
"Jadi, alasan Vika menerima pertunangan itu karena papanya?" Tanya Dimas dengan suara lembut khasnya.
Meila mengangguk, "kak Vika menceritakannya tadi saat aku ke perpus dan nggak sengaja ketemu sama dia." Jelasnya pelan.
Meila akhirnya menepati janjinya untuk menceritakan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Dimas sendiri tidak menyinggung-nyinggung Meila dan membiarkan gadis itu sendiri yang dengan sendirinya bercerita. Dan benar, setelah makan malam selesai dan seperti biasa, mereka berpindah ke ruang televisi untuk sekedar mencicipi cemilan sambil bersantai, barulah Meila memulai ceritanya.
Dengan posisi Meila bersandar nyaman membelakangi Dimas. Sedangkan Dimas merangkulnya sambil sesekali mengecupi belakang kepala Meila yang harum.
"Lalu, apa yang membuat kamu murung, Sayang?"
Meila tampak menghembuskan napasnya sejenak, "aku kasian sama hubungan mereka, kak. Padahal, dulu aku sempat berpikir kalo mereka pasti akan jadi pasangan sempurna dan nggak pernah terpisahkan.
Tapi nyatanya hubungan mereka udah berakhir." Pungkasnya dengan nada sesal.
Dimaspun tersenyum, lagi-lagi memberikan kecupan lembut ke puncak kepala gadisnya seraya menyahutinya.
"Hati kamu itu terlalu lembut, Mei. Mudah rapuh dan tersentuh." Dimas menghentikan kalimatnya sejenak sambil mengusap rambut Meila dengan sayang. "Tapi itu wajar buat gadis kayak kamu. Dan kamu boleh serapuh apapun di hadapan aku. Aku menerimanya." Sahut
Dimas dengan pengertian yang terdengar tulus.
Dapat Dimas pastikan jika saat ini wajah Meila sedang memerah padam. Pria itu tampak menahan diri untuk tidak menggodanya, tapi sesaat kemudian Meila bergerak membalikkan tubuhnya untuk menghadap Dimas.
"Kak, menurut kamu.... apa kak Rendy dan kak Vika bisa bersama-sama lagi?" Tanya Meila tiba-tiba sampai tatapan Dimas melembut penuh sayang.
"Kamu mau tau jawaban aku?" Dimas menyahuti dengan pertanyaan. Dan Meila langsug mengangguk cepat seolah tidak sabar ingin mendengar jawaban pria itu.
Dimas menghela napasnya sejenak, disertai tangan yang bergerak naik untuk merapikan anak rambut Meila yang menjuntai, "selama perasaan itu masih ada, meski salah satu dari mereka berusaha mengelaknya, cepat atau lambat rasa itu akan tumbuh kembali dan akan semakin kuat. Dan aku percaya, diantara mereka masih sama-sama saling menyimpan rasa. Hal itu terlihat dari cara Rendy menatap Vika," perlahan tangan Dimas bergerak merangkul kembali, dan menarik Meila kedalam dekapannya. "Begitu juga sebaliknya, cara Vika memandang Rendy sudah menjelaskan jika besar kemungkinan mereka akan bersama kembali. Kita hanya menunggu waktu yang tepat agar semuanya terjadi dan Vika mempunyai keberanian buat menjelaskan alasannya. Aku yakin, Rendy akan mengerti." Pungkas Dimas memberi pendapatnya dengan seksama.
Meila terdiam, namun sesaat kemudian kepalanya mendongak dengan tatapan ingin tahu dan bertanya dengan sikap serius tapi juga tidak menutupi kesan polos darinya.
"Emang cara kak Rendy menatap kak Vika kayak gimana?"
Dimas dibuat tertawa oleh pertanyaan konyol itu. Tawanya hampir menyembur namun dia bisa menahannya dengan cepat.
"Ih! Kak, aku serius." Cebik Meila sedikit kesal. Karena bukannya menjawab, Dimas malah menertawainya.
Dimas pun berhenti tertawa, lalu berdehem sebelum kemudian menjawab.
Dengan sekali gerakan, tangan Dimas terangkat untuk menangkup kedua sisi wajah Meila, memaksanya untuk memusatkan perhatian gadis itu padanya.
"Tatapan yang seperti ini," ucapnya tiba-tiba.
