A Fan With A Man

A Fan With A Man
Hasutan Dion



Di dalam mobil itu cukup hening. Meila yang lebih memilih diam tampak tidak membuka suaranya sedikitpun. Terlebih karena dia yang sedang menahan sakit luar biasa di perutnya dan juga dirinya yang tidak mau memulai pembicaraan dengan Dion.


Berkebalikan dengan Meila, Dion selalu mengawasi ekspresi dan tingkah perempuan disampingnya dengan ekor matanya. Disaat yang bersamaan pandangan Dion melirik ke arah Meila, di saat yang bersamaan ekspresi wajah Meila langsung berubah kesakitan. Tanpa suara dan hanya ringisan tertahan.


"Kamu kenapa? Ada yang terasa sakit?"


Ditanya tiba-tiba oleh Dion, membuat Meila terkesiap seketika. Dia menjawab dengan gugup.


"Ah, nggak. Nggak, kok. Cuma sedikit pusing." Jawab Meila sekenanya.


"Apa kita ke rumah sakit dulu? Keliatannya kamu kesakitan." Dion berujar dengan nada cemas.


"Oh. Ng-nggak perlu, kak. Ini cuma... pusing biasa aja." Meila menyahuti dengan gugup.


Tanpa bertanya lagi, Dion lalu mengambil sebuah botol air mineral kemasan yang dia letakkan di dalam dashboard mobilnya. Lalu memberikannya pada Meila.


"Ini, diminum dulu."


Meila memperhatikan air mineral itu dengan seksama sekaligus juga berpikir. Berpikir tentang kalimat Dimas yang memintanya untuk tidak menerima barang pemberian dari siapapun terlebih lagi jika itu adalah makanan dan minuman.


"Ayo, diminum dulu. Kamu keliatan dehidrasi. Ini masih baru dan tersegel, kok. Kamu lihat, kan?"


Ucapan Dion yang sambil menggoyangkan botol otomatis membuat pandangan Meila langsung terfokus pada benda itu. Dia terus memperhatikannya dengan seksama sebelum kemudian melihat ke arah Dion dengan alis mengernyit.


Benarkah tidak apa-apa? Kalau Dimas tau, mungkin pria itu akan marah dan menasihatinya lagi nanti. Tapi, ini bukan tentang Dimas, melainkan Meila sendirilah yang juga merasa ragu untuk menerimanya.


"Ayo, diambil. Kamu harus minum supaya nggak kehilangan cairan tubuh." Dion menyodorkan kembali botol itu ke depan Meila. Dan perlahan, Meila mengambil botol itu dari Dion.


"Te-terima kasih." Ucap Meila begitu telah menerima botol minum itu dan mulai membuka tutupnya. Dia meminumnya dengan perlahan. Membasahi tenggorokanya yang terasa kering dengan air yang begitu menyegarkan.


Melihat Meila yang sedang minum dengan tenggorokannya yang naik turun, sontak membuat Dion terpesona sampai menelan ludahnya. Leher jenjang Meila yang putih dan terekspos membuat pikiran-pikiran liar yang tersembunyi dalam pikiran Dion seketika bangkit kembali ke permukaan tanpa diminta.


Dion memang tidak salah mengenali seorang perempuan. Gadis incarannya ini telah membuatnya gila hingga mabuk kepayang. Namun dia tidak akan memperlihatkan sisi buruknya itu pada gadis yang akan menjadi targetnya.


Dion segera menimbun kembali pikiran liarnya itu dalam-dalam sebelum Meila sadar akan sikap anehnya. Dia lalu berdehem sesaat sebelum akhirnya berucap sesuatu dengan gamblang.


"Keliatan nya Dimas terlalu melarang kamu, ya?" Perkataan Dion yang tiba-tiba membuat Meila menoleh dengan cepat disertai ekspresi bingung.


"Maksudnya?"


"Iya. Maksud aku, kayaknya dia terlalu mengekang kamu. Buktinya saat aku memberikan air minum itu, kamu ragu-ragu menerimanya." Dion berusaha menghasut Meila dengan rangkaian kesimpulannya sendiri. Hal itu dia gunakan untuk memantik kecurigaan Meila pada Dimas.


"Kak Dimas bukan orang seperti itu. Dia cuma mengingatkan aku untuk selalu melindungi diri." Meila menjawab apa adanya. Dan itu dari hatinya sendiri.


Jika didengarkan dengan seksama, ada intonasi bernada kesal di dalam kata-katanya.


"Yah, aku cuma berasumsi menurut penglihatanku. Karena itu yang aku lihat dari kamu." Dion menjawab terang-terangan.


Apa benar begitu? Apa aku terlalu memperlihatkan kecurigaanku padanya?


Disaat keheningan diantara mereka terbentang, suara klakson mobil yang dibunyikan berulang-ulang di belakang mobil mereka, membuat pandangan Dion tertuju ke arah kaca tengah mobil. Sedangkan Meila melirik ke arah spion yang memperlihatkan dengan jelas jika itu adalah mobil Dimas.


"Kak Dimas,?" Meila bergumam sendiri. Tapi gumamannya itu didengar oleh Dion. "K-kak Dion, tolong berhenti disini, kak." pintanya.


Melihat tindakannya dengan membunyikan klakson tidak dihiraukan Dion, akhirnya Dimas menyalip mobil Dion dengan mobilnya. Sengaja memberhentikan mobilnya tepat di depan mobil Dion dengan memotong jalannya.


Dion pun berhenti seketika. Dengan cepat Meila langsung turun tergesa-gesa diikuti dengan Dion. Bersamaan dengan Dimas yang juga keluar dari kursi kemudi mobilnya.


