
Sudah menjadi kewajiban untuk Vika membagi waktu antara kuliah dan profesinya. Hari ini, dia mendapatkan callingan untuk sebuah pemotretan pada salah satu brand ternama. Dan dirinya diberikan wewenang untuk memutuskan beberapa poin persetujuan yang harus dipenuhi pihak penyelenggara.
"Baik. Saya sudah memberikan beberapa poin sebagai kesepakatan. Untuk selanjutnya... bisa dibicarakan dengan agensi saya." Vika mengulurkan tangannya sebagai simbol kesepakatan.
Setelahnya, Vika bangkit dari duduknya menuju ruang make-up. Mira, Sang asisten pribadi, tampak mengikuti. Berjalan mengekori Vika dengan beberapa tas bawaannya untuk mendukung penampilan artisnya.
"Kamu sakit, Vik? Wajah kamu sedikit pucat dan terlihat nggak bersemangat." Tanya Mira penasaran sambil meletakkan tas-tasnya ke atas meja make-up.
Melihat sang artis tidak bersemangat, Mira menanyakan kondisinya untuk memastikan.
Vika menghela napas dalam, "Aku cuma kelelahan. Kamu tau kan, saat ini aku harus menjadi mahasiswa perbantuan. Mungkin karena itu juga, disamping harus mengatur jadwal pemotretan, bukan?"
"Kenapa nggak istirahat aja kalo emang lagi nggak enak badan, Vik. Aku bisa membantu mengatur jadwal ulang untuk kamu. Biar kamu bisa istirahat juga."
"Aku cuma lagi menghindari masalah yang masih belum menemukan jalan keluarnya, Mir." Vika menarik napas sejenak sambil memejamkan mata. Lalu, membuka matanya kembali seraya berucap. "Cuma dengan cara ini aku bisa melupakan masalah itu sejenak. But, i'm very happy to do it." Sambungnya kemudian disertai senyuman.
"Ya. Baiklah kalo itu mau kamu. Sebagai seorang teman sekaligus asisten, aku hanya mengingatkan kamu, Vika. Tapi, ingat! Jangan paksa diri kamu kalo emang udah nggak kuat. Okay?"
"Thanks, Mira. Kamu emang selalu bisa mengerti aku." Ucap Vika tulus.
●●●
"Jadi, kapan kamu akan kembali kuliah lagi?"
Pertanyaan yang membentang di tengah ruangan yang terlihat sangat mengintimidasi itu melayang di udara. Seorang dosen tampak sedang menilai lembar demi lembar buku beserta beberapa lembar kertas yang sedang di pegangnya. Dosen itu bertanya pada Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari tugas yang ada di depannya.
"Secepatnya, pak." Jawab Dimas singkat dengan sikap tenangnya.
"Itu berarti, urusan kamu sudah selesai?" Sang dosen menimpali Dimas lagi dengan sebuah pertanyaan.
"Hampir selesai, pak." Sahut Dimas lagi, yang lagi-lagi dengan sikap tenangnya.
Dosen itu tampak menghela napas sejenak sambil membenarkan posisi duduknya dengan tegap.
"Dimas, saya tau kamu salah satu mahasiswa yang sangat kompeten dan bertanggung jawab. Saya sudah mentolerir kamu selama satu bulan ini untuk meliburkan diri. Saya harap, kamu tidak mengecewakan saya."
Dimas menganggukkan kepalanya pasti disertai dengan senyum hangat dan tenang.
"Saya pastikan, satu sampai dua hari lagi, pak." Jawab Dimas pasti diselipi sebuah janji.
"Baik. Saya tunggu kabar kehadiran kamu."
"Kalo gitu... saya permisi, pak. Saya harus menyelesaikan urusan saya yang hampir selesai. Dan bersiap kembali untuk kuliah." Dimas berpamitan dengan sopan.
Dosen itu mengangguk seraya memberikan izin pada Dimas untuk mengundurkan diri dari ruangannya. Setelahnya, Dimas bangkit dari duduknya dan membalikkan badan dengan sikap hormat layaknya mahasiswa teladan yang patut dijadikan contoh.
Tangan Dimas baru akan meraih gagang pintu saat tiba-tiba sebuah suara menghentikannya dan memaksanya membalikkan badannya kembali.
"Dimas, saya selalu puas dengan cara kerja kamu tentang semua tugas yang saya berikan. Terima kasih, karena tidak melupakan kewajiban kamu sebagai seorang mahasiswa. Sekali lagi, saya puas dengan semua tugas ini." Tidak lupa dosen itu juga menunjuk kepada tumpukan tugas yang tadi Dimas berikan padanya.
