
Meila baru saja menyelesaikan makan malamnya dan baru akan menaiki tangga menuju kamar. Seperti biasa, dia telah diantar pulang oleh Dimas dan langsung membersihkan diri serta mandi untuk menyegarkan diri karena insiden di kampus tadi.
Meila hanya sendiri di rumah, mengingat bi inah yang sudah meminta izin padanya untuk pulang kampung selama satu minggu karena ada urusan mendesak yang harus segera diselesaikan. Sebelum pergi tadi, bi inah telah memasakkan makan malam untuk Meila terlebih dahulu, sehingga Meila hanya tinggal memanaskannya saja ke dalam microwave.
Dirinya sudah membersihkan meja makan bekas makan malam serta mencuci alat-alat makannya sendiri dan meletakkannya ke tempat semula. Kemudian Meila masuk ke kamarnya dan berjalan menuju balkon, dia berdiri disana sambil melihat-lihat pemandangan sekitar komplek rumahnya sambil sesekali menatap langit malam yang dipenuhi dengan bintang yang berkerlap-kerlip.
Meila tersenyum lepas sambil menghirup udara malam yang sejuk, matanya menyusuri halaman rumahnya yang begitu indah dengan lampu-lampu ditiap sisi kanan dan kiri diselingi dengan pepohonan yang merambat di dinding pagar. Namun tiba-tiba saja matanya menangkap pada sebuah kotak kecil berwarna merah muda dengan pita emas yang ada disudut pintu gerbangnya.
Meila menyipitkan matanya, kemudian dia mengingat-ngingat kalau tadi sebelum dia memasuki rumah bingkisan itu belum ada disana. Jika memang ada orang yang mengiriminya sesuatu, pasti pihak keamanan akan memberitahunya dan memberikannya langsung padanya.
Meila memutuskan untuk turun kembali dan mengambil kotak kecil itu, dirinya menuju halaman depan dan langsung menghampiri kotak misterius itu dan mengamatinya. Terlihat jelas bahwa di kotak itu tercantum namanya, namun tidak diketahui siapa pengirimnya.
"Aneh. Gak ada nama pengirimnya."
Sambil mengangkat bahu, Meila bergumam seolah bertanya pada dirinya sendiri sambil membolak balik bingkisan ditangannya. Tanpa menunggu lama dia kembali masuk ke dalam rumahnya dan langsung menutup pintu utama dibelakangnya.
Meila membuka kotak itu, terdapat surat kecil yang berisi sebuah tulisan misterius yang membuatnya sedikit penasaran. Meski tidak dapat dipungkiri jantungnya ikut berdegup kencang ketika mulai membuka kotak merah muda itu. Dia membuka surat itu perlahan dan membacanya dengan alis terangkat.
"HAI SAYANG.. KITA AKAN SEGERA KETEMU LAGI SECEPATNYA. GUE GAK SABAR MENUNGGU SAAT-SAAT ITU."
Betapa kagetnya Meila ketika membaca isi dari tulisan itu. Tubuhnya menegang, sontak dengan refleks memundurkan tubuhnya kebelakang dengan kaki lemas, hampir saja dia terhuyung jatuh kalau-kalau tidak berpegangan pada lemari hiasan kecil dekatnya bersandar. Matanya mulai berkaca-kaca dengan rasa takut yang menguar dari dalam dirinya.
Jelas Meila tau siapa pengirimnya. Dia membekap mulutnya sendiri dan menangis tanpa bersuara. Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi tanda adanya panggilan masuk, membuat dirinya tersentak dengan suara dering ponsel dalam saku celananya. Dia meraih ponsel itu untuk melihat siapa yang menghubunginya, tapi tubuhnya bertambah lemas lagi begitu melihat orang yang sama tadi pagi menghubunginya kembali.
Dengan tangan gemetar ketika perasaannya ragu untuk menggerakkan jarinya untuk menggeser tombol berwarna hijau di ponselnya, dia menghirup nafas berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab panggilan telepon itu.
Didekatkannya ponselnya pada telinga, dan mulai berusaha mengeluarkan suaranya yang serak karena sempat tertahan.
"Ha-halo...?" Dengan suara terbata dan tenggorokan yang sedikit tersekat, Meila memberanikan diri memulai percakapan.
