
Meila sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju meja rias yang berada disamping tempat tidur besar miliknya. Dia baru saja membersihkan diri dari lengketnya keringat yang menempel pada kulit mulusnya karena cuaca yang sangat terik.
Meila mengambil hair dryer dan menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah. Dirinya sudah segar dengan kulitnya yang lembab dan terasa halus ketika disentuh. Sambil bersenandung, pikirannya kembali mengingat perkataan Dimas tadi yang menyinggung mengenai perasaannya padanya. Senyumnya terkembang dengan pipi memulas merah sambil berkaca didepan cermin.
"Sadar, Meila!" Dirinya bergumam sendiri dengan malu-malu sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
*tingnong...
Lamunannya pecah tepat ketika suara bel berbunyi. Dirinya sedikit tersentak dengan kilatan mata trauma karena membayangkan sosok yang ditakutinya selama ini tiba-tiba muncul. Meila bangkit dari duduknya sambil mengatur napas perlahan, langkah demi langkah kakinya sudah membawanya sampai pada ruang utama.
*tingnong... tingnong...
Suara bel berbunyi kembali seakan sang tamu sudah tidak sabar untuk segera dibukakan pintu oleh sang pemilik rumah. Meila semakin mengerutkan keningnya dalam dengan perasaan ragu-ragu akan membukakan pintu itu atau tidak.
"Mei.. ini gue. Airin! Lo didalem kan?"
Tiba-tiba saja suara yang dikenalinya membuatnya sedikit lega, Meila menarik napas dengan sambil mengusap dadanya perlahan.
"Iya! Tunggu." Meila berjalan dengan cepat setengah berlari. Dan dibukanya pintu utama.
"Lama banget sih, Mei. Gue hampir aja gosong kepanasan." Airin menggerutu manja sambil melewati pintu dan menyelonong masuk ke ruang utama.
"Sorry.. sorry.. gue abis mandi tadi. Lagian lebay amat sih lo. Emang halaman rumah gue gak bisa buat neduh sampe lo gosong." Meila berucap sambil mengejek, dia memilih untuk tidak bicara pada Airin tentang prasangkanya karena rasa takutnya tadi. Airin tertawa sambil berjalan menuju ruang utama dan langsung mendudukkan bokongnya di sebuah sofa besar yang nyaman. Meila pun ikut tertawa sambil mengunci pintu kembali.
"Mau minum apa?" Meila menawarkan minuman untuk Airin yang begitu lelah karena terlihat dari gadis itu yang langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Apa aja, Mei. Yang seger-seger juga boleh." Airin mendongakkan wajahnya.
"Okay. Tunggu gue ambilin." Jawab Meila sambil berjalan menuju dapur.
Meila mengeluarkan minuman dingin dari lemari pendigin lalu menuangkannya ke dalam gelas.
"Nih diminum dulu." Meila membawakan segelas minuman menyegarkan untuk Airin yang langsung diterimanya dengan cepat.
"Thank you..." Airin langsung meneguk minuman segar itu dengan tandas tanpa sisa.
Meila terkekeh, sekarang giliran dirinya yang menempatkan bokongnya di sofa.
"Gue pikir kak Dimas masih disini nemenin lo."
"Nggak lah, Rin. Tadi sih... dia emang keukeuh mau nemenin gue dulu, minimal sampe lo dateng, tapi gue cegah karena dia kan juga harus balik lagi ke kampus. Kasian nanti kesorean." Jawab Meila menjelaskan.
Airin tersenyum penuh arti, "Cieee... kasian cieee... kayaknya udah ada yang mulai perhatian nih." Dia mengejek Meila dengan nada ejekan yang kental.
Meila tergeragap, "ap-apaan sih, Rin. Biasa aja kok. Gue kasian sama dia, karena takut kak Dimas dimarahin pak Andre. L-lo.. tau sendiri kan pak Andre galaknya kayak gimana?!"
