
*WARNING ADULT ZONE π π»ββοΈπ π»ββοΈ MAAF AGAK SEDIKIT MELENCENG! DIKARENAKAN SALAH SATU ADEGAN DIBAWAH AKAN MENGHIDUPKAN JALAN CERITA SELANJUTNYA. BAGI YANG BELUM CUKUP UMUR, PLEASE, JANGAN COBA-COBA MAMPIR, YAAAAA.... THANK YOUUU π
βββ
Malam sudah semakin larut, melingkupi dirinya yang hanya ditemani oleh segelas wine ditangan. Didalam sebuah apartemen berbentuk minimalis namun mewah yang cocok dengan gaya glamour, seorang wanita cantik tampak terduduk diatas sofa mewah dengan kaki terlipat menghadap kaca besar yang langsung disuguhkan dengan suasana malam.
Dengan mengenakan lingerie hitam yang menggoda, wanita itu menghabiskan waktunya untuk meneguk sebotol wine yang hampir habis tapi belum juga merasakan mabuk yang memberatkan, namun justru seperti sedang meneguk sebotol air mineral layaknya orang yang sedang kehausan dengan dehidrasi tinggi dan semakin ingin menambah lagi, dan lagi.
Malam ini, setelah berendam air hangat dan bersantai diatas ranjangnya, dirinya mencoba untuk memejamkan mata dan lekas tidur, namun entah kenapa kali ini dirinya sulit untuk cepat terpejam. Akhirnya Sisil memutuskan untuk duduk bersantai dengan tubuh bersandar ke sofa yang langsung disuguhi dengan terpaan angin malam yang terasa semakin dingin. Jelas! Dirinya sama sekali tidak merasa kedinginan karenanya, mungkin juga karena efek alkohol yang mampu melapisi kulit tubuhnya sehingga sama sekali tidak merasakan udara dingin yang bagi manusia normal sangat menusuk hingga ke tulang.
Sisil sengaja absen dari seluruh kegiatan perkuliahan dengan izin urusan keluarga yang sangat mendesak. Sebab, dirinya sengaja ingin menghilangkan jejak sementara karena insiden yang melibatkan penculikan Meila kemarin.
Tiba-tiba bunyi suara bel yang berbunyi membuat Sisil memasang sikap waspada penuh antipati dengan kedatangan seseorang yang sedang menanti dibukakan pintu olehnya. Dengan perlahan Sisil meletakkan gelas wine ke atas meja, lalu beranjak berdiri dan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu ke apartemennya di waktu hampir tengah malam.
Sisil mendekatkan wajahnya ke pintu, lalu mengarahkan sebelah matanya pada lubang kecil yang ada di pintu itu untuk melihat siapa yang telah memencet bel apartemennya tadi. Namun anehnya, Sisil tidak melihat siapapun disana. Karena didorong juga oleh rasa penasaran, akhirnya Sisil membuka pintu apartemen itu untuk memperjelas. Dan tanpa diduga, tampak sosok pria berpakaian serba hitam yang Sisil kenal sedang membalikkan badan untuk segera masuk ke dalam apartemennya.
Sisil hampir saja berteriak jika Beno tidak segera membekap mulut wanita itu. Ya! Pria yang bertamu itu adalah Beno.
"Ssstt.. jangan teriak! Lo bisa bangunin semua penghuni disini." Beno berbisik pelan sambil mengisayaratkan jari telunjuknya ke arah bibirnya sendiri.
Dengan sedikit kasar, Sisil menepis telapak tangan Beno yang masih menutup mulutnya.
"Lagian lo ngapain kesini malem-malem, hah? gimana juga caranya lo bisa masuk ke apartemen gue?"
Sisil sedikit bingung dengan Beno yang dengan mudahnya masuk ke lingkungan apartemen yang ia tempati, mengingat seluruh sudut keamanan yang sangat ketat tanpa cela.
"Gue masuk lewat pintu belakang dengan menyabotase sedikit sistem keamanan digital yang terpasang diujung lorong," mata Beno tampak menoleh ke belakang, membaca situasi sekitar. "Dan itu hal yang mudah buat gue." Bibirnya menyeringai membentuk senyum ironi, yang bagi wanita normal saja dapat membuat bulu kuduk bergidik ngeri karenanya.
