
"Sebenernya... gue mencurigai seseorang."
Rendy menyandarkan bahunya, menarik napas dalam dan menengadahkan kepalanya pada kepala kursi.
"Tapi gue masih belum yakin. Karena kita juga belum punya bukti yang cukup kuat." Rendy menyambung kalimatnya kembali.
Dia sedang bersama dengan Dimas saat ini, diruangan senat, tempat dimana Rendy menghabiskan sebagian waktu kuliahnya disana. Ya, setelah mengantar Meila pulang tadi, Dimas kembali lagi ke kampus untuk membantu Rendy memecahkan teka-teki permasalahan yang belum terselesaikan.
Dimas mendengarkan kalimat Rendy dengan seksama, alisnya terangkat begitu mendengar perkataannya yang sedang mencurigai seseorang. Dimas pun sama penasarannya dengan Rendy, Dia sungguh tak habis pikir, apa gunanya melakukan ini? Dan yang lebih menghawatirkan lagi, tak ada jejak apapun yang tertinggal, entah itu sidik jari ataupun cara mereka meletakkan laptop ke posisi semula seolah telah diperhitungkan dengan matang. Seakan mereka sudah terencana dan malakukannya dengan sangat hati-hati.
"Apa menurut lo... ini nggak aneh, Ren?" Dimas akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
"Maksud lo?" Rendy menolehkan kepala ketika perkataan Dimas terdengar seperti teka-teki.
Dimas melihat ke arah Rendy sebelum berucap, sedikit ragu namun dia yakin prasangkanya kali ini cukup kuat. Dimas menegapkan tubuh, memajukannya sedikit agar fokus mereka tak terpecah.
"Menurut gue, ini seperti disengaja. Target mereka sebenernya bukan pada obyeknya, tapi subyek." Dimas menghentikan ucapannya, memperhatikan perubahan wajah Rendy yang mulai berpikir keras.
Kemudian Dimas melanjutkan ucapannya kembali setelah mendengkus pelan, "Coba lo pikir, untuk apa mereka ngelakuin ini kalo bukan untuk menjatuhkan? Melalui data-data di laptop ini, mereka bisa menjatuhkan seseorang secara perlahan hingga membuat orang itu merasa bersalah secara berkepanjangan. Siapapun akan tersudutkan ketika dihadapkan pada situasi dimana dialah orang terakhir yang berada disini, mengoperasikan laptop ini, diruangan ini. Dan itu berlaku buat orang yang berhati lemah. Bukan! Tepatnya bukan lemah, tapi berhati lembut, memiliki kepekaan yang tinggi." Jelas Dimas panjang lebar.
Rendy menyipitkan matanya, "jadi menurut lo... ini menyangkut masalah pribadi si pelaku dengan si target?"
"Lebih tepatnya... rasa iri! Rasa iri yang disimpan terlalu dalam. Mereka nggak akan senang jika posisinya direbut oleh orang lain yang lebih kompeten darinya. Mereka akan melakukan cara apapun untuk menjatuhkan lawan dan...."
"Tapi Meila nggak punya musuh setau gue," Rendy menyanggah ucapan Dimas dengan cepat. "Malah hampir sebagian orang disini, menyukai karakternya secara terang-terangan." Sambung Rendy.
Rendy dengan cepat langsung menyimpulkan siapa Subyek yang dimaksudkan Dimas saat ini. Mengingat sifat yang dijelaskan olehnya memang langsung tertuju pada sifat dan kepribadian Meila.
Dimas menyeringai, "Gue menyadari itu, Ren..! Sangat! Tapi bukan nggak mungkin diantara mereka ada yang benar-benar tulus berteman dan mendekati Meila. Gue yakin, dari sekian banyak orang dan siswa-siswi disini, pasti ada yang menyimpan setitik rasa iri padanya."
"Kenapa... lo yakin pelakunya ada di sekitar kita?" Rendy bertanya dengan penuh selidik.
Lagi-lagi Dimas hanya menyeringai, "Siapa lagi kalo bukan di sekitar kita? Mereka sangat tau jelas letak ruangan ini. Sedangkan jika dipikir-pikir, ruangan ini ada diujung koridor dan posisinya berada jauh dari ruangan manapun."
Dimas berpikir kembali, mengingat perkataan awal Rendy yang tadi sempat diucapkan olehnya.
"Tadi lo bilang.. lo mencurigai seseorang?" Alisnya terangkat penuh selidik.
Rendy menarik napas panjang, menyandarkan kembali bahunya, "gue masih belum yakin akan hal itu. Tapi pikiran gue kuat banget pada seseorang yang pernah berurusan di kampus ini."