Sejenak, Dimas dapat bernapas lega. Pernyataan dosen yang tampak puas akan tugas-tugasnya, membuat Dimas dilanda kebahagian hingga tidak mampu untuk melebarkan senyuman di bibirnya.
"Terima kasih, pak." Ucap Dimas dengan sikap hormat.
Dengan rasa bahagia, Dimas mengucapkan rasa terima kasihnya kepada dosen itu yang langsung disambut anggukan kepala disertai kedipan mata.
Setelahnya, Dimas membuka gagang pintu kembali dan menutupnya perlahan. Kemudian, melenggang pergi untuk bertemu kembali dengan gadisnya yang sedang menunggunya seorang diri di rumahnya. Dimas akan kembali memeluknya, menghujaninya dengan kecupan-kecupan ringan sebagai ungkapan rasa bahagianya.
●●●
Pemotretan yang Vika jalani akhirnya selesai. Hampir 3 jam dirinya berpose di depan kamera demi untuk mendapatkan hasil paling bagus yang nantinya akan diambil sebagai produk brand. Meskipun begitu, tidak ada tanda dirinya kelelahan atau bosan, melainkan tampak menikmati setiap arahan sutradara untuk berpose.
Vika menghela napasnya, mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi sambil meneguk sebotol minuman penambah ion untuk tubuhnya.
"Akhirnya pemotretannya selesai juga, Mir. But, I really enjoy it." Serunya ceria.
"Syukur deh, Vik. Aku juga mulai lelah. Ngantuk." Sahut Mira sambil menampilkan deretan gigi-giginya yang rapi.
"Yaudah kita siap-siap, biar bisa cepet istirahat." Ucap Vika memutuskan.
"Nggak semudah itu, Vik. Kabarnya, kita harus ke kantor setelah ini." Ucap Mira yang langsung merubah wajahnya menjadi lesu.
Vika mengernyitkan alisnya, "ke kantor? Ngapain?"
Mira menaikkan kedua bahunya acuh, "I don't know..." ucap Mira sembari merapikan barang-barang Vika ke dalam tas berupa koper kecil berwarna abu-abu pink miliknya.
Setelahnya, seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, mereka sampai di kantor sebuah agensi yang menaunginya sebagai aktris.
Begitu sampai di lobby, tampak semua orang berkumpul seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Sejenak, Vika merasa bingung melihat semuanya sedang bersiap dengan wajah tegang dan persiapan yang sempurna.
Namun, karena tidak mau mengetahui dan mencari tahu apa yang terjadi, dia lebih memilih untuk langsung datang ke ruang tunggu untuk sekedar beristirahat sejenak. Sampai dia mengetahui ada alasan apa sehingga dia harus datang ke kantor agensi saat ini.
Tiba-tiba Mira memasuki ruangan tempat dimana Vika berada dan memisahkan diri dari para model lainnya. Kepalanya langsung menoleh kala suara pintu yang dibuka terdengar begitu jelas di telinganya.
"Kenapa?"
"CEO kita baru datang hari ini, dan beliau ada di ruangan kebesarannya saat ini juga."
Sejenak, Vika hanya ber-oh ria mendengar ucapan Mira. Tapi, setelahnya Vika langsung melebarkan matanya sekaligus menegakkan tubuhnya, dan langsung menoleh kembali ke arah Mira dengan cepat.
"James? Maksud kamu... James Anderson?"
Mira mengangguk perlahan sambil menarik sebuah kursi untuk di dudukinya.
"Dimana? Dimana dia, Mir?" Kali ini, wajah Vika berubah antusias dengan nada tidak sabar saat bertanya pada Mira dengan menggoyangkan bahu Mira sedikit kasar.
"Di ruanganya, lah. Masa iya di gudang. Emang dimana lagi ruangan CEO?" jawab Mira malas efek dari rasa kantuk yang mulai datang.
Dengan cepat dan tanpa bertanya lagi, Vika langsung berlari terbirit-birit tanpa mendengarkan suara Mira yang memanggil-manggil namanya. Lalu, dengan terpaksa mengikutinya dengan langkah malas namun berubah dengan cepat ketika membayangkan jika Vika mungkin saja melakukan sesuatu yang akan membuatnya terkena masalah nantinya.
Sampailah Vika di depan pintu ruangan James. Tanpa berpikir lama, dia langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"James!"
Vika berteriak antusias saat pintu ruangan James terbuka lebar. James pun sama antusiasnya. Pria itu langsung mengangkat wajahnya dari beberapa berkas hadapannya sekaligus tersenyum lebar begitu suara yang sangat dikenalinya itu muncul di hadapannya.
Vika berlari menghampiri James. Begitupun dengan James yang langsung bangkit dari kursi kebesarannya sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Menunggu Vika menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat dari seorang adik kepada kakaknya.