Sisil hampir membelalak. Dirinya tidak percaya dengan kejeniusan pria didepannya, pantas saja Beno terkenal sangat ahli dalam bidang menyabotase sistem komputer, bahkan dirinya melebihi seorang hacker diluar sana yang dengan mudahnya mengambil akun orang lain atau hanya sekedar merusaknya.
Apa dia bilang tadi? Sedikit? Sekarang saja, bahkan sistem keamanan digital modern paling canggih sekalipun dapat ia sabotase dengan mudah. Dan itu adalah hal paling sulit! Dasar Pria gila.
"Sekarang, biarin gue masuk. Ada sesuatu yang pengen gue omongin sama lo," tanpa menunggu persetujuan Sisil, Beno langsung menerobos masuk pintu apartemen yang Sisil halangi dengan sebelah tangannya tadi dengan santai dan tanpa dosa, dan meninggalkan Sisil yang masih ternganga sambil menelan ludah dengan wajah tidak percaya.
βββ
"Apartemen lo bagus juga,"
Beno bersuara ketika matanya menyusuri sudut apartemen Sisil dengan tangan yang dimasukkan ke kantung celana. Matanya menangkap sebotol wine yang masih tersisa seperempat botol lagi, dan tanpa basa basi langsung menenggaknya tanpa menuangkan terlebih dahulu ke dalam gelas.
"Dari mana lo tau gue disini? Lo nggak menyadap gue secara diem-diem, kan?"
Beno terkekeh dan hampir tergelak, dia baru saja melepaskan bibirnya dari bibir botol wine. Beruntung dirinya tidak tersedak karena mendengar perkataan Sisil yang menurutnya lucu namun sekaligus.... bodoh!
"Gue nggak serendah itu sampe harus menyadap lo, Sil. Lo nggak perlu tau itu, bagi gue, nemuin apartemen lo bukan hal yang sulit buat gue." Bibir Beno membentuk senyum ironi, sedikit mendengus pelan yang hampir tidak terdengar jika sang lawan bicara tidak memasang telinga dengan sempurna.
Beno benar! Mungkin disini ucapan Sisil lah yang tidak berbobot. Jika komputer dan sistem kemanan digital paling canggih saja bisa ia sabotase dengan mudah, apalagi jika untuk menemukan Sisil, pasti akan lebih mudah baginya hanya dengan mengandalkan otak jeniusnya itu.
"Sekarang apa yang mau lo omongin ke gue? Cepetan. Gue ngantuk." Sisil berucap ketus sambil memijit kepalanya. Mungkin juga dikarenakan alkohol yang mulai bereaksi dari wine yang diminumnya tadi, sehingga membuat kepalanya sakit dan ingin segera bersembunyi dibalik selimut hangat dari ranjangnya.
Beno beralih duduk di sofa dengan kaki terlipat seolah dialah sang pemilik apartemen itu.
"Ngapain buru-buru, santai aja, Sil." Beno berucap dengan sedikit godaan yang membuat Sisil kesal.
"Jangan banyak basa-basi. Atau gue panggil security sekarang juga!"
Rupanya Sisil tidak main-main kali ini. Sebenarnya Beno sedikit menyimpan perasaan sangat kesal pada wanita licik dihadapannya saat ini. Mengingat dirinya yang kemarin berjuang sendiri menghindari amukan Dimas dengan susah payah, sedangkan wanita licik itu malah tanpa dosa melepas tanggung jawab mengambil langkah seribu tanpa melihat ke arahnya, hingga akhirnya dapat melarikan diri dari pukulan dan hantaman Dimas padanya.
Setelah beberapa detik berperang dengan amarahnya sendiri, dengan berat hati Beno mengendurkan sedikit sikapnya untuk melunakkan Sisil agar lebih menurut sedikit dengannya. Lalu Beno memajukan tubuhnya sedikit, bertumpu pada kedua sikunya.
"Gue akan membuat rencana ekstrim kali ini." Beno memberi jeda sedikit, "gue bakal membalas setiap pukulan-pukulan pria itu ke gue hanya dengan satu kali serangan."
Sisil mengerutkan dahinya ketika belum dapat mencerna apa yang dikatakan oleh Beno.
"Serangan? Apa maksud lo dengan satu kali serangan? Cepet jelasin ke gue karena gue lagi males mikir."
