
Henry mencoba menghubungi Meila namun ponselnya tidak tersambung. Dia mulai gusar sekaligus kepikiran. Andai dia lebih cepat menghubungi Meila, mungkin dia bisa tau gadis kesayangan tuannya itu masih menunggunya atau telah menggunakan transportasi lain.
Tidak ada pilihan lain, Henry akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dimas dan memberitahukan padanya. Dengan perasaan takut-takut, Henry akhirnya memberanikan diri meski dia tau pasti tuan mudanya itu akan memarahinya habis-habisan nanti. Dan Henry akan menerima segala resikonya.
Panggilan itu diangkat setelah nada dering ketiga terdengar. Dengan was-was, Henry memulai percakapan setelah terdengar sapaan dari Dimas.
"Maaf, tuan. Saya... mmm... mengenai nona..."
●●●
15 menit sebelumnya...
Rapat itu masih berjalan. Dengan dipimpin oleh Dimas sebagai Head Manager beserta jajarannya.
"Baik. Sepertinya kita bisa mulai project ini satu minggu ke depan. Pihak kami akan menandatangani kontrak sesuai kerjasama awal yang telah kita bicarakan sebelumnya."
Saat sedang memberi arahan, tiba-tiba ponsel yang dia letakkan di samping kiri dekat lengannya berbunyi. Seolah sedang tidak sabar untuk segera dijawab dengan cepat.
"Maaf, saya harus menerima panggilan telepon. Permisi."
Dengan sikap sopan, dan tanpa mengurangi rasa hormat, Dimas meminta ijin untuk pergi ke luar ruangan dan menerima panggilan teleponnya. Terlihat dengan jelas nama Henry di layar ponsel. Itu menandakan ada pemberitahuan penting.
"Ya, Henry. Kamu sudah menjemput Meila dan mengantarnya sampai rumah?"
Tanpa bertele-tele, Dimas langsung bertanya ke intinya. Nada suaranya terdengar santai. Tetapi dia tidak bisa menutupi ketidaksabarannya.
"Maaf, tuan. Saya... mmm... mengenai nona..."
Mendengar kata 'nona', perasaan tidak enak langsung Dimas rasakan dan itu pasti ada yang tidak beres.
"Kenapa dengan Meila?" tanyanya dengan nada penekanan yang kental.
"Saat saya sedang menuju kampus nona, tiba-tiba mobil saya mogok. Saya sudah periksa semua komponen-komponen mesin yang umumnya sering terjadi mogok di tengah jalan. Tapi semuanya bagus. Saya sudah berusaha menghubungi nona berulang kali. Tetapi tidak ada jawaban. Mungkin ponselnya mati?"
Jadi Meila masih di kampus? Atau... dia berinisiatif menggunakan transportasi umum dan sudah sampai di rumah? Kalau memang benar, dia pasti akan memberitahunya, kan?
"Kenapa kamu baru menghubungi aku sekarang, Henry? Ini udah satu jam dari jam perkuliahan selesai." Aura kemarahan mulai menyerang Dimas.
"Saya minta maaf, tuan. Saya telah sibuk dengan pikiran saya sendiri agar segera sampai tujuan untuk menjemput nona tepat waktu. Tetapi hal tidak terduga seperti ini malah terjadi. Maafkan saya, tuan."
Terdengar decakan dari Dimas yang tentu dia tujukan pada Henry. Dan Henry, selaku orang yang memang bersalah disini, menerimanya dengan lapang dada.
"Bagaimanapun caranya, kamu harus sampai kampus dan mamastikan jika Meila masih berada disana atau sudah sampai di rumah. Hubungi aku lagi jika ada kabar apapun mengenai Meila."
Perintah Dimas tidak terbantahkan. Dia memberikan ultimatum keras pada Henry sebagai pelajaran karena sudah melakukan kelalaian sekaligus kecerobohan.
Jika Dimas mau, dia bisa saja meninggalkan rapat begitu saja tanpa keputusan akhir dan memilih mencari Meila. Tidak peduli projek yang dia pegang itu akan tetap melanjutkan kerja sama atau membatalkannya sekalipun. Tetapi, ini adalah menyangkut sebuah kepercayaan.
Alfredo, papanya, telah memberikan kuasa sepenuhnya kepada Dimas untuk mengatur, mengelola, bahkan menjalankan perusahaan inti dalam negeri dengan menunjuknya sebagai penanggung jawab perusahaan.
Dan Dimas sudah berjanji untuk memberikan kontribusi terbaiknya pada perusahaan yang telah mempekerjakan ribuan karyawan itu dengan bijaksana.
●●●
Meila akhirnya sampai di rumah Dimas tepat di depan pintu gerbang besar dimana seorang petugas keamanan dengan sigap menghampirinya.
"Nona?"
Meila tersenyum disapa petugas itu.
Setelah tadi mengarahkan petunjuk jalan pada Dion, mereka akhirnya sampai dalam waktu 20 menit saja. Jika Dion mau, dia bisa saja langsung membawanya tanpa menanyakan lagi alamat yang Meila tinggali saat ini. Tapi itu tidak mungkin. Dia harus pura-pura. Dia mau seolah semuanya berjalan secara alami. Karena itu akan membangun kecurigaan dan akan membuat usahanya selama ini sia-sia.
"Terima kasih udah mengantarku." Meila berucap sopan.
"Sama-sama." Dion tersenyum dalam menjawab.
"Kalau gitu aku masuk dulu. Terima kasih sekali lagi."
