
"Kenapa, Sisil? Apa isi pesannya?"
Suara James sempat meninggi karena tidak mndapatkan jawaban apapun dari Sisil. Dia hampir saja kesal jika kali ini Sisil benar-benar tidak menjawabnya.
"J-james.... dia... dia meminta bertemu."
"Aku sudah yakin jika suatu saat laki-laki itu pasti akan meminta bertemu. Bilang padanya jika kamu akan menemuinya."
Sisil membelalak tidak percaya. Dia merasa kecewa pada James yang dengan mudahnya menyuruhnya bertemu dengan Beno yang jelas-jelas sedang berusaha dihindarinya. Dan berbanding terbalik dengan James yang diliputi rasa geram dengan Beno yang berani meminta Sisil untuk menemuinya, dia jadi lupa akan kondisi Sisil yang baru saja sedikit lebih baik. James pun sadar jika tatapan Sisil padanya menunjukkan sikap kecewa. Untung saja James bisa menerka dan segera memperbaiki maksud dari kalimatnya sambil menjelaskan pada Sisil dengan lembut.
"Tidak. Maksudku bukan seperti apa yang kamu pikirkan." Ekspresi James melembut disertai tangannya yang bergerak menangkup wajah Sisil. "Aku hanya ingin memancingnya keluar karena aku memiliki rencanaku sendiri untuk membuatnya kembali masuk ke dalam sel tahanan. Apa kamu pikir, setelah aku menyaksikan semuanya aku bisa menyerahkanmu begitu saja? Tidak mungkin, Sisil. Itu tidak akan pernah aku lakukan!" Ujarnya tegas. Dan itu sedikit membuat Sisil lega. "Jadi mau tidak mau, kita harus melakukan ini, Sisil. Karena ini adalah satu-satunya cara agar kita bisa menangkap laki-laki itu. Kamu mau, kan? Percaya padaku."
Tatapan James berubah dalam dengan tatapan yang menusuk. Menandakan jika dia bersungguh-sungguh ingin menuntaskan semuanya dan membuat Sisil lepas dari semua ancaman dan juga teror yang selama ini membuatnya tertekan.
Sambil menelisik ke kedalaman mata James, Sisil berpikir jika mungkin ini adalah jalan terakhir yang bisa dia lakukan untuk melepaskan jerat ancaman dari Beno. Dan selama ini James benar-benar membantunya, melindunginya, dan membuatnya percaya akan adanya kebebasan diluar sana yang belum Sisil rasakan.
Dan akhirnya Sisil pun memutuskan. Meski masih dalam perasaan ragu, tak urung dia mengangguk setuju dengan rencana James. Sambil membawa tangannya memegangi tangan James yang masih setia menangkup wajahnya dan sabar menunggu keputusannya.
"...i-iya. Aku percaya sama kamu." Ucap Sisil seketika.
Tatapan James melembut disertai senyuman yang meneduhkan.
"That's My Girl!" Seru James memberikan pujian dan juga kecupannya ke kening Sisil. "Sekarang balas pesan itu dan jangan membuat kalimat mencurigakan."
Sisil mengangguk. Kemudian langsung melakukan apa yang James katakan. Dan tidak menunggu waktu lama, pesan yang baru saja terkirim langsung dibalas oleh Beno secepat kilat. Menandakan jika laki-laki itu memang sedang menunggu jawabannya.
Sisil dan James saling bertatapan sebelum akhirnya Sisil membuka pesan balasan dari Beno yang mengejutkan.
"Di-dia... dia meminta bertemu di gedung itu. Gedung yang kemarin kita datangi."
Reaksi James sungguh diluar dugaan. Tidak ada rasa terkejut sekalipun dari kalimat yang Sisil katakan.
Sudut bibirnya mengangkat. "Aku sudah merasa jika ada seseorang yang mengikuti kita. Tetapi aku memilih untuk pura-pura tidak menyadarinya. Dan dugaanku benar laki-laki itu mengikuti kita. Dan jebakanku sedikit berhasil, bukan?"
Dan berbanding terbalik dengan James, Sisil lah yang langsung terkejut.
"Apa? Jadi kamu udah tau kalah Beno akan mengikuti kita?"
"Aku hanya menebaknya. Dan itu benar-benar terjadi. Tapi, itu jadi memudahkan untuk menjalankan rencana kita. Kamu hanya tinggal mengiyakan tawarannya."
"Tap-tapi, James...."