"Kenapa lo yakin banget dengan pemikiran lo itu?" Dimas mulai tertarik kembali dengan pembicaraan mereka.
Rendy terdiam sejenak, raut wajahnya terlihat berubah seakan menyimpan amarah bertahun-tahun yang masih belum dituntaskan olehnya.
"Karena cuma orang itu yang sangat ahli dibidang ini... Tanpa jejak, dan sangat rapi." suaranya terdengar pelan, wajahnya mengeluarkan tanda bahaya. Namun kecurigaannya cukup beralasan kali ini.
●●●
"Sejauh ini kita masih aman. Belum ada yang mencurigai kita. Lo nggak usah sering-sering hubungin gue, terutama kalo gue lagi di kampus. Gue nggak mau rencana kita ketahuan cuma karena rasa ketakutan lo yang berlebihan itu."
Sisil terlihat sedang berbicara melalui telepon genggamnya. Dia sedikit berbisik dan memelankan suaranya agar tak ada yang mendengarkan pembicaraannya.
Dia langsung lari terbirit-birit menuju toilet begitu ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk dan tertera nama samaran aneh yang dia kenali. Tanpa membuang waktu, dia langsung menyimpulkan bahwa itu adalah penelepon dari orang yang membantunya melakukan konspirasi data beberapa waktu lalu. Ya, penelepon itu adalah Beno.
Sisil menggunakan Beno untuk membantunya melakukan kecurangan. Sisil tahu Beno sangat ahli dibidang sistem kerja komputer, sehingga Sisil tak perlu repot-repot lagi menjelaskan lokasi ruang senat yang letaknya diujung koridor jauh dari ruangan manapun.
Oh jelas, penampilann Beno jauh dari kata 'wah', dia memakai kacamata tebal seperti pria culun kutu buku, sweater berwarna gelap adalah favoritnya dan dia selalu menundukkan kepala jika sedang berkomunikasi secara langsung bersama lawan bicaranya.
"Next time, gue yang akan hubungin lo. Inget, jangan berani-berani ngelakuin sesuatu yang akan membuat rencana kita berantakan." Sisil mengakhiri pembicaraannya dan menutup panggilan telepon setelah mengucapkan kata ancaman pada Beno.
Sisil menarik napas dalam, dirinya kesal dengan Beno yang mudah sekali berubah pikiran hanya karena rasa takutnya yang berlebihan. Sisil tahu, Beno sudah sejak lama menyukai Meila. Setiap dia mendekati Meila, selalu ada Rendy yang menghalangi dan dengan senang hati pasang badan melindunginya. Bukan rasa suka layaknya pria pada wanita, melainkan rasa obsesi Beno pada Meila yang sudah diluar batas.
Jika mengingat kebelakang, sampai pada suatu saat, ketika Meila dan Airin sedang berada di toilet wanita, tanpa diduga sudah ada Beno didalamnya. Diam-diam dia melakukan hal keji dengan merekam setiap kegiatan Meila di toilet itu.
Namun kegiatan itu tak berlangsung lama, Airin lah yang menyadari ada sesuatu yang janggal diruangan sebelah tepat dimana Meila masuk tadi. Airin dengan cepat mendobrak pintu toilet itu menendang sekuat tenaga dengan sebelah kakinya. Hanya hitungan detik, pintu itu terbuka, dilihatnya Beno tergeragap, sedang memegangi mini camera ditangannya dengan posisi masih merekam dengan wajah memerah panik.
Dengan cepat Airin langsung menyuruh Meila keluar lebih dulu dan langsung mengambil barang bukti sebelum Beno berbuat nekat membuang camera itu ke closet. Meila sempat shock karena dia tidak pernah menduga Beno akan melakukan hal keji itu padanya, dan hal itu dia lakukan dikampus. Tak ada yang bisa Meila lakukan saat itu, tubuhnya gemetar dengan matanya berkaca-kaca menahan malu luar biasa. Dia marah pada dirinya sendiri karena tak hati-hati dan mengantisipasi keadaan sekitar terlebih dulu.
Karena Meila pikir, mustahil ada pria yang akan masuk ke toilet wanita, bukan?
Airin merasa iba pada Meila yang hanya terdiam disudut ruang toilet sambil memeluk tubuhnya erat menahan tangis. Airin dapat melihat jelas betapa shock nya Meila karena perbuatan orang tak bertanggung jawab seperti Beno itu.
