenek yang memiliki hubungan darah."
gumam Ayara sambil memakai pakaian rumahannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya sekitar lima belas menit Alvian sudah keluar dari kamar mandi. Pemuda itu keluar dengan bertelanjang dada.
Sehingga enam kotak roti sobek terlihat dengan nyata dan hanya Ayara seorang yang bisa menikmati semua keindahan tersebut.
Fiuuuh!
"Kau melihat apa? Apakah mau mencicipinya?" si member tampan itu meniup muka Aya yang terus menatap padanya tanpa berkedip.
"Bu---"
Cup!
Satu kali kecupan. Namun, kali ini bukanlah kecupan biasa. Tangan Alvian menuntun agar tangan Ayara menempel pada dada bidangnya. Akan tetapi posisi mereka masih tetap saling mangut satu sama lain.
"Augh! Alvin, cepat pakai bajumu. Kita istirahat," lenguh Aya begitu silaturahmi bibir mereka terlepas.
"Huem, tunggu sebentar, ya," Alvian yang tidak mungkin menggempur Ayara hari ini langsung menjauhkan tubuhnya menuju lemari pakaian.
Begitu selesai barulah menyusul istrinya naik keatas tempat tidur. Ayara yang sudah menunggu sejak tadi tersenyum menatap suaminya.
"Cantik sekali," ucap Alvian menarik kedua pipi Ayara. "Apakah kau bahagia karena bukan keturunan Marlin?"
"Tentu saja, aku bahagia sekali. Jujur Al, aku sangat malu karena terlahir dari keturunan manusia seperti mereka. Namun, sekarang walaupun Tuan Edward juga sama jahatnya, tapi dia juga sedang dibohongi," ungkap Ayara yang tidak pernah mengatakan pada Alvian.
"Aku tahu, jadi sekarang lapang kan hatimu, ya. Jangan menaruh dendam pada Tuan Edward. Apa kau bisa melakukannya?" sambil memeluk Ayara, pemuda itu memberikan pengertian degan perlahan.
Agar Ayara tidak balik marah atas perkataanya. Soalnya selain sudah disakiti begitu dalam. Ayara juga lagi mengandung. Tentu perasaannya sangat sensitif. Jadi Alvian harus bisa mencari cara yang tidak sulit untuk dipahami.
"Tapi---"
"Tidak sekarang, sayang. Aku tidak menyuruhmu melakukan sekarang," sela ayah satu anak itu terus mengelus kepala Ayara.
Saat ini posisinya lagi duduk bersandar pada kepala ranjang tempat tidur dan Ayara bersandar pada dadanya.
"Ketahuilah, bukan hanya kau yang hancur hatinya. Tapi Tuan Edward pasti juga sangat hancur karena masalah ini. Sekarang saja karena merasa bersalah padamu, dia sudah terpuruk. Apalagi bila tahu bahwa Marlin bukan ibu kandung beliau dan lebih parahnya adalah Marlin orang yang membunuh ibu kandungnya," Alvian berhenti sesaat. Lalu kembali bicara lagi.
"Memang sangat sulit untuk memaafkannya, karena dia sudah memperlakukan mu tidak baik. Tapi akan terasa lebih indah bila kau memberinya maaf dan kesempatan satu kali saja. Karena aku yakin, Mama Jasmeen ingin kalian bersatu,"
"Akan aku pikirkan nanti, sekarang ayo tidur. Aku mengantuk," ajak Ayara karena dia tidak bisa mengambil keputusan sekarang. Semua ini sangat mendadak buatnya.
"Iya, tidurlah. Aku akan menjagamu," dengan pelan pemuda itu memindahkan kepala Ayara untuk pindah keatas bantal. Tidak sampai sepuluh menit ternyata Ayara sudah tidur dengan nyenyak.
Cup!
"Tidurlah," bisik Alvian setelah mengecup kening istrinya.
"Aku akan membuat kau merasakan kasih sayang dari seorang ayah yang sangat kau impikan, sayang. Kau tidak bisa membohongiku karena aku sangat mengenal dirimu seperti apa. Meskipun kau bilang membenci Tuan Edward, tapi hatimu terluka karena harus menjaga jarak darinya. Apalagi beliau sudah menyesali semuanya."
Gumam pemuda itu di dalam hatinya. Dia terus menatap wajah cantik Ayara. Istrinya itu walaupun lagi tidur tetap saja sangat cantik.
"Jika Aya sudah memaafkan Tuan Edward. Maka aku akan mengembalikan rumah itu pada beliau lagi. Aku tidak ingin Ayara memiliki perasaan malu karena memiliki latar belakang keluarga seperti saat ini. Walaupun Aya sudah mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku. Tetap saja berbeda karena aku pun pernah merasakan ingin memiliki hubungan baik dengan papa."
Pemuda itu terus saja bergumam. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyatukan Ayara dan Tuan Edward. Seperti itulah tekad Alvian saat ini.
"Jam dua, lebih baik aku tidur dulu. Bila ibu hamil ku tahu, dia ditinggal sendirian. Maka sudah pasti akan marah padaku," Alvian tersenyum dan ikut baring sambil memeluk istrinya.
Ayara yang bahagia karena Marlin bukanlah ibu dari Tuan Edward. Tidur dengan sangat nyenyak. Apalagi berada dalam pelukan suami yang ia cintai.
...BERSAMBUNG......