
"Masuk!"
Suara bernada perintah dari dalam ruangan perlahan membuat pintu itu terbuka setelah suara ketukan ketiga terdengar. Dan terlihatlah Sisil di sana. Berdiri dengan pintu yang setengah terbuka sambil masih berdiri meragu.
Melihat putrinya yang datang, sudah pasti papanya terlihat senang. Pria paruh baya bernama Adrian Subrata itu bahkan sampai mengalihkan pandangannya dari layar komputer beberapa detik sampai akhirnya bersuara lagi.
"Kenapa berdiri aja? Ayo, masuk!" Ujarnya memberikan perintah.
Dengan langkah pelan namun pasti, Sisil akhirnya mulai melangkah masuk sebelum kemudian menutup kembali pintu di belakangnya.
"Mama nitip ini buat papa." Ucapnya sambil memberikan kotak makanan ke atas meja kerja di samping layar komputer.
Adrian tersenyum. Meraih kotak makan itu. "Terima kasih. Papa memang belum sempat sarapan tadi karena ada meeting penting pagi ini."
Sisil menyahutinya dengan gumaman. Namun tak urung matanya mengawasi setiap sudut ruangan tanpa terkecuali. Adrian yang saat itu menyadari langsung mengulas senyum simpul.
"Ini pertama kalinya kamu datang dan masuk ke ruangan ini, kan?" Sambil menggerakkan tangannya meraih gagang telepon.
Sisil mengangguk mengiyakan. Kemudian, mendudukkan dirinya ke atas sofa dekat dengan meja tempat papanya berada.
"Kamu mau minum apa? Biar papa pesankan buat kamu."
"Mmm.. ng-nggak usah, pa. Aku mau langsung ke kampus." Sahutnya dengan suara kaku namun sedikit lembut.
Papanya mengangguk. "Baiklah. Kalo gitu... papa akan suruh supir buat antar kamu." Sahutnya sambil meletakkan kembali gagang telepon ke tempat semula.
"Nggak usah, pa. Aku naik taksi aja." Sisil menyela dengan cepat.
Adrian mengawasi sikap putrinya yang mulai ada kemajuan pesat. Dia akui, semenjak tuntutan peraturan keras yang mereka terapkan pada Sisil, perlahan telah terlihat membuahkan hasil yang baik. Putrinya tidak banyak membantah, menjadi penurut meski kadang harus diawali dengan beberapa argumentasi lebih dulu sebelum membuat keputusan.
"Kamu yakin?"
"Iya,"
Adrian menghembuskan napasnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Lalu berucap sambil tersenyum dengan penuh rasa bangga.
"Papa senang dengan perubahan sikap kamu yang sudah sangat baik. Papa akan memberikan kembali fasilitas yang sudah papa ambil dari kamu. Tapi, itu bukan berarti kamu bisa kembali melakukan semuanya semau kamu tanpa aturan."
Adrian dapat melihat ekspresi Sisil yang sempat berbinar senang karena pengakuannya. Namun sesaat kemudian, ekspresinya berubah kembali tatkala mendengar dari kelanjutan kalimatnya yang terdengar tidak bisa diganggu gugat dan tidak ingin dibantah apapun alasannya.
"Peraturan papa dan mama tetap sama dan itu mutlak. Dan papa pastikan, kamu bisa menggunakan fasilitas kamu lagi secepatnya." Sambungnya lagi dengan kalimat penuh janji.
Sedikit cemberut, Sisil mencoba menjawab. "Iya, aku tau. Aku pastiin papa sama mama nggak akan dengar keluhan apapun tentang aku." Kepalanya menunduk malu dan tampak gugup. "A-aku akan berusaha jadi anak baik." Suaranya nyaris hilang dan tidak terdengar di akhir kalimat. Namun, ada sebuah ketulusan dan tekad baik dari sana. Hal itu membuat Adrian tersenyum puas yang disertai helaan napas lega.
Disela-sela suasana yang tercipta antara ayah dan putrinya, suara dering telepon memecah keheningan sesaat yang membuat Sisil sempat canggung. Tanpa disadari dia pun menghembuskan napas lega yang disamarkan.
"Baik. Suruh dia ke ruangan saya, ya."
Terdengar suara perintah yang diikuti sambungan telepon yang tertutup.
"Pa, sebaiknya.. aku langsung ke kampus aja karena udah hampir telat. Tapi sebelumnya... aku mau ke toilet dulu."
"Okay. Toiletnya ada di sudut itu. Kamu pakai aja, ya." Sambil menunjuk ke arah toilet yang dimaksud.
