A Fan With A Man

A Fan With A Man
Alasanku Adalah Dirimu



Merasakan sinar hangat mentari yang masuk ke celah-celah jendela kamar, seketika membuat Sisil terbangun. Dia tampak menggeliatkan tubuhnya sebelum kemudian membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia ingat adalah kejadian semalam saat dia menangis sesegukan dan James datang menemaninya.


Tetapi, saat ini dia tidak melihat atau merasakan tanda-tanda kehadiran pria itu didekatnya. Mungkinkah pria itu telah pergi ke kantor dan meninggalkannya seorang diri di apartemennya?


Tidak! Tidak mungkin. Jika memang James membiarkannya sendiri di apartemennya, minimal dia meninggalkan sebuah pesan di meja. Tetapi, tidak ada tanda-tanda itu disana. Dan ada satu hal pasti yang Sisil rasakan detik ini. Perasaannya begitu lega. Perasaan sesak dan menekan yang membebani rongga dadanya seakan hilang.


Apa karena tangisan yang ditumpahkannya semalam?


Memikirkan itu semua, perlahan Sisil bangkit dan duduk. Ada perasaan aneh yang menghinggapi dadanya. Perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Sisil, kamu sudah bangun?"


Suara dari pria yang sedang dipikirkannya terdengar tiba-tiba, sontak membuatnya bergegas cepat menutupi tubuhnya dengan selimut. Dan begitu menyadarinya, Sisil langsung merutuki dirinya sendiri. Tidak mungkin James akan masuk sebelum dia menjawabnya, bukan?


"I-iya,...." suara Sisil terdengar serak dan parau.


"Baiklah. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Ayo! Kita sarapan dulu."


Setelahnya, tanpa menunggu jawaban dari Sisil, James langsung berbalik badan dan kembali menyiapkan sarapan. Begitu juga dengan Sisil yang ketika mendengar suara langkah kaki James yang perlahan menjauh, dia langsung bergegas turun dan pergi ke kamar mandi. Mencuci wajahnya sesegera mungkin dari sisa-sisa air mata yang masih membekas. Ditandai dengan matanya yang membengkak dan sangat jelas terlihat.


Tak kurang dari 10 menit, Sisil datang ke ruang makan saat James sudah meletakkan roti lapis beserta omelet yang masih hangat ke atas piring Sisil.


"Ayo, duduklah.. Kita sarapan dulu." Didahului senyuman, James mengajak Sisil untuk sarapan bersamanya.


"Aku... harus pulang. Papa sama mama pasti nyariin aku sekarang." Dengan ekspresi datar, Sisil mengalihkan pembicaraan.


Rupanya dia sedang merasa cemas dengan reaksi om Adrian dan tante Riana ketika mereka tidak menemukan dirinya di dalam kamar.


Dengan sabar dan bijak, James tersenyum.


"Aku tau. Tapi kamu harus mengisi perut mu yang kosong dulu. Aku sudah bilang, kan, aku yang akan mengurusnya."


Sisil mengerutkan dahinya bingung. "Bagaimana kamu akan mengurusnya? Aku kabur di waktu tengah malam saat mereka telah tertidur lelap. Aku juga udah mematikan seluruh kamera pengawas yang terpasang di seluruh penjuru rumah. Lalu, bagaimana cara kamu akan mengurusnya, James?!"


Masih ada sedikit rasa emosional yang tersisa dari semalam hingga akhirnya Sisil lepas kontrol dan mengeluarkan sedikit amarah yang tersisa. Napasnya tersengal saat mengatakan dengan jujur jika dia telah kabur. Dan itu tidak lepas dari perhatian James.


James menghelas napasnya pelan. Lalu berjalan menghampiri Sisil dan menarik tangannya agar perempuan itu duduk di kursi meja makan.


