A Fan With A Man

A Fan With A Man
Mimpi Buruk



"Argh! Berani-beraninya mereka mesra-mesraan didepan gue!"


Sisil tampak menggeram marah dan langsung melemparkan tas mewahnya ke kursi. Dia baru saja datang mendatangi tempat persembunyian Beno seakan mengadu padanya. Beno yang terlihat santai dan cuek, hanya sedikit melirik ke arah Sisil dengan ujung bibir terangkat penuh ironi.


Senyuman Beno itu sedikit membuat Sisil kesal. Pasalnya, lelaki ini terlihat cuek dan santai bukan kepalang, justru malah seakan mengulur waktu atas rencana mereka yang sudah tersusun rapi.


"Ngapain lo dateng-dateng ke tempat gue langsung marah-marah? Abis ngeliat setan?" Ucap Beno dengan suara mengejek.


"Ini lebih dari sekedar setan perlu lo tau!" Jawab Sisil sambil menekankan kata 'setan' dengan bola mata memutar.


Beno mengambil korek api elektriknya, memantiknya, lalu menyulut api itu pada sebatang rokok yang ia selipkan kedalam mulutnya. Beno menghisap rokok itu lalu menghembuskan asapnya ke udara, membuat Sisil terbatuk-batuk karena asap yang dihembuskan Beno dengan sengaja.


"Gue udah kebal dengan 'setan' yang lo maksud itu. Terlalu sering mata gue menyaksikannya!" Beno memberi pengakuan sambil kembali menghisap rokoknya.


Sisil terlihat bolak-balik sambil bertulak pinggang dengan napas menggebu-menggebu. Kemudian tangannya mengepal dengan rahang mengetat menyimpan amarah sebelum kemudian berkata,


"Kapan rencana kita akan ke titik puncak kalo lo keliatan santai kayak gitu, hah?" Sisil berucap dengan nada meremehkan.


Beno terkekeh, matanya menatap Sisil dengan tatapan sinis.


"Gue masih mau main-main sama cewek itu. Rasanya sangat menyenangkan banget pas gue menyaksikan langsung wajah ketakutannya didepan muka gue." Beno tersenyum ironi, ingatannya memutar kembali malam dimana dia menyelinap masuk ke halaman rumah Meila.


"Lagian...." Beno berhenti sejenak untuk menghembuskan asap rokok yang baru saja ia hisap. "...kenapa lo keliatan nggak sabar, Sil? Nikmatin aja dulu sambil kita bersenang-senang mempermainkannya." Beno mendengus kasar, kemudian membuang sisa puntung rokok yang masih setengah itu ke lantai dan menginjaknya.


"Gue tau lo masih mau bermain-main dengan permainan lo. Tapi gue pengen cewek itu menderita secepat mungkin sampe dia gak ada pilihan lain lagi selain memohon-mohon dibawah kaki gue. Rencana lo terlalu lama buat sampe ke titik puncak!" Sisil menjawab Beno dengan sanggahan nada meremehkan yang kental hingga berhasil membuat Beno menajamkan pandangannya pada Sisil.


Beno beranjak dari tempat duduknya, melangkah maju menghampiri Sisil yang sedang memasang wajah menantang padanya.


"Menurut lo, apa hati gue nggak marah ngeliat mereka yang semakin hari semakin deket?" Beno bersedekap tegas sambil menatap lurus ke mata Sisil. "Setiap saat mulai mengumbar kemesraaan meski itu tempat umum. Setiap saat bercumbu didepan mata kepala gue sendiri?" Beno berucap dengan nada putus asa, meski dirinya menutupi itu dengan penuh amarah.


"Gue tau lo selalu buntutin mereka kemanapun, lo bisa nyamar kapanpun lo mau. Tapi gue juga nggak sabar buat ngeliat penderitaan cewek sok lugu itu secepatnya." Jawaban Sisil tak mau kalah dengan nada menantang yang kental.