Beno menaikkan ujung bibirnya sebelah, "ya. Satu kali serangan. Gue akan musnahin pria itu dari muka bumi ini tanpa sisa."
Sisil menyipitkan matanya, berusaha mencerna kata-kata Beno dikarenakan kepalanya yang semakin berat hingga harus berusaha keras untuk memahami ucapan yang Beno maksudkan, sampai akhirnya otaknya menemukan satu kata yang menjadi kesimpulan dari ucapan Beno.
"Maksud lo... lo mau nyelakain Dimas? Lo mau bunuh dia?"
Kalau memang itu yang Beno maksudkan, maka pria ini memang benar-benar sudah gila. Dia tidak segan-segan mengambil keputusan ekstrim untuk menghilangkan nyawa orang lain yang menjadi penghalang baginya.
Memangnya seberapa berharganya sih Meila itu? Sampe Beno rela untuk menghilangkan nyawa Dimas demi mendapatkannya?
Beno pun terkekeh, seolah meng-iyakan tebakan Sisil.
"Inget, Beno! Lo boleh lakuin apapun semau lo. Terserah. Tapi kali ini jangan bawa-bawa gue dengan rencana gila lo. Gue nggak mau masuk penjara." Sisil memperingati Beno yang tampak santai tidak menggubris ucapannya sama sekali.
"Lo lupa, Sil? Kalo kita itu partner sampe kapanpun? Partner kriminal." Suara Beno sedikit memelan dengan nada intimidasi yang kental. Membuat Sisil membelalakkan matanya karena tidak percaya dengan jawaban Beno yang tampak menyebalkan.
"Y-ya... ya... pokoknya terserah. Yang jelas sekarang gue lagi pusing. Males mikir. Mending lo cepet pergi dari sini karena gue mau tidur. Ngantuk!"
Lagi-lagi Sisil hanya menjawab dengan nada ketus. Kepalanya semakin berat, ditambah dengan pandangannya yang mulai kabur, bahkan tidak jarang tangannya terangkat untuk memijat kepalanya yang sakit.
Mendengar perkataan Sisil, membuat Beno sedikit kesal dan terkesan tidak menghargai usulannya. Beno memperhatikan Sisil dengan seksama, menyusurinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Entah Beno yang tidak memperhatikan, atau karena Sisil yang terlalu menjaga jarak untuk berbicara dengannya.
Di mata Beno saat ini, Sisil tampak terlihat menggoda dan sexy mengenakan lingerie hitam yang pas dengan lekukan tubuhnya. Hal itu membuat darahnya mendidih dengan hasrat menggebu seiring dengan efek memabukkan karena reaksi alkohol dari wine yang diminumnya.
Semakin Beno memperhatikannya, maka semakin bertambah pula hasrat dalam dirinya. Dia ingin segera menuangkan keahliannya dengan mencoba untuk mencicipi lekukan tubuh Sisil meski hanya sekedar ciuman.
Tanpa berpikir lagi, Beno berdiri menghampiri Sisil yang masih memijat kepalanya sambil tertunduk dalam. Kemudian tangan Beno terangkat untuk meraih tangan Sisil dan menurunkannya dengan perlahan, membuat Sisil mengangkat kepalanya ke arah Beno.
"Nggak usah terburu-buru," tangan Beno mulai menyusuri permukaan kulit punggung Sisil yang terbuka. "Karena... kita masih punya banyak waktu untuk menuntaskan rencana kita yang lainnya," lalu berbisik didekat daun telinga Sisil dengan menggoda, hingga membuat mata wanita itu terpejam karena merasakan senyar aneh yang menjalari tubuhnya.
Beno menundukkan wajahnya tanpa beranjak dari posisinya, lalu pria itu menjatuhkan bibirnya untuk mengecup rahang dibawah telinga Sisil dengan kecupan menggoda yang menghanyutkan, hingga berhasil membuat Sisil mengeluarkan erangan tak tertahankan dari bibirnya yang tampak seksi.
"Suara lo terdengar seksi...." Beno menghentikan aksinya, lalu berbisik dengan nada sensual yang kental sambil menghembuskan napas hangatnya ke permukaan kulit leher Sisil yang terbuka."....apa kita perlu melanjutkannya ke tahap selanjutnya?"
