A Fan With A Man

A Fan With A Man
Benteng Perlindungan



Ditengah perjalanan pulang, tampak James yang sedang fokus menyetir sesekali membawa pandangannya pada Sisil yang lebih memilih diam dan mengalihkan pandangannya ke jendela. Ekspresinya lebih tenang dan diam. Tetapi dalam suasana yang damai dan tentram.


"Kamu terlihat jauh lebih tenang sekarang. Apa saja yang kalian bicarakan?"


Sisil spontan menoleh pada James dengan ekspresi acuh yang disengaja. Seolah sedang membantah dugaan James yang menyebutnya merasa jauh lebih tenang setelah meminta maaf. Meski memang, dirinya tidak bisa berbohong tentang dugaan itu. Tetapi Sisil berpikir untuk tetap mengontrol perasaannya lebih dulu sebelum dia benar-benar mau meledak karena mulai merasakan kelegaan di dadanya.


"Kita cuma membicarakan masalah perempuan. Nggak etis kalau seorang pria mengetahuinya." Jawab Sisil dengan sengaja.


James menanggapinya dengan santai. Dengan raut wajah sumringah yang tidak dia tutupi dari Sisil.


"Baiklah. Mungkin aku tidak perlu tau. Tetapi.... ada satu hal lagi yang sepertinya harus kamu lakukan agar semuanya benar-benar plong. Tanpa ada ganjalan lagi yang tersisa." Ujar James seperti sedang berteka-teki.


Sisil pun menatap James dengan wajah heran disertai kepala yang sedikit memiring ke kiri. "Apa lagi? Aku udah meminta maaf sama dia. Terus apa lagi yang harus aku lakuin, James?"


James hanya tersenyum tanpa suara hingga menimbulkan kecurigaan dari Sisil.


"Kamu akan tau nanti." Sahut James dengan kalimat teka-tekinya yang semakin membuat Sisil menyipitkan kedua matanya pada James.


●●●


Mobil itu mulai memasuki pekarangan sebuah gedung tua yang pembangunannya tampak terbengkalai. Hanya berdiri tiang-tiang pondasi kokoh di sisi kiri dan kanannya yang menjulang tinggi dari gedung bersepuluh lantai itu. Tidak ada perumahan atau gedung-gedung lain yang berdiri di sekitarnya. Hanya sebuah lahan kosong yang sangat luas yang ditumbuhi rerumputan liar tinggi yang tidak terawat hingga nyaris seperti semak belukar.


Ketika tadi memasuki kawasan dengan gang yang kecil dan sepi, Sisil mulai merasa curiga pada James yang tiba-tiba membawanya ke tempat asing yang belum pernah dia lihat ataupun kunjungi. Lokasi yang sangat asing yang membuatnya segera menolehkan kepalanya pada James hingga menaruh curiga. Namun tetap saja, James tidak menghiraukannya dan tetap fokus menyetir tanpa merasa terganggu karena tatapan Sisil yang seolah sedang menuduhnya dengan kejam.


Dan setelah mereka melewati gang kecil yang menembus ke sebuah lahan kosong yang dimana terdapat gedung terbengkalai tanpa ada siapapun yang berjaga, ataupun rumah-rumah penduduk yang mendiami lokasi tersebut, barulah Sisil membuka suaranya.


"Kita dimana? Kenapa kamu bawa aku kesini?"


James yang sedang menarik rem tangan karena baru selesai memarkirkan mobilnya, seketika tersenyum diikuti dengan sebuah jawaban singkat.


"Kamu akan tau sebentar lagi. Ayo, kita turun dulu."


James langsung keluar dari mobilnya tanpa mempedulikan ekspresi Sisil yang mulai sedikit kesal. Lalu memutari setengah mobilnya dan membukakan pintu untuk Sisil yang sedang memasang ekspresi sebal padanya. Tetapi meski demikian, tak urung Sisil tetap membawa kakinya melangkah keluar mobil hingga menapaki tanah. Dibantu oleh James yang langsung memegang tangannya erat untuk mengikutinya memasuki area gedung dengan hati-hati.


"Sebenarnya kita mau ngapain sih, James? Ini bukan akal-akalan kamu aja, kan?"


James kembali terkekeh tanpa menghiraukan ocehan Sisil yang menurutnya lucu. Karena tidak adanya tembok penjaga di sisi kanan dan kirinya, James terus menuntun Sisil dengan menggandengnya erat ketika menaiki anak tangga yang menghubungkan ke tiap lantainya. Bahkan tak jarang James juga mengingatkan Sisil untuk berhati-hati ketika akan melangkah.


Dan tanpa terasa, mereka akhirnya sampai di penghujung lantai paling atas yaitu lantai 10 gedung yang terpasang oleh tiang pondasi yang kawat-kawat besinya masih menganga. Dari sana terlihat jelas pemandangan bawah lapangan luas yang penuh dengan rumput belukar yang tidak terawat.