"Oke. Oke gue paham! Biasa aja dong.. gak usah gugup gitu." Airin tergelak melihat wajah sahabatnya itu yang semakin memerah karena ejekannya.
Airin menghentikan tawanya, menelusuri wajah Meila dengan lekat sambil memasang senyum jahilnya. Dia memajukan wajahnya sedikit sebelum akhirnya rasa ingin tahu dalam dirinya meluap-luap ingin segera minta dikeluarkan melalui ucapan.
"Sebenernya... perasaan lo ke kak Dimas kayak gimana, Mei?"
●●●
Tubuhnya tersentak, matanya menatap lurus pada Airin sambil berusaha menelaah perasaannya sendiri.
"Kenapa... kenapa lo tiba-tiba nanya itu sih, Rin? Y-yaa... ya gitu aja. Nggak ada apa-apa." Meila menjawab pertanyaan Airin dengan terbata, dengan memutar matanya ke sekeliling agar tidak jatuh tepat ke mata Airin.
"Ya... gue pengen tau aja. Kalian tuh semakin kesini semakin deket. Kalian berdua cocok, loh!"
Meila terdiam, tangannya memainkan kuku-kuku di jarinya. Dia terlihat berpikir sejenak sambil menundukkan kepala, mencari jawaban atas perasaannya sendiri yang saat ini memang telah ia rasakan berkali-kali lipat tanpa ia sadari.
"Sebenernya... tadi kak Dimas sempat mengutarakan perasaannya ke gue, Rin."
Airin terlonjak kaget, wajahnya semakin sumringah seolah rasa ingin tahunya semakin memuncak.
"Hah? Serius lo? Terus lo jawab apa?" Airin memberondong beberapa pertanyaan, menginginkan Meila untuk menjawabnya.
Meila mendengus pelan, "Sabar kali! Itu nggak kayak yang lo bayangin. Lagian... dia juga nggak maksa gue buat jawab sekarang. Karena dia juga belum mengungkapkan perasaannya sepenuhnya katanya." Meila memberi penjelasan.
"Tapi kalo seandainya... kak Dimas ngungkapin perasaannya ke lo, jawaban lo apa?"
"Jujur, gue nyaman di deket dia. Dia care sama gue, bahkan hal terkecil apapun dia selalu inget, dan itu pun tanpa gue ucapin. Dia bisa bikin rasa takut dan trauma gue hilang dengan adanya dia. Dia bisa memberikan gue ketenangan disaat serangan panik gue muncul tiba-tiba. Dan itu bukan hal yang biasa, itu luar biasa buat gue, Rin!" Meila menjelaskan pendapatnya tentang Dimas pada Airin, mengeluarkn isi hatinya.
Airin mengangguk paham, dia sudah mengerti kemana arah pembicaraan Meila. Dia memilih tersenyum penuh arti dan memberikan dukungannya pada Meila.
"Oke! Gue gak perlu lagi nanya ke lo. Gue udah ngerti dan tau jawabannya. Sebagai sahabat lo, gue cuma pengen yang terbaik buat lo, Mei. Gue gak mau rasa trauma lo itu jadi penghalang lo buat menjalin sebuah hubungan sama cowok. Urusan lo mau jawab apa, itu terserah lo, Mei. Gue gak berhak untuk ikut campur terlalu jauh tentang ini. Tapi satu hal yang perlu lo tau, Mei... gue akan selalu dukung lo, keputusan ada ditangan lo, tapi gue yakin, dari kasat mata gue, keliatan kalo kak Dimas itu tulus sama lo." Airin memberikan pendapatnya pada Meila, memberikan dukungan sepenuhnya pada sahabatnya itu.
Meila tersenyum, dia sungguh beruntung memiliki sahabat seperti Airin. "Lo emang sahabat terbaik gue, Rin! Thank you buat pendapatnya. Jujur, gue tipe orang yang harus dipancing dulu kalo masalah-masalah kayak gini. Hehehe."
