
Mereka sudah memasuki halaman rumah Dimas dan langsung memarkirkan mobilnya di garasi yang sudah disediakan. Dengan rolling door sistem otomatis, pintu itu tertutup kembali ketika sensor yang ada di sudut kiri atas layaknya camera cctv, telah membunyikan suara 'nitnit' menandakan jika mobil telah terparkir dengan pas sesuai ukurannya.
Meila pun hampir tercengang dengan kecanggihan sistem pengamanan dirumah Dimas yang baru dilihatnya secara langsung.
Dimas turun terlebih dahulu, kemudian memutari mobil dan membukakan pintu untuk Meila. Mereka memasuki ruangan utama, tempat dimana Meila pertama kali merasakan kenyamanan ketika bertamu kerumah seseorang yang baru dikenalnya secara dekat setelah Airin dan Rendy.
"Mau langsung aku tunjukin ke kamar yang akan kamu tempati?" Dimas memiringkan kepala, bertanya pada Meila yang setengah antusias ingin mengiyakan namun dia menahan diri untuk mengontrol dirinya kalau dia sedang menumpang dirumah Dimas hanya untuk beberapa hari saja.
"Nggak apa-apa?" Meila bertanya balik pada Dimas.
Dimas mendengus pelan, bola matanya berputar. "Menurut kamu gimana?" Pria itu memajukan wajahnya sedikit, "emang buat apa aku ajak kamu tinggal disini kalau aku nggak ada kamar buat kamu tempatin?"
Meila tersenyum. Dimas pun segera mengerti arti dari senyuman itu. Segera Dimas menghela Meila untuk mengikutinya menaiki anak tangga, membawanya pada sebuah pintu kayu mewah dengan ukiran di tiap sisinya.
Dimas membuka pintu itu, mengajak Meila untuk ikut masuk mengikutinya.
Kamar itu sangat luas, perpaduan nuansa pink susu lembut serta krem pastel menambah kesan feminim suasana kamar itu. Dengan ranjang tidur berukuran king size dan sisi kanan dan kirinya terdapat nakas yang diatasnya diletakkan vas bunga cantik hingga lampu tidur yang dapat diatur pencahayaannya.
Di sekeliling dindingnya terdapat jendela besar dengan desain full kaca dan juga tirai-tirai yang berterbangan melambai tertiup angin dari luar sana. Terdapat juga gazebo kecil berisi dua kursi yang saling berhadap-hadapan yang beralaskan rumput sintetis sehingga akan membuat penghuninya dengan nyaman bertelanjang kaki sambil menikmati sunset di langit sana.
Wajah Meila tidak henti-hentinya melebarkan senyuman ketika mulai memasuki kamar itu. Dimas sendiri pun sudah dapat menebak kalau gadis itu sangat menyukai suasana kamar itu yang memang sudah di desain sedemikian rupa untuk menempatkan kamar tamu khusus wanita.
Dimas tersenyum, tangannya mengambil alih tas Meila yang berisi pakaiannya dan meletakkannya di kursi panjang yang berada diunjung ranjang.
"Kamar ini biasanya di pake sama tante aku kalau lagi nginep disini. Maka dari itu nuansanya terlihat kalem dan sedikit menspesifikasikan sifat wanita didalamnya." Dimas berkata perlahan, memberikan penjelasan sambil kembali mengajak Meila melihat isi ruangan kamar itu.
"Tante kamu sering nginep disini, kak?"
Dimas mengangguk pelan, "Ya. Tapi... berhubung mereka juga ada bisnis di luar negeri dan hampir sibuk, jadi bisa dihitung kapan mereka ke Indonesia."
Dahi Meila mengerut, berpikir dalam diam. "Hmmm... apa nggak apa-apa kalo aku yang tempatin kamar ini?"
Langkah mereka terhenti, membuat Dimas terkekeh pelan dengan pertanyaan Meila yang sudah kesekian kalinya merasa tidak enak hati untuk menempati kamar itu.
Tangannya meremas bahu Meila dengan lembut, "Harus berapa kali lagi aku bilang ke kamu? Aku yang pengen kamu untuk tinggal disini biar kamu tetap dalam pengawasan aku. Aku akan merasa lega kalo kamu baik-baik aja." Tangan Dimas mengelus pelan punggung tangan Meila. "Jadi, berhubung kamu tinggal disini, kamu berada dalam tanggung jawab aku, sepenuhnya."