"Aku punya sebuah rencana untuk itu." Sambil menghela Sisil ke arah meja makan dan mendudukkannya ke kursi. "Kamu hanya perlu sarapan saja dan sisanya biar aku yang bereskan."


"Bagaimana caranya?" Lagi, dengan ekspresi datar dan penasaran, Sisil menuntut sebuah jawaban yang pasti dari James.


James menarik kursi untuknya. "Aku yang akan ke rumahmu dan mengambil baju ganti untukmu. Kamu tunggu disini saja sampai aku kembali."


"Apa? Bagaimana kalau....."


"Aku sudah memikirkannya. Kamu tidak perlu merasa cemas." James berujar menenangkan. "Ayo, habiskan sarapanmu!"


Sisil tidak bersuara lagi dan memulai memotong omelet miliknya dengan pisau. Namun wajah murungnya tidak bisa ditutupi hingga akhirnya dia bertanya.


"Kenapa kamu melakukan ini, James?" Pertanyaan Sisil menggantung di udara.


James yang baru saja menelan omelet nya, dibuat tersenyum dengan pertanyaan Sisil.


"Sama seperti kamu yang punya alasan sendiri, aku juga mempunyai alasanku sendiri kenapa aku melakukan ini." James menjawab dengan berteka-teki.


"Ih! Menyebalkan!" Sisil berseru kesal namun tidak seperti sifatnya yang biasanya yang suka meledak-ledak. Kali ini rasa kesalnya masih terbilang aman dan sopan. Dan itu membuat James terkekeh sendiri melihatnya.


Karena alasanku itu adalah dirimu, Sisil!


●●●


"Haaahh... akhirnya sampai! Terima kasih udah mengantar aku,"


Itulah kalimat yang Meila ucapkan ketika sampai di halaman kampus. Wajahnya yang ceria serta suara lembut dan manjanya yang khas selalu membuat Dimas melembut.


"Sama-sama." Jawab Dimas lembut.


"Kakak mau langsung ke kantor setelah ini?"


Dimas mengangguk, "Iya. Setelah aku memastikan pacar aku masuk ke dalam dengan aman dan selamat."


"Ih, kakak! Aku mau kuliah, loh. Bukan mau berperang."


"Kak Dimas, kita di kampus! Gimana kalau ada yang liat nanti?" Sambil membelalakkan matanya penuh peringatan.


"Kaca jendelanya nggak akan tembus pandang dari luar. Kamu lupa? Jadi nggak akan ada yang melihat kita."


"Ya-yaaa... tetap aja," Meila memberengut manja sambil bergerak kikuk. Namun tak urung dia meminta izin untuk masuk ke kelas pada Dimas.


"Kalau gitu... Aku masuk dulu, ya... Kak Dimas hati-hati. Jangan ngebut-ngebut."


"Iya."


Setelahnya, Meila langsung keluar dari mobil dan berdiri di depan koridor. Memperhatikan Dimas yang mulai pergi keluar halaman kampus yang hanya menyisakan lampu belakang yang mengedip dan berpendar menghilang menuju jalan raya.


"Woy! Pagi-pagi udah senyum-senyum aja lo!"


Suara Airin yang mengagetkan Meila membuatnya sedikit terperanjat. Meila hampir saja melangkah mundur jika saja Airin tidak benar-benar menahan lengannya.


"Ck! Airin. Kaget, tau!" Gerutu Meila.


Airin tertawa melihat sahabatnya itu. Lalu, dia merangkulkan lengannya pada Meila sambil menghelanya agar memasuki kelas bersama-sama.


"Lagian. Masih pagi udah nge-pink aja tuh pipi. Kenapa? Abis dicium sama kakak sayang, ya?" Airin meledeknya lagi dengan sengaja. Karena dia tau, Meila akan mudah merona jika sedikit digoda. Dan tindakannya benar. Semburat merah di pipi Meila muncul ke permukaan kulitnya putih.


"Ssstt! Mulut lo, ya."


