A Fan With A Man

A Fan With A Man
Menangani Masalah



"Baik, terima kasih atas kerja samanya. Kami akan segera memproses dan menindaklanjutinya."


Seorang polisi tampak sedang menjabat tangan James yang baru saja keluar dari ruang interogasi. Tidak seperti kesan pertama pertemuannya tadi di klub, polisi itu tampak sedikit lebih ramah. Begitupun dengan James yang dengan senang hati menyambut uluran tangan polisi itu dengan bijaksana.


"Sama-sama. Saya harap itu adalah terakhir kalinya kami mengalami kejadian tadi." James berucap mengingatkan.


"Kami akan pastikan itu. Oh, dan... maaf, kami tidak mengenali anda tadi. Kalau saja anda mengatakan identitas anda, mungkin kami akan memprosesnya lebih cepat."


James tertawa ringan. "Ah, itu tidak masalah. Sebagai warga negara yang baik, saya juga harus mengikuti ketentuan sesuai prosedur, bukan?"


James dan polisi itu pun saling melempar tawa. Hingga akhirnya James pamit undur diri dan bergegas menghampiri Sisil yang sedang duduk di sebuah bangku panjang ruang tunggu dengan penuh gelisah yang tidak bisa disembunyikan.


"Masalahnya sudah selesai. Jangan terus gelisah seperti itu." ucap James ketika tiba di depan Sisil yang tertunduk.


Sisil mendongakkan wajahnya pada James. "Benarkah? Bagaimana kamu menyelesaikannya?" Lalu bertanya dengan perasaan harap-harap cemas.


James tersenyum, "Itu sangatlah mudah untukku. Aku suudah berjanji padamu, bukan? Ayo, aku antar kamu pulang."


Kalimat ajakan James yang tidak dihiraukan Sisil membuat James heran. Sisil tampak masih diam dan kebingungan. Dengan kepala tertunduk dan jari-jari yang saling bertautan, Sisil akhirnya memberanikan diri dengan suara yang masih bergetar.


"To-tolong... sembunyikan ini dari papa,"


Meski suaranya sangatlah pelan dan nyaris tidak terdengar, tetapi James tau jika itu adalah sebuah kalimat permohonan dari dalam hati. Membuat James terkesima sekaligus terenyuh. James pun lalu menyunggingkan senyum lembutnya untuk Sisil yang kala itu masih belum mau mengangkat kepalanya.


"Aku pastikan om Adrian dan tante Riana tidak akan tau. Kamu tenang aja," James menyahuti sambil memberi usapan lembut ke kepala Sisil. Hal itu membuat Sisil tersentuh hingga berhasil mendongakkan wajahnya.


Di detik dia mendongakkan wajahnya, di detik itulah Sisil bisa melihat ketulusan James yang benar-benar tulus untuknya. Tatapan matanya begitu lembut dan mendamaikan. Membuatnya hampir terhipnotis dan terbuai.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." James lalu mengulurkan tangannya untuk Sisil. Meski Sisil sempat merasa ragu, namun tak urung dia langsung meraih tangan James dan bangkit dari tempatnya duduk.


Mereka akhirnya berjalan melewati sepanjang koridor kantor polisi tanpa melepaskan pegangan tangan James padanya. Dan saat itupun, Sisil membiarkan dirinya sejenak untuk mempercayai James kali ini. Membiarkan James membimbing jalannya yang sudah mulai lelah bahkan untuk bertengkar sekalipun.


●●●


Mobil James akhirnya sampai di depan teras perumahan Sisil. James sengaja memarkirkan mobilnya di area komplek agar lebih mudah saat berputar arah. James Dan Sisil keluar dari mobil secara bersamaan. Dia membiarkan Sisil untuk berjalan lebih dulu di depannya sementara James mengikutinya dari belakang.


Sisil akhirnya menekan bel pintu rumahnya. Dan tidak perlu menunggu lama, di waktu yang pas, Adrian lah yang membukakan pintu. Ekspresinya begitu terkejut melihat Sisil yang pulang diantar oleh James hingga depan pintu. Karena biasanya, James hanya mengantarnya hingga gerbang atau teras pagar.


"Loh, kalian? Akhirnya! Kami udah menunggu dari tadi." Sapa Adrian dengan ekspresi setengah terkejut.


