
"Itu semua ulah lo, kan?" Dimas bertanya dengan nada ironi.
Kedua pria itu, Dimas dan Rendy sedang memisahkan diri di kebun belakang kampus yang menghubungkan dengan bagian belakang kantin. Mereka sedang meneguk soft-drink di tangan dengan laptop yang diletakkan didepannya pada sebuah meja berukiran kayu layaknya gazebo.
Mendengar pertanyaan Dimas dengan lantang dan spontan sudah tentu membuat Rendy tergelak lepas dengan raut wajah yang menjelaskan jika memang dialah pelakunya.
"Nggak, nggak! Lo nggak perlu jawab. Jangan jelasin apapun ke gue! Dari cara lo ketawa udah bisa ngejawab pertanyaan gue." Seolah sudah terbaca, Dimas segera menyergah pertanyaannya sendiri dengan sebuah jawaban yang dibuatnya sambil mengibaskan tangannya.
"Ya...." Rendy mulai menyahuti, diselipi dengan helaan napas sesaat.
"Semua berawal setelah gue tanpa sengaja dengar pengakuan Vika ke Meila kemaren siang di perpus."
Dimas mengernyitkan alisnya terkejut, "jadi lo udah dengar semuanya, dan tanpa sengaja nguping pembicaraan mereka?" Ucapnya dengan nada menyindir yang kental.
Rendy mengangguk, "nggak heran sih kalo lo udah tau. Karena adek gue pasti cerita ke elo." Sahutnya menyeringai.
Dimas tersenyum ironi disertai dengusan kecil, "pacar gue yang polos itu dengan sukarela udah cerita semuanya tentang Vika ke gue. Karena Vika berpesan ke Meila buat jangan cerita ke lo dulu sampai dia benar-benar siap. Tapi Meila pikir, dia nggak pernah janji buat nggak cerita ke gue. Dan akhirnya.... lo tau sendiri kelanjutannya." jawabnya diselipi kekehan.
Rendy ikut terkekeh geli, "adek gue itu emang polos dari dulu. Makanya gue paling takut kalo dia di deketin cowok yang cuma manfaatin kepolosannya itu." Ucapnya dengan jujur. "Tapi... kalo cowoknya itu elo, gue sih nggak perlu khawatir lagi."
Keduanya sama-sama terkekeh, begitupun juga dengan Dimas yang tidak memungkiri perkataan Rendy. Sementara Rendy, sangat tahu benar jika Dimas akan selalu melindungi Meila, terlihat dari jauhnya hubungan mereka selama ini.
"Udah, udah. Kenapa jadi ngomongin hubungan gue sama Meila?"
"Ya lo juga, ngapain pake nanggepin segala?!" Rendy tergelak puas.
"Jadi intinya, lo sama Vika udah baik-baik aja, kan? Nggak ada
kesalahpahaman lagi?"
Rendy tidak menjawab, namun anggukan kepala yang disertai senyum tipisnya sudah menjawab semuanya.
"Gue cuma berusaha memperbaiki semuanya, Dim. Gue nggak bisa buat kehilangan dia lagi. Yang terpenting saat ini adalah, gue sama dia mencoba menapaki hubungan kita untuk saling terbuka, menerima, dan memahami segalanya berdasarkan kejujuran. Karena kejujuran adalah kunci utama dari sebuah hubungan." Pungkas Rendy dengan penuh percaya diri.
Hal itu membuat Dimas tergelitik untuk melontarkan kalimat ejekan. Namun, sebelum Dimas berhasil mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba terlihat dari kajauhan sosok Meila yang berjalan mendekati mereka dengan membawa beberapa berkas tugas yang harus diberikannya pada Rendy.
"Haaahh... akhirnya ketemu kak Rendy!" Meila tampak mendesah kasar dan berseru, wajahnya terlihat kelelahan. "Aku cari-cari, nggak taunya di sini." Ucapnya dengan bibir merengut.
"Jadi kamu cuma cari Rendy aja? Akunya nggak?" Dimas menyahut dengan menyela Rendy yang baru akan membuka mulutnya.