Terdengar suara kekehan dari seberang yang membuat bulu kuduknya meremang, "Gue gak nyangka lo akan jawab telepon dari gue setelah lo baca surat itu."
Meila membelalakkan matanya begitu otaknya langsung bisa mengenali siapa yang sedang menghubunginya saat itu.
"Be-beno?" Dengan suara serak Meila mengucapkan sebuah nama yang membuatnya ketakutan setengah mati.
"Ka-kamu mau apa? Kenapa kamu teror aku pake surat kayak gini?" Sambil setengah terisak, Meila berucap pada Beno.
Beno semakin terkekeh diseberang telepon, Meila bisa merasakan adanya kilatan mata penuh amarah tanpa harus bertatap langsung dengannya, hingga dapat langsung membuat bulu kuduknya berdiri dan refleks memeluk tubuhnya.
"Gue mau lo, sayang! Gue kangen sama lo. Dan... itu belum seberapa dengan foto-foto yang gue simpen beberapa tahun lalu." Beno menjawab dengan nada sensual yang membuat Meila semakin gemetaran.
Jawaban Beno itu sontak membuat Meila semakin terisak bersamaan dengan bayangan kejadian di toilet beberapa tahun lalu sekaligus menjadi penyebab Beno di Drop-Out dari kampus. Suara Meila yang terisak semakin membuat Beno senang karena telah berhasil membuat gadis itu terusik karena terornya.
"Ssstt... gak usah nangis, sayang! Jangan buang air mata lo itu. Karena kali ini gue gak akan buang waktu buat lama-lama, gue cuma mau denger suara lo yang indah itu. Dan gue pastiin, kita akan segera bertemu lagi secepatnya." Dimas tergelak puas, "Semoga tidur lo nyenyak malam ini." Beno berhenti sejenak untuk memastikan lawan bicaranya masih mendengarkannya.
"Oh ya! satu lagi, Jangan lupa untuk mimpiin gue." Beno tergelak kembali, kemudian memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu reaksi Meila selanjutnya.
"Ha-halo? Halo...?" Meila memanggil-manggil nama Beno dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya.
Tubuhnya melemas sambil menjatuhkan diri ke lantai. Dirinya terduduk dengan kaki menekuk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dia tidak tau akan mengadu pada siapa, dirinya merasa takut untuk bercerita. Hingga akhirnya dengan perasaan yang kacau, Meila menangis sejadi-jadinya dengan isakan yang tidak bisa dihentikan.
●●●
Meila masih terduduk lemas di lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan sisa-sisa isakan yang perlahan mulai mereda. Air matanya masih tidak berhenti mengaliri pipi mulusnya. Ingin rasanya dia melampiaskan rasa sakitnya dengan melemparkan barang-barang yang ada disekitarnya, namun dia tidak sanggup untuk melakukan itu. Tubuhnya sudah terlalu lemas untuk sekedar bergerak dan berdiri dengan tegap.
*ting-nong
Suara bel tiba-tiba menyadarkan Meila dari lamunannya, rasa takutnya mulai menguar kembali begitu pikiran-pikiran aneh memenuhi otaknya.
*ting-nong... ting-nong...
Lagi, suara bel yang berbunyi kembali seperti desakan untuknya segera membukakan pintu untuk sang tamu. Meila beranjak bangun untuk berdiri sambil berpegangan pada ujung lemari hias didekatnya. Dia menyeret kakinya perlahan yang terasa lemas karena terlalu lama berdiam diri.
Meila memutar kunci yang ada di pintu utama, menariknya perlahan dengan jantung yang berpacu dengan kencang. Bersamaan dengan gerakannya ketika membuka pintu, disaat itulah sosok tegap dan kokoh sedang memasang senyumnya yang khas tepat didepan pintu. Ya! Sosok itu adalah Dimas.
Dimas mendatangi Meila untuk memberikan sekantung kecil cheese cake yang ia beli sehabis pulang dari berkunjung ke rumah dosennya. Melihat bahwa Dimas lah yang datang, membuat hatinya lega akan kecemasannya yang hampir membuatnya terkena serangan panik kembali. Hal itu tidak luput dari pandangan Dimas yang langsung memasang wajah kaget bercampur bingung begitu wajah Meila muncul di balik pintu dengan mata sembab dan hidung memerah seperti habis menangis hebat.