"K-kak...." Meila berucap terbata.


"Masuk ke mobil." Tanpa menjawab sapaan Meila, Dimas langsung menyuruh Meila agar masuk ke mobilnya dengan suara datar. Namun meski begitu masih ada kelembutan dalam nada bicaranya.


"Kak, aku cuma...." Meila merasa bersalah dan ingin menjelaskan. Namun Dimas langsung memotongnya.


"Masuk ke mobil, Mei..." Dimas mengulangi kalimatnya sambil menahan amarahnya. Mendengar geraman dari Dimas, membuat Meila langsung menurut dan masuk ke mobil Dimas tanpa melihat lagi ke arah Dion. 


"Jangan memarahinya. Aku hanya membantu untuk mengantarnya pulang." Dion berujar seketika. Dan itu justru semakin memancing kemarahan Dimas.


Sudut bibir Dimas menaik ketika mendengar ucapan Dion.


"Aku yang paling tau bagaimana cara memperlakukannya. Sebelumnya... aku berterima kasih karena niat baikmu. Tapi, jika hal ini sering terjadi, apa itu pantas jika disebut dengan sebuah kebetulan?" Dimas berujar menohok dan tanpa sengaja mengenai hati Dion. "Aku permisi." Imbuh Dimas kemudian yang langsung bergegas menuju mobilnya. Melajukan kembali mobil itu dengan cepat tanpa mempedulikan ekspresi yang ditunjukkan Dion padanya.


Dion pun mendengus kesal yang diakhiri dengan seringaian jahat.


"Ini baru permulaan, tuan muda." Gumam Dion dengan ekspresi sinis.


●●●


Meila duduk terdiam dengan gelisah di dalam mobil Dimas. Pasalnya, Dimas tidak mengajaknya bicara sejak masuk ke dalam mobil. Jangankan bicara, sekedar untuk menanyakannya saja tidak. Wajah Dimas sangat tidak terbaca. Namun, tampak raut kemarahan yang nyata yang bisa Meila tangkap saat ini.


"K-kak, aku nggak sengaja. Aku... nggak bermaksud menerima ajakan kak Dion. Tiba-tiba aja dia udah ada disana." Meila mencoba berbicara dengan nada hati-hati. Namun tetap saja tidak ada respon apapun yang ditunjukkan oleh Dimas.


"Kak Dimas, apa kamu... marah? Aku minta maaf...." Meila berucap lagi begitu tidak mendapat jawaban. Namun tetap saja sepertinya Dimas memang benar-benar marah padanya.


Meila akhirnya diam sambil menahan perasaan sesak. Dia tidak pernah melihat Dimas semarah itu. Jika pria itu benar-benar marah, dia lebih suka jika Dimas memarahinya seperti saat Meila menyembunyikan kebenaran tentang Sisil seperti dulu. Tetapi, melihat Dimas mendiaminya tanpa berbicara itu lebih menyakitkan daripada harus menerima omelannya.


Selang beberapa saat, akhirnya mereka sampai. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Dimas langsung keluar dari mobil menuju pintu penumpang. Bergerak membukakan pintu untuk Meila. Perlahan Meila pun turun dan berdiri di depan Dimas. Sementara Dimas langsung menutup pintu mobil dan mulai akan berjalan kembali ke kursi kemudi.


"Kak, kamu mau kemana?" Meila bertanya dengan bingung. "Kak,..." panggil nya lirih. "......please...." kali ini suaranya terdengar bergetar. Seperti orang yang sedang menahan tangis.


Mendengar suara Meila yang seperti itu, sudah pasti membuat Dimas tidak tega meninggalkannya. Namun, dia harus sedikit tegas kali ini. Dia akan berbicara dengan perempuan itu untuk mendengar penjelasannya nanti. Saat dirinya sudah kembali ke rumah setelah menyelesaikan serangkain meeting penting yang akan dimulai sebentar lagi.


Akhirnya, dengan helaan napas berat, Dimas menjawab pertanyaan Meila dengan ekspresi datar dan sikap yang dingin. Tidak seperti sikap yang biasanya lembut dan penyabar.


"Aku akan kembali ke kantor. Kita bicara lagi nanti. Kamu masuklah, dan pakai pakaian hangat."


Bukan tanpa sebab Dimas meminta Meila untuk memakai pakaian hangat. Sebab, cuaca sore ini mendadak mendung disertai hembusan angin yang dingin.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, tanpa menoleh lagi Dimas langsung masuk ke dalam mobilnya dan kembali melajukannya dengan cepat. Karena dia tau, jika dia menoleh lagi, yang ada Dimas akan luluh dan kemarahannya akan padam melihat wajah Meila yang sedang menahan air matanya. Dimas memilih tidak menghiraukan Meila yang masih terpaku menatapnya sambil terperangah dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Di dalam mobil, Dimas tampak menepi di sisi jalan. Memukul-mukul setir kemudinya untuk melampiaskan kekesalan dan juga kemarahannya yang sejak tadi dia tahan di depan Meila.


Apa aku terlalu berlebihan?


Jika boleh jujur, Dimas tidak tega meninggalkan Meila sendiri di rumah dalam kondisi marah. Apalagi saat tadi dia mendengar suara Meila yang lirih dan bergetar. Rasanya dia seperti ingin berlari dan memeluk gadis itu sambil mengucapkan kata 'tidak apa-apa' sebagai bentuk penenangan. Tetapi Dimas lebih memilih menyingkirkan keinginan itu untuk menyadarkan Meila, jika dia perlu meningkatkan kewaspadaan dan mulai bersikap tegas pada Dion.