"Bukan gitu." Meila menyergah. "Aku mau ngasih berkas ini sama kak Rendy karena membutuhkan persetujuannya dan tanda tangannya." Sambil memberengutkan bibirnya, Meila menjawab dengan sedikit kesal.
"Mana sini aku liat," sambil terkekeh, Rendy meminta berkas di tangan Meila untuk diletakkan di sampingnya.
"Kemari, duduk dulu." Ajak Dimas seketika sambil menarik tangan Meila untuk duduk disebelahnya. Tepatnya, duduk diantara Dimas dan Rendy.
"Kamu abis ngapain sih, Sayang? Keliatan lelah banget sampe keringetan kayak gini?" Sambil membawa tangannya mengusap keringat yang ada di dahi Meila dengan lembut.
"Aku cari kak Rendy ke ruang senat nggak ada. Ke perpus juga nggak ada. Aku sempat ke kantin, tapi nggak ada juga. Lalu aku tanya sama anggota lain yang lagi sibuk ngerjain mading di ujung persimpangan koridor, katanya kalian ada di sini. Yaudah, aku ke sini sambil lari-lari takut kalian kabur lagi." Jawabnya dengan jujur setengah bersungut.
"Jangan kesempatan ya, kalian. Ada gue di sini!" Ucap Rendy bernada menyindir tanpa menoleh, membuat Dimas dan Meila mengernyitkan alisnya secara bersamaan.
"Aku nggak ambil kesempatan, kok. Aku lagi duduk di samping kamu juga, kan?" Sahut gadis itu polos.
Dimas terkikik geli, tidak tahan untuk tidak mengusak rambut kepala gadisnya dengan gemas. Mereka tergelak bersama sampai tidak menyadari ada sepasang mata yang tanpa sengaja melihat kebersamaan mereka dari kejauhan.
"Oh! Lihatlah mereka! Kayak nggak ada tempat lain aja buat bermesraan! Ngerusak pemandangan!"
Itu adalah Sisil. Dia tanpa sengaja melihat pemandangan yang membuatnya kesal dan tidak tahan untuk tidak mengeluarkan kalimat bernada ejekan. Namun, tidak seperti sebelumnya yang menatap dengan tatapan dengki, kali ini tatapannya lebih kepada kesal tapi cuek. Terlihat dari caranya memandang dan berucap, setelahnya langsung berjalan kembali mencari jalan lain untuk menjauh agar tidak
melintas di depan mereka.
●●●
James baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya saat sebuah ketukan dibalik pintu terdengar. Sambil memposisikan dirinya dengan nyaman, dia bersuara.
"Masuk!"
Perintahnya dengan tegas, dan tidak lama pintu pun terbuka. Menampilkan sosok resepsionis bernama Desi yang memasuki ruangannya dengan membawa beberapa berkas di tangan.
Dengan sopan, Desi mulai meletakkan berkas di tangannya ke hadapan James. "Maaf, pak. Saya membawa beberapa berkas kontrak untuk nona Vika setujui. Sebelum saya memberitahunya, saya meminta pendapat bapak dulu untuk membacanya, berhubung nona Vika sedang dalam kondisi cuti dari jadwal pemotretan." Ucap Desi menjelaskan dengan nada hati-hati.
James mulai membuka lembar demi lembar berkas itu, membacanya serta meneliti setiap poin-poin kontrak perjanjian yang harus disetujui oleh Vika. Beberapa saat, tidak ada jawaban dan pendapat darinya. Namun, sesaat kemudian suaranya terdengar sambil memutuskan.
"Desi, kamu hubungi mereka dan beritahu jika Vika belum bisa menerima kontrak ini. Jika mereka menolak, mereka bisa membatalkannya atau mencari model lain. Namun, jika mereka tetap meminta Vika sebagai modelnya, tunggulah sampai satu minggu kedepan sampai aku memberitahu kapan Vika akan memulai proses syuting kembali."
"Baik, pak." Jawab Desi dengan patuh.
