
Rapat itu berjalan lancar meski pikiran Dimas sempat terpecah. Setelah semua klien pergi meninggalkan ruangan meeting, tinggallah Dimas seorang diri dalam ruangan itu. Dia kepikiran akan kondisi Meila yang saat ini seorang diri di rumah. Dilihatnya jam tangan yang menunjukkan pukul 5 sore. Bagaimana gadis itu akan makan malam jika tidak ada dirinya? Ya, bisa saja gadis itu memesan makan dari luar. Tapi jika Meila memesan sembarangan, belum tentu kebersihannya terjamin, bukan?
Dimas merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya. Kemudian Dimas mencari kontak Henry dan meneleponnya.
"Ya, tuan?" Henry langsung mengangkat panggilan Dimas sesaat setelah dering pertama.
"Henry, tolong pesankan set menu makan malam di restoran langgananku lalu bawakan untuk Meila. Dan... sampaikan padanya untuk jangan menungguku karena aku akan pulang terlambat."
"Baik, tuan."
Setelah panggilan itu berakhir, Dimas langsung termenung kembali. Jujur saja, dirinya merasa gelisah dan hatinya merasa tidak tenang. Tapi, dia juga merasa sedikit marah dengan Meila. Oleh sebab itu, dia harus bersikap tegas agar Meila tau, jika Dimas tidak pernah main-main dan bersungguh-sungguh dalam melindunginya.
Di tempat lain, Meila tampak gelisah menunggu kedatangan Dimas di ruang utama. Pasalnya, sudah pukul 5.30 petang pria itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangannya.
Apakah kali ini Dimas benar-benar marah?
Memikirkan kemarahan Dimas membuatnya sedikit melupakan sakit di bagian perutnya untuk sesaat. Tetapi, baru saja Meila lupa, perasaan sesaklah yang tiba-tiba muncul ketika membayangkan Dimas yang marah dan mendiamkannya seperti tadi.
Hal itu membuat kram di perut nya terasa kembali disertai perasaan sesak dari rasa bersalahnya. Untuk menetralkan itu semua, Meila mengatur napasnya berulang kali sambil setengah merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Jangan berpikir macam-macam, Meila..." Meila berucap sendiri sambil menenangkan diri. "....mungkin aja meeting nya belum selesai. Iya. Pasti begitu."
Sembari menunggu kedatangan Dimas dari kantor, Meila berpikir untuk membuat makan malam untuk mereka nanti.
"Oh, iya. Sambil nunggu kak Dimas pulang, aku akan buat makan malam dulu." Ekspresinya berubah bersemangat ketika membayangkan kemarahan Dimas yang mungkin akan sedikit melunak dengan menyiapkan makan malam.
Sambil mengulas senyum di bibirnya, Meila pun bergegas bangun dari sofa dengan mengabaikan rasa sakit perut yang cukup menantang. Meski dia sudah terbiasa dengan itu, tetapi akan terasa sangat sakit jika tiba-tiba muncul. Belum lagi rasa pegal di area pinggang yang rasanya seperti ditekan-tekan.
Namun, suara bunyi bel beberapa kali menghentikan langkahnya tiba-tiba ketika baru akan berjalan menuju ke dapur. Wajahnya menjadi sumringah ketika dia mengira jika itu adalah Dimas yang datang.
"Mungkin itu kak Dimas,?!" Serunya dengan semangat.
Meila lalu berlari ke arah pintu dan segera membukanya. Alangkah terkejutnya Meila disertai wajah kecewa yang nyata. Rupanya Henry lah yang datang.
"Selamat sore, nona. Saya diperintahkan oleh tuan untuk membawakan makan malam untuk nona." Henry memperlihatkan sebuah bingkisan paper box besar dan memberikannya pada Meila.
Perlahan namun pasti, Meila mengambil bingkisan itu dari tangan Henry.
"Kak Dimas... Nggak pulang?"
"Tuan berpesan jika dia mungkin akan pulang terlambat. Dan... tuan juga mengatakan jika nona tidak perlu menunggunya."