Dimas melakukannya. Menatap Meila dengan tatapan lekat penuh kelembutan, tatapan berbalut kasih sayang yang menggambarkan perasaannya akan cintanya. Tatapan yang menjelaskan, bahwa dengan menatap saja, tanpa berkata apapun semua perasaannya sudah tergambarkan melalui bola matanya.
Meila seolah terhipnotis. Dia berbalik menatap Dimas dengan cara yang sama, tanpa berkedip dan tanpa bersuara. Hanya terdengar suara hembusan napas masing-masing di keheningan yang membentang.
"Kamu merasakannya?" Suara Dimas seketika membuat Meila tersadar, namun matanya tidak berusaha berpaling. "Tatapan seperti itu adalah tatapan penuh cinta. Aku bisa merasakannya saat kamu menatap aku. Karena aku juga merasakannya saat menatap kamu."
Perlahan Dimas mendaratkan ciuman ke bibir tipis itu. Mencecapnya kecil-kecil seolah tidak tega untuk merusaknya. Menyesapnya penuh kelembutan yang tak terkira. Meila pun ikut terhanyut dengan perlakuan Dimas. Gadis itu membalasnya perlahan meski masih sedikit kaku dan canggung. Dimas memakluminya, dan harusnya dialah yang mendapatkan hukuman karena telah mengajarkan gadis polos seperti Meila untuk berciuman dan dengan sukarela menerima ciumannya.
Ciuman itu terhenti, saat Dimas menyadari napas Meila mulai tersengal dan butuh meraup banyak oksigen ke paru-parunya. Keduanya belum sepenuhnya menjauh, kening mereka masih menempel dengan mata yang saling terpejam.
"Maaf, karena aku selalu melakukannya tanpa bertanya dulu. Tapi itu yang aku rasakan saat aku di dekat kamu. Aku selalu ingin merasakan kehadiran kamu dengan cara yang aku bisa. Aku......"
".....aku sayang kamu, kak....."
Kalimat itu berbunyi bersamaan. Sampai-sampai, Dimas harus sedikit mencerna kembali dan memastikan apa yang baru saja dikatakan Meila untuk masuk ke telinganya, hingga sampai ke otaknya dan akhirnya terserap ke hatinya.
"Kamu nggak perlu meminta maaf, kak. Ka-karena... aku juga menerimanya." Sambungnya dengan tulus dan sangat pelan meski Dimas tau masih ada rasa canggung bercampur malu saat Meila mengatakannya.
Tatapan Dimas berubah sayang, lalu memberikan kecupan gemas ke ujung hidung Meila yang lancip.
"Aku percaya, Sayang. Tapi yang harus kamu tau, meskipun aku menginginkannya, aku nggak akan melakukan sesuatu diluar batas kendali aku sama kamu. Karena aku sangat menghargai dan menghormati privasi kamu," Dimas menyahuti dengan kalimat paling lembut disertai tatapan penuh sayang. Lalu menatapnya sejenak sambil membalas kalimat Meila yang tertunda. "Aku juga menyayangi kamu, Mei. Sangat!" Jawabnya dengan memperjelas kata di akhir kalimatnya.
Keduanya saling melempar senyum, lalu Dimas menghadiahkan kecupan ke kening Meila. Dan membawanya untuk berbaring di atas pangkuannya sambil memberikan usapan lembut ke atas kepalanya.
Membiarkan gadisnya berbaring manja sambil membelainya dengan sayang.
Sementara Dimas membelai kepala Meila, gadis itu menarik satu tangan Dimas yang bebas untuk digenggamnya. Memastikan jika Dimas tidak akan kemana-mana dan terus berada didekatnya meski dirinya terlelap.
●●●
Setelah beberapa lama saling memeluk, mencurahkan isi hati masing-masing yang telah lama terpendam, Vika merasakan kelegaan luar biasa dihatinya. Perasaannya begitu ringan seolah beban yang menimpa dirinya telah terangkat sepenuhnya dan hilang tak bersisa.
Sambil menunggu Rendy menyiapkan sesuatu di dapur, Vika tampak menatap langit balkon ruang utama Rendy yang langsung menghubungkan dengan taman. Wajahnya memang masih sembab, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyuman kelegaan yang menghiasi wajahnya.
Baginya, rumah ini masih tetap sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari apa yang dilihatnya dulu dan sekarang. Dan Vika sangat menyukainya.