Mereka pun berpelukan. Saling melepas kerinduan yang sudah lama tidak tersalurkan. Sebuah pelukan hangat antara seorang kakak untuk adiknya.
"Aku merindukanmu, James." Ucap Vika lebih dulu kala pelukan itu masih mengerat.
"So do I, Vika." James menghadiahkan sebuah kecupan manis ke pelipis Vika. "I really miss you too, little sissy." Sahut James sambil mengusap punggung Vika dengan lembut.
Pertunjukkan melepas kerinduan itu rupanya di saksikan oleh Mira dengan mata membelalak tidak percaya dan mulut setengah terbuka.
Oh My... ada apa ini sebenarnya?
●●●
Ketika Dimas melangkahkan kakinya memasuki ruangan, suasana itu tampak hening. Dimas menoleh ke arah dapur, namun lampu tampak redup menandakan belum ada yang menyentuhnya di sana. Beruntung Dimas berinisiatif membawa sekantung makanan ditangannya untuk dia nikmati bersama Meila.
Hanya terdengar suara yang bersumber dari layar besar home-teatre yang mengambil alih di sana. Dimas berjalan mendekat, berniat untuk mematikan layar tv. Namun, sebelum aksinya terlaksana, matanya lebih dulu terpaku pada sosok mungil yang sedang terpejam dengan damai dan wajah polos.
Dimas mendapati Meila sedang terbaring meringkuk di atas sofa dengan setengah tubuh tertutupi selimut dan remote tv di tangannya. Dimas tersenyum hangat, memandang ke arah gadis mungil itu dengan lekat.
Rupanya Meilanya sedang ketiduran saat dimana film masih berputar.
Dimas berjongkok, menyusuri wajah polos Meila dengan lekat.
Tangannya bergerak merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian, beralih menuju pipi mulus Meila dan mengelusnya dengan lembut di sana.
Sentuhan Dimas itu membuat Meila menggeliat tidak nyaman. Alisnya sedikit berkerut sambil mengerjapkan matanya. Mencoba mencari tahu apa yang membuatnya tidak nyaman.
Perlahan, Meila mulai membuka matanya. Didapatinya Dimas sedang menatapnya dengan lekat disertai senyuman manis yang menampilkan lesung pipinya.
"Kak Dimas, kamu udah pulang?" Tanya Meila dengan suara serak dan parau. Suara khas seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya.
Pertanyaan polos Meila membuat Dimas tidak bisa untuk tidak menghadiahkan kecupan ke pipi mulusnya. Dimas mengecup pipi mulus itu dengan lembut, merasakan suhu kulit pipi Meila yang hangat menyenangkan saat menyentuh bibirnya.
"Aku baru aja sampai. Lalu, melihat kamu ketiduran di sofa ini." Sahutnya lembut sambil mengusap-usap pipi Meila yang kenyal.
"Maaf, aku ketiduran." Meila berucap pelan dengan sedikit rasa bersalah.
"It's okay. Kenapa nggak tidur di kamar? Lebih nyaman dan lebih hangat juga di sana." Sambil bertanya, Dimas membelai rambut kepala Meila yang harum dengan belaian paling lembutnya.
Meila tidak menjawab, gadis itu hanya menatap Dimas dengan mata sayunya. Yang Dimas mengerti maksud dari ekspresinya itu.
Ya! Dimas tau, Meilanya tidak akan bisa untuk tidur sendiri di kamar. Mengingat gadis itu yang masih sedikit takut dan resah jika harus beristirahat dengan gelisah karena takut mimpi buruk itu akan muncul kembali menghantuinya di tengah malam.
Dimas tidak memperpanjang itu, pria itu hanya tersenyum ke arahnya.
"Kamu udah makan malam?" Tanya Dimas ingin tahu. Masih dengan menggerakkan tangannya di rambut Meila.
Meila menggelengkan kepalanya pelan, "aku nunggu kak Dimas
untuk makan malam." Jawabnya polos dan terdengar jujur.
Dimas terkekeh ringan, "aku membawakan sushi untuk kamu. Karena aku tau, kamu pasti belum makan malam. Jadi.... ayo kita makan sushi ini sama-sama." Ucapnya semangat yang langsung disambut dengan semangat juga oleh Meila.
Memang benar, saat Dimas pergi tadi, hari masih sore dan jauh dari waktu makan malam. Dan sekarang, saat Dimas pulang, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sangat pas untuk mereka menikmati makan malam bersama dengan nyaman.
Dengan lembut, Dimas mengulurkan tangannya untuk membantu Meila bangun. Lalu, menggenggam tangannya berjalan menuju meja makan sebelum kemudian menarikkan kursi untuk Meila dan menikmati makan malam mereka bersama.