
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING... ...
.
.
"Mama," lirih Vania melihat sang ibu masih menangis setelah mereka tiba di rumah dari satu jam lalu.
Si kecil Vania bahkan sudah mengantuk saja sampai Aya abaikan. Dia hanya duduk sambil menenggelamkan kepalanya di sela kedua lutut dia sendiri dengan menangis tersedu-sedu.
Begitu melihat sosok Alvian hari ini bukannya senang karena seorang artis papan atas memanggil dirinya untuk meminta maaf. akan tetapi membuat hati Ayara hancur berkeping-keping.
Luka yang selama ini berusaha dia sembuhkan dengan kehadiran si buah hati. Hari ini harus terbuka lagi, bahkan bagaikan di cabik-cabik hingga rasa sakit itu begitu menusuk sampai ke ruas-ruas tulang rusuknya.
"Iya, sayang, ada apa anakku?" tanya Ayara tersenyum sambil tangan menyeka air matanya. Meskipun dia sedang tidak baik-baik saja. Namun, Ayara masih bersikap sok kuat di hadapan putrinya.
"Mama tangis lagi? Mama cedih," bukannya menjawab tapi si kecil Vania bertanya pada sang ibu dengan beruraian air mata.
Ya, Vania Amara Jasmeen ikut menangis seperti mana ibunya. Si cantik seolah-olah ikut merasakan kesedihan mamanya.
"Tidak sayang, Mama tidak menagis karena bersedih. Mama menangis karena terlalu bahagia kita bisa menaiki sepeda tadi," dusta wanita itu yang tidak mungkin menjelaskan bahwa dia menangis karena bertemu dengan ayah kandung sang putri.
Cup, cup!
Kecupan di pipi kiri dan kanan Vania diberikan oleh Ayara. Untuk menenangkan anaknya agar tidak menangis lagi. Entah mengapa melihat air mata Vania membuat dia tiba-tiba meretuki kebodohannya, yang menangis di depan sang putri.
Namun, apalah daya, hatinya terlalu rapuh. Sehingga tidak mampu untuk menahannya sampai si gadis kecil ikut menangis juga.
Jika ada wanita yang bisa sekuat dan setegar dirinya menghadapi terpaan badai dan kejamnya dunia pada dirinya. Maka patut untuk diberikan sebuah medali emas.
"Anak Mama tidak boleh menangis. Mama bukan bersedih karena sesuatu. Akan tetapi karena terlalu merasakan bahagia. Jadi kapan-kapan lagi, jika Mama sudah mendapatkan uang. Maka kita akan pergi ke Taman itu untuk menyewa sepeda seperti tadi, ya," bujuknya agar Vania percaya.
"Tap tanti Mama tangis lagi?" jawab si cantik masih terisak kecil.
"Tidak! Mama tidak akan menangis lagi. Asalkan kita berangkat ke sananya di pagi hari saja. Jangan seperti hari ini berangkatnya sudah sore. Jadinya kemalaman kalau kita menyewa sepedanya untuk dua kali," jelas Aya sambil berdiri dengan mata memerah.
Lalu dia mengangkat tubuh kecil Vania untuk dibawa ke arah ranjang tempat tidur mereka. "Vania bobok di sini ya, biar mama buatkan susu yang kita beli." ucapnya lagi setelah membaringkan Vania pada ranjang kecil dan usang yang sudah mereka tempati selama kurang lebih tiga tahun.
"Iya, tapi Mama tangan lama," jawab Vania yang kembali lagi duduk, karena dia sudah tidak mengantuk lagi.
Biasanya Vania selalu tidur siang tepat waktu. Namun, sekarang sudah lewat dari jam tidur siangnya. jadi dia pasti hanya akan bermain sampai sore. Setelah itu, mandi dan pada jam tujuh malamnya, dia pasti akan langsung tidur.
"Mimpi apa aku semalam? Kenapa bisa bertemu dengannya ? Oh ya Tuhan! Tolong aku, semoga hari ini adalah pertemuan terakhir kami," gumam Ayara sambil mencuci botol susu untuk Vania.
Tidak lupa ibu muda itu juga membasuh wajahnya. Melalui kucuran air dari wastafel yang berada di dalam dapur kecilnya.