"Tapi bener, kan? Iya, kan?" Airin terus menggodanya. Mencoba membuat Meila semakin malu dengan godaannya.


Bukannya menjawab, Meila justru semakin tersipu. Tetapi Airin sudah sangat tau dengan jawaban itu.


"Eh, kak Dimas nggak kuliah lagi, Mei? Gue liat, lo dianter dia mulu beberapa hari ini." Airin akhirnya bertanya tentang keingintahuannya.


Meila mengangguk, "Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dan tangani langsung, Rin. Nggak bisa ditinggal apalagi diwakilkan. Gue juga kasian sebenernya kalo setiap gue kuliah, dia harus anter gue dulu ke kampus baru setelahnya ke kantor. Itu pasti akan sedikit memangkas waktunya, kan?"


"Itu namanya dia sayang sama lo, Mei. Lo harusnya bersyukur karena ada pria kayak kak Dimas yang rela mengorbankan sedikit waktunya hanya untuk memastikan agar lo tetap aman dan nyaman sampai kampus. Gue yakin, dengan melakukan itu, kak Dimas akan jauh lebih tenang dibanding dia yang harus ngebiarin lo berangkat sendirian."


Meila tersenyum mendengar perkataan Airin. Ada benarnya juga memang dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Dia memang sangat bersyukur selalu ada Dimas di sisinya dalam hal dan kondisi apapun. Sebab, sampai di detik ini hanya Dimas lah yang bisa membuatnya menerima hal apapun yang biasanya selalu dia tolak atau dijauhinya.


●●●


James keluar dari mobilnya dengan langkah percaya dirinya. Memarkirkan mobilnya di halaman rumah Sisil sebelum kemudian berjalan menapaki jalan setapak yang menghubungkan ke pintu utama.


James menekan sebuah bel beberapa kali sampai akhirnya pintu pun terbuka. Menampilkan seorang perempuan asisten rumah tangga berpakaian rapi sedang menatapnya dengan tatapan terkesima.


"Oh, tuan James! Ada apa pagi-pagi begini?"


Rupanya asisten rumah tangga itu telah mengenalinya. Terlihat dari caranya bertanya dengan menyebutkan namanya dengan jelas.


James tersenyum ramah sampai akhirnya menjawab.


"Aku sedang ada keperluan dan ingin bertemu dengan om Adrian dan tante Riana. Apa beliau ada?"


"Beliau ada di meja makan. Tuan James silahkan masuk. Biar saya yang akan menyampaikannya."


Setelahnya, James langsung memasuki rumah Sisil dengan perlahan. Membiarkan sang asisten rumah tangga pergi menghampiri tuannya untuk memberitahukan kedatangannya.


Asisten itu lalu mendatangi Adrian dan Riana yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dengan sikap sopan dan sedikit membungkuk, asisten itu menyampaikan maksudnya.


"Maaf mengganggu, pak, bu. Di depan ada tuan James ingin bertemu dengan bapak dan ibu."


Adrian mengerutkan keningnya heran. Lalu dia saling melemparkan pandangannya pada istrinya yang juga sama bingungnya.


Apa ini mengenai Sisil? Sebab, sudah hampir 30 menit dia memanggil Sisil untuk sarapan namun tidak ada jawaban dari dalam kamarnya.


"Ajak James kemari dan siapkan sarapan untuknya juga, ya." Adrian menyuruh asisten itu untuk memanggil James dan mengikutinya sarapan.


"Baik, pak."


Setelah asisten itu pergi meninggalkan ruang makan dan memanggil James seperti yang Adrian minta, Riana bersuara dengan penuh tanya.


"Ada ya, pa? Apa ini menyangkut putri kita?"


"Ma, jangan berpikiran macam-macam dulu. Kita belum mendengar alasan darinya, kan?" Adrian berujar menenangkan. Dan Riana langsung diam dengan kepala yang mengangguk.