"Siapa dulu dong. AIRIN!" Airin membusungkan dadanya penuh canda. "Emang udah berapa lama kita sahabatan? Kayak gue gak tau sifat lo aja. Hahaha!" Airin tergelak, dan hal itu menular pada Meila yang langsung merentangkan lengannya untuk saling berpelukan. Mereka tertawa bersama sambil saling berpelukan layaknya sahabat yang saling mendukung satu sama lain.
●●●
Meila mengerjapkan matanya, dia terbangun dari tidurnya karena merasa sangat haus. Tenggorokannya terasa kering ingin segera dibasahi dengan air untuk menghilangkan dahaga.
Dia berusaha membuka mata sepenuhnya, namun matanya itu terasa sangat lengket. Dia duduk dari posisi tidurnya kemudian menoleh ke arah samping, terlihat Airin yang masih tertidur pulas dengan rambutnya yang setengah menutupi wajahnya. Meila tersenyum, merasa senang melihat sahabatnya itu tidur dengan nyenyak disampingnya.
Meila meraba meja kecil disamping nakas, dilihatnya jam kecil di atas nakas itu yang menunjukkan pukul dua pagi. Kemudian dia mengambil gelas yang ia letakkan disamping jam kecil di atas nakas itu. Namun, gelas itu kosong, Meila mendesah pelan, "hahh.. harus ambil air dulu ke bawah." Gumamnya lemas.
Meila menuruni anak tangga hingga akhirnya ia sampai didapur. Dia menuangkan air putih kedalam gelasnya lalu meminumnya.
Setelah membasahi tenggorokannya dengan segelas air, Meila kembali lagi ke kamarnya sambil membawa kembali gelas berisi air itu. Ketika kakinya baru akan menginjakkan anak tangga, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dibalik tirai jendela besar dekat ruang utama. Langkahnya terhenti, namun tak urung Meila melangkah maju menghampiri lokasi bayangan tadi dengan dahi mengkerut dan rasa takut yang mulai merayapi dirinya.
"S-siapa...?" Meila meneriakkan suaranya dengan gemetar.
Dia terus melangkah, dan sekelebat bayangan hitam itu muncul kembali. "Siapa disana?" Jantungnya berdetak kencang karena rasa takut yang semakin merayapi dirinya. Meila berniat membuka pintu utama dengan bermodalkan kenekatan dari dirinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa rasa takutnya lebih mendominasi dari rasa keberaniannya.
Meila menarik napas dalam, kemudian tangannya meraih kenop pintu lalu memutar kuncinya perlahan hingga terbuka. Dia berusaha keluar dengan jalan tersendat sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri halaman rumahnya.
"Siapapun kamu... t-tolong keluar. Aku mohon..." Sambil menelan ludahnya dan dengan rasa takut yang amat sangat, Meila berusaha meneriakkan kata-kata itu dengan suara memohon.
Meila memutarkan tubuhnya, menolehkan pandangannya ke suasana sekitar dengan napas yang mulai terengah.
Tak lama kemudian, Meila mendengar suara derap langkah kaki yang berjalan mendekatinya dengan langkah pelan namun juga tegas. Tubuh Meila menegang dan jantung yang berdetak kencang hingga keringat dingin mulai menyelimuti permukaan kulitnya.
Meila memutar tubuhnya dengan cepat, alangkah terkejutnya dirinya ketika sosok yang sangat tidak ingin ia lihat tiba-tiba saja sudah ada dihadapannya dengan jarak yang cukup dekat.
"B-beno?!" Matanya membelalak dengan tubuh gemetar menahan takut.
"Kamu mau apa dirumah aku?" Meila bertanya dengan suara serak dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Beno tersenyum licik, matanya menyalang, mulai menelusuri keseluruhan tubuh Meila dengan mata tajamnya yang membuat sekujur tubuh Meila merinding karena tatapannya. Bahkan, gelas berisi air yang ada ditangan gadis itu sampai terlepas dan jatuh ke rerumputan.