"Huh! Tidak, tidak! Aku harus bisa tenang. Pasti tidak akan terjadi apa-apa setelah hari ini." Ayara kembali bergumam untuk menenangkan hatinya.
Bohong apabila dia tidak merasa takut jika Alvian mengetahui siapa Vania sebenarnya. Dalam pikiran Ayara saat ini adalah. Apabila hal tersebut sampai terjadi, maka besar kemungkinan Alvian akan merebut Vania darinya.
Sebab Ayara tahu jika di keluarga Alvian sangat menginginkan adanya anak perempuan. Akan tetapi mamanya Alvian tidak bisa mengandung lagi, karena rahimnya sudah diangkat sewaktu melahirkan adik kandung mantan kekasihnya itu.
Jarak umur Alvian dan adiknya pun hanya berbeda beberapa tahun saja. maka dari itu juga Alvian bisa meneruskan cita-citanya menjadi seorang penyanyi. Sebab masih ada penerus ayahnya sebagai pengusaha.
"Mama," teriakan Vania membuat Aya cepat-cepat menyelesaikan tugasnya membuat susu untuk sang putri.
"Iya sayang, sebentar lagi," jawab ibu muda itu dengan sedikit berteriak juga. Soalnya rumah mereka kecil bukanlah seperti kediaman keluarga Wilson, yang besarnya seperti lapangan sepak bola kaki.
Sehingga apabila membutuhkan sesuatu. Maka harus melalui sambungan telepon. Jika tidak, hanya akan lelah berjalan cuma untuk mengambil air minum saja.
Tap!
Tap!
"Mama sudah datang," serunya dengan suara seceria mungkin. "Ini, Vania minum saja sambil baring. Biar Mama temani," ucapnya memberikan botol susu berukuran sedang pada sang Putri.
"Vania," panggil Aya sambil mengelus kepala anaknya yang lagi menikmati susu coklat kesukaan.
Vania tidak menjawabnya, tapi dia mendongak keatas dengan tangan kecilnya terangkat untuk memegang dagu sang mama.
"Eum... jika suatu saat nanti ada seseorang yang datang ke rumah kita. Lalu menawarkan Vania susu dan jajan yang banyak. Tapi dengan syarat putri Mama harus ikut bersamanya. Apakah Vania mau ikut orang itu?" tanya Ayara terpaksa harus menanyakan hal yang tidak sepatutnya dipikirkan oleh anak seumuran Vania.
Namun, rasa takutnya bila tiba-tiba saja Alvian datang ingin merebut Vania darinya. membuat ibu muda itu bertanya. Guna menenangkan segala rasa takutnya.
"Mama itut?" Vania kembali bertanya. hanya dalam hitungan menit saja satu botol susu sudah dipindahkan ke dalam perut si kecil.
"Tidak! Mana ada orang yang mau membawa Mama," sambil bertanya dengan keseriusannya. Aya masih menyelingi dengan candaan. Agar putrinya tidak merasa tertekan karena bukan untuk beban pikiran sang putri yang belum genap tiga tahun.
Dua bulan lagi adalah ulang tahun Vania yang ke tiga tahun. Jadi Ayara berniat akan pulang ke kota S untuk berziarah ke makam ibunya. Setelah dulu di hari Valentine saja dan ketika itu Vania juga masih berumur dua bulan.
Selama ini bukan dia tidak mau datang ke sana. Tapi faktor uang lah yang membuat Aya tidak mengunjungi makam sang ibu sudah hampir tiga tahun.
Akan tetapi jika dua bulan lagi, gaji kerjanya akan bertambah naik. Jadi Aya bisa menyisakan uang lebihnya buat ongkos dan biaya hotel untuk mereka menginap satu malam. Yaitu di kota tempat kelahirannya. Kota itu jugalah yang sudah menorehkan begitu banyak luka.
Sangat miris memang. Padahal laki-laki yang dulu pernah dia panggil papa memiliki harta berlimpah. Namun, ketika pulang ke kota S. Dia harus menyewa hotel dengan harga sekitar sepuluh Dolar satu malamnya.
