A Fan With A Man

A Fan With A Man
Seseorang Dalam Mobil



Lama Dion terduduk kaku di balik kemudi, akhirnya dia pergi begitu saja dengan perasaan penuh amarah. Perasaan marah yang meluap-luap menjalari seluruh tubuhnya. Ditancapkannya gas mobilnya dengan kencang dan langsung melajukannya dengan cepat.


Tindakan kasarnya itu tanpa sengaja berhasil mengalihkan pandangan Meila yang masih berpelukan dengan Dimas dan tertuju padanya. Dibawanya pandangan itu ke arah jalanan komplek dengan ekspresi sedikit heran dan kening yang mengkerut dalam. Gerakan Meila yang mengundang tanya tentu membuat Dimas heran hingga harus menjauhkan sedikit Meila dari pelukannya.


"Kenapa? Kamu ngeliatin apa disana?" Dimas mengikuti arah pandang Meila yang tampak sedang melihat sesuatu dengan serius.


"Aku merasa kayak ada seseorang disana. Tapi... sepertinya orang itu udah pergi." Meila menjawab jujur tanpa ada yang ditutupi.


Ekspresi Dimas berubah curiga. Kedua matanya menyipit ketika arah pandangnya berubah.


"Begitu? Kamu nggak salah liat, kan?" Dimas bertanya kembali untuk memastikan.


Meila seketika menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia begitu yakin jika apa yang dilihatnya tidaklah salah.


"Aku yakin, kak. Sepertinya orang itu lagi memperhatikan kita. Tapi sayangnya, sebelum aku benar-benar melihat siapa orang di dalam mobil itu, dia udah pergi lebih dulu. Sepertinya dia takut kita akan segera mengetahuinya."


Dimas pun terdiam. Mencerna setiap kalimat Meila sambil menaruh curiga kepada seseorang yang diyakininya adalah Dion.


Apa mungkin Dion yang telah nekat mendatangi rumahnya karena merasa gagal mengambil kesempatan?


"Tunggu sebentar," Dimas lalu merogoh saku celananya dalam-dalam untuk mengambil ponselnya.


Dengan ekspresi heran, Meila tampak memperhatikan Dimas hingga akhirnya bertanya.


"Kakak mau menelepon siapa?"


Dimas hanya tersenyum dan hanya menjawab seadanya. "Sebentar, ya..."


Tidak lama kemudian, Dimas lalu menelepon seseorang dengan langsung memberikan serentetan perintah yang membuat Meila semakin bingung.


"Tolong kalian periksa kamera pengawas yang ada di halaman depan. Periksa dengan teliti dan segera laporkan padaku."


Setelah memberikan perintahnya kepada salah satu anak buah dari sambungan telepon, Dimas lalu mematikan panggilan telepon dengan mengaktifkan mode getar di ponselnya lebih dulu. Kemudian meletakkan ponsel itu ke atas karpet, yang tidak jauh dari posisinya.


"Apa kak Dimas mencurigai sesuatu?"


Dimas melengkungkan bibirnya sesaat. "Tepatnya seseorang."


Kening Meila semakin mengkerut dalam mendengar jawaban Dimas yang seolah sudah mengetahui siapa orang yang tadi memata-matai mereka.


"Siapa?"


Dimas menatap Meila lekat-lekat sebelum kemudian membawanya kembali ke dalam pelukannya sambil menjawab rasa ingin tahu kekasihnya yang kental.


Meila langsung mengangguk sambil kembali ke dalam pelukan Dimas yang hangat. "....iya."


●●●


"Lo dimana? Gue udah di depan."


Shila tampak menelepon seseorang yang akan ditemuinya. Dia sudah berada di depan sebuah restoran tempat orang itu memintanya untuk menemuinya satu jam lalu. Dan kini, Shila baru saja sampai di sebuah restoran tempat orang itu memintanya untuk menemuinya.


"Oke. Gue masuk sekarang."


Setelah memberikan jawaban dari si penerima telepon, Shila langsung mematikan panggilan teleponnya dan berjalan masuk ke dalam restoran yang mulai sepi pengunjung. Hanya ada beberapa pengunjung saja yang bisa dihitung menggunakan jari.