Sambil memberikan berkas itu kembali kepada Desi, James berucap kembali dengan nada mengingatkan.
"Ingat, jangan katakan apapun jika Vika sedang beristirahat dari pekerjaannya. Kamu mengerti?" James berucap dengan nada tegas khas seorang CEO. Sementara Desi menunduk patuh akan semua yang diperintahkan James kepadanya.
Setelahnya, resepsionis itu undur diri dari ruangan James sebelum kemudian memberi hormat dengan setengah membungkukkan badannya. Meninggalkan James yang langsung mengalihkan pandangannya pada laptop di atas meja kebesarannya.
●●●
Setelah menemui dan meminta persetujuan Rendy tadi, Meila kembali ke perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya kemarin. Menyusuri lorong rak-rak kayu yang menjulang tinggi yang dipenuhi dengan berbagai jenis, ukuran, beserta judul yang tersusun rapi.
Dengan perlahan, Meila mulai mengangkat tangannya, akan meletakkan buku yang dipinjamnya ke bagian rak yang sudah semestinya diletakkan. Namun, saat tangannya hanya beberapa senti lagi menyentuh rak itu, sebuah suara dan tangan asing menariknya dengan sedikit kasar dan nyaris membuatnya terperanjat kaget.
"Jangan taruh disitu! Lo nggak liat raknya udah sedikit keropos? Atau lo akan tertimpa rak besar ini nanti. Lo nggak mau kan, badan lo yang kecil ini remuk?"
Itu adalah suara Sisil. Meski terdengar ketus dan kasar dalam nadanya, tetapi terselip nada peringatan yang dibalut oleh nada perhatian di sana.
Sedikit tertegun, Meila menoleh ke arah sumber suara, lalu bergantian menolehkan kepalanya pada rak dan mengawasi bagian yang keropos itu. Dan benar saja, bagian keropos itu memang tidak terlihat, tapi cukup besar jika diperhatikan dengan lekat.
"T-terima kasih, Sisil. Aku nggak tahu kalo rak itu udah sedikit keropos."
Ucap Meila dengan tulus, tampak senyum terpasang di bibirnya. Bahkan tangannya pun masih dipegangi oleh tangan Sisil tanpa gadis itu sadari.
Mendapat ucapan terima kasih yang tulus dari Meila, seketika membuat Sisil salah tingkah dan tergeragap saat menyadari jika tangannya masih betah memegangi pergelangan tangan Meila.
Dengan gerakan cepat, Sisil melepaskan pegangan tangannya sambil memasang wajah malas seraya bergumam.
Karena salah tingkah, Sisil akhirnya mendumel tidak jelas sambil berjalan, berbicara sendiri akan maksud tujuannya datang ke perpustakaan.
"Gara-gara ngingetin lo, gue jadi lupa buat balikin buku yang gue pinjam juga," terdengar decakan dari bibirnya. Namun itu tidak membuat Meila tersinggung, justru sebaliknya. Gadis itu tersenyum sambil mengikuti pergerakan langkah Sisil dengan kedua matanya hingga berhenti ke bagian rak yang hanya berselang lima sampai tujuh langkah darinya.
Tanpa berpamitan pada Meila, Sisil langsung berjalan menuju pintu keluar. Menyelonong pergi tanpa membuka pembicaraan lagi pada Meila yang sudah membalikkan badannya. Namun, tanpa diduga suara ketus itu terdengar kembali dengan nada peringatan sekaligus perhatian disaat yang bersamaan.
"Jangan bilang gue nggak pernah ngingetin lo, nanti! Gue cuma berusaha mencegah kegaduhan yang akan ditimbulkan jika rak-rak itu tiba-tiba roboh tanpa ada yang terluka."
Pernyataan Sisil yang tiba-tiba membuat Meila menoleh kembali, memperhatikan raut wajah Sisil yang terlihat dingin namun juga ketus.
Tidak ada lagi rasa jijik dari tatapannya. Yang ada hanya ekspresi wajah datar dengan bola mata yang memutar ke segala arah tanpa tertuju pada lawan bicara.