Meila tersenyum lembut, "Thank you, kak! You're very kind to me." Meila berkata tulus dari dalam hatinya.
"Sama-sama, gadis mungil." Dimas mengusap kepala Meila dengan gemas.
Tangan Dimas meraih tangan Meila, meremasnya lembut sebelum kemudian mengucapkan beberapa instruksi padanya.
"Sekarang kamu bersih-bersih, mandi dan sebagainya, kamar mandinya ada disebelah sana," sambil menunjuk kearah kamar mandi yang ada di samping meja nakas sebelah kiri posisi Dimas. "Setelah itu kita makan malam." Matanya menatap Meila dengan lekat. "Kalo perlu sesuatu bilang aja. Aku akan siapin makan malam buat kita." Sambung Dimas menimpali sambil mengedipkan matanya.
●●●
"Sini biar aku yang beresin, kamu langsung ke ruang TV aja." Perintah Dimas ketika baru saja menyelesaikan makan malam mereka sambil mengambil alih piring kotor bekas mereka pakai.
"Nanti aku nyusul." Sambungnya lagi dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Meila.
Mereka baru saja menyelesaikan makan malam dengan suasana tenang. Tanpa Dimas menyinggung masalah yang sangat sensitif, karena hanya akan membuat nafsu makan gadis mungil itu hilang. Dimas memang berjanji dalam hatinya bahwa akan membahas masalah tadi siang yang menyebabkan Meila murung hingga terlihat gelisah.
Setelah mendengarkan instruksi dari Dimas, Meila tanpa membantah langsung melangkahkan kakinya menuju ruang Televisi sebelum kemudian dia memandangi beberapa bingkai foto dinding maupun bingkai yang diletakkan di atas meja hias yang ada disamping tangga.
Matanya menyusuri satu persatu bungkai foto mulai dari foto keluarga Dimas yang diapit oleh orang tuanya, kemudian foto-foto Dimas semasa SMA yang sedang memegang piala serta piagam penghargaan atas sejumlah prestasinya disekolah, hal itu terlihat jelas dengan adanya puluhan piala yang tersusun rapi didalam lemari kaca besar tembus pandang berikut almamater kesiswaannya. Hingga foto-foto Dimas semasa SMA bersama teman-temannya.
Ketika matanya sedang menyusuri beberapa foto yang membuatnya melebarkan senyumnya, disaat itulah matanya menatap lurus pada bingkai foto yang diletakkan di atas meja hias diantara foto-foto semasa SMA lainnya. Foto itu menggambarkan kebersamaan Dimas dan Rendy yang saling berangkulan layaknya sahabat dekat.
Meila mengerutkan kening, tangannya tidak tahan untuk meraih bingkai foto itu yang menarik perhatiannya.
"Kamu lagi liat apa?"
Sebuah suara mengagetkannya tepat ketika Meila sedang mengingat-ngingat beberapa teman Rendy yang dikenalnya. Dengan cepat Meila menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut.
Dimas mulai menghampiri Meila yang sedang berdiri memegang bingkai foto.
"Kak, ini...." Meila menunjukkan bingkai yang ada ditangannya pada Dimas.
Dimas tersenyum, dirinya kini sudah berdiri dihadapan Meila.
"Rendy. Dia sahabat aku sejak SMA." Jawab Dimas tenang sambil menikmati perubahan wajah Meila yang menurutnya sangat lucu.
Dan benar saja, ucapan Dimas itu berhasil membuat Meila membelalakkan matanya sedikit terkejut.
"Kalian.... kalian udah saling kenal?" Tanya Meila tidak percaya. Dimas mengangguk perlahan diikuti dengan kekehannya.
"Kenapa kak Rendy nggak pernah cerita? Atau... kenapa kamu nggak bilang sama aku kalo kalian itu sahabatan?" Tanya Meila ingin tahu.
Dimas terkekeh, "kamu nggak pernah nanya." Jawab Dimas santai sambil menarik tangan Meila agar mengikutinya menuju sofa, hingga tidak memberikan Meila kesempatan untuk meletakkan foto itu kembali ke tempat semula.