Suara Beno seperti sedang memancing api dengan percikan bensin, yang jika satu percikan saja terjatuh, maka akan menyebarluaskan api itu menjadi besar tak terelakkan.
Beno memundurkan wajahnya sedikit lalu menatap wajah Sisil yang tampak memerah menahan hasrat yang sama. Jika dengan beberapa tegukan saja sudah membuatnya mabuk, bagaimana dengan Sisil yang sudah meminumnya dan menuangkannya kedalam gelas berkali-kali hingga hanya menyisakan seperempat saja didalam botol?
Beno pun sudah tidak mampu lagi menahan gairahnya, menahan sakit kepalanya hingga terasa berdenging ditelinga, darahnya semakin mendidih ingin segera meraih tempat tidur dan bergelut menuntaskan hasratnya yang semakin memanas.
Melihat tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Sisil, Beno langsung menyambar bibir Sisil yang tampak menggoda dengan bersemangat. Mereka saling mengejar untuk meraih oksigen sebanyak-banyaknya tanpa melepaskan pertautan antara keduanya. Tangan Beno pun tidak tinggal diam, menyusuri lekuk tubuh Sisil dengan kurang ajar hingga wanita itu semakin terbuai karena permainannya. Begitupun dengan Sisil yang dengan mudahnya langsung mengalungkan tangannya ke leher Beno dengan sikap pasrah dan menikmati.
Beno bergerak, menghela tubuh Sisil untuk mengikuti langkah kakinya hingga pria itu menjatuhkannya tepat di atas ranjang. Lalu berhenti sejenak dengan mata yang saling memandang, dengan Sisil yang memasang wajah pasrah nan menggoda serta mata sayu yang seolah ingin segera diterkam.
Tatapan keduanya sama-sama bergairah, membuat Beno kembali menyambar Sisil dengan keahlian dari permainan bibirnya yang menghanyutkan, dan tanpa diduga Sisil pun tidak menolak perlakuan Beno, seolah tidak sabar ingin segera menuntaskan hasrat masing-masing tanpa menundanya lagi. Hal sama pun dirasakan oleh Beno, yang segera ingin menenggelamkan wanita itu kedalam ledakan hasratnya yang membara.
βββ
Meila terbangun dari tidurnya begitu merasakan kering ditenggorokannya tidak tertahankan lagi. Sembari meraba nakas disamping tempat tidur, dia terus saja berdehem untuk meredakan tenggorokannya sekedar menghilangkan rasa yang tidak mengenakkan.
Meila terduduk lemas ketika melihat gelas yang ia gapai tampak kosong tidak ada air. Dengan gerakan perlahan disertai kaki yang mulai turun menyentuh lantai, Meila bangun dari tempat tidurnya dan pergi menuju dapur untuk mengambil air minum.
Meila menuangkan air kedalam gelasnya lalu meneguknya dengan perlahan. Tak lama kemudian, ketika dirinya masih bersandar di dekat meja marmer dapur, tiba-tiba saja seluruh lampu mati dengan sekejap hingga membuat gelas yang ada ditangannya terjatuh dan pecah.
"Aaaaaaaaa!" Meila memekik dan berteriak dengan lantang.
Disaat yang bersamaan, Dimas terbangun karena mendengar teriakan Meila yang sangat menggema hingga menembus ke kamarnya. Dimas mengerjapkan matanya, berusaha mencari sinar untuk matanya yang terasa gelap gulita dan sedikit lengket. Dimas mengucek-ngucek matanya perlahan sebelum kemudian dia tersadar kalau saat ini sedang terjadi pemadaman listrik berkala. Dan suara yang barusan sangat familiar dan lantang itu adalah suara Meila. Gadisnya.
Dengan cepat Dimas langsung beranjak bangun dan meraba-raba ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Lalu ia menyalakan lampu senter ponsel untuk memandu langkahnya berjalan keluar kamar.
Dimas mencari Meila ke kamarnya yang memang terletak disebelah kamarnya, namun dia tidak menemukan gadis itu.
"Mei... kamu dimana?" Dimas berteriak sambil mengarahkan senter ke seluruh ruangan.
"Kak Dimas!" Terdengar teriakan dari suara yang gemetar dari arah dapur. "Aku disini kak...."
