A Fan With A Man

A Fan With A Man
Jangan Ikuti Aku!



"Apa? Lo udah gila ya? Gue ga akan ngelakuin itu!"


Sisil memekik keras-keras saat mendengar permintaan Beno yang menurutnya sangat kurang ajar. Saat ini Sisil sedang berada di sebuah halte depan kampus. Memilih melipir sejauh mungkin agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya.


Terdengar suara kekehan Beno dalam sebuah panggilan teleponnya bersama Sisil.


"Itu terserah lo! Lo mau nurutin permintaan gue, atau gue sebar kejadian satu malam kita sama.... siapa? Ah, ya. Sama James itu."


Kali ini Beno benar-benar sudah diluar batas. Sisil merasa dipermainkan hingga lemas sejadi-jadinya. Dia tidak mungkin menuruti permintaan gila laki-laki rendah itu. Tetapi, dia juga tidak mau kejadian menjijikkan di malam itu tersebar kepada orang lain.


"Yaaa... pilihan ada di tangan lo sekarang. Tidur sama gue, atau gue sebar?"


Sisil tercengang mendengarnya. Bahkan mendengar kata 'tidur' dari laki-laki rendah seperti Beno itu rasanya sangat menjijikkan. Pikirannya mulai kalut. Rasa cemas, takut dan gelisah bercampur menjadi satu kesatuan gumpalan perasaan yang tidak mengenakkan di hatinya.


Apa dia harus menceritakannya pada orang tuanya? Atau... Dia lakukan seperti yang laki-laki ini inginkan? Membiarkan kehormatannya ternodai kembali demi menutupi aibnya?


"Halooo...? Lo masih disitu, kan? Atau lo udah dapet jawaban yang tepat sekarang?"


Karena tidak juga mendapatkan tanggapan dari Sisil, hal itu membuat Beno tidak sabar. Menyapa Sisil dengan sapaan yang dibuat-buat namun juga mengerikan.


"Nggak! Gue gak akan ngelakuin itu!" Lagi, Sisil tetap pada pilihannya.


"Oh, oke kalau gitu. Kayaknya gue tau apa yang harus gue lakukan sekarang."


Panggilan itu terputus seketika. Sisil terperangah sampai harus melihat pada layar ponselnya yang sudah kembali ke layar beranda. Menandakan panggilan telepon mereka sudah berakhir. Di detik itulah Sisil tersadar jika kali ini Beno tidak akan main-main.


Sisil tercengang. Merasa cemas, gelisah, juga takut. Tubuhnya langsung gemetar sambil memegang ponselnya erat-erat.


"Nggak. Ini nggak boleh terjadi. Tap-tapi... Gue nggak mau ngelakuin itu." Lirihnya. "Apa yang harus gue lakukan sekarang?" Imbuhnya putus asa.


Memikirkan itu semua, membuat kepala Sisil semakin sakit dan pandangannya terasa berputar. Tanpa pikir panjang, dia langsung memberhentikan taksi yang kebetulan lewat. Meminta pada supir taksi itu agar membawanya ke sebuah taman kota.


Ya! Sisil memilih untuk pergi ke taman agar bisa menenangkan dirinya disana. Dengan kata lain, menyendiri di tengah keramaian manusia tanpa adanya gangguan. Seketika hatinya bergemuruh. Dadanya sesak oleh rasa bersalah yang menggayuti. Dengan mata memerah, air matanya pun berkumpul di satu titik sudut matanya sambil menahan isak.


Andai papa tau betapa tersiksanya aku dengan semua teror-teror ini, apa papa masih mau membantu aku untuk menyelesaikan semuanya setelah aku membuat mereka malu?


●●●


Sisil tampak berjalan-jalan di sepanjang taman dengan ekspresi lesu. Tubuhnya tampak lunglai saat kakinya menapaki jalan setapak di sisi taman yang ditumbuhi rerumputan hijau yang asri serta dihiasi dengan lampu-lampu taman yang menyala. Suasana sudah mulai gelap. Pengunjung di area taman juga mulai meninggalkan tempat untuk bersama-sama kembali ke rumah masing-masing.