"Kamu lihat, disini sangat sepi. Tidak ada seorangpun disini. Kamu bisa teriak sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan perasaan mengganjal kamu yang masih tersisa. Luapkan amarah kamu, kekesalan kamu, kesedihan kamu, kebahagiaan kamu. Apapun itu! Keluarkan teriakanmu sekencang-kencangnya, Sisil."


"Jadi kamu ngajak aku kesini cuma buat teriak-teriak? Kamu aneh, James! Aku nggak mau, aku mau pulang." Sisil menolak saran yang diberikan James dan mulai berbalik badan. Tetapi, ketika baru akan melangkah, James menahannya lebih dulu hingga membuat langkahnya terhenti.


James langsung menarik Sisil ke ujung gedung dan berdiri tegak. "Seperti ini. Aaaaaaaaaaaaaaaa!" Lalu menengok pada Sisil yang sedang melihatnya dengan ternganga. "Ayo, sekarang giliran kamu."


"Kamu gila, ya? Orang-orang bisa mendengar teriakan kamu!" Ujar Sisil bernada peringatan yang kental.


"Aku sudah bilang, disini tidak ada siapapun. Tempat ini jauh dari pemukiman. Kamu bebas teriak disini. Ayo, coba lakukan!"


"Ng-ngak mau," Sisil masih menolak.


"Kamu nggak perlu malu, Sisil. Disini tidak ada siapa-siapa yang akan mendengarmu." James mulai memancing Sisil agar terpengaruh olehnya.


"Siapa yang malu? Aku akan buktiin ke kamu kalau teriakanku gak kalah kencang dari kamu!" Sisil berujar menantang. Dia mulai terpancing dengan kata-kata James yang memprovokasinya.


Perlahan, Sisil berjalan maju sampai baris aman yang menyisakan tiga langkah darinya berdiri. Lalu, dia mulai menarik napasnya panjang sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


"Aaaaaaaaaaaaaaa!" Sisil mulai berteriak kencang namun masih tertahan.


James menyunggingkan senyumnya dan berdiri belakang Sisil. Memperhatikannya dengan melipat kedua tangannya ke dada. "Lebih kencang lagi, Sisil. Itu belum seberapa. Ayo, keluarkan suaramu!"


"Aaaaaaaaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaaaaaa!"


"Terus, Sisil. Lebih kencang lagi. Tidak ada yang akan mendengarmu."


"Aaaaaaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaaaaaa!"


Sisil terus meneriakkan suaranya dengan kencang. Membayangkan kejadian pilu nan menjijikkan yang seolah tidak mau membiarkannya lepas dari bayang-bayang itu begitu saja. Kejadian itu terlintas begitu nyata di ingatannya. Begitu juga dengan perbuatan jahatnya di masa lalu dengan dibayang-bayangi wajah Adrian dan Riana yang begitu hangat menerimanya. Tangannya semakin kuat mengepal hingga urat-urat di lengannya terlihat jelas. Wajahnya langsung memerah ketika teriakan demi teriakan keluar dari mulutnya hingga menampakkan urat lehernya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaaaaaaaaa!"


Hingga tanpa disadarinya, napasnya terengah dengan wajah merah matang dan air mata yang menggenang. Sampai suara teriakannya terdengar bergetar dan berubah melemah hingga serak.


Tubuh Sisil langsung melemas. Dan James pun langsung sigap menangkapnya. Sisil jatuh ke dalam pelukan James dan langsung menangis sejadi-jadinya. Memegangi lengan James dengan erat seakan sedang memohon untuk jangan meninggalkannya sendirian.


"Aku mau lepas dari semuanya, James..." Sisil berujar sendu ditengah-tengah tangisnya. "Bantu aku..... bantu aku, James. Aku mohon...." imbuhnya lagi dengan suara sendu dan memelas.


James langsung memeluk Sisil dengan erat. Membawa perempuan itu ke dalam perlindungannya yang hangat. "Aku akan melindungimu, Sisil. Aku akan membebaskanmu dari ancaman laki-laki itu. Jangan pernah berpikir lagi kalau kamu sendirian. Mulai sekarang, aku akan bersamamu. Kita akan hadapi semuanya sama-sama. Oke?"


Sisil yang masih terisak tampak begitu kalut di dalam pelukan James. Dia terus terisak sambil mendengarkan ucapan James yang samar-samar karena kalah keras dengan isakannya. Tapi meski begitu, Sisil dapat merasakan kehangatan dan ketulusan James melalui pelukannya yang erat. Pelukan yang sangat melindungi dan membentengi dirinya dari rasa ketakutan. Oleh sebab itulah Sisil memberikan jawabannya melalui anggukan kepala.


Tubuh Sisil yang melemas langsung bersandar di dalam pelukan James. Tangannya langsung bergelayut kuat ke punggung kokoh James bersamaan dengan ledakan tangisan yang begitu keras seperti tangis anak kecil yang tersedu-sedu.


Ditengah-tengah tangisannya itu, tanpa diketahuinya sedang ada sepasang mata yang telah memperhatikannya dari luar gedung dengan tatapan mata sinis dan membunuh. Tatapan yang sangat memendam penuh dendam yang amat hingga nyaris tak tersirat.