Wajah kekecewaan yang nyata terlihat jelas di wajah Meila. Hal itu membuat Henry serba salah dan tidak tega untuk terus berlama-lama disana. Akhirnya dia pun berpamitan untuk segera kembali ke kantor kepada Meila yang masih menyisakan ekspresi sedihnya.
●●●
"Kamu mau aku mengantarmu sampai rumah?"
Sisil menoleh mendengar pertanyaan James. Dia juga bingung jika harus menjawab ya atau tidak. Sebab, jika jawabannya adalah ya, Sisil tidak mau James merasa besar kepala karena mengira dirinya yang sudah melunak. Tetapi jika dia menjawab tidak, jujur, Sisil masih merasa bingung harus seperti apa menghadapi orang tuanya.
"Mmm... Kamu bisa menurunkanku di depan gerbang. Aku akan masuk sendiri ke dalam."
Sekarang giliran James yang menoleh disertai alisnya yang menaik.
"Kamu yakin? Kalau kamu mau... Aku bisa mengantarmu sampai rumah seperti kemarin." James memberi penawaran.
Sisil terdiam antara ingin menolak, tetapi hatinya mengatakan kata 'ya sudah dan baiklah' dengan lantang.
"Baiklah, karena kamu tidak mau jawab. Maka aku yang akan putuskan." James berbicara kemudian disaat Sisil belum juga memutuskan.
Sisil akhirnya menoleh lagi dengan ekspresi bingung. Lalu menyahuti James tanpa melihat ke arahnya yang sedang memasang senyum di bibirnya.
"Te-terserah kamu," lalu menjawab dengan kikuk sambil membuang pandangannya ke arah jalan raya.
●●●
Henry mengetuk pintu ruangan Dimas dengan pelan. Lalu setelahnya terdengar sahutan dari dalam yang mengizinkan dirinya untuk masuk.
"Kamu sudah memberikannya?"
"Sudah, tuan. Saya memberikan pesanan makan malam yang tuan perintahkan kepada nona."
Dimas mengangguk. Lalu memperhatikan ekspresi Henry yang tampak bingung seolah ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?"
"Mmm... itu, tuan. Mengenai nona... begitu saya datang, tampaknya nona mengira jika itu adalah tuan yang datang. Dan setelah membukakan pintu, ekspresi wajah nona berubah sedih dan kecewa. Tampaknya nona sedang menunggu tuan dan ingin mengatakan sesuatu?"
"Aku tau itu. Dia sedang berusaha menjelaskan sesuatu padaku. Aku akan sedikit tegas padanya. Bukan berarti aku tega bersikap dingin dan marah seperti tadi. Aku sedang berusaha membuatnya mengerti jika laki-laki itu tengah mengambil kesempatan dan sedang berniat buruk padanya."
"Tapi, tuan, apa... lebih baik tuan memberitahunya saja? Oh, i-ini cuma saran saya saja, tuan. Jujur, saya lebih mencemaskan keadaan nona yang tidak tau apa-apa dibandingkan jika nona telah mengetahui semuanya. Karena dengan mengetahuinya, kita lebih mudah mengontrol keamanan nona."
Dimas tampak mendengarkan pendapat Henry sambil memainkan sebuah pulpen di tangannya.
"Aku juga sudah memikirkannya matang-matang. Seperti pendapatmu tadi, aku berniat untuk mulai memberitahunya pelan-pelan begitu aku sampai di rumah. Dan kali ini mau tidak mau aku harus melakukannya. Aku juga tidak bisa menyimpan jejak kejahatan laki-laki itu yang jelas-jelas sedang berusaha memanfaatkan Meila."
Henry tampak diam dan mengangguk paham. Dia sedikit lega jika pendapatnya itu sepemikiran dengan tuannya. Tadi dia berpikir jika Dimas akan memarahinya atau membentaknya karena dengan lancang memberikan pendapat yang belum tentu baik hasilnya. Tetapi, setelah mendengar jawaban Dimas, dia merasa sedikit tenang dibandingkan tidak berpendapat apa-apa.