Setelah mengeluarkan pernyataannya, Sisil langsung kembali berjalan keluar meninggalkam Meila seorang diri dengan senyuman tipis nan tulus, lebih kepada senyuman lega karena pertama kali melihat perubahan sikap Sisil padanya. Mengingat perkataan Sisil membuatnya menggumamkan kalimat penuh kelegaan dan rasa bahagia yang tidak bisa ditutupi.
"Terima kasih, Sisil." Ucapnya disertai helaan napas lega nan bahagia.
●●●
Seperti biasa dan tidak akan pernah berubah, Meila sedang berdiri di depan kaca pembatas besar penghubung di antara balkon dan kebun belakang. Menatap langit rupanya sudah menjadi saat yang paling menyenangkan dan masuk ke dalam daftar wajib di kesehariannya.
Dengan mata menyalang dan berbinar, serta pakaian serba hangat yang mampu menghalau dari suasana dingin yang mendera dikarenakan cuaca mendung sejak sore tadi. Mengakibatkan sebagian langit dan bintang tertutup awan gelap nan mendung hingga nyaris tidak terlihat. Tapi hal itu tidak semendung perasaannya. Perasaannya begitu bahagia, merasa lega sekaligus lepas. Entah karena suasana yang begitu dingin menyejukkan ataupun karena hatinya merasa lega karena sikap Sisil yang mulai membaik padanya.
"Sesuai perkiraan aku. Gadis mungil ini pasti lagi berdiri di depan jendela dengan mata menyalang dan wajah mendongak penuh binar. Benar, bukan?"
Suara Dimas yang baru memasuki kamar membuat Meila menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. Menoleh ke belakang sambil tersenyum lebar.
"You really know me so well, kak." Meila menyahuti dengan suara lembut khasnya.
Sambil berjalan mendekat, Dimas berucap dengan nada memancing.
Berhenti di samping Meila dengan tangan merangkul ke bahu mungil gadis itu dan menariknya untuk merapat. Bibirnya bergerak mengecupi pelipis gadisnya seraya menghirup aroma rambutnya yang harum.
"Aku perhatiin, wajah kamu sejak pulang tadi begitu bahagia." Dimas berucap dengan bibir yang menggesek. Lalu memiringkan wajahnya dan menyambung kembali. "Ada apa? Ada sesuatu yang membuat kamu senang di kampus?"
Pertanyaan Dimas itu membuat senyum di wajah Meila semakin melebar. Namun, bukannya menjawab, Meila malah melingkarkan lengannya pada pinggang Dimas, memeluknya serta bersandar dengan nyaman ke dadanya.
Melihat Meila yang bermanja padanya, membuat Dimas terkekeh tanpa suara sambil merangkul tubuh mungil gadis itu, mengusap punggungnya dengan usapan lembut tak terkira.
"Kak Dimas, aku udah pernah janji sama kamu kalo aku nggak akan lagi nutupin apapun dari kamu." Ucapnya tiba-tiba, sementara Dimas memasang senyum mendengar ocehan Meila. "hari ini ada kejadian langka di perpustakaan yang membuat aku bahagia." Sambungnya kemudian dengan posisi masih bersandar manja di dada bidang pria itu.
Sambil mengecupi puncak kepala Meila, Dimas menjawab dengan suara pelan dan juga tenang.
"Apa itu?" Tanya Dimas.
"Kamu tau, kak, tadi Sisil mencoba menyelamatkan aku dari bahaya yang aku nggak sadari sama sekali. Padahal, jelas-jelas bahaya itu di depan mata aku."
Mendengar pengakuan Meila, gerakan usapan tangan di punggung gadis itu sempat terhenti sesaat, tetapi kemudian bergerak kembali dengan gerakan seirama nan menenangkan.
"Oh, ya?" Sambil menjauhkan Meila dari pelukannya, Dimas bertanya dengan wajah tidak percaya dan penuh penekanan. Namun intonasinya tetap tenang. "Kamu nggak salah tangkap sama sikapnya, kan?"