Namun, berbeda dengan Sisil, dia lebih memilih datang di saat taman sudah mulai sepi pengunjung. Karena, dengan begitu dia bisa menenangkan dirinya sejenak dari teror mencekam dan desakan laki-laki rendah seperti Beno. Sebab, itulah sebabnya dia berada disini sekarang, untuk menenangkan diri.


"Huuuft...! Sekarang apa yang harus gue lakuin?" Lirihnya putus asa.


Berulang kali Sisil menghembuskan napas, berharap dia bisa menemukan solusi jalan keluar dari masalahnya. Tetapi, pikirannya saat ini tampaknya tidak bisa diandalkan untuk sekedar berpikir. Otaknya buntu. Memikirkannya hanya semakin menambah pusing hingga pandangannya berputar.


Sisil akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku panjang. Menyandarkan tubuhnya dengan kepala mendongak ke langit-langit malam yang sepertinya tidak dipenuhi bintang-bintang malam ini.


"Liat, kan, bahkan bintang-bintang pun menyembunyikan sinarnya malam ini. Pas banget sama suasana hati gue. Muram dan gelap." Sisil berujar miris.


Dia pun memejamkan kedua matanya. Merasakan hembusan angin yang menerpa kulit wajahnya dengan dahi mengernyit dalam. Napasnya naik turun saat dirasakan sesak luar biasa yang masih membekas. Menimbulkan air mata yang berkumpul kembali di sudut matanya.


Bolehkah dia berteriak? Mengeluarkan seluruh keluh kesahnya malam ini saat suasana sudah mulai sepi? Meringankan bebannya sejenak dengan cara membiarkan air matanya menderas di pipinya?


"Sudah selesai, meratapi masalahmu?"


Suara yang sangat familiar membuat Sisil tersentak dengan kedua mata yang langsung membuka sempurna. Dia langsung membenarkan posisi duduknya sambil mencari ke arah sumber suara.


Benar dugaannya. Sudah ada James yang sedang berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Sisil sengit.


"Mencarimu." Sahut James cepat. "Ayo, aku antar kamu pulang."


Sisil mendengus sambil menarik sudut bibirnya ke atas dan setelahnya menjawab James dengan nada ketus. "Aku nggak sekekanak-kanakkan itu sampai harus selalu diantar dan dijemput sama kamu."


"Kamu habis menangis?"


Sisil tercengang. Dia lalu menjawab pertanyaan James dengan terbata.


"Si-siapa yang habis menangis. Mungkin matamu mulai bermasalah." Jawabnya hati-hati. Karena tidak mau dirinya semakin menunjukkan kelemahannya di depan James, akhirnya Sisil pergi dari tempat itu sambil membunyikan kalimat peringatan.


"Ah, sudahlah. Mendingan aku pergi dari sini. Kamu, jangan ikuti aku."


Sambil bangkit, Sisil langsung melenggang pergi tanpa mempedulikan ekspresi James yang sedang menatapnya heran. Namun, belum sampai Sisil melangkah lebih jauh, tangan James menahan lengan Sisil hingga akhirnya Sisil menghentikan langkahnya seketika.


"Apalagi? Aku bilang jangan ikuti aku. Aku bisa pulang sendiri."


"Kamu harus pulang denganku. Aku sudah berjanji pada orang tuamu."


Mendengar lagi-lagi orang tuanya dijadikan sebuah alasan, Sisil tersenyum penuh ironi.


"Kamu emang nggak punya alasan lain selain mama dan papa? Lepasin aku!" Sisil menarik tangannya dengan kasar hingga pegangan tangan James di lengannya pun terlepas. "Aku bisa pulang sendiri! Aku tau aku harus kemana. Sekali lagi aku bilang, jangan ikuti aku!"