Dimas tidak bisa menahan dirinya untuk lebih mendekatkan diri lagi pada Meila.
"Hei... kamu kenapa? Kamu abis nangis?" Dimas bertanya lembut dengan merendahkan suaranya, tangannya menangkup bagian sisi-sisi wajah Meila, mendongakkan wajah gadis itu dan mengamatinya lekat-lekat.
Didetik itulah pertahanan diri Meila runtuh, tangisnya pecah kembali dengan isakan yang tidak tertahankan. Dia menangis sejadi-jadinya dengan tubuh yang bergetar hebat.
Dimas langsung menarik tubuh Meila kedalam pelukannya, melingkupinya dengan lengan-lengan kokoh pria itu yang begitu pas dengan tubuh mungilnya. Diusapnya punggung Meila dengan lembut berirama dan beraturan, "Ada apa, sayang...?"
Dimas bisa merasakan betapa tangisan menyesakkan itu dapat menghantam jantungnya, tidak lupa juga Dimas memberikan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Meila dengan lembut. Dihelanya tubuh Meila sedikit menjauh, diusapnya air mata gadis itu yang membasahi pipinya. "Sekarang kita masuk dulu. Okay...?"
Mereka akhirnya masuk dengan perasaan Dimas yang mulai menggeramkan wajahnya menahan amarah.
"Sekarang cerita sama aku kamu kenapa?" Dimas mengamati wajah Meila lekat-lekat begitu mereka sudah berhenti di ruang televisi dekat dengan lemari hias kecil tempat Meila meletakkan kotak kecil misterius tadi.
Dengan masih sesegukan, Meila mencoba menatap wajah Dimas yang sedang mengawasinya. "I-itu..." suaranya tersekat, tenggorokannya seperti terpelintir tidak bisa mengucapkan kata-kata.
Ketika tatapan Dimas masih terfokus pada Meila di hadapannya dengan sabar sambil menunggu penjelasan, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah kotak kecil beserta surat yang Meila letakkan di atas lemari hias kecil itu ketika melirikkan matanya.
Mata Meila mengikuti kemana arah mata Dimas, dia mulai tergeragap takut-takut Dimas membaca surat itu. Dimas menolehkan kembali wajahnya, menyipitkan matanya penuh tanya. Sontak Meila langsung menggeleng dengan kening mengkerut.
Dimas menghampiri lemari itu dan langsung meraih kotak kecil beserta suratnya.
"Kak.. jangan!" Meila mulai panik melihat Dimas yang sudah menggenggam kotak misterius beserta suratnya.
Ekspresi wajah Dimas langsung berubah seketika dengan kilatan mata tajam dan rahang mengetat saat dia sudah berhasil membacanya. Dimas meremas surat itu sambil kembali menatap Meila yang semakin ketakutan sambil menautkan jari-jari tangannya.
"Jadi karena ini?" Sambil menggenggam surat di tangannya, "jadi karena ini kamu ketakutan akhir-akhir ini?"
Meila menundukkan kepalanya saat pertanyaan Dimas memang tepat sasaran. Matanya mulai berkaca-kaca dengan bahu gemetar menahan isakan. Tatapan Dimas melembut, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya terlalu jauh, akan ada saatnya nanti dia bertanya secara mendetail pada Meila.
Yang terpenting saat ini, bagaimana caranya agar gadis mungil ini tidak merasa tertekan. Hatinya berubah iba dengan kondisi Meila yang tampak ketakutan karena bingung untuk menceritakan kondisinya saat ini.
Dimas mendekatkan tubuhnya, dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk Meila bersandar di dadanya. "Kemari, Mei..."
Meila mengangkat kepalanya dengan wajah memerah menahan tangis dengan air mata yang sudah mengumpul di matanya, bahkan sekali kedipan saja air mata itu pasti akan jatuh membasahi pipi mulusnya.
Tidak ada pilihan lain untuk Meila, bukan saatnya berpura-pura kuat saat ini. Yang dia butuhkan saat ini adalah perlindungan, berlindung dalam dekapan hangat pria dihadapannya yang jelas-jelas sedang membuka tangannya lebar-lebar menunggu dirinya untuk memeluknya.
