A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kawan Lama



Di tengah perbincangan seru antara Meila dan Vika, Dimas dan Rendy datang menghampiri. Dimas berdiri di belakang kursi yang Meila duduki sambil merangkulkan lengannya ke bahu Meila seraya berkata,


"Apa kamu menikmati acaranya? Atau masih merasa gugup?"


Dengan kepala menunduk, Dimas bertanya dengan sangat perhatian.


Karena tidak bisa menjangkau keberadaan Dimas yang ada di belakangnya, Meila akhirnya mendongak sambil tersenyum lebar.


"I'm okay. Aku sangat menikmati acaranya, kok." Jawabnya lembut dengan wajah yang mulai ceria.


"Kan ada kak Vika yang nemenin aku ngobrol disini." Imbuh Meila lagi sambil melirikkan matanya pada Vika yang berada di sampingnya. Lalu merangkulkan tangannya ke lengan perempuan itu.


"Iya. Benar! Kalian para cowok jangan khawatir. Kita sangat menikmati pestanya. Jadi, jika kalian masih mau membicarakan tentang perusahaan bersama para pebisnis lain, kami dengan senang hati menunggu." Sahut Vika menimpali kalimat Meila. 


"Yaaahh... kalo si tuan rumah yang ngomong kayak gitu sih kita gak usah khawatir lagi, ya?"


Rendy lah yang menjawab kalimat itu. Bukan tanpa maksud dia mengatakannya. Memang, tidak bisa dipungkiri jika Vika memanglah termasuk dari anggota keluarga Anderson. Dia sudah dianggap sebagai putri dari anggota Anderson sejak empat tahun lalu. Tepatnya sejak papanya meninggal dunia.


Berdiri setengah membungkuk di samping kursi Vika sambil meremas bahunya lembut, Rendy tersenyum manis disana.


"Of course!" Sahut Vika lagi dengan cepat begitu melihat senyum dari kekasihnya.


Dengan senyuman tipis, tangan Dimas bergerak menuju ke dagu Meila. Menarik dagunya yang lancip sebelum kemudian menangkupnya dengan sebelah tangan.


"Baiklah. Kita akan kembali lagi ke sana. Panggil aku kalo butuh sesuatu atau merasa gak nyaman. Okay?"


Setelah memastikan Meilanya merasa nyaman dengan melihatnya sendiri, Dimas kembali lagi ke perkumpulan para pebisnis muda diikuti oleh Rendy di belakangnya.


●●●


"Gue penasaran, seperti apa sih tipe cewek yang lo mau?"


Sambil terkekeh ringan, Dion yang sedang berkumpul dengan pebisnis muda sebayanya tampak sumringah. Digoyangkannya gelas minuman di tangan sebelum kemudian menjawab pertanyaan Samuel, rekan bisnisnya.


"Tipe gue itu gampang. Kalem, manis, kalo cantik itu relatif, lah... yang pasti... gak banyak maunya kayak kebanyakan cewek yang gue kenal. Dengan kata lain, harus nurut apa yang gue katakan." Pungkasnya penuh arti.


Sekarang giliran Samuel yang terkekeh.


"Coba deh, lo liat! Disini kan ada banyak cewek cantik, kenapa gak lo coba kenalan sama salah satu dari mereka? Siapa tau ada satu yang cocok." Samuel memberikan pendapatnya.


Lagi, Dion malah tertawa diikuti suara tawa teman lainnya yang hanya mendengar dan menyimak.


"Tadi gue bilang kan, ada satu cewek yang cantik banget malam ini. Gue denger dia itu teman dari salah satu putri angkat tuan rumah ini. Lo tau, ketika dia dateng tadi, langsung jadi pusat perhatian. Semua cowok-cowok langsung terpesona." Kali ini Andrew yang angkat bicara. "Yaaa... gue sih yakin cewek itu pasti akan akan berhasil menggetarkan hati lo nanti."


"Weitss! Hati-hati! cewek itu datang sebagai pendamping dari salah satu tamu undangan penting disini. Udah pasti dia itu pasangannya, kan?" Samuel menimpali. Dengan sedikit nada peringatan tentunya.


Dion menyeringai lebar sembari menggoyangkan gelas minumannya ke udara.


"Kalo yang Andrew bilang itu benar, secantik apa sih cewek itu sampai-sampai kalian semua pengen banget gue ngeliat dia? Dan kalo emang dia adalah pasangan dari tamu penting disini seperti yang lo bilang,..." lalu menunjuk ke arah Samuel sesaat. ".....gue jadi pengen berkenalan secara langsung dengannya." Sahutnya sambil memberikan kalimat penuh ketertarikan yang kental.


"Gue yakin, di detik lo melihat dia, saat itu juga lo gak akan berkedip!" Canda Samuel sambil mengomporinya diakhiri dengan gelak tawa. Pun dengan Andrew yang menyusul setelahnya.