Mereka duduk di sofa besar dekat home teater itu. Dengan Meila yang masih memegang bingkai foto dalam genggamannya. Wajahnya masih menyisakan rasa ingin tahu, hal itu dapat ditangkap oleh Dimas yang saat ini sudah duduk disamping Meila dengan posisi saling berhadapan.
"Ada suatu hal yang membuat aku dan Rendy kehilangan kontak masing-masing selama tiga tahun terakhir." Dimas memulai pembicaraannya. "Kamu inget kalo Rendy pernah punya motor sport terbaru yang pernah dibelinya?" Dimas bertanya pada Meila, gadis itu terlihat berpikir, mengingat-ngingat akan motor sport milik Rendy yang dulu pernah ia lihat dan belum pernah ia tanya lagi pada Rendy kemana kendaraannya itu.
Meila mengangguk pelan ketika ingatannya sudah menemukan kepingan ingatan yang diingatnya. "Iya. Aku inget. Tapi setau aku motor itu ilang karena kak Rendy lupa mengunci ganda." jawab Meila polos.
Dimas mendengus pelan, "Motor itu aku yang rusakin." Meila sedikit terkejut, namun Dimas tidak menghentikan penjelasannya.
"Di masa SMA, disaat aku masih belum bisa berpikir jernih, disaat pikiran aku masih gampang terbawa arus oleh pikiran-pikiran negatif, hingga aku lebih mementingkan ego dan gengsi. Suatu ketika salah satu teman kita ngajakin aku untuk ikut balapan liar, seperti yang aku bilang, pikiran aku belum jernih, belum dewasa, hingga akhirnya ego dan gengsi aku yang menang." Dimas terdiam sejenak, sedikit menarik ujung bibirnya. "Saat itu aku emang belum punya motor sport, aku berangkat dan pulang sekolah naik turun mobil yang dibelikan papa. Papa bilang, kalo motor itu nggak cocok sama sifat aku yang arrogant, karena akan menimbulkan masalah yang akan merugikan, bukan buat aku aja tapi orang lain juga. Akhirnya aku minjem motor sport milik Rendy, motor keluaran terbaru yang baru beberapa hari dibelinya. Dan bener aja, aku terjatuh dari motor itu, dan motor itu juga hancur karena aku berusaha menghindari lubang dimalam yang gelap. Masih beruntung aku nggak apa-apa, tapi aku masih sangat menyayangkan motor itu sampe saat ini."
Dimas tertawa penuh ironi, ingatannya kembali ke waktu dirinya yang masih mementingkan gengsi meminjam motor sport itu pada Rendy, dan dengan mudahnya juga tanpa ditahan-tahan oleh sang pemilik memberikan motor itu padanya.
"Terus apa yang bikin kalian berdua hilang kontak diwaktu yang selama itu?" Meila menimpali kembali rasa penasarannya melalui pertanyaan.
Dimas menarik napas dalam lalu menghembuskannya, "sejak kejadian itu, papa menghukum aku untuk ikut dengan mereka ke Amerika, dan melanjutkan pendidikan disana. Aku juga merasa sangat bersalah sama Rendy, sampe bikin aku malu buat sekedar bertegur sapa dengannya, bahkan untuk menekan nomor teleponnya untuk sekedar minta maaf pun... lidah aku rasanya berat, Mei." Dimas membenarkan posisi duduknya, "tapi aku tau Rendy itu bukan mempermasalahkan motornya, melainkan aku yang langsung menghilang begitu aja tanpa memberikan kabar sedikitpun. Karena yang Rendy tau kalo aku itu kecelakaan dan belum diketahui seberapa parah lukanya."
Meila masih setia menjadi pendengar yang baik, meski rasa penasaran semakin menyelubungi hatinya. "Terus, gimana akhirnya kamu nggak jadi ikut mama papa kamu ke Amerika?"
Dimas menolehkan kepalanya, tersenyum pada Meila yang sedang menatapnya sambil menunggu jawaban Dimas penuh harap.
"Aku berusaha meyakinkan mama papa aku untuk nggak ikut mereka ke Amerika dengan beberapa syarat yang mereka ajukan."
"Syarat?" Sambar Meila dengan cepat.
Dimas terkekeh pelan, "Ya. Syarat. Syarat yang harus aku penuhi selama aku tinggal disini tanpa pengawasan mereka."
