A Fan With A Man

A Fan With A Man
Cara Yang Sama



Dimas dan Meila akhirnya tiba di rumah setelah jam makan malam. Mereka menyempatkan untuk makan malam di perjalanan lebih dulu sebelum akhirnya mereka melakukan perjalanan kembali untuk pulang. Begitu memasuki halaman dan melewati gerbang utama, Meila melihat sudah ada Henry di depan pintu utama yang sedang menunggu kepulangan mereka.


"Kak, itu... bukannya Henry?"


Dimas menoleh ke arah yang Meila maksud. Dia lantas segera memarkirkan mobil di halaman sebelum akhirnya keluar dari mobil itu bersama-sama.


"Selamat datang, tuan, nona." Suara Henry menyapa.


Dimas hanya mengangguk, sementara Meila menjawab dengan sikap ceria khasnya yang disertai lambaian tangan. "Halo, Henry."


"Ada apa, Henry? Apa ada sesuatu yang penting?"


Sebelum menjawab, Henry tampak ragu dan merasa tidak enak hati karena ada Meila di samping tuannya. Tetapi, dikarenakan Meila peka terhadap tingkah Henry, dia lalu mengatakan pada Dimas untuk masuk lebih dulu agar mereka, dua pria itu bisa mengobrol dengan leluasa.


"Kak, aku masuk duluan, ya." Setelah Dimas menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyum, Meila lalu menawarkan kue-kue yang dia bawa pada Henry dengan sikap polos dan ramah. "Oh, iya, kamu mau kue? Kak Dimas membelikan ini banyak sekali. Kamu bisa membawanya kalau kamu mau."


"Ah, ti-tidak, nona. Terima kasih untuk tawarannya." Henry menolak dengan sopan.


Meila pun mengangguk tanda mengerti, dia juga menyematkan senyuman tipis di bibirnya. "Okay, kalian silahkan mengobrol dengan nyaman."


Melihat tingkah Meila yang seperti itu, sudah pasti membuat Dimas tidak tahan untuk mengusap kepalanya sekilas saat gadis itu memasuki pintu utama ketika lewat di depannya. Lalu, ketika Meila sudah benar-benar masuk ke dalam dan berjalan menuju kamar, barulah Dimas menanyakan maksud kedatangan Henry yang tiba-tiba. Karena, jika Henry sampai datang ke rumah tanpa mengabarinya lebih dulu, sudah pasti ada hal penting yang akan dia sampaikan.


"Ada apa?" Tanya Dimas dengan suara berat dan tegas.


"Ada hal penting menyangkut nona, tuan." Henry menjawab spontan maksud dari kedatangannya.


"Kita bicara di ruang kerja saja." Dimas menjawab dengan santai meski sempat tersentak saat mendengar alasan Henry mendatanginya.


Dimas memimpin jalan menuju ruang kerjanya. Diikuti oleh Henry yang berjalan dibelakangnya dengan tidak mendahului.


●●●


"Apa?! Ada seseorang yang memata-matai Meila di kampus?"


Dimas bereaksi dengan hampir berteriak. Dia merasa tercengang tak habis pikir setelah mendengar penjelasan Henry yang memberitahukan padanya jika ada seseorang yang sudah melakukan tindak diluar batas. Dimas tampak sangat marah. Dia hampir saja berteriak diluar kendali. Namun dengan cepat dia kembali bersikap tenang. Sebab, dia tidak ingin Meila mendengarnya dan itu pasti akan membuatnya merasa takut.


"Benar, tuan. Secara tidak sengaja, saya menempatkan beberapa orang untuk berjaga-jaga seperti yang tuan perintahkan. Tetapi, dari informasi mereka, ada seseorang yang datang tadi siang menanyakan nona. Mereka bilang orang itu berpakaian cukup rapi dan naik turun mobil yang cukup mewah."


"Apa itu... Dion?" Tanpa berpikir pun, Dimas bisa langsung menebak siapa pria yang bertindak nekat sampai sejauh ini. Dan seperti dugaannya, Henry langsung terdiam mengiyakan.


Nggak disangka! Dia cukup berani untuk melangkah maju.


Menurut Dimas, sekarang kampus pun sudah mulai tidak aman untuk Meila. Dia bisa saja menempatkan beberapa bodyguard untuk melindunginya selama dia tidak bisa menjangkaunya. Tetapi, itu tidak mungkin. Meila akan merasa tidak nyaman dan itu akan menarik perhatian semua orang yang ada disana.


"Tuan, ini hanya pendapat saya saja." Henry tampak hati-hati saat akan mengatakan pendapatnya. "Bagaimana kalau tuan mengatakan semuanya pada nona? Tentang laki-laki itu dan juga keselamatannya?"


"Nggak semudah itu, Henry." Dimas tampak putus asa. "Aku bisa saja mengatakannya kemarin tanpa memikirkan kondisi psikis Meila saat itu. Tapi, aku memilih untuk diam karena itu menyangkut kesehatan mental Meila. Kamu sendiri pun tau, dia pernah memiliki kenangan buruk mengenai suatu pelecehan? Akan lebih baik jika aku diam dan memikirkan sendiri bagaimana caranya menjauhkan laki-laki itu dari Meila. Membayangkan wajah polosnya ternodai dengan rasa takut itu sangat menyakitkan, Henry!"


"Kamu ingat, saat tadi beberapa menit lalu dia menawarkan kue yang ada di tangannya untukmu dengan wajah polos tanpa dosa? Apa kamu tega merubah wajah polos itu seketika menjadi wajah penuh kecemasan dan rasa takut?"