Sambil menggeleng, dan kepalanya bergerak untuk menengadah ke arah Dimas. Memasang ekspresi tenang dan wajah meyakinkan.
"Iya, kak. Aku serius." Sahutnya dengan semangat, kemudian menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. "Aku tau kamu pasti nggak akan percaya begitu aja. Tapi itu terjadi, kak. Saat aku akan menaruh buku ke rak yang semestinya aku letakkan, tiba-tiba aja tangan aku ditahan sama Sisil. Aku sempat kaget. Nggak taunya dia sedang mengingatkan aku untuk nggak menaruh buku yang aku pegang ke bagian rak yang udah sedikit nggak layak karena bagian rak itu ternyata keropos dan celah-celahnya juga sedikit terbuka." Meila menjelaskan dengan sikapnya yang khas. Dia berusaha memberikan keyakinan pada Dimas karena dia tau jika Dimas pasti tidak begitu saja dengan mudahnya percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dimas menghela napasnya sejenak, dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan gadisnya. Meila rupanya sedang memberitahunya jika sekarang Sisil mulai berubah padanya. Tapi, bukan berarti Dimas akan membiarkannya dengan melepas Meila bergaul padanya begitu saja.
Perlahan, sambil menaruh kedua tangannya ke kedua bahu mungil
Meila dengan setengah membungkuk, Dimas pun mulai berucap.
"Sayang, kali ini aku nggak akan mengatakan apapun mengenai pendapat aku tentang kejadian hari ini yang berhubungan dengan Sisil.
Tapi, bukan berarti aku juga nggak peduli dengan keadaan sekitar kamu yang sebelumnya saling berkaitan. Aku akan tetap memantau setiap perkembangannya. Entah itu Sisil atau siapapun. Selama itu nggak menyakiti atau melukai kamu, aku nggak akan bertindak dan hanya akan memperhatikannya. Mulai sekarang, kamu bisa menilai dan merasakan sendiri keadaan di sekitar kamu. Yang mana yang tulus ataupun hanya pura-pura. Aku akan selalu di samping kamu apapun keputusannya."
Dengan perkataan lembutnya yang penuh pengertian, seketika telah membuat hati Meila menghangat karena Dimas yang selalu mendukung apapun keadaannya. Dia pun tersenyum, seraya menggenggam tangan Dimas dengan erat.
"Aku nggak salah karena telah menceritakannya sama kamu. Karena aku tau, kak Dimas pasti akan mengatakan apapun yang mampu membuat perasaan aku tenang. Kamu tau, selain perasaan bahagia dan lega, aku juga merasa sangat beruntung karena reaksi kak Dimas yang jauh lebih baik dari yang aku duga."
Mendengar pengakuan Meila yang polos, seketika membuat Dimas mengernyitkan alisnya penasaran untuk bertanya dengan menggoda.
"Emangnya kamu menduga apa dari aku?"
"Aku pikir tadinya kamu nggak akan percaya dan marah karena aku tanpa sengaja udah melakukan kontak dengan Sisil. Aku ingat reaksi kamu saat kemarin itu, kak. Tapi akhirnya aku nggak bisa buat nggak cerita sama kamu karena aku udah janji sebelumnya." Ucapnya jujur.
Pengakuan polos dan jujur Meila justru membuat Dimas terkekeh dan menariknya ke dalam pelukannya. Menciumi puncak kepalanya dengan penuh perasaan dan sayang.
"Kamu tau, selain polos, kamu itu juga cerewet!" Sergahnya sambil memeluk Meila erat. "Tapi, apapun itu aku tetap suka. Mau Meila yang polos, manja, ataupun cerewet, aku akan tetap suka semuanya."
Mendengar perkataan Dimas, Meiila terkikik geli dalam pelukannya. Dia tidak lupa untuk mengeratkan lengannya ke punggung kokoh Dimas.
"Aku sayang kamu, kak." Ucap Meila dengan suara yang teredam di balik dada Dimas.
"Aku tau, Sayang." Sahutnya lembut disertai kecupan mesra ke pucuk kepalanya.