I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Nyawa Saya Taruhannya. ( Denis )



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Dua hari kemudian. Para member ALV sudah kembali pulang ke ibu kota dan sudah menjalani aktifitas seperti biasanya. Hari ini Alvian akan pergi menghadiri acara yang diadakan di ibu kota mereka.


Sedangkan Ayara akan menemani putrinya sekolah seperti beberapa hari lalu. Lula pun juga sudah mulai bekerja di perusahaan Evander sebagai staf pemasaran. Sesuai jurusnya saat sekolah menegah atas.


Tuan Abidzar yang merekrut langsung gadis itu. Makanya bisa bekerja di perusahaan besar seperti Evander Holyfield grup. Seharusnya hanya sarjana saja yang bisa bekerja di sana. Namun, karena ini melalui direkturnya. Jadi tidak melalui proses apapun.


Hanya saja Tuan Abidzar menugaskan Sekertaris Joshua, yaitu Sekertaris pribadinya untuk mengajarkan gadis itu mana yang tidak dia bisa.


Semua itu beliau lakukan karena dia benar-benar ingin mengangkat derajat gadis yang sudah menolong Ayara dan Vania. Begitulah caranya sebagai manusia yang benar.


Tuan Abidzar tidak mungkin memaksa Lula untuk menerima pemberiannya. Maka dari itu dia memberikan pekerjaan dan rumah beserta Apartemen untuk tempat tinggal keluarga Lula di kota B.


Sedangkan Apartemen untuk tempat tinggal gadis itu selama tinggal di kota S. Soalnya bukan beliau tidak mau Lula ikut tinggal di rumah utama. Namun, semua itu kembali lagi pada Lula.


Meskipun Lula hidup susah. Namun, tidak akan mau memanfaatkan keadaan. Maka dari itulah Tuan Abidzar semakin menyukai gadis itu yang memiliki kepribadian baik.


Apalagi mereka memang sangat menyanyangi anak perempuan karena Nyonya Lili tidak bisa mengandung lagi. Ada pun dua orang keponakan perempuan yang kembar, tinggalnya jauh dari rumah utama.


"Sayang aku mungkin akan pulang malam. Soalnya nanti kami ada latihan untuk konser tiga hari lagi." ucap Alvian pada istrinya.


Saat ini mereka sudah selesai sarapan bersama dan Alvian juga mau langsung berangkat serempak anak dan istrinya. Hanya saja mereka tidak akan satu mobil.


Alvian bersama sopir sekaligus Bodyguard nya. Begitu pula Ayara, dia akan diantar oleh Denis seperti hari-hari sebelumnya.


"Iya, hati-hati!" jawab Aya tersenyum kecil. Entah mengapa hari ini perasaanya seakan tidak menentu. Entah apa yang akan terjadi sehingga dia seperti mendapatkan pirasat bahwa akan terjadi sesuatu pada keluarganya.


Namun, dia tidak mau mengatakan hal tersebut pada suaminya karena Aya tahu jika Alvian sangatlah sibuk. Bisa menghabiskan waktu bersama keluarga walaupun hanya sesekali saja itu sudah untung.


"Kau kenapa? Apakah lagi tidak enak badan?" Alvian langsung menempelkan punggung tangannya pada kening sang istri.


"Aku baik-baik saja, Al. Hanya saja aku tiba-tiba merasa khawatir akan sesuatu yang tidak aku ketahui apa masalahnya." akhirnya Aya mengungkapkan juga perasaan gundahnya.


Cup!


"Semuanya akan baik-baik saja, mungkin itu hanya perasaan mu yang terlalu lelah. Besok sore bagiamana jika kita pergi ke makam Mama Jasmeen. Mungkin bila sudah kesana hatimu bisa tenang." ucap pemuda itu mengelus pipi istrinya.


"Jika kau tidak enak badan, istrirhat saja di rumah. Via libur saja tidak usah sekolah," usulnya karena Alvian tidak bisa pergi bila meninggalkan istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Eh, tidak-tidak! Aku baik-baik saja. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Ayara sudah berdiri lebih dulu. "Sayang ayo kita berangkat," ucapnya pada Vania yang sudah siap sejak tadi.


"Baiklah! Tapi bila ada sesuatu telepon saja aku," pesan Alvian tidak bisa memaksa istrinya untuk diam dirumah saja. Bila Ayara sendiri yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


"Huem, iya! Kau jangan lupa makan tepat waktu, ya. Nanti setelah Via pulang sekolah kami akan langsung ke rumah utama."