Setelahnya, sambil memberikan anggukan kepala, Sisil langsung bangkit dari sofa dan berjalan ke toilet. Tak selang beberapa saat, suara ketukan pun terdengar dari arah pintu.
"Ya, masuk!" Suara Adrian memberi izin.
"Good morning, om. Apa aku mengganggu?" Seseorang muncul di balik pintu yang masih setengah terbuka sambil melengkungkan sebuah senyum. Ya. Suara pria muda nan mapan yang begitu suaranya memasuki gendang telinganya, langsung bisa ia kenali.
Adrian begitu terkejut sekaligus senang melihat sosok pria tampan yang masih berdiri tegap datang berkunjung ke ruangannya. Dia pun bangkit dengan senyuman lebar yang tak kalah sumringah.
"Ah, James! Masuk, masuk. Ayo! How are you, Son? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau makin tampan seperti papamu, ya?" Dengan sedikit berkelakar, Adrian menyapa dengan ramah sambil menghela James untuk masuk ke ruangannya tanpa sungkan.
Ya! Pria tampan itu adalah James. Pemilik production house terkemuka, Andertainment House yang telah menerjunkan banyak kandidat dari banyaknya model yang memiliki bakat seperti Vika salah satunya.
"I'm good, om, thanks." Sahut James ramah begitu mendudukkan dirinya ke sofa.
"Mau minum apa? Kopi, teh, atau...."
"Nggak perlu repot-repot, om. Aku hanya sebentar, mau kasih ini untuk om dan tante." Perlahan, James mengambil sebuah kartu undangan yang dia keluarkan dari saku jas bagian dalam. Lalu memberikannya pada Adrian. "Dan aku harap, om dan tante bisa datang. Papa dan mama sangat berharap sekali dengan kedatangan kalian."
"Apa itu?" Adrian mengambil kartu undangan itu dan membacanya. "Anniversary pernikahan?"
James mengangguk. "Maka dari itu, papa menitipkan ini untuk om dan tante. Karena undangan ini hanya untuk kolega terdekat aja, jadinya nggak terlalu banyak orang yang akan datang."
"Oke. Sampaikan sama papa kamu, kami akan datang." Sahutnya memutuskan.
"Lalu... siapa calonmu, James?" Sambil melengkungkan senyum jenaka, tanpa basa-basi Adrian sengaja meledek James yang pastinya sudah pantas untuk memiliki tambatan hati.
James terkekeh, "masih belum, om. Mungkin... masih belum saatnya dipertemukan." Kelakarnya dengan jenaka.
"Masa pria mapan dan tampan sepertimu belum ada wanita yang menarik perhatian? Atau jangan-jangan... kamu yang masih belum menemukan kriteria?"
James terkekeh lagi. "May be.... that's a point?" Mereka tertawa bersama mendengar jawaban James.
"Pa, aku langsung ke kam......pus,"
Bersamaan dengan kalimat yang menggantung itu, suasana berubah hening saat kedua pasang mata saling beradu tatap antara James dan Sisil. Pun dengan eskpresi Adrian yang hanya memandangi keduanya secara bergantian tanpa mengatakan apapun dan hanya seulas senyum tipis yang terlihat di sana.
●●●
Meila berjalan menuju pintu saat didengarnya ada suara ketukan dari sana. Perlahan, dia membukanya dan terlihatlah seorang pria bertubuh tegap dengan berpakaian rapi langsung mengambil sikap sopan penuh hormat.
"Selamat pagi, nona. Tuan menitipkan ini untuk anda." Sambil memberikan sebuah bingkisan untuknya. "Tuan juga berpesan untuk tidak keluar rumah dulu sampai beliau kembali dari tugasnya."
Meila sempat merasa bingung. Namun, beberapa detik saat menerima bingkisan itu, dia langsung menyadari jika Dimas lah yang telah memberikan perintah pada pria yang dia ingat namanya adalah Henry.
"Baik. Terima kasih." Dengan senyum ramah Meila membalas.
Dan, Meila pun segera menutup pintu kembali dengan rapat sambil membuka bingkisan itu dengan ekspresi tidak sabar. Lalu, senyumnya mengembang ketika dia menemukan dua buah buku novel keluaran terbaru edisi terbatas. Baginya, novel bagaikan cokelat yang bisa membangkitkan moodnya dengan cepat. Meskipun begitu, bukan berarti dia tidak menyukai makanan manis itu, bukan? Hanya saja, Dimas telah mengingatkannya untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan karena bisa memicu asam lambungnya naik mengingat dirinya sempat memiliki gejala asam lambung yang diawali dengan demam tinggi beberapa waktu lalu.