"Selamat malam, om. Maaf, karena terlalu malam. Tadi aku sempat mengajak Sisil makan malam dulu karena tadi dia sedikit telat keluar kampus."


Memang benar apa yang James katakan. Tadi, ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Sisil yang posisinya sudah di tengah-tengah, tiba-tiba terdengar suara dari perut Sisil yang menagih minta untuk diisi. Dengan sekuat tenaga menahan tawa, James akhirnya mencari restoran terdekat tanpa meminta pendapat Sisil lebih dulu. Sebab, jika dia bertanya pada Sisil, yang ada hanya akan menimbulkan pertengkaran saja.


Mendengar alasan James, seketika Adrian mengernyitkan keningnya bingung.


"Oh, nggak apa-apa, James. Terima kasih, ya. Eh, tapi... apa tugas kampusnya masih belum selesai? Atau ada tugas lain?"


"Eh, ada tugas lain, pa. Makanya aku kesorean keluar kampusnya." Sisil menjawab seadanya saat jawaban itu terbersit di kepalanya.


"Oh, begitu. Ya sudah, kamu masuk dan juga mandi. Tapi ingat, jangan terlalu lama karena cuacanya lagi tidak bagus hari ini."


Sambil tersenyum simpul, Sisil mengangguk dan melangkah masuk. Namun, saat kakinya akan mulai melangkah, pandangan matanya masih tertuju pada James seperti sedang mengatakan sesuatu. Seolah ada kata 'terima kasih' yang sedang Sisil ucapkan namun hanya isyarat semata.


Tetapi, memang dasar James, dia pun menyadarinya. Akhirnya James memberikan anggukan kepala tipisnya untuk Sisil hingga akhirnya Sisil kembali berjalan melangkah menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.


"James, ayo masuk dulu." Adrian mengajak James untuk masuk ke rumahnya. Namun, dengan sopan James menolak ajakan Adrian.


"Ah, maaf sekali om. Udah terlalu malam. Aku nggak mau mengganggu istirahat om dan tante. Mungkin next time."


"Ah, benar juga ini udah terlalu malam. Tapi, benar ya next time kamu harus mampir. Kita harus ngobrol-ngobrol." Adrian berucap seolah sedang meminta janji dari James.


James pun tertawa. "Baik, om. Next time aku akan kesini dan ngopi-ngopi bareng om."


"Okay, om tunggu, ya."


"Ya sudah om kalau gitu, aku pulang dulu. Selamat istirahat, om. Salam juga buat tante Riana."


"Baik, nanti om sampaikan. Terima kasih ya, James. Lagi-lagi om selalu merepotkan kamu."


James tersenyum simpul. "Anytime, om. Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku."


"Ya, pasti, James. Terima kasih. Kamu hati-hati, ya."


●●●


Sisil baru saja selesai membersihkan diri. Dia masih mengenakan jubah mandinya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Sambil berjalan menuju meja rias dan duduk disana. Memperhatikan pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi tidak terbaca.


Lalu, sekelebat ingatan saat James menolongnya tadi muncul begitu saja dengan sendirinya. Menjadi tameng sebagai bentuk pertahanan diri untuknya yang saat itu jelas-jelas merasa takut.


"Apa aku salah menilainya selama ini? Apa yang dia bilang itu benar kalau aku terlalu cepat menyimpulkan pendapatku sendiri tentang orang lain?"


Memikirkan itu semua, membuat Sisil lelah. Rasanya dia ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di ranjang dan terlelap bersama mimpi indahnya. Namun, saat itu akan terjadi, ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk. Membuatnya mendecakkan lidah dengan kesal.


"Siapa lagi, sih?! Kayaknya susah banget gue tenang sedikit aja." Gerutunya.


Dilihatnya nama penelepon yang membuatnya mendadak salah tingkah. Siapa lagi kalau itu adalah si 'tukang obat', tidak lain dan tidak bukan adalah James. Entah kenapa setelah kejadian tadi, Sisil merasa seperti mendadak ada yang salah dengan dirinya.


Melupakan hal yang berkecamuk dalam pikirannya, membuat Sisil bergegas menjawab panggilan James yang sedari tadi tak henti-hentinya berbunyi.


"Ha-Halo? A-ada apa?"


"Ah, ternyata kamu masih belum tidur. Aku lupa menanyakan padamu tadi. Saat laki-laki itu menggodamu, apa ada orang lain yang melihat?"


