
James dan Sisil sedang dalam perjalanan menuju rumah Sisil untuk mengantarnya pulang. Kali ini Adrian memang tidak memintanya secara resmi untuk menjemput Sisil. Melainkan hanya inisiatif James tanpa embel-embel imbalan sekalipun.
Seperti biasa, hanya keheningan yang terbentang diantara mereka. Namun, James merasa kali ini ada yang berbeda dengan suasana hati Sisil. Yaaah... meskipun biasanya suasana hati perempuan itu memang tidak mengenakkan sih.~
James melirikkan matanya dan mulai membuka percakapan pada Sisil yang sedang memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
"Boleh aku menebak sesuatu?"
Sisil masih tak bergeming. Namun James tetap melanjutkan berbicara walau direspon ketus oleh perempuan di sampingnya.
"Ada seseorang yang sedang mengganggumu dan kamu merasa kesal sekarang."
Bagaimana pria ini tau? Apa selain mengambil kesempatan dia juga memata-mataiku?
Sisil sedikit tersentak mendengar kalimat tebakan James. Namun dia berusaha tetap tenang agar pria di sampingnya itu tidak besar kepala.
"Jangan sok tau! Justru kamu yang selalu menggangguku." Ketusnya.
James tersenyum simpul mendengar kalimat ejekan Sisil yang tanpa ekspresi.
"Ya, itu emang benar. Dan aku nggak membantahnya."
"Tingkat kepedean kamu itu tinggi juga, ya?" Sahutnya tak kalah sinis.
James memilih diam. Dia hanya menyeringai sesaat sebelum akhirnya melirik kembali.
Yaa.. setidaknya dia telah berniat baik untuk membuka percakapan, bukan?
Mobil itu mulai memasuki komplek perumahan Sisil. James hanya tinggal menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Sisil. Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya mereka sampai. Sisil langsung menggerakkan tangannya membuka pintu penumpang dan segera masuk tanpa mau berbicara lagi. Dia ingin segera masuk kamar, mandi, membersihkan diri dan menyendiri beberapa saat. Dia perlu menenangkan pikirannya sekarang.
Namun hal itu tidak sesuai rencananya. Saat pintu itu hampir terbuka, suara James kemudian kembali mendominasi. Membuat Sisil refleks menghentikan gerakannya disertai tolehan kepala.
"Jangan terlalu dalam untuk menyimpan kesedihanmu. Jika menangis adalah satu-satunya cara untuk meringankan beban, maka jadikan itu sebagai temanmu yang bisa kamu percayai."
Setelah kalimat itu diucapkan, otomatis mata Sisil melirik pada James yang kebetulan sedang memperhatikannya. James tidak bergeming, namun ucapan Sisil yang tiba-tiba membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata ada keahlianmu yang lain selain mengambil kesempatan, tukang obat, dan tukang mengganggu. Kamu itu seperti Mario Teguh. Memberikan motivator sebagai solusi. Tapi sayangnya, kamu itu jauh dari seorang Mario Teguh. Kamu itu motivator dadakan sekaligus amatiran yang suka tebar pesona."
Setelah selesai mengutarakan kalimatnya, Sisil langsung membuka pintu mobil lebar-lebar, keluar dari sana dan menutupnya kasar. Membiarkan James sendirian dengan sebelah alisnya yang menaik. Tawa pun tak bisa ditahannya lagi. Dia akhirnya terkikik geli sendirian sambil menatap Sisil yang lama-lama menjauh dan hilang dibalik pintu.
"Benar-benar wanita pemarah." Ujarnya geli disertai gelengan kepala.
●●●
Dimas memasuki pintu gerbang yang langsung disambut petugas keamanan. Hari sudah mulai memasuki petang saat dia sampai di kompleks perumahan mewahnya.
"Selamat datang, tuan." Petugas itu menyapa dengan sikap hormat yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Dimas.
Dimas langsung memarkirkan mobil ke halaman. Dia lalu membuka pintu kemudi dan menutupnya kembali. Melewati jalan-jalan setapak yang di sisi kanan dan kirinya ada lampu-lampu taman yang mulai menyala beriringan.
Dimas langsung memasuki ruang utama yang dari kejauhan saja, dia sudah bisa mengendus aroma makanan lezat yang tercium dari dapur. Dimas lalu membawa langkahnya menuju dapur begitu juga arah pandangannya seolah sedang mencari-cari sesuatu.
Wajah lelah yang terpampang di wajahnya seketika langsung sumringah melihat sosok Meila yang tampak dari belakang sedang menggunakan celemek dan sedang menggoyang-goyang spatula sambil bersenandung riang.
Gadis itu sedang memasak di dapurnya. Memakai semua fasilitas dapur seperti daerah kekuasaannya.
Melihat Meila yang tampaknya belum menyadari kedatangannya, dengan perlahan Dimas membawa kakinya dengan pelan dan mendekatinya. Menaruh jasnya ke atas kursi mini bar yang memisahkan antara ruang utama dan dapur kemudian berdiri di belakang Meila dan mengejutkannya dengan berbisik di dekat telinganya.