"Ssstt... Sisil, aku tau ketakutanmu. Aku berjanji padamu jika kali ini benar-benar yang terakhir."
"Ba-baiklah..." meski terdengar lesu dari suaranya, tak urung Sisil tetap mengiyakan ucapan James.
Sisil langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimnya kepada Beno. Dan seperti sebelumnya, Beno langsung membalas dengan cepat dalam hitungan detik.
James tampak memperhatikan ekspresi Sisil tanpa berkedip sedikitpun. Dan dari situlah bisa James tebak jika ada hal aneh dari pesan yang dibaca Sisil.
"James...."
"Apa? Dia memintamu melakukan sesuatu?"
Sisil menoleh sambil mengangguk. "Dia memintaku untuk datang sendiri tanpa siapapun. Aku... harus gimana? Apa aku batalin aja?"
"Sisil, tidak apa-apa. Kamu hanya tinggal menuruti apa kemauannya." Sambil menangkup wajah Sisil sekali lagi, James berusaha meyakinkan perempuan itu jika tidak akan terjadi apapun padanya. Karena Sisil akan tetap berada dalam pengawasannya tanpa cela.
"Tapi, James..." suara Sisil melemah seolah memohon.
"Kamu percaya padaku, kan? Aku tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi orang gila itu sendirian. Apalagi menyerahkanmu begitu saja, itu tidak mungkin, Sisil. Kamu akan tetap berada dalam perlindunganku di bawah pengawasanku. Aku akan tetap ada dalam jarak yang tidak bisa terjangkau olehnya. Kamu hanya tinggal mengiyakan syarat darinya. Dan sisanya, biar aku yang akan selesaikan. Percaya padaku...!"
Karena mulai merasa sesak, Sisil akhirnya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Aku... Aku harus membalas apa untuknya?"
"Kamu tinggal bilang jika kamu menyetujui persyaratannya dan akan datang menemuinya."
Dengan tidak bersemangat, Sisil langsung mengetikkan apa yang James perintahkan. Dua detik kemudian pesan itu terbalas hingga membuat Sisil benar-benar lemas sekarang. Dia langsung meletakkan ponselnya ke samping bantal dan menatap James.
"Dia meminta bertemu besok. Rasanya terlalu cepat, James."
James mengerti ketakutan Sisil. Dia pun langsung membawa Sisil ke dalam pelukannya yang menenangkan.
"Tidak apa-apa. Ada aku. Aku tidak akan meninggalkanmu dengan pria gila itu. Aku akan menyelesaikan sisanya." Kemudian mengecupi pelipis Sisil sambil mengusapi punggung lengan Sisil dengan lembut.
Seolah tidak ada rasa canggung lagi, Sisil langsung membalas pelukan James dengan memeluknya kembali sambil menyandarkan kepalanya ke pundak James yang kokoh. Memejamkan matanya disana sambil mengatur napasnya berkali-kali.
●●●
Begitu Dimas masuk ke ruangannya, hal pertama yang dicarinya adalah sosok gadis mungil terkasih yang disayanginya. Sambil dipenuhi pertanyaan dalam benaknya, Dimas berjalan perlahan setelah menutup pintu dengan rapat tanpa suara. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terlepas dari, apa yang sedang gadis kecil itu lakukan sekarang? Atau Apa dia merasa nyaman atau sebaliknya? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatnya sedikit khawatir.
Namun, semua pertanyaan itu musnah sudah tergantikan oleh pemandangan manis dari sofa di seberang meja kerjanya. Pemandangan gadis mungil dengan dengkuran halus khas seseorang yang sedang tidur. Gadis itu tampak terpejam nyaman di sofa yang cukup luas untuk tubuhnya yang kecil. Dengan posisi berbaring miring sambil memeluk sebuah buku yang masih terbuka di atas perutnya.
Memang dasar gadisnya itu suka sekali membaca, maka dalam kondisi apapun pasti tak pernah terlepas dari sebuah buku atau novel dan komik sekalipun. Maka tak salah jika Dimas memberikan sedikit tempat untuk meletakkan buku-buku novel dan komik secara khusus yang baru saja disusunnya pagi ini.
Melihat pemandangan manis di depan matanya, seketika menghilangkan rasa lelah dan penat setelah menghadapi berbagai macam karakter seseorang dalam beberapa kali pertemuan meeting yang dipimpinnya.