Tanpa berpikir panjang Airin langsung membawa Beno ke ruangan dekan beserta barang bukti ditangannya. Beruntung bagi Beno karena masih diberi peringatan sekaligus pelajaran dengan di drop-out dari kampus. Meila memilih tak memperpanjang masalah, dengan tidak melihat wajah Beno dikampus dan menjauh dari hadapannya, itu sudah cukup baginya. Beno seharusnya berterima kasih dengan keputusan Meila yang tak memperpanjang kasusnya, dia masih bisa menghirup udara dengan bebas tanpa harus masuk jeruji besi.
Sejak kejadian itu, tak ada yang tahu dimana keberadaan Beno. Begitupun dengan Meila, tanpa mendengar namanya dan merasakan atmosfer kehadirannya, itu sudah cukup membuatnya nyaman dan aman tanpa harus ada rasa takut lagi.
●●●
Meila sedang bersantai di ruangan televisi, ditangannya terdapat sebuah Novel yang sedang dibacanya. Waktu baru saja menunjukkan pukul delapan malam, dia sudah menyelesaikan makan malamnya dan bersih-bersih sebelum akan tidur. Meila sudah bersiap dan naik ke atas ranjang dan memposisikan dirinya agar terlelap, tapi entah bagaimana memar di dahinya tiba-tiba terasa berdenyut dengan frekuensi yang tak teratur.
Meila memutuskan untuk bersantai sebentar sambil membaca novel hingga menunggu rasa kantuk datang. Rupanya Meila tak sendiri, dia ditemani bi inah yang sedang bersih-bersih didapur setelah memasak makan malam tadi.
Ketika hanya ada suara televisi dan suara langkah bi inah yang bolak balik membersihkan peralatan dapur, terdengar suara nyaring dari pintu utama.
*tingnong 🔔
Ya! Itu adalah suara bel menandakan datangnya seseorang.
Tapi, siapa yang akan bertamu di jam segini?
Suara bel itu menghentikan kegiatan bersih-bersih bi inah yang tinggal sedikit lagi hampir selesai. Begitupun dengan Meila yang perhatiannya terpecah ketika imajinasinya mulai bermain jauh. Dilihatnya bi inah terburu-buru akan membukakan pintu. Namun dengan suara lantang gerakannya terhenti oleh suara Meila yang langsung mengambil alih tugas bi inah.
"Biar aku aja bi... Bibi lanjutin aja beres-beresnya, ya.." sanggah Meila pada bi inah dengan menyelipkan senyum dibibirnya. Dia langsung menuju pintu utama dan membukanya.
Tangannya menggapai pintu, diputarnya kunci memundur dua kali untuk membukanya. Dan pada saat itulah ada sesosok tinggi kokoh dihadapannya sambil menutupi wajahnya dengan sekantung berukuran sedang berbentuk cake.
"Strawberry cheese cake?"
Terdengar seperti sapaan yang menggiurkan. Kata-kata itu langsung terdengar dibarengi dengan senyum di wajah sang pria yang langsung menampakkan wajahnya pada Meila. Senyum manis berlesung pipi, siapa lagi kalau bukan Dimas Alexsander.
Didetik itulah Meila terkejut dengan kedatangan Dimas yang belum pernah dia pikirkan akan datang menyapa dan bertamu seperti ini. Bukan! Bukan karena keberatan atau kesal, namun cara berpakaiannya yang dibilang terlalu cuek ketika sedang dirumah. Dia hanya mengenakan kaos yang dipadu padankan dengan celana pendek di atas lutut dan rambut yang dikuncir asal-asalan. Andaikan Dimas menghubunginya terlebih dulu, mungkin dia bisa bersiap-siap dan mengenakan pakaian yang lebih sopan dan pantas layaknya tuan rumah menerima tamu, bukan?
Dugaannya benar, Dimas ternyata memperhatikan penampilan Meila dengan pandangan menyusur dari atas kepala sampai ujung kaki. Dan bukan pandangan seperti sedang mencela, melainkan pandangan penuh pesona pada sosok gadis dihadapannya itu yang tampak terlihat polos tanpa polesan make-up, tapi tetap terlihat manis dan natural. Dan itu semakin menambah nilai plus dimatanya.
"Cantik!" Kata itu yang selanjutnya terdengar oleh telinga Meila.
Pipinya merona malu ditatap seperti itu. "Kak.. jangan tatap aku kayak gitu, aku malu!" Meila memalingkan wajahnya.
Dimas terkekeh, "kenapa harus malu? Inikan rumah kamu. Atau... kamu malu karena aku ngeliat kamu berpenampilan cuek tanpa make-up?" Dimas berhenti sejenak menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan Meila. "Mau penampilan kamu kayak gini, casual atau formal sekalipun, kamu tetep manis dimata aku." Dimas berucap pelan dengan senyuman nakal dibibirnya, dan itu malah membuat pipi Meila semakin memerah.
