A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tamu



Ashila nyaris terperanjat saat menemukan seorang pria sedang setengah tertidur di sofa apartemennya. Namun, hal itu ia urungkan karena sang pria rupanya telah lebih dulu menyadari kedatangan Shila yang sedang berjalan menghampirinya.


Shila memekik kaget, "elo....? Gimana caranya lo bisa masuk ke apartemen gue?"


Pria itu mulai duduk sambil mengucek kedua matanya perlahan. "Bukannya lo sendiri yang kasih tau gue kode kuncinya."


Sejenak, Shila mengingat akan hal itu. Dialah yang telah memberikan kode kunci apartemennya dengan sadar. Sambil meletakkan tasnya ke atas meja, Shila berjalan menuju dapur dan menyalakan mesin espresso sebelum kemudian menyiapkan dua cangkir yang ia letakkan di sampingnya.


"Kapan lo datang, Dion?" Shila bertanya tanpa menoleh. Dia sibuk dengan mesin peracik espresso itu.


Ya, pria itu adalah Dion. Tidak lain dan tidak bukan, pria yang kemarin telah menolong Meila saat dia disandera oleh dua orang penjahat di toilet mall.


"Gue baru sampe kemarin sore. Ada beberapa urusan mendesak yang harus gue selesaiin dulu." Sahutnya sambil meregangkan otot-otonya yang kaku akibat posisi tidur yang tidak nyaman.


Setelah menuangkan kopi ke cangkir dari mesin espresso, Shila berjalan sambil membawanya. Menghampiri Dion yang masih terlihat kusut masai sedang bersandar dengan mata terpejam memijati keningnya. Lalu memberikan secangkir espresso itu sambil mengambil alih tempat duduk di sampingnya.


"Thanks!" Ucap Dion begitu menerimanya. Dia pun mulai menyeruput kopinya perlahan.


"Lo keliatan kusut banget. Kenapa nggak ke apartemen lo aja sih? Kan bisa tidur lebih nyaman di kamar sendiri?"


Sambil memberikan satu kali gelengan kepala. "Kebetulan gue lewat daerah sini dengan kondisi ngantuk berat. Tanpa pikir panjang gue langsung markirin mobil ke basement dan naik lift menuju apartemen lo." Lalu menyeruput kopinya lagi sebelum akhirnya berucap kembali. "Emang lo nggak liat ada mobil gue di basement?"


Shila berdecak ringan, "gue mana perhatiin mobil lo, sih? Lagian, kalo emang gue liat, mana kepikiran kalo lo bakal datang ke jakarta?"


Dion hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Shila. Pun dengan perempuan itu yang hanya acuh sambil menggelengkan kepalanya. Namun ada satu hal yang bisa Shila tangkap, pria itu pasti telah minum-minuman. Terlihat dari adanya botol bekas alkohol yang ada di atas meja yang masih tersisa sedikit.


Namun Shila tidak mau banyak bertanya. Dia pun menyeruput kopinya lagi dengan kedua mata tajam mencuri pandang pada Dion yang nampaknya masih akan belum sepenuhnya mencerna jika mereka berbicara hal panjang lebar saat ini.


●●●


Dimas keluar dari toilet dengan mengenakan jubah mandinya. Dilihatnya gadis kesayangannya, Meila, yang masih meringkuk di bawah selimut dengan sebagian wajah yang tertutupi rambut. Dimas tersenyum, berjalan mendekatinya sambil menaiki ranjang dengan perlahan.


Dimas memang sengaja belum membangunkan Meila karena dia pikir masih terlalu pagi untuk gadis itu bersiap-siap. Dia berinisiatif untuk mandi lebih dulu baru kemudian membangunkannya setelah menyiapkan air hangat untuk gadis itu mandi.


Dan sekarang, waktu sudah menunjukkan tepat jam tujuh pagi. Saatnya dia membangunkan Meila dan terpaksa mengganggunya dari mimpi indahnya. Perlahan, jemari Dimas bergerak menyentuh wajahnya. Menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah Meila dengan lembut sambil berbisik di dekat telinganya.


"Sayang, bangun. Udah pagi." Bisiknya.