Petugas itu lalu membukakan pintu untuk Meila. Dan membiarkan Dion melajukan kembali mobilnya meninggalkan halaman komplek perumahan.
Melihat waktu yang sudah sore dan hampir petang, biasanya orang-orang kantor beserta pegawainya akan kembali di jam-jam seperti sekarang.
"Belum, nona. Tuan bilang dia akan sedikit telat."
Meila mengangguk paham diiringi dengan langkahnya yang mulai memasuki gerbang.
"Silahkan, nona."
"Terima kasih."
Di jalan setapak yang menghubungkan halaman depan dan pintu utama, pikiran Meila terus berputar-putar. Dia sudah diantar oleh seorang pria yang menurutnya sangat mengerikan sebelumnya. Tetapi, setelah pria itu mangantarnya sampai rumah dan tidak melihat gerak-gerik maupun niat mencurigakan, mungkin dugaannya itu salah. Mungkin itu hanya kesimpulan yang dia buat sendiri hingga ketakutan itu menjadi nyata.
Tetapi tidak semudah itu jika dengan Dimas. Dimas telah memperingatinya untuk waspada pada Dion. Dan jika Dimas tau dialah yang telah mengantarnya pulang, apakah Dimas akan memarahinya?
Mengingat itu semua, Meila teringat sesuatu dengan ponselnya. Sejak tadi, dia merasa tidak mendengar adanya bunyi panggilan masuk atau sebuah pesan sekalipun. Dia langsung merogoh tasnya dan mengambil ponselnya dengan tergesa-gesa.
Dan benar saja. Ponselnya mati total karena kehabisan baterai.
"Pantes aja dari tadi aku nggak dengar ada bunyi panggilan masuk. Ternyata ponselnya mati."
Dengan tergesa-gesa, Meila bergegas membuka pintu utama dan langsung menuju kamar, lalu mencari pengisi daya dan segera mengisi ponselnya. Dia yakin sekali pasti ada banyak panggilan masuk dari Dimas. Mungkin juga Henry sudah beberapa kali meneleponnya ketika pria itu sampai di kampus dan melihat tidak ada dirinya disana.
Dan dugaannya benar. Ada 10 panggilan tidak terjawab dari Dimas yang masuk ke ponselnya begitu ponsel itu menyala. Kemudian dia mengingat satpam tadi yang mengatakan jika Dimas akan pulang telat. Mungkin hanya meneleponnya sebentar untuk sekedar mengabarinya tidak akan membuatnya terganggu, bukan?
Minimal itu akan membuatnya sedikit tenang karena Meila yakin, pria itu pasti sedang cemas memikirkannya.
Akhirnya, meski sempat ragu, Meila memutuskan untuk menghubungi Dimas hanya sekedar memberitahukan kalau dirinya sudah sampai rumah. Tetapi, baru dia akan menekan tanda 'panggil' pada ponsel, nama Dimas sudah tertera di layar lebih dulu untuk meneleponnya.
Meila pun mengangkat panggilan Dimas dengan segera.
"Halo, kak."
Terdengar helaan napas lega yang bisa Meila dengar dengan jelas.
"Haahh... syukurlah akhirnya tersambung. Kamu dimana, Mei? Udah sampai rumah?"
"Aku baru sampai, kak. Ponselku mati. Aku baru mengisi dayanya. Aku baru mau menelepon kak Dimas tapi malah kamu yang telepon duluan. Aku minta maaf karena udah bikin kamu khawatir."
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu udah sampai rumah. Lalu, kamu pulang naik apa? Taksi?"
Meila terdiam saat akan menjawab pertanyaan Dimas. Dia akan mengatakan yang sebenarnya namun ragu-ragu.
"Mei?"
Meila tersentak hingga akhirnya dia mengatakannya juga.
"Mmm... aku... aku diantar kak Dion sampai rumah." Jawaban Meila yang sedikit terbata membuat mata Dimas membelalak.
Dion? Apa maksudnya Ferdion Sagara yang itu?
Mendengar tidak ada jawaban dari Dimas, membuat Meila berpikirn buruk.
Apa mungkin saat ini Dimas sedang marah dan akan memarahinya nanti?
"Kakak, apa kamu marah?"
Mendengar suara Meila yang lembut dengan nada merasa bersalah yang kental kembali memanggilnya, membuat Dimas tersentak dan melemah. Dia mungkin marah. Tetapi dia tidak mungkin memarahinya. Dimas mungkin akan menasihatinya untuk waspada pada pria itu. Dia tidak akan tega memarahi Meila karena gadis itu belum mengetahui sifat dan kelakuan, serta catatan kriminal dari seorang Ferdion Sagara. Dan karena Dimas belum memiliki bukti yang cukup kuat saat ini.
"Ah, nggak. Aku nggak marah. Aku cuma masih menyelesaikan berkas-berkas yang baru aku tanda tangani. Mendengar kamu udah sampai rumah dengan selamat itu udah membuat aku lega. Kita bicara lagi nanti, ya. Aku akan pulang sebelum jam makan malam."
Meila mengangguk mengerti mendengar ucapan. Tetapi, saat tahu bahwa Dimas tidak bisa melihat anggukannya, Meila akhirnya menjawab dengan sebuah kalimat.
"Oke. Aku juga mau mandi dulu. Kakak hati-hati pulangnya."
Dan panggilan pun terputus. Menyisakan sinyal tanda bahaya yang Dimas ketahui jika sinyal ini sangatlah membahayakan.