Padahal Dimas juga tahu, Meila tak pernah memakai polesan make-up mencolok seperti gadis-gadis lainnya. Tapi entah kenapa dia ingin sekali menggodanya.
"Kamu tenang aja... aku cuma mau nganterin ini..." Dimas mengangkat kantung berukuran sedang itu ke atas agar fokus Meila teralihkan kembali. "Jadi.... kamu bisa tenang menikmati ini dengan santai." Ucapnya setengah meledek dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan gitu maksudnya..... A-aku... cuma..." Meila terbata, berusaha memberikan alasan yang tepat pada Dimas, jika dia salah berucap, Dimas pasti akan berpikir dia sedang mengusirnya. Tapi, sebelum ia menemukan alasan itu, dengan cepat Dimas menyanggahnya.
"Udah, nggak apa-apa aku ngerti. Tapi... kalo kamu nggak mau aku bisa......"
"Eh jangan, kak!" Sambar Meila cepat langsung menahan tangan Dimas begitu menyadari Dimas berjalan mundur menjauh dari pintu utama tempatnya berdiri. Padahal Dimas hanya ingin memancingnya dan itu berhasil.
Tindakan Meila yang impulsif itu membuat Dimas tak bisa menahan senyumnya. Dia melihat ke bawah tepat dimana tangan mungil Meila belum melepaskan genggamannya pada punggung kokoh itu.
"Apa harus aku pancing dulu biar kamu menahan aku kayak gini?"
Meila tergeragap, dia baru sadar kalau dirinya sedang dikerjai oleh Dimas. Secara refleks dia langsung melepaskan pegangannya pada punggung pria itu dan memberengutkan bibirnya.
"Mendingan kamu sekarang ambil ini dan masuk. Terus kamu nikmatin ini dengan santai didalam." Dimas menyodorkan kantung itu pada Meila dan langsung diterimanya tanpa membantah. Kemudian dia menolehkan kepala menatap langit sebelum kemudian berucap kembali. "Udaranya dingin. Nggak baik lama-lama diluar buat cewek." Ucapnya dengan nada perhatian yang kental.
"Kamu... nggak mau masuk dulu, kak?" Meila tak sampai hati jika tidak sedikit berbasa-basi pada Dimas.
"Nggak usah.. lain kali aja." Dimas mengangkat tangannya ke bahu Meila dan mengusapnya lembut disana.
"Yaudah, kamu masuk sana!" Perintah Dimas lembut seperti memerintah batita yang masih berkeliaran diluar meski sudah diperingatkan.
Meila tersenyum membalas ucapan Dimas. Kemudian tanpa diduga-duga tangan Dimas yang berada dibahu Meila tadi beranjak naik ke dahi Meila, mengusap lembut disana tepat di luka memar itu yang berdenyut-denyut sejak tadi. "Masih sakit?" Tanya Dimas dengan lembut.
"Sedikit..." jawab Meila pelan hampir tak terdengar, seakan tak mau memperlihatkan rasa sakitnya pada Dimas.
"Besok aku jemput, ya.." Dimas menarik dagu Meila, membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya. "Nggak! Nggak ada penolakan!" Dimas berucap lembut tapi tak mau menerima bantahan dari Meila.
Meila hampir saja mengeluarkan bentuk protesnya pada Dimas, namun dengan sikap Dimas yang seperti itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Dengan patuh dia menganggukkan kepalanya tanpa sadar.
Kenapa gue langsung setuju aja sih? Apa jangan-jangan... Kak Dimas punya ilmu hipnotis?
"Selamat menikmati cheese cakenya. Dan.... Good Night!"
Setelah mendapat bentuk persetujuan melalui anggukan kepala dan mengucapkan ucapan selamat malam, Dimas langsung pamit dan membalikkan tubuhnya tanpa menoleh lagi. Namun suara lembut dan polos berhasil menghentikan langkahnya dan membuatnya menolehkan kepala kembali.
"Kak... Terima kasih..."
Suara lembut nan tulus itu selalu berhasil membuat Dimas meloloskan senyumnya. Dia mengedipkan matanya lembut untuk membalas ucapan terima kasih Meila padanya.
"Anytime, dear... aku akan selalu bikin kamu bahagia... kapanpun itu...."
Dia mengucapkan kalimat janji itu dalam hati sambil berjalan menuju mobilnya. Dia sudah berjanji dan berniat sepenuh hati untuk membuat Meila bahagia ketika bersamanya. Dia akan berusaha melindunginya, menjaganya, tak akan membiarkan siapapun menyakitinya selama ada dia disampingnya.