Dari kejauhan, tampak Rendy berjalan dari dapur menuju ruang utama dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan satu piring berukuran sedang berisi pudding-cake. Diletakkannya nampan itu ke atas meja. Kemudian, dihampirinya Vika yang masih belum memalingkan pandangannya dari tempatnya.
Perlahan, Rendy bergerak, mengalungkan lengannya pada pinggang ramping Vika. Memeluknya dari belakang sambil menciumi pundak Vika yang sedikit terbuka.
"Apa bintang-bintang itu lebih indah dari aku, Vika? Sampai-sampai kedatangan aku sama sekali nggak menarik perhatian kamu?" Ucap Rendy seketika sambil meletakkan dagunya di atas pundak gadis itu.
Dan Vikapun tersenyum, menggerakkan tangannya untuk memegang lengan Rendy yang melingkar di perutnya yang rata.
"Aku tau kamu pura-pura lupa, Rendy. Kamu tau kan, kalau aku sangat suka memandangi langit malam seperti ini. Bahkan aku yakin, bukan aku aja yang akan menyukainya. Semua pasti menyukainya." Sahut Vika lembut seperti sedang berbicara dengan anak kecil.
Ya! Hubungan mereka mulai membaik. Rendy memilih untuk tidak membahas apa yang sudah didengarnya tadi. Dia hanya ingin menikmati waktu bersama Vika yang sudah lama tidak tercipta dan sempat hilang.
Terdengar kekehan ringan Rendy dekat dari telinga Vika. Lalu, pria itu menghela napasnya sesaat sebelum kemudian mencium pundak Vika sekali lagi seraya mengucap.
"Kamu benar. Aku sangat mengenal kamu, Vika." Sambil menyahuti, Rendy tampak menghirup napas sesaat seraya menempelkan bibirnya di sana. "Kamu tau, .....Aku sangat merindukanmu, Vika......" pungkasnya seketika sambil menggesekkan bibirnya ke permukaan leher Vika.
Vika membalikkan tubuhnya perlahan, sedangkan Rendy tampak memainkan helaian demi helaian rambut Vika seperti kebiasaannya yang dulu.
".....aku juga,....." sahut Vika kemudian dengan tatapan lekat.
"Kita kesana?" Ajak Rendy sambil menoleh ke arah meja. "Aku udah buatkan teh hangat buat kita dan juga makanan kesukaan kamu."
Tanpa menunggu Vika menyahuti, Rendy sudah menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya. Menghelanya ke sofa dan duduk di sana.
"Pudding-cake?" Ucapnya dengan mata penuh binar. "Kamu masih mengingatnya?"
Rendy mengangguk, lalu memotong sedikit pudding itu menggunakan sendok untuk disuapkan ke Vika. "Apapun tentang kamu, aku masih sangat mengingatnya dengan baik. Dan nggak pernah sedikitpun aku membiarkan ingatan tentang kamu hilang dari pikiran aku begitu aja, Vika."
Seketika ucapan Rendy membuatnya mengingat kesalahannya, wajahnya berubah lesu dibalut rasa bersalah.
"Rendy, aku... aku minta maaf karena....."
"Ssshh... kita bicarakan nanti."
"Nggak bisa, Rendy. Aku udah pernah menundanya dan hasilnya malah buruk. Sekarang aku nggak mau menundanya lagi," sanggah Vika dengan cepat sambil meraih tangan Rendy dan menggenggamnya erat.
Rendy tampak menghela napas ringan dan bersikap tenang. Lalu, meletakkan sendok ditangannya ke atas piring dan berbalik menangkup kedua tangan Vika dan meremasnya lembut.
"Apa yang mau kamu jelasin, Vika. Aku udah mendengar semuanya. Aku mendengar pembicaraan kamu dengan Meila di perpustakaan tadi." Rendy berucap jujur meski dia tahu Vika sempat terkejut dengan pengakuannya.
Jadi Rendy udah mendengar semuanya?
"Ya. Tanpa sengaja aku mendengar semuanya saat aku akan mencari Meila untuk meminta beberapa tugas darinya. Begitu aku akan menghampirinya, tiba-tiba aku mendengar suara kalian di sudut perpustakaan sambil membicarakan sebuah pertunangan dan serangan jantung."
Rendy dapat merasakan tubuh Vika yang menegang saat dia menyebut kata 'serangan jantung' dalam pengakuannya.