Cup!


"Tenang saja, kalian berdua yang harus makan tepat waktu dan hati-hati karena aku tidak ingin kau dan putri kita sampai kenapa-napa." Alvian mengecup kening dan juga bibir istrinya. Lalu dia berjongkok untuk memberikan pelukan dan mencium sang putri yang selalu ceria.


"Papa kerja, ya, Via tidak boleh lari-lari nanti malah jatuh lagi seperti dirumah opa," pesannya pada sang putri.


"Iya, Via tidak lali-lali dagi, Papa tepat puyang," jawab Vania yang membuat Alvian ikut tersenyum bahagia.


Cup, cup, Muaach!


"Papa sangat menyayangi Via, juga sangat menyayangi mamamu," ucapnya setelah mengangkat Vania masuk kedalam mobil yang sudah dibuka oleh Denis. Sedangkan Aya masih berdiri di luar mobil.


"Sayang hati-hati! Kau jagan terlalu lelah, ya," mendengar perkataan suaminya Ayara tersenyum lebar dan berkata.


"Bukannya yang bekerja dirimu, aku hanya pengaguran. Jadi tidak akan pernah lelah," jawab ibu muda itu yang selalu dibilang kakak Vania, bukan mamanya.


"Huem, tapi meskipun kau tidak bekerja, aku tidak ingin kau kelelahan." Alvian menarik lembut tubuh Aya untuk dia peluk sebentar sebagai perpisahan mereka hari ini, Soalnya mereka baru bisa bertemu lagi nanti malam.


"Ayo masuk mobil, kalian berangkat duluan karena kami akan menyusul dibelakang, setelah kalian pergi," Alvian membuka pintu mobil untuk istrinya dan Ayara pun hanya mengagguk setuju karena tidak mau bila putrinya akan terlambat.


"Denis, hati-hati! Tolong jaga istri dan anakku," ucap pemuda itu pada bodyguard sekaligus yang menjadi sopir sang istri.


"Baik Tuan Muda," jawab laki-laki itu.


Cup!


"Papa," seru Via melambaikan tangannya pada sang ayah yang juga melambaikan tangannya sebelum masuk ke mobilnya sendiri.


"Kita mau langsung ke Agensi atau ke tempat acara, Tuan?" tanya Radit yang biasa menemani Alvian juga dan salah satu bodyguard kepercayaan nya.


"Ketempat acara saja, karena yang lainya akan langsung datang ke sana." jawabnya sambil membaca pesan dari Alice.


💌 Alice : "Alvian, bisa kita bertemu hari ini?" bunyi pesan wanita itu yang entah memiliki rencana apa.


💌 Alvian : "Maaf, aku tidak bisa karena ada acara full team. Ada apa? Bicara lewat telepon saja bila ada masalah penting."


💌 Alice : "Oh, yasudah jika kau tidak bisa. Tak apa-apa, tadinya aku hanya ingin minta ditemani jalan-jalan. Namun, karena kau lagi sibuk maka lain kali saja."


💌 Alvian : "Oke, baiklah! Semoga dilain waktu aku memiliki waktu." setelah membalas pesan Alice, pemuda tampan itu menyimpan kembali ponselnya.


"Alice, setelah kau mengetahui tentang istri dan anakku nanti. Aku harap kau tidak pernah memiliki perasaan terhadap ku. Tunggu saja, mungkin dalam bulan ini aku akan mengumumkan keluargaku dan siapa gadis yang sangat aku cintai, sejak dulu sampai saat ini."


Gumam Alvian degan helaan nafas dalam-dalam. Setelah itu dia kembali lagi memikirkan masala koreo yang akan mereka buat untuk latihan nanti.


*


*


Sementara itu Aya yang sudah tiba di sekolahan putrinya langsung saja mengantar Vania sampai di depan pintu masuk kelas putrinya.


Lalu Ayara pun pergi menunggu ke tempat biasanya dia menunggu bersama ibu-ibu yang lainya. Namun, hari ini ruang tunggu orang tua wali ataupun pengasuh dari murid disana tidak ramai. Hanya beberapa orang saja.


"Hai, kenapa hari ini agak sepi?" sapa Ayara pada orang tua wali yang terlihat masih mudah juga.


"Entahlah! Saya juga tidak tahu. Murid-murid pun juga tidak ramai seperti biasanya, mungkin karena orang tua mereka sibuk," jawab wanita itu juga tidak tahu.