Dengan disambut oleh para pelayan restoran, Shila langsung menuju ke meja dimana seseorang telah menunggunya. Dan tidak sulit baginya untuk menemukan nomor meja yang dicarinya.


"Ada angin apa tiba-tiba lo nelpon gue malam-malam begini,..." Shila berujar saat sudah berdiri tepat dimana sudah ada seorang pria duduk sedang memasang muka masam. "....Dion?!" Kemudian menarik kursi dan duduk di depannya.


●●●


Isakan dari tangisan Sisil yang menyesakkan belum juga teredam. Sudah dari setengah jam lalu dia menangis di pelukan James yang begitu sabar menenangkannya tanpa suara. James tau, jika dia perlu memberikan ruang untuk Sisil menumpahkan segala keluh kesahnya dengan tenang. Oleh sebab itu, James membiarkannya menangis begitu saja dan membasahi bajunya dengan air mata.


Tetapi karena James tidak mau membuat Sisil terlalu berlarut-larut, dengan perlahan James menjauhkan Sisil darinya. Melepaskan pelukannya sejenak lalu menatap Sisil dengan seksama. Wajah Sisil yang basah penuh air mata nampak begitu menyedihkan. Seketika membuat hati James terenyuh melihatnya.


James lalu menangkup wajah Sisil dengan lembut, lalu menyeka air matanya yang terus mengalir sambil mengarahkan wajah Sisil padanya.


"Mulai sekarang, jangan sembunyikan apapun dariku. Ceritakan semuanya tanpa ada yang kamu tutup-tutupi. Kamu percaya padaku, kan?"


Kedua mata Sisil yang sembab perlahan mulai menatap James dengan sendu. Tetapi meski begitu, Sisil akhirnya menganggukkan kepalanya samar-samar di tengah tenggorokannya yang masih tersekat.


James pun tersenyum melihat Sisil yang mulai mempercayainya. Tatapannya yang melembut, hingga tidak tahan untuk menghadiahkan kecupan kecil penuh perasaan ke kening Sisil sebagai bentuk penghiburan kecil untuknya. Dan tindakannya itu berhasil. 


Seketika isakan Sisil pun mereda. Hal Itu langsung dimanfaatkan James untuk mulai membuka pembicaraan yang sesungguhnya dengan Sisil dari hati ke hati tanpa harus membuang-buang waktu lagi. Sambil menatap Sisil dengan tatapan yang dalam, ekspresi wajah James berubah serius ketika meminta Sisil untuk menceritakan awal mula permasalahan yang terjadi. Sebab, mulai detik ini, James akan berjanji, tidak akan mengulur waktu untuk memberikan hukuman pada laki-laki rendah itu sampai lelaki rendahan lainnya yang seperti dia benar-benar merasa jera.


"Sekarang, ceritakan padaku yang sebenarnya. Tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi,"


●●●


Simon terlihat beguling-guling di sebuah sofa usang yang lusuh. Ekspresinya tampak kesakitan dan tangannya terlihat memegangi perut disertai rintihan yang keluar dari bibirnya yang pucat dan kering. Sudah beberapa hari ini dia belum juga mengisi perutnya. Rasa lapar yang melanda, serta dehidrasi yang menyerang seolah sedang melayangkan protes untuk segera meminta diisi. Lambung nya seperti ditusuk-tusuk. Dan tenggorokannya seperti di peras habis hingga terasa kering dan perih.


Mau bagaimana lagi? dirinya tidak bisa keluar barang selangkah pun dari persembunyiannya. Masih ada orang-orang yang mengikutinya di luar sana. Jika dia sedikit saja melangkah, sudah pasti dirinya akan langsung tertangkap. Entah siapa yang sedang mencarinya saat ini. Jika mereka adalah sekelompok preman biasa, itu artinya sedang ada seseorang yang mengincarnya. Tetapi, jika mereka adalah segerombolan polisi preman, itu artinya kehidupan masa depannya sedang terancam.


"Mau sampai kapan aku harus menahan rasa lapar ini?" rintihnya. "Aku membutuhkan air untuk menyegarkan tenggorokanku." suaranya terdengar sangat serak. "Tidak ada yang bisa aku makan disini. Aku harus keluar untuk mengisi perutku. Tetapi, jika aku keluar, itu sama saja dengan menyerahkan diri pada mereka yang tidak aku ketahui siapa mereka sebenarnya."