Meila akhirnya menghambur kedalam pelukan Dimas, melingkarkan tangannya pada punggung Dimas yang kokoh. Dia menangis sejadi-jadinya tanpa ditahan-tahan lagi. Menumpahkan air matanya hingga membasahi baju Dimas.
"Aku takut, kak..." Meila bersuara ditengah-tengah isakan tangisnya.
"Sssttt... gak perlu takut, sayang. Ada aku disini." Dimas berbisik lembut, "Tenangin diri kamu.." Dimas terus mengusap punggung Meila. Mengecup puncak kepalanya sambil menenggelamkan wajahnya di kelembutan rambut Meila yang terasa lembut mengenai wajahnya.
Jujur saja, hatinya begitu sakit melihat gadis dipelukannya itu sangat menderita dengan teror-teror yang dikirim oleh manusia tidak bermoral dan bertanggung jawab seperti Beno. Oh jelas! Dimas belum pernah mengenal Beno, namun dia bisa mengetahui kalau Beno itu adalah phsycopat gila dengan tingkat keobsesifan paling tinggi di levelnya. Sehingga dia akan melakukan apapun sampai tujuannya tercapai meski harus menyakiti sekalipun. Tentu Dimas tidak akan membiarkan itu terjadi, dia akan melindungi Meila sekuat tenaga demi kenyamanannya dan keamanannya.
Bisa terlihat dengan betapa kacaunya penampilan Meila dan bisa dirasakan pula tubuhnya yang gemetar ketakutan sambil mencengkram pakaiannya dengan kencang. Seketika wajahnya menggeram dengan rahang yang mengetat begitu mendengar betapa pilunya isakan yang keluar dari dalam diri Meila.
Dimas semakin mengeratkan pelukannya, mendaratkan kecupan-kecupan lembut di puncak kepala serta pelipis Meila. Dia berusaha mengalirkan kehangatan di tengah dinginnya udara malam nan penuh kesunyian, "menangislah semau kamu. Aku akan tunggu sampai rasa sesak didada kamu itu hilang. Aku akan temenin kamu disini." Dimas membisikkan kalimat-kalimat menenangkan itu untuk menguatkan Meila supaya dia dapat bersandar padanya dengan puas, mengeluarkan rasa sakit yang ia simpan dengan semaunya.
Didetik itulah Meila semakin merapatkan dirinya pada Dimas, menenggelamkan wajahnya ke dadanya yang bidang, merasakan kehangatan tubuh Dimas yang kokoh melindunginya.
●●●
Mereka sedang duduk bersandar pada sofa besar di ruang televisi dengan posisi sambil berpelukan. Dengan keheningan yang tertelan dengan sisa-sisa isakan Meila yang terhalang oleh dekapan Dimas yang hangat. Dimas tidak henti-hentinya mengecup pucuk kepala Meila sambil mengusapkan tangannya pada lengan Meila dengan gerakan seirama yang beraturan.
Meila menarik nafas panjang dengan mata sembab yang berubah sayu menahan kantuk. Mungkin akibat dari menangis yang terlalu lama membuat rasa kantuk mulai menyerangnya. Dia menghembuskan nafas sejenak, lalu menengadahkan wajahnya dengan kepala yang masih bersandar untuk menatap Dimas yang otomatis langsung menundukkan kepalanya.
Dimas tersenyum menatap wajah Meila yang memerah dengan mata sembab, sedangkan Meila yang ditatap seperti itu hanya terdiam dengan mata yang membalas tatapan Dimas dengan kedipan mata sayu.
"Kak Dimas akan disini?" Meila bertanya polos.
Dimas tersenyum, "kenapa? Kamu nggak mau aku disini?" Sambil mengusap sisa air mata di pipi Meila dengan ibu jarinya.
"Okay. Aku akan pulang sebentar lagi." Dimas kembali menjawab dengan nada ejekan yang dibuat-buat.
"Tapi... karena aku udah janji sama kamu kalo aku akan temenin kamu disini, maka aku akan menepatinya." Dimas menyambung dengan cepat dan sikap yang tenang.
Sontak Meila mengerutkan dahinya kembali merasa ragu. Disatu sisi dia memang sangat ingin ditemani oleh Dimas minimal untuk malam ini saja, namun disisi lain dia tidak ingin Dimas mendapatkan masalah karena terus menemaninya.