"Maksudmu?"


"Maksudku, selain barista tadi yang jelas-jelas ada di depan kalian yang pastinya melihat kejadian sebenarnya, apa ada orang lain juga yang melihat kejadian sebenarnya? Jika ada, itu akan semakin menguatkan kita sebagai bukti dan juga menambah saksi mata."


Sisil lalu memutar kembali ingatannya saat laki-laki itu menghampirinya. Jika diingat-ingat, memang ada satu laki-laki yang ada di dekat mereka. Tetapi lelaki itu tampak acuh seolah menjauhkan diri. Apa itu bisa disebut sebagai saksi mata?


"Hmmm... ada satu pria yang memang ada di sekitarku. Tapi, tampaknya dia sangat cuek dan terkesan sebagai orang yang tidak mempedulikan situasi dan kondisi di sekitarnya. Apa itu bisa?"


James tersenyum simpul tanpa suara.


"Entahlah, kita bisa bertanya dan menyelidikinya lebih dulu soal itu. Aku akan mencoba menghubungi orang-orangku untuk mencari tahu. Jika memang orang itu bisa di ajak bekerja sama, itu akan menambah poin untuk memenangkan kasusnya. Dan kamu, bisa terlepas dari tuduhan penganiayaan yang lelaki hidung belang itu buat sebagai laporan."


"Apa bisa begitu?" Sisil tanpa sadar sudah sangat antusias. Namun, dengan segera dia tersadar akan sesuatu. "Ma-maksudku, apa itu bisa dijadikan sebagai tumpuan untuk memenangkan kasus?"


"Tentu. Selama kamu merasa benar, dan kamu yakin itu bukan kesalahanmu, kita bisa memenangkannya."


Mendengar pernyataan James, membuat Sisil tanpa sadar menghela napasnya dengan penuh kelegaan. Hal itu membuat James ikut tertular dengan senyuman tanpa sadar.


"Haaahh... syukurlah. Aku cemas saat harus berurusan dengan polisi."


"Aku tau kamu sudah merasa lebih tenang sekarang. Dan yang terpenting, kita harus fokus pada saksi lainnya itu."


Tanpa sadar Sisil mengangguk kesenangan. Namun, saat dia sadar akan sikapnya barusan, dia langsung berusaha acuh agar James tidak mengetahui tingkah absurdnya itu.


"Ehem... ya-ya udah, aku mau istirahat. Kamu cuma mau ngasih tau itu aja, kan? Jadi, boleh aku tutup telponnya?"


Terdengar kekehan kecil dari James. "Memang kamu mau mendengar hal apa lagi dariku? Lagi pula biasanya kamu langsung menutup telepon tanpa bilang dulu."


Sisil benar-benar merasa malu saat ini. Untung saja mereka hanya saling melakukan panggilan telepon. Jika tidak, entah apa yang akan Sisil rasakan dan James lakukan saat melihat dirinya yang sedang salah tingkah ini.


"Y-yaa... a-aku kan cuma tanya. Ya-yaudah aku tutup telponnya."


"Tunggu dulu,"


Saat Sisil akan benar-benar memutus panggilan telepon, sekarang malah James yang menahannya. Membuat kekesalan Sisil yang tadinya mereda, seketika muncul lagi.


"Apa lagi?"


"Jangan terlalu memikirkan masalah tadi. Aku akan mengurusnya dan membantu menyelesaikannya untukmu. Kamu hanya perlu menunggu sampai aku benar-benar memenangkan kasusnya."


Suara James yang menghibur benar-benar telah membuat Sisil sangat lega dan juga tenang. Sebab, dia memang masih memikirkan masalah itu sampai berpikir apakah dia bisa tidur nyenyak atau tidak. Tetapi, setelah mendengar kalimat penghiburan James yang terdengar tulus, seketika membuat Sisil tersentuh.


Sisil hanya menjawab dengan gumaman. Namun tak urung dia juga menyelipkan kata terima kasih bernada datar sebagai bentuk kesopanan.


"Mmm... Thank you,"


"Baiklah, silahkan matikan panggilan teleponnya, nona. Good night!"


Begitu panggilan itu terputus, tanpa sadar Sisil sedang melengkungkan sebuah senyum tipis yang tersamar.