"Aku harus merubah sikap aku sepenuhnya dalam masa percobaan selama satu bulan." Dimas menekankan kalimatnya sambil tertawa, bukan menertawakan dirinya, melainkan menertawakan Meila yang begitu terkejut dengan persyaratan yang terdengar aneh olehnya.
"Dan kamu berhasil dengan persyaratan itu?" Ucap Meila kembali seraya candaan dibibirnya. Dimas pun mengangguk pelan.
Meila menghentikan candaannya sejenak, dibenaknya masih tersisa satu pertanyaan lagi yang meminta untuk diungkapkan lewat perkataan.
"Kapan kalian berdua ketemu lagi setelah tiga tahun berlalu?"
Dimas terkekeh geli, mengingat kejadian pertama kali Dia dan Rendy bertemu kembali dengan insiden konyol. Seketika Dimas menatap Meila dengan lekat sambil tertawa, menertawakan orang dihadapannya yang membuat mereka bertemu kembali dan menjalin persahabatan kembali sampai saat ini.
"Kita bertemu lagi dalam sebuah insiden tanpa disengaja. Dan saat itu aku lagi memikirkan seseorang yang udah mengganggu pikiran aku." Jawab Dimas dengan nada menggelitik penuh teka-teki.
"Seseorang? Siapa?" Tanya Meila antusias.
Dimas menatap Meila dengan lekat, menyusuri setiap inci garis wajahnya.
"Kamu. Orang itu adalah kamu."
●●●
Suasana menjadi hening. Jawaban Dimas itu sontak berhasil membuat Meila membelalakkan matanya, membuat pipi nya menyemburat memerah dengan cepat hingga terasa panas.
"Ak-aku...?" Tanya Meila sedikit membeo kalimat Dimas dengan nada sedikit tidak percaya.
Dimas mengangguk perlahan, melebarkan senyumnya, "iya. Kamu." Dimas menghadapkan tubuhnya tepat ke hadapan Meila. "Posisi aku saat itu lagi menyetir dengan pikiran melayang, sampe disuatu persimpangan jalan, Rendy muncul dengan mengendarai motornya, hingga aku hilang kendali dan hampir akan menabraknya kalo aku nggak menginjak rem dengan cepat." Sambung Dimas memberi penjelasan.
Tangannya terangkat untuk mengelus pipi Meila sambil mengucapkan sebuah kalimat dalam bentuk pertanyaan, "kamu tau kenapa yang ada dipikiran aku waktu itu adalah kamu?" Jemarinya mengelus pipi Meila dengan lembut, menyelipkan anak rambut Meila yang menjuntai dipipi gadis itu kebelakang telinga.
Meila menggeleng pelan sambil memasang wajah polos.
"Karena kamu yang udah berhasil mengusik pikiran aku sejak insiden di sosial media waktu itu." Dimas tertawa tanpa suara, tangannya menangkup wajah Meila yang terasa sangat pas dalam tangkupannya.
"Aku terlalu menganggap remeh hal kecil yang akhirnya berbalik arah ke diri aku sendiri hingga memberati pikiran aku. Setelah aku mengambil keputusan tanpa berpikir lagi dan menganggap semuanya biasa-biasa aja, didetik itulah tanpa terasa perasaan aneh menggelitik mulai muncul dan tumbuh dengan sendirinya." Dimas tersenyum penuh ironi, tidak menyangka jika perasaannya pada gadis mungil itu sudah sejauh ini dan semakin hari sudah semakin menaiki level lebih dalam lagi dan semakin bertambah.
Meila merasakan pipinya kembali memanas hingga ia tidak mampu untuk memalingkan sedikit saja wajahnya dari jangkauan Dimas yang saat ini begitu dekat dengannya.
Dimas terkekeh geli, menertawai perubahan wajah Meila yang menjadi malu-malu disertai wajah yang memerah sampai turun ke seluruh permukaan leher gadis itu.
"Kalo boleh jujur, aku selalu penasaran sama isi hati kamu terhadap aku." Dimas menghela tubuh Meila, menariknya kedalam pelukannya serta menenggelamkannya ke dadanya. "Tapi aku nggak mau terburu-buru buat meminta kamu untuk menjawabnya," tangannya mengusap punggung Meila, mencium pucuk kepala gadis itu serta menghirup ke keharuman rambutnya.