Lagi-lagi, Beno mendengus kasar mendengar perkataan Sisil. Dia menurunkan tangannya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya sambil berusaha menurunkan level emosi yang dari tadi sudah memuncak hingga ke level paling atas.


"Kita akan segera melakukannya, Sil. Lo tinggal duduk manis dan tunggu instruksi dari gue buat menjalankan rencana bagian lo. Ya......." Beno membalikkan tubuhnya sambil mengangkat bahunya acuh, "....meski lo harus nunggu sebentar lagi buat menjalankan rencana kita sambil mencari waktu yang pas untuk melakukannya."


Perkataan Beno layaknya sebuah teka-teki yang sedang ia susun dengan rapi. Setelah menyelesaikan kalimatnya itu, Beno segera mendudukkan bokongnya kembali ke kursi semula. Menaikkan kedua kakinya ke atas meja sambil tersenyum penuh ironi, menikmati perubahan wajah Sisil yang seolah sedang menyimpan banyak pertanyaan didalam benaknya.


●●●


Tubuh Meila seakan terpaku ditempat, tidak bisa digerakkan. Ada rasa ngeri dari hembusan napas panas seseorang yang sedang menindihnya hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Lalu, sebuah jari yang terasa dingin menempel ke wajahnya, menyusuri setiap inci kulitnya dengan gerakan menggoda.


Meila mengerutkan keningnya dalam kondisi mata masih terpejam, dengan napas tersekat menahan tubuh dari seseorang yang masih berusaha menindihnya serta mengunci kedua tangannya dengan menghimpit diantara lengannya yang terasa kuat.


Matanya seolah memaksa untuk terbuka, ingin mengetahui siapa sosok mengerikan yang sedang berada diatasnya sambil mengunci tubuhnya dengan kencang, hingga Meila harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong beban berat ditubuhnya.


Suara berat nan menggoda terdengar kemudian, bagaikan sebuah ancaman mengerikan yang dibisikkan pada setiap mangsa-mangsa yang siap untuk dilahapnya.


"Udah gue bilang, bukan? Kita akan ketemu lagi dan lo akan jadi milik gue selamanya." Bisikan itu terdengar familiar sekaligus mengerikan.


Dengan gemetaran melanda yang semakin tidak terkendali, Meila memaksakan matanya untuk membuka, melihat siapa yang telah berbisik diwajahnya, mencari tahu sumber jawaban dari rasa takutnya.


Tubuh Meila menegang dengan mata membelalak ketika menemukan sosok tegap yang tampak lemah, namun sedang menyeringai menatapnya dengan senyuman pshycopat gila tak terkendali.


"Beno!" Ucapnya dalam hati.


●●●


Tubuhnya meronta-ronta ingin segera melepaskan diri dari cengkraman Beno yang sangat menyesakkan baginya. Dengan keringat dingin yang mulai mengucur membasahi ke seluruh permukaan wajahnya dibawah pencahayaan yang redup, semakin menambah gairah Beno untuk lebih mendekati wajah Meila dan mencicipinya.


"Lepasin aku, Beno! aku mohon...." Pinta Meila dengan suara tersekat dan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Jangan mimpi, Sayang!"


Permohonan Meila itu tidak dihiraukannya, lelaki itu justru semakin mendekati wajah Meila hingga tinggal beberapa inchi saja. Meila pun semakin ketakutan, dengan tubuh gemetaran ditambah dengan keringat dingin yang membanjiri dahinya.


"Jangan, Beno! Jangan! Aku mohon, Beno. Kamu nggak bisa perlakuin aku kayak gini. Beno! Beno!" Meila terus saja berteriak meronta, memohon pada Beno yang sama sekali tidak mau beranjak sedikitpun dari tubuhnya. Lelaki itu malah tertawa ironi sekaligus dengan kilatan mata tajamnya yang langsung menusuk ke dada.