Benar! Saat tadi Meila menawarkan cake yang ada di tangannya untuk Henry, Meila menawarkannya dengan begitu tulus dan dengan ekspresi polos seperti anak kecil tanpa dosa. Begitu Henry mengingatnya, dia pun langung diselimuti rasa ketidaktegaan yang nyata pada Meila. Mungkin inilah yang Dimas rasakan saat menghadapi Meila sehari-harinya. Merasa tidak tega dan selalu membuatnya luluh.


Dan sekarang, Henry bisa merasakannya dengan nyata. Perasaan yang tuannya rasakan. Perasaan tidak tega dan ingin melindungi.


"Saya minta maaf atas ketidaksopanan saya, tuan. Tapi, mungkin akan lebih baik jika nona mengetahuinya cepat atau lambat. Sebab, kita tidak akan tau tindakan apa yang akan laki-laki itu lakukan kedepannya." Henry memberikan pendapatnya yang langsung membuat Dimas berpikir.


"Aku akan memikirkan bagaimana cara menyampaikannya. Untuk sekarang, kamu terus pantau dan tetap letakkan beberapa bodyguard dari jarak aman. Agar Meila tidak mengetahuinya dan agar tidak ada seseorang juga yang curiga. Kamu boleh pergi sekarang. Dan tunggu perintah selanjutnya dariku."


"Baik, tuan. Saya akan melakukan seperti yang tuan perintahkan. Saya pamit undur diri."


Henry pun akhirnya pergi dari ruangan kerja itu dengan meninggalkan Dimas seorang diri. Ekspresi Dimas berubah kalut ditambah dengan kecemasan-kecemasan yang akan muncul nantinya. Dia tidak mau mengubah ketenangan Meila yang sudah jelas-jelas dia bangun dengan susah payah menjadi rasa takut dan cemas yang membaluti dirinya.


"Dion, apa maksud dan tujuanmu melakukan ini sebenarnya?!"


●●●


"Aku cuma ingin merebutnya dan menjadikannya milikku. Tidak kurang, dan tidak lebih. Sebab, cuma dia yang dengan mudahnya membuat seluruh indera di tubuhku bereaksi."


Dion tampak sedang berbicara pada seseorang di sebuah ruangan. Dengan posisi merebah, dan kedua mata menatap pada langit-langit ruangan. Seorang laki-laki paruh baya dengan mengenakan jas berwarna putih rapi tampak duduk di sebuah kursi sambil mencatat pada sebuah kertas di atas papan berjalan.


Lelaki itu menggunakan kacamata, dengan sebuah nama di sebelah kanan jas putih yang bertuliskan 'dr. Alvin Suryadhinata' telah menjelaskan jika dia adalah seorang dokter. Lebih tepatnya seorang dokter psikiater yang sudah hampir dua tahun belakangan ini menangani kondisi Dion yang mulai stabil.


"Lakukanlah dengan cara yang sehat. Jangan sampai tindakan cerobohmu itu bisa melukai orang itu. Karena secara otomatis, jika orang itu terluka, maka kamu akan merasakannya lebih dari yang orang itu alami. Lakukan sewajarnya. Aku sudah menanganimu hampir dua tahun ini dan kamu mulai menunjukkan adanya kemajuan. Jadi, jangan nodai itu hanya karena obsesimu."


Dokter Alvin tampak menasihati sekaligus memperingati. Dia secara tidak sadar terlihat seperti seorang ayah yang sedang memperingati putranya saat melakukan kesalahan.


Dion menyringai lebar. "Kamu pikir ini hanya obsesi?" Dion bertanya balik dengan nada ironi. "Sejak pertama kali aku melihatnya dalam kondisi ketakutan, saat itu aku merasa kalau aku berhak untuk melindunginya. Aku ingin membuatnya berada disampingku dan memilikinya. Hanya saja, ada satu penghalang yang selalu berada di dekatnya."


Mendengar kata 'penghalang' disertai tatapan mata yang gelap dari Dion, membuat Alvin menaikkan alisnya seketika.


Penghalang? Sudah jelas-jelas itu hanya obsesinya. Tapi tetap saja mengelak!


"Lalu? Kamu mau merebutnya dengan kasar dan memperlakukannya seenakmu?" Alvin menyeringai. "Jangan lakukan itu, Dion!" Kali ini ucapannya bernada peringatan. "Jangan ulangi kesalahanmu hanya untuk memenuhi nafsumu. Aku berbicara seperti ini agar kamu tidak terjerumus ke dalam lingkaran hitam lagi."


"Haaahh! Sepertinya aku bercerita pada orang yang salah!" Saking bosannya dinasihat, Dion sampai menghela napasn panjang.


"Karena itu adalah tugasku!" Alvin berujar menyela. "Aku disini sebagai doktermu sekaligus juga penasihatmu, Dion." Kali ini kalimatnya melunak, berusaha mengimbangi Dion yang mulai merasa terintimidasi oleh kata-katanya.


Dion menarik sudut bibirnya ke atas. Melengkungkan senyum ironi dan kemudian membalas kalimat Alvin dengan sebuah teka-teki.


"Kamu tidak perlu merasa terlalu cemas. Aku bisa menanganinya sendiri meski aku tau itu akan sangat sulit."


Tentu saja! Aku akan menanganinya sendiri dengan caraku. Mungkin.... Cara yang hampir sama seperti sebelumnya.