Lalu mereka yang menunggu anak-anak mengobrol seperti biasanya. Tidak ada yang aneh walaupun muridnya tidak banyak. Jika seluruh murid berjumlah seratus lima puluh orang. Maka hari ini yang masuk sekolah hanya sekitar lima puluh orang saja.


Namun, setelah dua jam kemudian. Tepatnya saat jam sekolah anak-anak. Pintu gerbang sekolah bertaraf internasional itu sudah dipenuhi oleh ibu-ibu muda yang anaknya sekolah di sana dan juga para wartawan dari berbagai saluran televisi.


"Ada apa? Kenapa mendadak ramai oleh wartawan dan ibu-ibu yang anaknya sekolah di sini?" tanya seorang guru pada rekannya dan Ayara juga yang tadinya bersiap-siap mau pulang tidak jadi.


"Nona Ayara, apakah Anda simpan Ian ALV?" tanya seorang ibu-ibu yang tadi mengobrol dengan Ayara saat menunggu Vania.


Deg!


Tubuh Ayara langsung menegang secara tiba-tiba setelah mendengar pertanyaan tersebut. Sekarang pikirannya langsung tahu apa yang membuat para wartawan itu datang ke sekolahan putrinya.


"Apa ma--maksudnya?" tanya Ayara tergagap. Akan tetapi dia tetap bersikap tenang sebelum kedatangan Denis yang langsung berlari masuk mendekatinya ke kelas Vania.


"Nona, Anda tidak perlu khawatir! Semuanya akan baik-baik saja." ucap bodyguard itu yang telah mengirimkan pesan singkat pada Alvian karena saat dia menelepon nomor Alvian tidak aktif.


"Denis, a--apakah---"


"Benar Nona, sekarang kita belum bisa meninggalkan tempat ini. Tapi Anda tidak perlu khawatir karena Saya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Anda maupun Nona Via. Nyawa Saya sebagai taruhannya." sela Denis langsung masuk kedalam lokal dan berkata pada guru beserta murid yang ada di sana.


"Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini. Tapi tolong kosongkan tempat ini karena Saya harus melindungi Nona Muda," pinta pria itu karena tidak ada waktu. Pintu gerbang tidak bisa di tutup terlalu lama karena ada orang tua wali murid juga.


Jika itu para wartawan tentu tidak akan membuat keributan. Mereka hanya mencari berita yang akan membuat mereka mendapatkan jabatan bagus. Apalagi ini adalah berita tentang member ALV. Sudah pasti akan menjadi banner di beranda utama berita terpopuler.


Akan tetapi para ibu-ibu muda itu merupakan fans ALV yang pasti akan mengamuk, atau juga menghakimi Ayara atas berita yang membuat mereka mengetahui bahwa Vania ada hubungannya dengan Alvian si member kesayangan yang mereka cintai.


"Ada apa? Apakah Nona Ayara telah melakukan kejahatan? Siapa kau sebenarnya Ayara?" suasana yang didalam tadinya tenang, karena melihat kekacauan di depan gerbang. Membuat sekarang menjadi riuh tidak bisa ditahan lagi.


"Kami tidak ada waktu untuk menjelaskannya saat ini. Sekarang cepat kalian keluar. Jika sampai terjadi sesuatu pada kedua Nona Saya. Maka sekolahan ini Saya pastikan akan dihancurkan oleh Tuan Abidzar Rafael hari ini juga," ancam Denis yang mengetahui seperti apa Tuan Abidzar menyanyangi Ayara dan Vania.


Mendengar nama Rafael para orang tua dan guru itupun langsung keluar. Lagian mereka juga takut bila tiba-tiba menjadi sasaran dari para wanita dan wartawan. Apalagi sekarang gerbang sudah terbuka dengan paksa.


Denis yang melihat itu langsung mengunci pintu kelas untuk melindungi Ayara dan Vania.


"Alvin, apakah kecemasanku tadi pagi karena akan terjadi hal ini? Ya Tuhan! Tolong lindungi putriku, karena jika aku tidak masalah bila terjadi apa-apa. Namun, tidak degan Via, dia masih sangat kecil." gumam Ayara memeluk putrinya yang sama gemetar seperti dirinya.


...BERSAMBUNG......


.


.


...Update nya insya Allah besok lagi, ya 🤗 Ini jika Mak buat bab pendek sudah untuk 6 bab. Jadi berikan dukungannya saja, ya 🥰🥰 Biar Mak Author juga semagat buat nulisnya. Ini Mak Author juga ikut gemetaran gara-gara takut Ayara sama princess Vania kenapa-kenapa 😭😭😭🤧...