Setelah selesai menumpahkan kekesalannya, Sisil langsung melenggang pergi meninggalkan James. James tampak memperhatikan cara berjalan Sisil yang terlihat lunglai dari kejauhan. Dia pun terkekeh ringan karena merasa tak habis pikir dengan sifat perempuan itu.


"Dasar perempuan keras kepala!" Keluhnya.


Kemudian James mengingat kembali dengan kedua mata Sisil yang memerah dan sisa air mata di sudut matanya yang mulai mengering.  Kedua matanya membelalak penuh antipati.


"Tadi dia bilang, dia tau kemana akan pergi. Jangan-jangan.... Dia akan ke tempat itu lagi?"


Sial! Jangan sampai dia datang ke tempat itu lagi.


James langsung berlari mengejar Sisil yang mulai menjauh bahkan menghilang di telan cahaya lampu-lampu taman. Berusaha akan menghalanginya untuk pergi ke klub malam sebelum semuanya benar-benar terlambat.


●●●


Seperti dugaannya, Sisil benar-benar pergi ke klub malam seperti kemarin. Padahal dia sudah berusaha mengikutinya untuk menghalanginya mendatangi tempat ini. Tetapi, James malah kehilangan jejaknya karena Sisil sudah lebih dulu menaiki taksi yang sudah diberhentikannya.


James pun akhirnya mengikuti taksi yang Sisil naiki dengan mobilnya. Lalu, Setelah beberapa menit perjalanan, taksi itu berhenti di sebuah klub tempat dimana James menemukannya kemarin malam. Setelah melihat Sisil keluar dari taksi, James langsung keluar dari mobilnya untuk mengikutinya tanpa mempedulikan dimana dia harus memarkirkan mobilnya.


Di dalam klub itu, Sisil langsung menuju ke bar dan memesan minuman dengan kadar alkohol paling tinggi pada seorang barista.


"Buatkan aku minuman dengan alkohol paling tinggi."


"Maaf, tidak bisa, nona. Kami dilarang menyajikan minuman itu untuk wanita."


"Aku akan bayar berapapun. Sekarang buatkan aku, cepat!" Sisil tampak tersulut emosi.


Namun, seorang lelaki tiba-tiba datang menghampirinya dan menggodanya. Menawarkan sebuah minuman alkohol dari gelasnya lebih dulu sebelum kemudian menggodanya dengan menyentuhkan jari-jari kotornya pada wajah Sisil. .


"Jangan macem-macem! Aku bisa memukulmu dengan ini." Sisil berujar dengan nada mengancam.


Kemudian Sisil mengambil salah satu botol minuman, dan dipegangnya dengan kencang di tangannya sebagai alat pertahanan diri. Dia sudah siap mengayunkan dan memukul laki-laki itu jika sejengkal saja dia berani menjatuhkan jarinya lagi ke tubuhnya.


"Jangan galak-galak, cantik! Aku bisa menemanimu dan juga memuaskanmu. Ayo, kita keluar dari sini dan mencari tempat paling nyaman."


Tangannya bergerak ingin merangkul Sisil, namun dengan gerakan cepat, Sisil langsung mengayunkan botol berisi minuman tersebut ke kepala laki-laki itu hingga menyebabkan kegaduhan. Pelipis laki-laki itu mengeluarkan darah yang mengucur ke bawah mata hingga tulang pipi.


Sisil terkejut dan terperanjat. Dia langsung melempar botol minuman yang pecah itu lantai.


"Perempuan kurang ajar!" Laki-laki itu membentak Sisil dan berlari menghampirinya. Berniat untuk menampar Sisil namun disaat yang tepat James datang mencegahnya.


"Jangan ayunkan tangan kotormu pada perempuan! Dia datang bersamaku."


Bohong jika Sisil tidak merasa takut. Hal itu terlihat dari caranya yang memilih langsung berlindung di balik tubuh James sambil mencengkram ujung jasnya kuat-kuat dengan kepala tertunduk dalam dan gerakan tubuh yang sangat gelisah.