Meila menggeliat. Semakin meringkuk ke dalam selimut seolah tidak mau diganggu dari mimpinya.


Melihat Meila yang lambat merespon, Dimas tersenyum sambil kemudian berbisik kembali.


"Bangun, Mei. Apa kamu nggak mau kuliah, hari ini?"


Dan itu berhasil. Mendengar kata 'kuliah', Meila langsung mengerjap dan kedua matanya langsung membuka sempurna. Dengan mata yang masih menyipit, menyerap sinar mentari yang masuk, dia membaca situasi kamar yang tampak terang dan cerah seisinya.


"Good Morning." sapa Dimas begitu tatapan sayu dari gadis itu menatapnya.


Meila memberikan senyumnya sambil mengeluarkan tangannya dari selimut. "Selamat pagi. Apa aku kesiangan?"


Dimas mendaratkan kecupan ke kening Meila sebelum kemudian menjawab. "Ini baru jam tujuh pagi. Masih ada waktu satu jam buat kamu bersiap-siap."


Tercium bau maskulin dari parfum after-shave milik Dimas. "Kak Dimas udah mandi?"


Dimas mengangguk. Memainkan jemarinya ke pipi Meila yang terasa lembut dan kenyal. "Aku udah menyiapkan air hangat buat kamu. Kamu bisa langsung mandi dan aku akan siapkan sarapan. Aku juga udah menyiapkan pakaian untuk kamu pakai hari ini."


Astaga! Sampai pakaian pun harus Dimas yang siapin? Mei, cewek atau bukan, sih?


Sesaat, Meila menatap Dimas dengan lekat. Memandanginya sebelum kemudian memberikan kecupan sekilas ke pipi pria itu.


"Thank you soooo much karena selalu perhatiin kebutuhan aku. Harusnya kamu nggak perlu sampai menyiapkan semuamya buat aku. Malah aku yang harusnya siapin semuanya buat kamu. Karena disini aku hanya......" Ucapnya menggantung dan terhenti tiba-tiba. Karena Dimas telah menempelkan jarinya di bibir Meila.


"Ssstt... udah berapa kali aku bilang, kamu bisa anggap rumah ini sebagai rumah kamu. Aku nggak pernah anggap kamu sebagai tamu disini." Dimas menyela.


Sejujurnya, ada perasaan tidak enak dalam hati Meila karena lagi-lagi Dimas lah yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya. Sementara dirinya, seolah lupa jika dirinya sedang berada di rumah seseorang yang sifatnya sementara.


Melihat gadisnya terdiam tanpa mengeluarkan bentuk protes, Dimas terkekeh. Lalu menjawab kembali seraya mengelus batang hidung Meila yang lancip. "Kamu pasti akan melakukannya suatu saat nanti. Dan aku pastikan itu." Dimas menjawab dengan teka-teki. "Tapi untuk sekarang, biarkan aku yang menyiapkan kebutuhan kamu, memanjakan kamu, merhatiin kamu. Karena aku sangat suka melakukannya."


Meski sempat bingung dengan kata-kata Dimas, namun tak urung ucapannya itu telah berhasil membuatnya merona.


"Okay. Jangan berendam terlalu lama, ya?"


"Okay..." Lalu berjalan menuju toilet dengan senyuman khasnya.


"Sayang, hati-hati dengan lantai yang licin. Jangan sampai jatuh." Dimas berucap dengan setengah berteriak saat dilihatnya Meila yang akan menutup pintu toilet.


Dan tanpa Dimas duga, gadis itu justru memunculkan sedikit kepalanya seraya menjawab dengan suara lantang namun tetap terdengar lembut.


"Iya. Aku akan hati-hati." Lalu memberikan senyumnya sekilas sebelum kemudian menghilang dari pandangan Dimas di balik pintu yang tertutup rapat.


●●●


"Pagi semuanya,"


Airin menyapa semua orang yang ada di ruangan dengan suara lantang. Diikuti oleh Bryant yang berjalan di belakangnya dengan tas ransel di bahu sebelah kanan.


Airin mengambil kursi dan duduk di sebelah Vika. Menaruh tasnya ke atas meja sambil menghembuskan napas kasar. Sementara Bryant menarik kursi di sebelah Rendy yang tampak sibuk dengan laptopnya.