Dimas berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Lalu mengarahkan lampu senter ke dapur yang tampak gelap hingga terlihatlah sosok mungil yang sedang mematung dan menutup matanya sendiri menggunakan telapak tangannya.
"Sayang, kamu sedang apa disini?" Dimas berhenti tepat dihadapan Meila yang saat itu langsung meraih bahu gadis itu lalu meremasnya dengan lembut. Begitupun dengan Meila, ketika menyadari kehadiran Dimas didekatnya, dia langsung memeluk Dimas dengan erat dan menenggelamkan wajahnya ke dadanya.
Tubuhnya bergetar menahan takut, "aku... aku lagi ambil air minum. Lalu tiba-tiba lampunya mati, semuanya gelap. Ak-aku takut gelap, kak...." suaranya hampir hilang tenggelam dengan suara seraknya menahan tangis, "....terus karena aku kaget, aku menjatuhkan gelas itu hingga akhirnya pecah,"
Dimas lalu mengarahkan lampu senter ke lantai, mencari pecahan gelas yang mungkin akan membahayakan jika terkena pecahan dari beling-beling kaca tersebut.
"Ssshh... udah.. nggak apa-apa. Ini cuma pemadaman listrik berkala, nanti juga menyala lagi. Nggak usah takut lagi, ya?" tangan Dimas bergerak mengusap punggung Meila dengan lembut, berusaha menghilangkan rasa gemetar dari tubuh gadis mungil itu.
Meila mengendurkan pelukannya, namun juga tidak benar-benar melepaskan cengkraman tangannya di baju Dimas. Wajahnya mendongak ke arah Dimas, dengan mata memerah berkaca-kaca menahan tangis, serta kening yang berkerut dalam.
Dimas tersenyum, mengarahkan lampu senter ke tengah-tengah diantara mereka. Lalu menangkup wajah Meila dengan sebelah tangannya, "nggak apa-apa. Aku disini. Aku udah bawa lampu ini buat kamu,"
"T-tapi... tapi gelas itu pecah gara-gara aku," Meila berucap dengan rasa bersalah dalam dirinya.
"Nggak masalah, Sayang. Gelas itu bisa diganti," Telunjuk Dimas mencolek ujung hidung Meila dengan gemas, "tapi kalo kamu yang terluka, itu nggak akan ada gantinya didunia manapun."
Ucapan Dimas dalam sekejap berubah menjadi rayuan gombal hingga berhasil membuat pipi Meila merona karenanya.
"Kak Dimas..." dengan wajah setengah memberengut, Meila berujar sambil tersipu malu, membuat Dimas tertawa karena tingkah gadisnya yang saat ini sedang tertunduk malu membuang wajahnya.
"Kalo gitu... sekarang aku antar kamu ke kamar, ya? Kamu masih perlu memulihkan tubuh kamu, Mei. Kamu butuh istirahat yang cukup."
Dengan perasaan ragu namun juga tidak menolak, Meila mengikuti Dimas yang sedang menggenggam tangannya berjalan menaiki anak tangga hingga depan pintu kamarnya. Mereka memasuki kamar itu dengan suasana gelap hanya lampu senter saja yang menerangi, itupun dengan pencahayaan yang minim tidak bertumpu pada cahaya menyeluruh, melainkan hanya pada satu titik saja dapat menerangi.
Dimas menghela tubuh Meila untuk berbaring di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya hingga batas dada. Tidak lupa juga Dimas menyempatkan untuk mengusap kepala Meila dengan usapan sayang.
"Kamu istirahat, ya..."
Ketika Dimas akan berbalik badan, tiba-tiba saja sebuah tangan mungil menarik tangannya dengan perlahan hingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Mei? Kamu butuh sesuatu?" Dengan dahi berkerut, Dimas bertanya sambil menoleh ke arah Meila yang sedang memasang wajah cemas, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu untuk mengeluarkannya. Tampak rasa takut terlihat dari matanya.
Meila sendiri juga bingung untuk berucap, gadis itu hanya memasang wajah cemas dan sendu yang bagi siapa saja melihatnya, akan melembutkan hati demi gadis mungil nan polos itu.
Apa mungkin.... gadis ini sedang meminta untuk ditemani... lagi?