"Gadis mungil ini sedang memasak apa sih sampai nggak sadar ada yang datang?"
Meila tersentak hingga melepaskan spatula ke atas wajan. Dia nyaris akan memekik kaget sebelum kemudian sadar saat lengan Dimas sudah melingkari pinggangnya.
Sebab, cuma Dimas yang berani bertingkah seperti itu padanya.
"Kak Dimas! Hampir aja aku teriak. Kenapa kamu nggak panggil aku aja, sih? Lagian kamu juga jalannya pelan banget jadi nggak kedengeran datengnya." gerutu Meila yang membuatnya menjadi imut.
Melihat Meila yang merengut saat menunduk, membuat Dimas gemas hingga membuatnya mencubit bibir Meila yang kecil dengan jahil.
"Apa sih? Kenapa merengut gitu? Bukan aku yang jalannya pelan. Tapi kamu yang terlalu fokus sama masakan kamu. Sambil bersenandung pula." Kekehnya meledek. "Lagian kamu lagi masak apa? Hm? Kenapa nggak pesan di luar aja? Kan gampang. Praktis juga." Dimas mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Aku ngeliat bahan-bahan masakan di kulkas yang waktu itu kita beli di supermarket. Kamu ingat?"
Dimas mengangguk ketika mengingatnya.
"Aku memasak ayam bumbu mentega yang biasa aku masak di rumah kalo bibi lagi nggak ada. Yaa.. meski keliatannya nggak seenak di restoran bintang lima, seenggaknya masakan aku dijamin sehat dan higienis."
Sambil mulai memasak kembali, Meila memberikan sikutan kecil ke perut Dimas sebelum akhirnya menyambung kalimatnya lagi.
"Ck! Dan satu lagi! Nggak boleh sering-sering pesan makanan diluar, kak. Kita nggak pernah tau tempatnya bersih atau nggak. Cara masaknya higienis atau nggak. Belum lagi cara penyajiannya memakai sarung pelapis tangan atau malah dibiarin gitu aja. Itu bisa menyebabkan diare bahkan penyakit berbahaya lainnya." Meila menggerutu sekaligus juga menasihati.
Dimas tersenyum senang saat dirinya dinasihati oleh gadis kesayangannya. Dia merasa ocehan Meila itu terdengar harmonis di telinganya. Bahkan, cara Meila menegur dan menasihatinya itu sudah seperti seorang istri, bukan seorang kekasih.
Meihat Dimas hanya tersenyum tanpa menjawab atau merespon sekalipun, membuat Meila menatap bingung.
"Kenapa senyum-senyum gitu? Apa aku salah?" Tanyanya dengan memasang wajah polos.
"Nggak. Nggak ada yang salah. Sama sekali." Lingkaran tangan Dimas ke pinggang Meila perlahan mengerat. "Aku cuma senang kamu mengingatkan sekaligus memberi nasihat. Karena kamu sepertinya udah naik level."
Ekspresi Meila bertambah bingung seiring dengan kernyitan di kedua alisnya.
"Naik level?"
Dimas lalu memeluknya, menjatuhkan dagunya ke bahu Meila kemudian berbisik di telinganya dengan nada menggoda yang kental.
"Karena kamu bukan menjadi seorang kekasih lagi. Tetapi, sebagai calon istri." Pungkasnya
Berhasil, wajah Meila berubah merah padam. Kata-kata Dimas tentang 'calon istri' membuatnya tersipu malu. Bahkan, saat ini rona merah mulai menjalari telinga dan lehernya.
"A-apa sih, kak." Ucap Meila tersipu. Dia berusaha menolehkan wajahnya yang mulai panas dengan fokus pada masakannya.
"Loh, kenapa? Aku nggak bercanda." Jawab Dimas serius. "Aku ingin mewujudkan itu suatu hari nanti. Lihat, kan? Kamu masih tersipu dan merona." Dimas lalu membubuhkan kecupan ke pelipis Meila dengan menghirup aromanya sekilas.
Meski biasanya perempuan-perempuan diluar sana saat memasak tubuhnya akan menempel aroma masakan, tetapi Meila berbeda. Dia sangat wangi dan segar. Bau aroma bayi yang lembut dan juga menyenangkan membuat Dimas tidak berhenti mengusak-usakkan wajahnya ke rambut Meila yang lembut.
Dimas lalu menarik dagu Meila agar perempuan itu mendongak dan mereka saling bertatapan.
Lalu Dimas mengecup bibir merah itu dengan lembut yang dibalut dengan kerinduan. Memberi cecapin ringan tidak menyakitkan, hingga memagutnya dengan penuh kehati-hatian agar tidak melukainya.
"Ka-kakak... ak-aku belum selesai memasak..." Meila berucap ditengah-tengah tindakan Dimas yang mulai membuatnya terlena dan terengah. Tak dihiraukan, apalagi didengarkan. Hanya terdengar suara Meila yang terbata sambil berusaha meraup oksigen di sekitarnya.