●●●


"Jangan! Jangan! Jangan!"


Telinganya yang tajam seketika mendengar teriakan yang menyesakkan dada dari seorang gadis yang sangat familir di telinganya. Dimas yang sedang fokus dengan tugasnya, seakan terpecah begitu saja ketika teriakan pilu nan menyesakkan itu menembus kamarnya hingga masuk ke gendang telinganya.


Dimas membelalakkan mata sekaligus mengerutkan dahinya ketika dugaannya atas suara familiar yang sangat akrab dengannya memang tepat sasaran.


Meila!


Dimas berucap dalam hati, didetik dia mengucap nama gadis yang disayanginya, didetik itu pula Dimas langsung beranjak dari kursi serta meninggalkan benda pipih yang masih menyala tanpa mematikannya terlebih dahulu.


Dimas membuka pintu kamar Meila dengan gerakan kasar dibalut dengan ketidaksabaran. Tanpa berpikir lagi, ia langsung menghampiri Meila yang sedang meronta dibalik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya hingga merosot ke perut. Dengan mata yang masih terpejam, dahi yang mengerut dalam, dan air mata yang mengalir disudut matanya sekaligus isakan menyesakkan yang membuat Dimas menghambur hingga duduk ke tepi ranjang.


"Jangan! Jangan! Tolong!" Kata-kata itu yang keluar dari bibirnya yang bergetar disertai dengan isakan.


"Mei... bangun, Sayang!" Dengan suara setengah merendah, Dimas menepuk pelan pipi Meila untuk membangunkannya dari alam bawah sadarnya. "Mei.. Mei.. bangun, Mei!" Kali ini Dimas menggoyangkan kedua bahu Meila dengan sedikit kasar.


Dan usahanya berhasil, Mata Meila terbuka dibarengi dengan gerakan tubuhnya yang menghentak bangun ke posisi duduknya. Dengan napas tersengal dibanjiri dengan keringat dingin, serta isakan yang menyesakkan, dan hampir terlonjak kaget begitu tangan Dimas mengusap punggung Meila untuk menariknya ke pelukan.


"Jangan! Lepasin aku!" Teriak Meila dengan suara menyedihkan sambil mengeratkan selimutnya.


"Ssshh.. ini aku, Dimas!" Dimas menegaskan suaranya, dia tidak mempedulikan Meila yang sedang ketakutan padanya, tetapi justru malah menarik Meila kedalam pelukannya yang sedang terisak meski Meila melakukan penolakan dan sedikit meronta dalam dekapannya.


"Ssshh.. nggak apa-apa, Sayang.. Itu cuma mimpi. Kamu baru aja mimpi buruk." Dimas membisikkan kalimat menenangkan ke pelipis Meila. Mengusap punggungnya serta memberikan kecupan dipucuk kepalanya.


Dengan napas berat seperti habis melakukan lari maraton, tubuh Meila akhirnya melemas seiring dengan perlakuan Dimas yang menenangkan memberikan penghiburan. Tubuhnya tidak lagi melawan ataupun meronta, yang ada justru semakin mendesakkan tubuhnya ke tubuh kokoh Dimas, seakan hanya Dimas lah satu-satunya tempat berlindung yang aman baginya.


Matanya menyusuri isi ruangan kamar itu yang sedikit redup, dia baru saja mengingat kembali bahwa dirinya sekarang sedang berada dirumah Dimas.


Ini rumah Dimas! Ini rumah Dimas! Kamu aman, Meila...


Kemudian keringat dingin menetes dari dahinya ketika bayangan mimpi buruk mengerikan itu muncul kembali di benaknya. Tangisnya kembali pecah dengan tubuh gemetar, bergidik ketakutan sambil otomatis melingkarkan lengannya ke punggung Dimas yang kokoh, gadis itu menangis disana, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria itu.