Tanpa membuang waktu atau menunggu, Dimas langsung menghampiri Meila dan membungkuk di depannya. Menatapnya dengan sayang sambil melepaskan buku yang masih setia dipeluk Meila dengan penuh kehati-hatian untuk diletakkan ke atas meja. Namun, tindakan Dimas itu justru membangunkan Meila dari tidurnya yang cukup terbilang lelap.
"Kenapa bangun? Apa aku kurang hati-hati memindahkan bukunya?"
Sambil mengerjap berkali-kali karena pandangan yang berkabut, Meila menjawabnya dengan sebuah senyuman.
"Kapan kakak datang? Ini jam berapa?"
"Aku baru datang dan langsung menghampiri kamu. Sekarang baru jam 4 sore." Sahut Dimas sambil memainkan pipi Meila yang kenyal.
"Baru jam 4?"
Itu berarti... aku tidur cukup lama disini.
"Aku sengaja menyudahi meeting satu jam lebih awal. Karena kita akan pulang lebih awal untuk menghindari kemacetan. Gimana? Apa kamu nyaman berada di ruangan ini?"
Meila langsung mengangguk. "...iya."
Tatapan Dimas melembut seketika. "Kenapa nggak tidur di kamar itu? Disini bisa bikin kamu nggak bisa tinggi karena sofanya yang nggak nyaman."
Seketika Meila tertawa mendengar kalimat Dimas yang seperti sedang mengejeknya.
"Aku cukup puas dengan tinggi badan aku yang seperti ini. Lagi pula ada kamu yang jauh lebih tinggi dari aku, kan? Jadi aku bisa minta bantuan kamu kalau aku mau ambil sesuatu di tempat yang nggak terjangkau." Celotehnya dengan polos.
Dimas terkekeh pelan sambil memberikan kecupan lembut ke pipi Meila.
"Benar. Kamu bisa mengandalkan aku kapanpun kamu mau. Ayo! Kita pulang sekarang." Ucap Dimas sambil menatap sayang.
Dimas lalu membantu Meila bangun dan langsung berdiri di depannya. Sebelum itu, Dimas merapikan rambut Meila yang sedikit berantakan lalu berbalik ke meja kerjanya untuk mematikan perangkat lunak komputer yang masih menyala dan sedikit membereskan berkas-berkas yang tidak beraturan.
"Tunggu sebentar, ya."
Dimas lalu menekan tombol pada telepon dan meminta Henry untuk datang ke ruangannya.
Tak lama kemudian Henry pun datang didahului oleh ketukan pintu. "Apa ada yang perlu saya lakukan, tuan?"
"Henry, aku akan pulang lebih awal. Untuk hasil meeting hari ini, tolong kamu selesaikan dan berikan berkasnya besok pagi."
"Baik, tuan."
Setelah memberikan perintah, Dimas lalu mengajak Meila keluar ruangan sambil menggandengnya hangat. Yang kebetulan saat itu posisi Henry berdiri dekat dengan pintu masuk, dengan sigap Henry langsung membukakan pintu untuk mereka.
"Terima kasih, Henry." Ucap Meila dengan tulus.
"Sama-sama, nona."
Begitu mereka keluar, langsung disambut oleh pandangan Cindy yang cukup terkejut juga bercampur heran. Pasalnya, Dimas yang biasanya sangat berbeda dengan sekarang. Tuannya itu sangat tegas dan pelit senyum. Namun, kali ini dia benar-benar melihat sosok lain yang muncul dari tuannya ketika bersama seorang perempuan. Dan layaknya perempuan sopan dan juga ramah, Meila menyalami Cindy dengan memberikan senyuman manis saat melewati mejanya. Belum lagi dengan interaksi hangat antara Dimas dan Meila yang membuat siapa saja langsung iri melihatnya.
"Bagaimana kalau kita mampir ke Supermarket dulu?"
Mendengar kata 'supermarket', otomatis Meila langsung mengangguk setuju. Dengan penuh antusias gadis itu langsung mengiyakan ajakan Dimas tanpa ragu.
"Mau!"
"Kalau gitu kita belanja dulu untuk menu makan malam nanti. Kamu mau makan apa malam ini?"
"Hmmm... aku mau yang berkuah-kuah dan hangat kayaknya enak." Dengan penuh antusias, Meila menjawab dengan mata berbinar.
"Berkuah? Gimana kalau kita buat shabu-shabu malam ini?"
Meila langsung setuju dan senang. "Iya! Boleh."
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga memasuki lift. Dan begitupun juga dengan Cindy yang masih terus memperhatikan sikap tuannya hingga sosoknya hilang dibalik pintu lift yang terbuka.