"Tumben jam segini kamu udah sampe. Biasanya udah mepet mau masuk baru dateng." Tanya Vika sambil melihat jam tangannya.


Airin menunjuk ke arah Bryant dengan isyarat menggunakan matanya. "Kayak nggak tau cowok-cowok di sini aja maunya buru-buru."


Mendengar Airin mengoceh, membuat Bryant tersadar sampai membuatnya terkekeh.


"Kamu harus terbiasa dengan itu. Biar nggak selalu telat." Bryant menyahuti.


"Setuju. Biar lo juga lebih rajin kayak yang lain." Ucap Rendy menimpali.


Ekspresi Airin mulai sengit. Kedua alisnya terangkat. "Emang aku kurang rajin apa sih selama ini? Aku kan selalu bantu agenda kemahasiswaan juga. Ya... meski kadang nggak ngerti mau ngelakuin apa."


Vika tertawa mendengarkan. Begitupun dengan Bryant dan Rendy yang ikut tertawa dan menggeleng.


"Udah, udah. Jangan berantem masih pagi." Suara Vika menengahi.


"Permisi, apa benar disini ruangan senat?"


Seketika, suara dari ujung pintu yang mengintip menyapa semua yang ada di dalam ruangan itu. Mereka membelalak senang melihat Meila yang baru datang muncul di balik pintu sambil melangkahkan kaki dengan kalimat candaannya itu.


"Nah, akhirnya primadona kampus kita udah masuk lagi." Airin berseru sambil berjalan mendekati Meila dan menyambutnya. Sambil berpelukan, Airin berucap. "Gue pikir lo bakal gak masuk lagi."


Meila terkekeh ringan. "Nggak mungkin lah, Rin. Gue udah bilang kan sama lo kemarin?"


"Selamat datang lagi di kampus, sayang." Vika ikut berujar. Berjalan mendekat sambil merentangkan kedua lengannya ingin memberi pelukan.


"Thank you, kak. Rasanya udah berbulan-bulan nggak ke ruangan ini." Celoteh Meila disertai cengiran khasnya.


"Gimana kondisi luka kamu? Udah baikan?"


"Aku baik-baik aja, kok. Aku udah sembuh dan nggak ngerasa sakit lagi di lukanya." Jawab Meila.


Rendy dan Bryant yang hanya memperhatikan, tampak ikut senang dan tertular. Mereka ikut tersenyum. Sedangkan Rendy, langsung mendekati Meila dengan memberikan sambutan hangat dengan mengusak-usak rambut kepalanya dengan gemas.


"Adik manis, kamu tuh bikin aku kangen, tau nggak? Beberapa hari ini nggak ada yang ngerengek manja sama aku. Nggak ada yang ngambek. Nggak ada yang cerewet nanya-nanya tugas." Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.


Meila terkikik. "Okay. Setelah ini aku akan minta apapun sama kak Rendy. Awas, ya kalo ngeluh." Kelakarnya.


Semuanya tertawa sampai terhanyut oleh suasana. Hingga Rendy menyadari keberadaan Dimas yang belum juga muncul dan ikut berkumpul dengan mereka.


"Dimas dimana, dek? Dia gak bareng kamu?"


Baru saja Meila ingin membuka mulut, Dimas sudah muncul dan menjawab pertanyaan Rendy dengan lantang disertai pembawaannya yang tegap.


"Bagaimana mungkin gue gak bareng adek lo?" Sambil berjalan, Dimas menghampiri semuanya dan berhenti di samping kekasihnya. Mengangkat sebelah lengannya untuk merangkul bahu mungil Meila. "Gue sengaja nyuruh dia masuk lebih dulu karena keliatannya udah nggak sabar buat ketemu kalian semua." Sambungnya disertai lirikan. Lalu melemparkan senyum lembutnya pada Meila yang sedang mendongak padanya. 


Bryant berdehem, mengucapkan kalimat sindiran yang membuat semua orang ikut tertawa.


"Ini kampus kali. Bukan rumah kalian. Dilarang menebar kemesraan di tempat umum!" Ucapnya memberi peringatan yang disertai candaan.