Dengan cepat, Meila langsung meraih ponselnya dari saku dan mengetikkan sebuah pesan singkat sambil mengulas senyum. Setelahnya, dia melihat kembali novel itu dan meletakkannya ke dada, memeluknya, seakan tidak sabar untuk segera membacanya.
Sementara di tempat lain, Dimas baru saja selesai memimpin rapat yang dihadiri oleh beberapa kolega penting untuk proyeknya.
"Baik. Saya kira cukup untuk meeting hari ini. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya, dan semoga proyek kita berjalan lancar tanpa ada kendala."
Dimas mulai merapikan layar laptopnya. Lalu, seseorang menghampirinya dan mengeluarkan kalimat pujian untuknya.
"Wah! Alex, kamu seperti papamu. Sangat kompeten dan berwibawa. Sudah seharusnya kamu ikut menangani perusahaan ini."
Mendengar dirinya dipuji, tentunya tidak membuat Dimas besar kepala. Dia hanya tersenyum menyikapinya.
"Papa hanya memberiku wewenang untuk memimpin meeting ini kalau-kalau memang tidak ada seseorang yang dirasa belum pas untuk memimpinnya. Aku masih merasa belum pantas untuk memimpin di perusahaan ini. Lagipula... aku masih harus mengejar skripsiku yang masih belum terselesaikan." Sahutnya dengan berusaha tetap bersikap ramah.
Seseorang itu mengangguk paham. Lalu, sambil mengangkat tangannya dan memegang bahu Dimas, orang itu berucap lagi.
"Baik, kalau begitu. Sukses untuk skripsimu, Alex. Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini."
Dimas tersenyum. "Terima kasih untuk pujiannya, om. Aku akan jadikan itu sebagai motivasi."
Percakapan itu terputus ketika ada suara ketukan hingga akhirnya muncullah sosok Henry seperti ingin melapor pada atasannya jika tugas yang diberikan sudah ia jalankan.
"Baik. Kamu lanjutkan, ya. Saya akan kembali ke ruangan." Ucap seseorang yang Dimas kenal bernama Harris itu. Sementara Dimas hanya mengangguk dengan sikap hormat.
Setelah Harris keluar dari ruang rapat, saatnya Henry berjalan mendekati Dimas. Memberikan sikap sempurna penuh hormat padanya.
"Saya sudah memberikan bingkisan itu pada nona dan menyampaikan pesan seperti yang tuan perintahkan."
"Situasi di sana aman, kan? Tidak ada yang mencurigakan selama saya nggak ada?"
"Sesuai yang saya lihat tidak ada yang mencurigakan. Nona juga terlihat baik-baik saja. Saya juga sudah menempatkan beberapa keamanan untuk berjaga-jaga dengan jarak yang cukup dekat dari halaman."
Dimas mengangguk dengan tegas. "Baik. Terima kasih. Kamu boleh kembali dan selesaikan tugasmu, Henry."
Henry langsung mengundurkan diri dan keluar dari ruangan rapat. Setelah dilihatnya Henry sudah meninggalkan ruangan, dia hampir lupa jika tadi, ada sebuah pesan di ponselnya saat rapat baru akan berakhir. Dan akan terlihat tidak etis jika dia dengan egoisnya membuka pesan karena itu akan terlihat tidak sopan.
Dimas mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Dan ternyata, Meila lah yang mengiriminya. Senyumnya langsung mengembang seketika dan rasa rindu langsung menyerang tiba-tiba. Baru tiga jam mereka berpisah, rasanya seperti seharian penuh belum melihat wajahnya. Dimas berpikir pasti Meilanya sudah cantik dan segar. Ditambah dengan aroma bayi yang menguar dari tubuhnya dengan senyuman manis yang membuatnya gemas tidak tahan untuk menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil nan lembut ke pipinya.
Mencoba meredam perasaannya, Dimas membuka pesan itu dengan isi pesan yang membuatnya semakin melebarkan senyuman.
"Thank you buat novelnya. Karena terlalu senang, aku langsung membacanya sambil ditemani camilan yang kemarin kita beli bersama di supermarket. Aku akan tunggu kamu di rumah. Semangat meetingnya! Hihi♡."
Membaca pesan dari Meila, membuat kerinduan Dimas semakin bertambah. Apalagi pada kalimat yang menjelaskan jika Meila akan menunggunya dirumah, itu membuat Dimas senang karena Meila sudah menganggap itu adalah rumahnya sendiri. Dan Dimas sangat bahagia diikuti dengan jantung yang berdetak cepat. Perasaannya membuncah tidak menentu, seakan dia membayangkan jika dirinya telah menjadi pasangan suami istri. Dengan dirinya sebagai suami dan Meila sebagai istri yang setia menunggunya pulang dari kantor. Dan itu membuatnya ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke rumah di jam makan siang seperti janjinya pada Meila, dan dia juga akan mengajaknya keluar untuk makan siang bersama.