"Jangan buru-buru, Sayang. Kita nikmati dulu pertemuan pertama kita setelah sekian lama ini." Beno tertawa dengan suara menyeramkan hingga membuat siapapun yang mendengarnya terutama wanita, akan bergidik ngeri dan memilih kabur daripada harus berurusan dengan pria gila sepertinya.
"Lo inget kan sama pesan yang gue kirim ke lo kalo kita akan segera bertemu lagi?" Mata Beno menatap tajam, "Dan hari ini gue tepatin janji itu buat bisa ngeliat lo dan menikmati kecantikan lo lagi." Beno mulai melangkah maju, membuat Meila memundurkan langkahnya dengan sigap.
"Jangan mendekat! Aku mohon..." Meila memohon dengan suara yang tersekat.
Beno tidak menghiraukan permohonan Meila yang mulai mengeluarkan air matanya, langkahnya justru semakin mantap untuk lebih dekat lagi dengan Meila sampai tanpa adanya jarak.
Beno menyusuri lengan Meila yang halus menggunakan ujung jarinya dengan gerakan menggoda, membuat napas Meila semakin terengah dengan serangan panik yang mulai muncul kembali. Tubuhnya gemetar menahan takut, dengan air mata yang mulai mengaliri pipi mulusnya.
Beno memajukan tubuhnya, sedikit membungkuk hingga ke depan telinga Meila, "bahkan di bawah cahaya gelap pun, lo tetep keliatan cantik. Apalagi....." Beno sedikit menjauhkan wajahnya untuk mengawasi wajah Meila yang begitu ketakutan hingga tatapannya berhenti tepat di bibir Meila yang terlihat menggoda untuknya, "apalagi kalo gue mencicipi bibir manis lo itu dengan mengecupnya sedikit," Beno berhenti sejenak, "pasti terasa sangat manis." Tatapannya berubah mengintimidasi.
Meila menolehkan wajahnya kesamping, berusaha menjauh dari jangkauan Beno, tapi desakan Beno padanya membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa, hingga Meila harus menggunakan tangannya untuk menahan dada Beno dengan sekuat tenaga.
"Beno kamu jangan macem-macem! Aku bisa teriak sekarang juga." Meila berucap sambil menjauhkan wajahnya.
Beno terkekeh, "Kenapa lo menghindar, sayang? Apa pria itu udah memberikan sensasi berbeda hingga membuat lo menolak gue buat memberikan kecupan dibibir lo ini?" Beno berucap menyindir hingga mampu membuat Meila langsung menolehkan kepalanya dengan cepat.
"Gue menyaksikan semuanya! Gue liat lo yang begitu menikmati sentuhan bibirnya di atas bibir lo ini." Jemari Beno mengusap bibir Meila dengan gerakan sensual.
Meila tidak bisa menahan air matanya, jiwanya bergejolak dengan amarah yang meluap. Dia merasa dilecehkan dengan ucapan Beno yang telah sengaja memancing emosinya.
Meila mendorong tubuh Beno dengan sekuat tenaga, lalu melayangkan tangannya untuk menampar pria itu dengan sisa-sisa tenaganya yang hampir melemah.
Suara tamparan itu begitu menggema hingga membuat Beno terdiam sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Jaga ucapan kamu!" Meila memberikan peringatan dengan napas menggebu-gebu, "aku bukan cewek seperti diluaran sana yang dengan mudahnya kamu perlakukan seenaknya." Air matanya mengalir deras bersamaan dengan suaranya yang bergetar. "Dan satu lagi, kak Dimas itu pria yang jauh lebih baik dibanding kamu yang cuma bisa melecehkan wanita lemah lalu memanfaatkannya."
Penjelasan Meila membuat Beno tergelak dengan kilatan mata tajam.
"Oh! Jadi namanya Dimas. Bahkan bibir lo itu udah terbiasa memanggilnya dengan manja tanpa canggung lagi. Iya, kan?"