Mendengar pendapat teman-temannya tentang wanita yang mereka bicarakan, sedikit memantik rasa penasaran Dion akan sosoknya. Namun, bagi Dion, sebelum dia melihat langsung seperti apa rupa wanita itu, tetap hanya ada satu gadis yang sedang ia impikan dan inginkan berada disisinya. Bahkan jika perlu, dia akan rebut gadis itu sampai menjadi miliknya seutuhnya. Menjadi satu-satunya pria beruntung yang memilikinya, dan tidak akan membiarkan sosoknya lepas dari pandangannya barang sedetikpun.


●●●


"Kamu jangan terlalu canggung gitu, Mei... mereka akan semakin menggoda kamu nanti." Vika berucap. Terdengar seperti kalimat cegahan namun dengan nada mengingatkan yang lembut.


Sambil menghela napas lesu, "ini karena penampilanku yang terlalu mencolok. Semuanya jadi memperhatikan aku. Pantas aja kak Dimas bilang kayak gitu," ucapnya sambil sesekali membalas senyuman ke semua orang yang menyapanya.


Vika terkikik geli, dia pun menanyakan maksud dari ucapan Meila.


"Emang Dimas bilang apa ke kamu?" Tanyanya ingin tahu.


Lagi, Meila hanya menghela napas. "Iya, dia bilang kalo aku pasti akan jadi pusat perhatian katanya." Ucapnya sambil cemberut.


Vika tertawa melihat ekspresi Meila. "Pantes aja Dimas bilang gitu. Kamu itu emang polos, ya?" Serunya sambil menjeda sebelum kemudian lanjut berucap. "Untung cantik! Gak salah kalo Rendy suka banget godain kamu." Ledeknya lagi sambil tergelak.


Lalu Vika mengambil minumannya, tapi begitu dia ingin meminumnya, tanpa dia sadari minumannnya telah tandas dan begitu melihat pelayan yang berkeliling membawa minuman, Vika langsung memanggilnya. Sekejap, pelayan itu langsung menghampirinya.


"One more, please..." ucap Vika. Dan tak lupa juga menawarkannya ke Meila. "Kamu mau lagi, Mei?"


Meila menggeleng sambil menjawab. "No, thanks, kak." jawabnya pelan dengan senyuman tipis.


Disaat pelayan itu memberikan gelas yang berisi minuman ke atas meja, tiba-tiba disaat yang bersamaan tangan Vika meraihnya dan bertabrakan. Membuat minumam di dalam gelas itu tumpah dan mengenai gaunnya.


"Maaf, nona... ini salah saya." Ucap pelayan itu dengan rasa bersalah dan membungkuk. "Bi-biar saya bantu membersihkan gaun nona." Imbuhnya dengan suara takut.


"It's okay. Gak apa-apa. Ini salah saya juga karena nyenggol gelas itu. Kamu kembali bekerja saja." Jawab Vika sembari mengelap gaunnya dengan tisu.


"Tapi, nona....."


"It's ok. Kamu boleh kembali bekerja lagi."


"Baik, nona. Terima kasih. Sekali lagi saya minta maaf."


Pelayan itu pun pergi dengan mengatakan pernyataan rasa bersalah serta permintaan maafnya kembali.


"Mei, kayaknya aku harus bersihin ini di toilet deh,"


"Yaudah gak apa-apa. Kakak ke toilet aja. Aku disini."


"Tapi nanti kamu sendirian. Atau kamu ikut aku aja gimana?"


Meila tersenyum. "Kalo aku ikut, nanti kak Dimas nyariin aku gimana? Aku gak bawa handphone. Kak Vika bersihin dulu aja bajunya di toilet. Aku tunggu disini." Melihat Vika yang tampak ragu, Meila berucap lagi. "Aku gak apa-apa, kak. Ayo, sana! Cepat!" Perintahnya.


"Hmm.. yaudah kalo gitu. Kamu disini aja, ya. Jangan kemana-mana. Aku cuma sebentar, kok."


●●●


Dimas bangkit dari duduknya dan bergegas berjalan menuju toilet. Dengan langkah ringan namun cepat, dia berjalan tegap dengan sebelah tangan yang ia masukkan ke kantung celananya. Sesekali dia menjawab sapaan siapapun yang menyapanya meski hanya sebuah senyuman kecil. Bahkan tak jarang para gadis-gadis yang sedang berkumpul memberikan tatapan penuh minat seolah Dimas adalah pria idaman yang mereka idamkan.


Sampailah Dimas di koridor yang memecah antara toilet pria dan wanita. Langkahnya pun memelan seiring dengan membawa kakinya ke koridor toilet bertandakan pria yang lumayan sepi pengunjung.


"Alex...?"


Suara sapaan yang dengan sekejap menghentikannya, membuat tubuhnya sedikit memutar dengan gerakan antisipasi. Selama hidupnya, hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan Alex. Dan jika dugaannya itu benar, maka orang itu tidak lain adalah...


"James?"