●●●
Suara wanita dari sudut ruangan yang tiba-tiba muncul membuat keduanya menoleh bersamaan. Terlebih lagi dengan Sisil yang begitu terkejut dan tidak menyadari jika ada orang lain selain dirinya dalam ruangan itu.
Sesaat, Sisil sedikit tertegun melihat James. Pria yang tadi telah menabraknya di depan meja resepsionis tanpa meminta maaf. Dan itu membuat kekesalan Sisil bangkit kembali.
Tak bedanya dengan James, dia sedikit mengulas senyum tipis guna menyamarkan keterkejutannya melihat wanita cantik namun juga ketus yang ternyata adalah putri dari Adrian, terdengar dari cara Sisil memanggilnya dengan sebutan 'papa' padanya.
"Sisil, kemari nak. Perkenalkan, dia James. Putra dari teman papa."
Seolah tidak mau membuang waktu dan membuat papanya menunggu, dengan langkah pelan yang sedikit malas Sisil mendekat dan berdiri di samping Adrian.
Dengan penuh percaya diri, James langsung berdiri, mengulurkan tangannya sambil memasang wajah meledek yang disamarkan. Sengaja menunggu Sisil membalas jabatan tangannya sebagai tanda perkenalan mereka, sekaligus membuat Sisil semakin kesal hingga tanpa sadar menggertakkan giginya.
Sementara Adrian, melihat Sisil hanya diam tanpa menjabat tangan James, dia kembali menegur Sisil hingga mau tak mau putrinya mengulurkan tangannya dengan wajah malas.
"James,"
"Sisil," ucapnya dengan nada ketus yang disamarkan. Pun disertai kedua bola mata yang berputar malas.
"Sisil, jangan bicara ketus begitu, nak. Nggak sopan." Adrian berucap dengan nada mengingatkan.
James hanya tersenyum renyah diikuti kalimat yang berhasil menyentil Sisil.
"It's okay, om. Mungkin ada seseorang yang udah membuatnya kesal."
"Iya! Orangnya itu elo!" Gumam Sisil dalam hati. Kedua mata Sisil bahkan hampir membelalak karena kesal sampai kedua tangannya mengepal.
"Nah, Sisil, kamu bilang udah telat ke kampus, kan? Gimana kalo James yang antar kamu? Jadi nggak perlu nunggu taksi lama-lama, kan?"
Kedua mata Sisil akhirnya membelalak sempurna karena tidak menyangka jika papanya akan dengan sengaja berkata seperti itu.
Seolah tidak perlu menunggu keputusan Sisil untuk menjawab, Adrian sudah dengan cepat meminta pendapat James sambil menolehkan kepalanya. "Bagaimana James? Kamu nggak keberatan, kan?"
Memang dasar James adalah pria half-british yang ramah pada semua orang yang dikenalnya, dia hanya tersenyum renyah disertai anggukan kepala yang diikuti kalimat persetujuan.
"No problem, om. Aku nggak keberatan. Tapi mungkin... putri om yang akan merasa keberatan nanti?" Jawabnya dengan kalimat yang terdengar meledek sambil memainkan lirikan matanya pada Sisil.
Sekarang giliran Adrian yang menoleh pada putrinya. "Kamu nggak keberatan kan, Sisil? Bukannya kamu juga harus mengumpulkan tugas tepat waktu pada mata kuliah pertama nanti?"
"Ng-nggak usah, pa. Aku naik taksi aja. Aku nggak mau ngerepotin orang lain hanya karena aku."
"Bagi kamu, saya memang orang lain karena kita baru bertemu. Tapi, saya sudah mengenal om Adrian cukup lama. Kami sering mengadakan pertemuan makan malam bersama antar keluarga. Jadi... nggak ada salahnya jika kita saling mengenal, kan?" James menyela dengan memasang wajah santai dan juga ramah. Seolah sengaja telah melupakan kesalahannya.
Apa-apaan kalimatnya itu. Bikin gue makin kesal aja! Rasanya gue pengen cakar-cakar muka sok gantengnya itu!
Kedua mata Sisil menyipit seolah tidak percaya jika pria yang telah membuatnya kesal sedang berusaha mengambil kesempatan darinya.
"Itu benar, Sisil. Nggak ada salahnya kalian saling mengenal. Biarkan James mengantarmu. Atau... kamu mau nilaimu jelek hanya karena telat mengumpulkan tugas, hm?"