"Dan pada saat itulah otak aku berputar dan mendapatkan jawaban soal ketakutan kamu akan kejadian di halte waktu itu. Kejadian ketika mobil ambulance melewati kita dan kamu begitu ketakutan dan gemetar. Seolah memiliki trauma dengan suara sirine itu." Rendy tampak memperhatikan raut wajah Vika yang berubah memerah dan berkaca-kaca. "Aku benar, bukan?" Tanya Rendy seketika untuk memastikan.
Air mata itu lolos juga meski sekuat tenaga Vika menahannya. Vika mengangguk perlahan membenarkan kalimat yang diucapkan Rendy.
"Semenjak kepergian papa, aku merasa kesepian, Rendy. Meski aku memiliki keluarga James sebagai keluarga baru aku, tapi rasanya tetap beda. Aku berusaha bahagia meski sebenarnya hati aku kosong. Saat aku kembali ke Indonesia untuk menemui kamu, aku teringat kembali saat aku ke rumah ini dan kamu mengusirku. Hati aku mendadak takut dan mundur dengan sikap pengecut. Aku mulai menyibukkan diri dengan karir model yang aku jalani di sebuah agency dibawah naungan keluarga James. Sampai akhirnya sedikit demi sedikit aku lupa dengan kesedihan yang aku rasakan itu." Isak tangisnya meledak berbarengan dengan rasa sesak didada.
Vika berusaha menjelaskan kembali meski nada suaranya terdengar gemetar dengan wajah yang kembali basah penuh air mata.
"Ha-harusnya... a-aku menjelaskan dari awal. T-tapi, a-aku... aku terlalu takut untuk menghadapi kebencian kamu. A-aku nggak sanggup, Rendy. Aku nggak sanggup." Vika pun menangis sejadi-jadinya.
Tangisan pilu penuh kesedihan yang begitu menyesakkan.
Rendy menarik Vika ke dalam dekapannya, meredam tangisnya ke dalam dadanya. "Nggak seharusnya aku membiarkan kamu melewati semua ini sendirian, Vika. Aku ikut bersalah karena mengacuhkan kamu saat kamu berusaha menjelaskan semuanya." Ucapnya sesal sambil mendekap erat tubuh Vika. "Aku minta maaf sama kamu karena sikap aku yang begitu menyakitkan. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Vika, nggak pernah sedikitpun semua hal tentang kamu hilang dari pikiran aku. Karena perasaan aku ke kamu nggak pernah hilang sedikitpun dari tempatnya." Sambungnya penuh ketulusan sembari memberikan kecupan hangat ke pucuk kepala Vika.
Vika terdiam. Namun, lingkaran erat kedua lengannya ke pinggang Rendy menandakan jika dia begitu sangat merindukan pria itu.
Merindukan pelukan hangat Rendy dan perlakuan lembutnya.
Rendy menjauhkan Vika dari pelukannya, menatapnya dengan lekat penuh makna. Mengusap air mata yang masih meleleh di pipi mulusnya tanpa henti dan menangkupkan tangannya pada sisi wajah Vika yang basah.
".....aku mencintaimu, Vika. Masih sangat mencintaimu,....." ucap Rendy seketika dalam keheningan. Yang langsung disambut tangisan haru dari Vika yang berderai air mata.
Tanpa peringatan, Rendy langsung menyerang Vika dengan ciuman. Menciumnya dengan penuh kelembutan luar biasa, ciuman akan kerinduan yang sudah lama tidak tersalurkan. Saling mencecap, membelai dan menyesap kehangatannya dengan penuh perasaan.
Perlahan, Rendy meletakkan lengannya di bawah lutut Vika lalu bangkit untuk menggendongnya tanpa melepaskan bibirnya dari sana. Dan secara otomastis pula Vika langsung mengalungkan lengannya ke leher Rendy. Pria itu membawanya memasuki kamarnya dan meletakkannya ke atas tempat tidurnya. Ciuman itupun terlepas, saling menatap dalam diam dengan napas yang sama-sama tersengal.
Rendy berbaring di atasnya, menggunakan kedua sikunya sebagai tumpuan untuk menahan beban tubuhnya agar tidak menindih tubuh mungil Vika.
"Aku sangat mencintaimu, Vika." ucap Rendy parau, berbarengan dengan air mata Vika yang menetes dari sudut matanya.
"Perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah dan masih tetap sama, Rendy. Aku juga sangat mencintaimu." Sahut Vika dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca di bawah pantulan cahaya lampu yang meredup.
Setelahnya, setelah mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing, Rendy membawa wajahnya turun, mengecupi rahang serta area leher Vika, memberikan gigitan lembut dan meninggalkan jejaknya di sana. Keduanya menyatukan bibir kembali, saling memeluk, dan menumpahkan kerinduan yang sudah lama tertahan. Saling menyalurkan kasih sayang dalam bentuk sentuhan lembut yang tak terkira.
●●●
Meila mulai membuka matanya. Membiarkan cahaya memasuki bola matanya dan menyerap kehangatannya. Dia mengawasi ruangan itu, dan tersadar jika dirinya sudah berada di dalam kamar Dimas dan berbaring disampingnya sambil memeluk.
Sudah pasti Dimas yang membawanya. Memindahkannya ke kamar saat dirinya telah terlelap dalam pangkuannya.
Seketika bibirnya tersenyum hangat, dan mengangkat wajahnya yang langsung menampilkan wajah Dimas yang sangat tampan. Diawasi wajah itu dengan seksama, dan dikecupnya pipi Dimas dengan lembut seraya berkata.
"Terima kasih karena selalu mendukungku apapun keadaannya. Selalu disampingku dan juga selalu memperlakukanku dengan begitu hangat.
Aku sayang kamu, kak." Ucapnya dengan suara berbisik.
Kemudian, dengan penuh kehati-hatian, Meila beranjak bangun dengan mengibaskan selimut yang membungkus keduanya dengan perlahan.
Lalu, saat kakinya baru akan menyentuh ke lantai, sebuah lengan kuat menarik pinggangnya dan memaksanya untuk jatuh kembali ke atas dada bidang Dimas.
"Mau kemana, Sayang? Kenapa terburu-buru kayak gitu?" Ucap Dimas menggoda disertai elusan lembut ke pipinya.
"Kakak, kamu udah bangun? Aku.... mau mandi," sahut Meila polos dengan suara yang sangat pelan.
"Aku mendengar kata-kata romantis yang kamu bisikkan barusan. Aku terbangun karena itu." Sahut Dimas dengan sengaja.
Pipi Meila pun merona dengan cepat, diapun berusaha memalingkan wajahnya dari pandangan Dimas. Namun, dengan cepat pula Dimas menarik dagu Meila dan memaksanya untuk menatapnya. Kemudian, menatap gadis itu lekat-lekat dengan tatapan tidak terbaca.
"Aku juga menyayangimu, Sayang. Sangat!" Ucapnya tiba-tiba dengan penuh penekanan.
Meila sedikit terkejut, namun tak urung dia melengkungkan bibirnya perlahan seraya berbisik, "aku tau itu,"
Keduanya saling melempar senyuman, saling menatap dengan tatapan penuh cinta. Dan memeluk dengan penuh kehangatan.
Tidak lupa juga bagi Dimas untuk selalu memberikan kecupan hangat ke kening Meila, dan turun untuk mengecup bibir gadis itu sekilas sebelum kemudian menggesekkan hidungnya ke hidung Meila dengan gemas. Kemudian, membawanya ke dalam pelukannya kembali.
Hening sesaat sampai suara Meila yang tiba-tiba membangkitkan gelak tawa Dimas begitu saja.
"Kak Dimas, apa aku... udah boleh mandi?"
Tawa Dimaspun pecah, hingga dapat Meila rasakan tubuhnya ikut bergetar karena gelak tawa pria itu.
Dijauhkannya gadis itu, dan dihadiahkannya sekali lagi kecupan ke bibir Meila dengan gemas. Lalu setelahnya, memberikan perintah dengan nada paling lembut penuh sayang.
"Silahkan, tuan putri. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita." Sahutnya lembut.
Dan Meilapun beranjak bangun dari dekapan Dimas setelah menghadiahkan senyuman paling manisnya untuk pria itu. Diikuti oleh Dimas yang ikut menegakkan tubuhnya sambil melengkungkan sebuah senyuman hangat yang hanya diberikan untuk pemilik hatinya saja. Memperhatikan gadisnya berjalan menuju kamar mandi hingga hilang di balik pintu yang tertutup rapat.