Tatapannya melembut, berubah sayang dan langsung mengerti apa maksud dari gadis itu hingga menarik tangannya sampai berani menahannya saat ini. Jika memang benar, maka itu bukanlah hal yang sulit baginya mengingat mereka sudah melewati hal yang sama kemarin malam, menemaninya hingga Meila tertidur nyenyak dalam pelukannya, membiarkan gadis itu bergelung manja dalam dekapan hangatnya.
Tanpa berkata lagi, Dimas langsung memutari sisi tempat tidur, lalu menaiki tempat tidur itu dan merentangkan sebelah tangannya.
"Kemarilah..." Dimas berucap lembut, mengajak Meila untuk berbaring disebelahnya dengan berbantalkan lengannya yang kokoh.
Sambil tersipu, dengan patuh Meila segera berbaring disebelah Dimas dengan berbantalkan lengannya. Tubuh mereka saling berhadapan dengan posisi dahi Meila yang menempel ke dagu Dimas, sehingga memudahkan pria itu untuk mengecup kening Meila seperti kebiasaannya.
"Nggak perlu malu kalo kamu meminta untuk ditemani. Karena aku akan selalu siap melakukannya." Dimas berucap setelah mengecup kening Meila. Lalu pria itu tertunduk untuk menatap Meila yang dengan perlahan, sedang mengangkat wajahnya sambil berusaha membentuk sebuah senyuman dari bibirnya yang terasa kaku karena menahan malu.
"T-terima kasih, kak Dimas."
Meila akhirnya berhasil mengucapkan beberapa patah kata pada Dimas. Meski terdengar pelan dan hampir tidak terdengar, namun ucapan itu terdengar manis ditelinga, membuat Dimas semakin tidak tega untuk meninggalkan gadisnya sendirian. Meski hanya diterangi dengan lampu minim cahaya yang bertumpu pada satu titik saja, tapi bersama Dimas disampingnya, membuat hati Meila merasa nyaman, membuat dirinya merasa aman karena berada dalam perlindungannya.
Setelah menjawab ucapan Meila dengan sebuah senyuman lembut, Dimas membawa Meila untuk semakin dekat dengannya, serta menyelimuti mereka hingga batas pinggang. Begitupun dengan Meila yang langsung menenggelamkan wajahnya ke lekukan antara leher Dimas yang terasa hangat dengan aroma vanila yang menenangkan, lalu bergelung manja ke dalam dekapan hangat pria itu yang sedang melingkupinya.
βββ
Sisil mengerjapkan matanya berkali-kali yang masih berkabut dengan sisa sakit kepala yang masih belum juga reda. Suasana kamarnya begitu terang hingga menusuk kulit ketika dirasakannya cahaya mentari memasuki celah jendela apartemennya yang mewah.
Seketika matanya menangkap sosok tegap dengan bertelanjang dada sedang memunggunginya. Terlihat jelas otot-otot kekar yang menonjol di tiap celah ruas-ruas tulang. Matanya membelalak sempurna ketika keterkejutan yang nyata menghampirinya, yaitu sebuah perasaan tidak beres yang baru saja terjadi.
Lalu dengan memberanikan diri, Sisil mengamati tubuhnya sendiri yang masih berbalut selimut untuk memastikan. Dan benar! Sisil terkaget-kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dirinya tidak memakai sehelai benang pun, disertai dengan tanda-tanda bekas kecupan diseluruh tubuhnya yang semakin membuatnya kaget.
Astaga! Apa yang udah gue lakuin? Kenapa gue.... Beno.... Ini nggak bener! ini sebuah kesalahan.
Didetik itulah matanya membulat sempurna hingga menghiraukan sakit kepala yang masih mendera. Sisil mulai merunut kejadian semalam dimana dirinya menikmati setiap sentuhan Beno terhadapnya, membiarkan pria itu melakukan sesuatu yang dengan pikiran waras saja, tidak seharusnya dilakukan.
Namun, sekarang, semuanya sudah terjadi. Kenapa gue membiarkan itu? Kenapa gue malah menikmati dan membiarkan pria disampingnya itu memuaskan hasratnya hingga dirinya juga terbuai oleh gairahnya?
Dengan rasa putus asa, Sisil menjambak rambutnya sendiri dengan rasa sesal yang amat sangat dalam dirinya. Membiarkan Beno tetap memunggunginya dan langsung memungut pakaian yang berserakan dilantai lalu pergi meninggalkan Beno tanpa bersuara.