"Jadi bagaimana? Apakah Vania akan ikut bersama orang yang memiliki banyak susu dan jajan.. Atau tetap ber---"
"Via mau tama Mama," jawab si cantik cepat.
"Benarkah! Wah, kalau begitu terima kasih," seru Ayara yang bisa tersenyum lega walaupun hanya sesaat.
Sebab untuk hari esok tidak ada satupun yang bisa menebaknya. Alvian saja sebelum pergi melakukan konser pertamanya. Meminta Aya agar menunggunya kembali. Namun, begitu pulang malah membawa luka untuk gadis itu.
*
*
Malam hari, tempatnya pukul sembilan malam. Alvian dan para sahabatnya baru kembali ke kamar mereka lagi. Setelah bertemu dengan bapak walikota B beserta para pejabat lainnya.
Malam ini seorang Alvian, musisi terkenal dan sudah menjadi aset negara. Menangis karena menyesali keputusannya yang telah membuang Aya. Gadis yang ternyata saat itu tengah mengandung benihnya.
Ya, meskipun belum mencari tahu tentang siapa ayah kandung Vania. Tapi Alvian dan para member ALV yang lainnya sudah bisa menebak bahwa Vania adalah darah daging Alvian sendiri.
Apalagi Ayara di usir setelah satu hari Alvian meninggalkan gadis itu. Jadi sudah jelas itu adalah anaknya.
Setelah mereka mendapatkan laporan dari Denis. Laki-laki tersebut adalah bodyguard kepercayaan ALV yang di suruh untuk mencari tahu tentang Ayara di kediaman Wilson.
"Al, bersabarlah! Setelah konser ini selesai. Kau cari Aya dan putrimu," Hanan memeluk tubuh Alvian yang tidak sanggup menahan sesak di dadanya.
"Aku benar-benar tidak menyangka, kenapa Tuan Edward yang seperti malaikat bila di depan kamera. Tega mengusir putrinya sendiri dalam keadaan sakit dan hamil," seru Sandy sampai meremas tangannya sendiri.
Tidak kuat menahan geram atas tindakan Tuan Edward dan keluarganya yang begitu kejam pada Ayara. Gadis bertubuh kecil yang tidak bisa bekerja. Di usir tanpa diberikan uang ataupun sesuatu yang berharga.
"Huh! Untung saja Denis bisa menjalankan tugas ini. Jika tidak, maka mungkin saja kita tidak tahu apa penyebab Ayara sampai ke kota ini," ujar Naufal menghela nafas panjang.
"Iya, kau benar!" Sandy menggangguk membenarkan. "Jika kita tidak melihatnya di Taman tadi siang. Mungkin sampai kapanpun Al tidak akan pernah tahu bahwa sudah memiliki anak," lanjutnya lagi.
"Bara kau dari mana? Siapa yang kau telpon malam-malam begini?" tanya Hanan yang masih memeluk Alvian.
"Erik, aku menyuruhnya membeli mobil untuk aku dan Al mencari Aya dan Vania." jawab Bara duduk disebelah Alvian.
"Hei... sudahlah! Kau tidak perlu menagis. Semuanya sudah terjadi. Air matamu tidak akan pernah menyebuhkan luka Ayara." seru Bara mengusap wajahnya kasar.
Jangankan Alvian, keempat sahabatnya saja. Ikut merasa bersalah dan sakit hati. Setelah Denis melaporkan bahwa pengakuan dari penjaga keamanan yang mengatakan bahwa nona mudanya bukan pergi kuliah. Melainkan diusir dalam keadaan sakit dan hamil muda.
"Aku, aku tidak sanggup bila harus mengigat seperti apa Aya berjuang sendirian. Kalian semua tahu, dia tidak bisa bekerja apapun. Lalu bagaimana mungkin dia bisa membesarkan putriku sendiri. Sedangkan aku hidup dalam bergelimang harta," ucap Alvian yang sudah terlihat sangat kacau.
Tadi begitu mereka tiba di hotel. Alvian baru membuka pesan dari Denis yang berisi laporan tentang mantan kekasihnya. Makanya mereka semua mengetahui bahwa Ayara sudah diusir oleh keluarga Wilson sejak beberapa tahun lalu.
...BERSAMBUNG.....