Meila terdiam, menatap Beno dengan lelehan air matanya yang mulai mengering.
"Gue peringatin buat lo. Untuk saat ini, gue masih melepaskan lo dari cengkraman gue. Tapi untuk kedepannya, gue pastiin lo akan tunduk dan pasrah dibawah kaki gue dengan tubuh melemah hingga lo berpikir gak akan ada seorang pun yang akan nolong lo kecuali diri lo sendiri yang memohon sama gue!" Bibir Beno membentuk seringaian senyum jahat hingga membuat Meila bergidik ngeri dan sontak dengan refleks menggunakan lengannya untuk memeluk tubuhnya sendiri.
"Camkan itu baik-baik, Sayang!" Beno berbisik didepan wajah Meila hingga membuat Meila tersentak dan mata membelalak dengan gerakan Beno yang spontan.
Dengan cepat Beno langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi sambil tersenyum jahat, dengan meninggalkan Meila yang terdiam kaku dan air mata yang mulai menetes kembali. Meila membekap mulutnya sendiri, berusaha meredam isakannya yang tak terbendung lagi. Dia langsung berlari masuk dan mengunci pintu, lalu menangis sejadi-jadinya dibalik pintu ditengah pencahayaan lampu yang redup.
"Kenapa...? Kenapa semua ini terjadi sama aku?" Bersamaan dengan ucapannya, didetik itulah tubuhnya meluruh ke lantai dengan kepala terdongak ke atas seperti sedang mengakui sebuah penyesalan dan air mata yang menderas tanpa bisa dibendung lagi.
●●●
"Pagi, Mei..."
Airin tampak menuruni tangga sambil berlari-lari kecil. Dia telah siap berangkat ke kampus dan langsung menghampiri Meila yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Pagi juga, Rin. Gimana tidur lo? Nyenyak?" Meila bertanya pada sahabatnya yang terlihat cerah layaknya mentari pagi yang menyebarkan kehangatan di pagi hari.
Airin tersenyum, terlihat ada perasaan puas di wajahnya. "Iya. Nyenyak banget. Sampe-sampe gue lupa kalo gue lagi nginep dirumah lo." Airin terkekeh renyah begitu bokongnya telah berhasil mendudukkan kursi meja makan.
Matanya tidak sengaja menoleh pada Meila yang sedang menunduk meletakkan beberapa potong roti ke piring Airin, dan mata Airin langsung menangkap lingkaran hitam di bawah mata Meila yang begitu kentara.
Airin mengerutkan alisnya, menatap heran ke wajah Meila.
"Semalem lo begadang lagi, Mei? Ada lingkaran hitam dimata lo." Tanya Airin sambil menunjuk ke arah mata Meila dengan jarinya.
"Ooh.. ini!" Meila berusaha menjawab dengan tenang sambil menyentuh bawah matanya, "iya. Gue ngelanjutin tugas kita yang masih belum selesai. Sampe keasyikan, akhirnya gue baru tidur jam tiga pagi. Gue pikir bakal nyelesaiin semuanya, eh ternyata meleset karena keburu ngantuk." Sambil tersenyum memperlihatkan giginya, Meila berusaha menyembunyikan kejadian tadi malam dari Airin.
Airin mengangguk paham tanpa bertanya lagi. "Santai aja, Mei. Jangan terlalu di porsir juga. Lagian tugas itu masih belum deadline, kok. Jangan sampe lo kurang tidur dan akhirnya sakit karena mikirin tugas. Oke?" Airin memberikan pengertiannya sambil mengoleskan selai cokelat ke atas rotinya.
Mereka menikmati sarapan bersama sambil membicarakan hal-hal lucu hingga membuat mereka tertawa. Meila beruntung selalu dikelilingi orang-orang baik disekitarnya, sehingga membuat dirinya tidak merasa kesepian dengan adanya keberadaan mereka.