Tidak ada yang bisa Meila lakukan saat ini, dia sendiri masih belum berani mengutarakan perasaannya sendiri tentang Dimas. Namun cukup untuk Meila ketahui, kalau diam-diam Dimas juga telah berhasil mengusik pikirannya, dengan perlahan telah menumbuhkan perasaan didalam hatinya.
Meila menarik napas dalam, dirinya dapat mendengar dengan jelas detak jantung Dimas yang mengetuk-ngetuk dadanya yang langsung menempel ke telinganya. Hal itu membuat Meila terkekeh geli tanpa suara, menyembunyikan suaranya agar tidak dapat didengar oleh Dimas.
"Kak, aku......"
"Ssshh... Jangan mengeluarkan kalimat apapun kalo kamu belum siap untuk mengatakannya." Dimas segera menjauhkan Meila dari pelukannya, lalu menempatkan jari telunjuknya ke depan bibir Meila untuk menghentikan gadis itu berbicara.
Kepalanya terdongak, menatap Dimas yang sedang menunduk padanya.
"Karena aku tahu..." Dimas menangkupkan kembali tangannya, kemudian dengan cepat menjatuhkan bibirnya ke bibir Meila yang sedikit terbuka, mengecupnya singkat namun menyisakan kelembutan di lapisan kulit bibir Meila. "...sesuatu yang dipaksakan nggak akan berjalan dengan baik karena didasari oleh sebuah keterpaksaan." Dimas mengusap bibir bawah Meila bekas kecupannya dengan usapan menggoda.
Meila tersenyum tipis, mengedipkan mata sayunya yang sudah setengah mengantuk. Kalimat yang baru saja dilontarkan Dimas layaknya sebuah cerita yang sedang dibacakan oleh Dimas untuknya.
"Kamu udah merasa ngantuk, ya?" Dimas mencolek ujung hidung Meila dengan jarinya. "Kayaknya kalimat-kalimat aku barusan kamu anggap dongeng sampe kamu ngerasa ngantuk." Kemudian terkekeh geli.
Meila mengangguk malu dengan pipi merona, dirasakannya jemari Dimas yang terasa hangat mengelus pipinya, semakin mengantarkannya kedalam rasa kantuk yang lebih dalam.
"Yuk! Udah waktunya gadis mungil ini tidur." Dimas mengecup kembali bibir Meila dengan cepat, kemudian menarik tangan Meila dibarengi dengan dirinya yang berdiri dari duduknya, "aku akan antar kamu ke kamar." Sambung Dimas kembali dengan kepala menunduk ke arah Meila yang masih terduduk dengan kepala terdongak ke atas menatap Dimas.
Meila beranjak dari sofa tempatnya duduk, mengikuti langkah Dimas menaiki anak tangga, dengan tangan menggenggam erat tangan Meila sambil meremasnya lembut.
●●●
Meila sudah membaringkan tubuhnya ke ranjang, dengan pencahayaan yang diatur redup oleh Dimas. Dimas menarik selimut untuk Meila sampai ke dada, membiarkan Meila senyaman mungkin dalam istirahatnya.
"Kamu istirahat, ya. Aku akan nyelesaiin beberapa tugas di kamar." Dimas mengusap kepala Meila dengan lembut. Kemudian menundukkan kepala sedikit untuk mengecup kening Meila.
"Kalo perlu apa-apa ditengah malam, panggil aku aja. Kamar aku ada disebelah." Ucap Dimas dengan suara lembut, seketika Meila melebarkan senyumnya, berkedip perlahan tanda mengiyakan.
"Selamat malam." Ucap Dimas lagi dengan tatapan lembutnya sebelum memutar tubuhnya untuk melangkah keluar.
"Selamat malam, kak." Jawab Meila yang mulai terpejam dengan suara setengah serak menahan kantuk yang tidak bisa lagi ditahannya.
Dimas tertawa tanpa suara, mengawasi Meila dalam diam yang sudah memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpi. Segera Dimas membalikkan tubuh lalu menghela tubuhnya berjalan keluar sampai ujung pintu, kemudian menutup pintu itu dengan hati-hati dan meninggalkan Meila seorang diri dengan napasnya yang mulai teratur hingga sampai ke telinganya.