Dimas menarik napas dalam sambil memejamkan matanya, kemudian wajahnya ia letakkan ke atas rambut Meila, sekaligus sebelah tangannya mengusap dahi gadis itu yang tertutup oleh anak rambut karena basah akan keringat.


Dimas merasakan dadanya sesak akan tangisan gadis yang saat ini sedang memeluknya erat. Isakannya begitu memilukan, hingga membuat Dimas harus mengerahkan seluruh tenaga ekstra untuk menghentikan isakan Meila yang tenggelam didadanya.


Apa yang terjadi dalam mimpi buruknya?


Pertanyaan itu sontak keluar dari pikirannya, namun hanya bisa ia ucapkan dalam hati.


"Nggak apa-apa, Sayang.. nggak apa-apa... Ada aku disini." Bisiknya lembut kembali disertai kecupan di pelipis gadis mungil itu yang basah karena keringat dingin.


Dengan posisi masih memeluk Meila, sebelah tangan Dimas kemudian meraih air minum yang ada diatas nakas samping tempat tidur, kemudian menjauhkan tubuh Meila sedikit dan memberikan air minum itu padanya. Meila langsung menerima gelas itu dengan kedua tangannya yang gemetar menangkup ke sisi gelas, terlihat jelas jika Dimas sangat cekatan dan sabar mengurus Meila, terbukti dari sikap Dimas yang tidak melepaskan tangannya dari gelas itu untuk meminumkannya.


"Udah, minumnya?" Ucap Dimas dengan lembut ketika melihat Meila melepaskan bibirnya dari bibir gelas tanda ia telah selesai dari minumnya. Meila pun mengangguk lemah.


Dimas meletakkan gelas itu ke nakas kembali. Kemudian berbalik menatap Meila yang terlihat sangat menyedihkan bersamaan dengan isakannya yang belum reda. Pipinya terlihat basah karena air matanya, kemudian Dimas mengusap pipi itu menggunakan tangannya dengan perlahan. Tangannya kemudian terangkat untuk mengusap kepala Meila dengan lembut lalu menariknya untuk mengecup dahinya mesra.


Setelah mengecup dahi Meila, Dimas menjauhkan sedikit darinya, mengamati wajah Meila yang terlihat menyedihkan sedang menengadah kearahnya dengan isakan yang mulai mereda. Tatapan Meila seolah sedang ingin menyampaikan sesuatu pada Dimas, gadis itu terlihat gelisah ketika mendapati Dimas yang sedang mengamatinya dalam diam tanpa suara.


"Kakak...." disertai isakan, suaranya terdengar lemah, membuat Dimas harus memajukan sedikit wajahnya ke depan Meila.


"Ya. Kenapa?" Ucap Dimas dengan suara rendah sambil memainkan jemarinya di pipi Meila untuk menghapus sisa air mata yang mulai mengering.


"Ada.... ada sesuatu yang udah aku sembunyiin dari kamu." Ucap Meila dengan bibir bergetar sambil menatap lurus ke arah mata Dimas yang tajam. Kalimatnya itu berhasil membuat Dimas berhenti sejenak dari gerakan jemarinya di pipi Meila.


"Sebenernya.... sebenernya..." Meila harus menelan ludahnya untuk sekedar berbicara. Namun dengan sabar Dimas menunggu akan kelanjutan kalimat itu. "Sebenernya malam itu.... malam itu Beno dateng ke rumah aku," berbarengan dengan Meila yang selesai mengatakan pengakuannya, disaat itu juga matanya kembali berkaca-kaca dan jika disentuh saja, air mata itu akan jatuh ke pipinya.


"Ap-apa..?"


Dimas terpaku mendengar pengakuan Meila, jemarinya berhenti masih di pipi dengan posisi menangkup wajah Meila. Suaranya sedikit meninggi dengan mata membelalak, hingga membuat Meila mengedipkan mata, membuat air matanya jatuh kembali merembes ke pipi.