Tapi tidak mungkin dia memintanya bukan? Dimas pasti akan di cari oleh orang tuanya kalau sampai tidak pulang kerumah. Orang tuanya pasti akan mencemaskannya, bukan?
Dimas terkekeh dengan ekspresi wajah bingung yang ditunjukkan oleh Meila.
"Aku cuma tinggal sendiri di rumah." Sambil merapikan rambut Meila yang berantakan karena pelukannya tadi, Dimas mulai berucap seolah menjawab rasa kecemasan Meila tentang dirinya, kemudian menjumput anak rambut Meila dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Emang mama sama papa kamu nggak nyariin kamu, kak?" Lagi-lagi Meila bertanya dengan tatapan polos layaknya anak kecil.
Dimas terkekeh kembali, tangannya berhenti dari kegiatannya menyelipkan anak rambut Meila untuk menangkup sisi wajah gadis itu.
"Mama sama papa aku tinggal di Amerika. Mereka mengembangkan bisnisnya disana."
"Kok kamu nggak ikut mereka ke sana? Kan bisa aja kamu ambil universitas ternama disana." Meila kembali bertanya.
Dimas mengerutkan alisnya, "kalo aku ikut tinggal di Amerika dan ambil universitas di sana, aku nggak bisa kenal sampe sayang sama kamu kayak gini dong?" Sambil mencolek hidung Meila, Dimas berucap dengan nada menggoda.
Perkataan Dimas otomatis langsung membuat pipi Meila memerah merona karena godaannya. Dia berusaha menoleh, namun dirinya tidak memiliki kesempatan untuk memalingkan wajahnya dari pandangan Dimas.
"Kenapa pipi kamu merah gitu?" Dimas kembali menggoda sambil menahan tawanya.
Sungguh! jika boleh, Meila pasti akan kesal karena Dimas yang tak henti-hentinya menggodanya. Tapi dia tidak bisa untuk mengekspresikan kemarahannya itu, entah bagaimana dia tidak bisa mengeluarkan kemarahannya pada orang lain, terlebih lagi jika orang itu sudah mulai berteman dekatnya. Sedangkan dengan Dimas bukan mulai dekat lagi, melainkan sudah ke tahap seperti orang yang sedang melakukan pendekatan dengan Dimas yang bersikap terang-terangan untuk mengakui dan menunjukkan perasaannya padanya.
Dimas tidak bisa lagi untuk menahan tawanya, kali ini dia tergelak sambil membawa Meila ke dalam pelukannya kembali dan mengecup rambutnya. Meila sendiri secara otomatis langsung menenggelamkan wajahnya ke dada Dimas sambil menahan malu.
"Jangan ketawain aku kayak gitu kak." Meila bersuara dengan sedikit merajuk dalam lingkupan dada bidang pria itu.
Dengan masih menyisakan tawanya, Dimas menundukkan kepalanya kemudian menengadahkan wajah Meila agar menatapnya.
Dimas menatap wajah Meila hingga membuat jantung gadis itu berdegup kencang tak beraturan, berdetak lebih cepat dari biasanya. Lalu dengan cepat Dimas mendaratkan bibirnya untuk mengecup bibir Meila yang manis itu dengan lembut. Meila pun langsung memejamkan matanya, menerima perlakuan Dimas tanpa merasa canggung lagi meski tidak dapat dipungkiri telah membuat pipinya merona kembali.
Tanpa berlama-lama seolah hanya ingin memberikan kecupan mesra selamat malam, Dimas melepaskan bibirnya dari bibir Meila dengan perlahan. Didetik itu juga Meila membuka matanya kembali yang otomatis langsung saling beradu tatap dengan Dimas.
Dimas tersenyum lembut sambil mengusap pipi Meila dengan lembut.
"Selamat malam, Sayang." Dimas menghadiahkan sekali lagi kecupan di kening Meila yang saat itu masih menatapnya dengan lekat.
Kemudian membawa Meila kembali kedalam dekapannya yang hangat dan berbisik disana. "Tidurlah. Aku akan temenin kamu disini."
Meila pun tidak menolak, baginya perintah Dimas bagaikan ultimatum penuh rasa sayang yang Dimas berikan untuknya. Dengan patuh Meila langsung menyandarkan kepalanya di bahu Dimas dan melingkarkan lengannya pada perut pria itu yang rata dan berotot, kemudian bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Selamat malam, kak!"